SERANGAN KEDUA

02/05/2017 at 14:22 (novel)

Parang ia pegang dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk memegang parang Ine Pare. Parang biasa itu kemudian ia tebas dengan parang Ine Pare, dan seketika itu juga putus menjadi dua. Parang Ine Pare tetap utuh tak ada bagian yang rusak sedikit pun.

PARANG khusus untuk Puteri Ine Pare, buatan pandai besi dari Jawa Dwipa itu ringan, tajam, dan sangat kuat. “Ibu, tiap hari parang ini harus diasah dengan menggunakan batu asah halus, dan minyak kelapa. Bukan dengan air. Mengasahnya dari pangkal ke ujung. Tidak boleh dengan cara ulang-alik ke atas ke bawah atau ke kiri dan ke kanan. Nanti setelah sebulan, ibu lihat hasilnya. Terbangkan sehelai bulu, lalu tebas dengan parang ini, pasti akan terbagi dua bulu itu.” Ine Pare, para pandai besi dari Jawa Dwipa, juga siapa pun yang hidup pada zaman itu, tak pernah membayangkan, bahwa batu bintang yang mereka gunakan itu mengandung logam titanium, yang sangat kuat tetapi ringan. Logam ini baru diketahui dunia modern beberapa abad yang lalu. “Dengan parang inilah leherku akan ditebas, hingga kepala terpisah dari badan, dan Nggaé Wena Tana akan kembali menjalankan tugasnya. Tapi itu nanti. Sekarang semua harus menghadapi pasukan Bheda.”

“Ibu, kekuatan parang ini bisa diuji untuk benda yang paling keras. Lihatlah ini Ibu!” Pandai besi dari Jawa Dwipa itu mengambil parang yang biasa digunakan untuk menebas belukar. Parang ia pegang dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk memegang parang Ine Pare. Parang biasa itu kemudian ia tebas dengan parang Ine Pare, dan seketika itu juga putus menjadi dua. Parang Ine Pare tetap utuh tak ada bagian yang rusak sedikit pun. “Apabila besi dengan mudah ia pangkas, maka kayu sekeras apa pun juga akan bisa diputuskannya dengan mudah. Lihatlah ini Ibu!” Pandai besi itu menghampiri kayu angsana sebesar paha orang dewasa. Ia mengangkat parang, memejamkan mata, lalu mengayunkannya dengan pelan tetapi pasti. Kayu angsana sebesar paha itu putus menjadi dua. “Mengayunkan parang, tidak boleh disertai nafsu untuk memotong. Sebab yang diperlukan pemusatan perasaan terhadap ayunan parang itu sendiri, agar sejalan dengan tarikan nafas kita.”

“Seperti mengayunkan alu ke atas malai padi?” Tanya Ine Pare menegaskan. “Tepat Ibu. Seperti itu. Tampaknya ibu sudah menguasai cara mengayunkan alu, hingga tangan tidak capek, dan beras tidak hancur. Sekarang ini yang lain Ibu!” Pandai besi itu melemparkan daun pisang kering ke atas. Daun itu mengambang di udara sebentar, lalu pelan-pelan turun. Saat itulah Pandai Besi mengayunkan parang Ine Pare, dan daun pisang kering itu tertebas jadi dua tanpa suara. Kemudian daun pisang yang sama kembali ia lemparkan ke atas, lalu ia tebas dengan parang biasa. Maka daun pisang kering itu nyangkut di mata parang, dan terus mengikuti arah ayunannya. “Itulah bedanya parang Ibu, dengan parang biasa. Itu bukan karena pembuatnya hebat, tetapi karena bahannya tiga kali lipat parang biasa, dengan tambahan belasan batu bintang. Waktu pembuatannya juga lebih dari satu minggu. Sementara parang biasa bisa dibuat sampai belasan dalam sehari.”

Para prajurit dari Jawa Dwipa itu melatih para Ata Ko’o cara menggunakan tombak. “Lain dengan mengayunkan parang, tombak harus kita tusukkan dengan kekuatan penuh, kemudian segera kita tarik kembali. Kalau kita tidak menariknya, pemegang tombak bisa terjengkang ke belakang, tersungkur ke depan, atau terpelanting ke samping, tergantung reaksi lawan yang tertombak. Coba sini satu orang jadi contoh, tusuk saya dengan keras, tapi jangan ditarik. “Seorang Ata Ko’o menerima tombak, kemudian ditusukkan sekuat tenaga ke prajurit Jawa Dwipa itu. Prajurit itu pura-pura terkena tombak dan jatuh ke depan. Ata Ko’o yang tak menarik tombaknya, ikut terdorong jatuh ke belakang. Kemudian prajurit itu pura-pura jatuh ke belakang, tombak yang tak terlepas itu menarik Ata Ko’o hingga terjerumus ke depan. Ketika prajurit yang tertusuk pura-pura jatuh ke samping, Ata Ko’o pemegang tombak juga ikut tertarik dan jatuh ke samping.

“Saat tombak telah ditusukkan, tetapi tak sempat ditarik, lepaskan saja. Tunggu sampai lawan itu jatuh, baru ambil tombak itu kembali. Ini semua teori, sebab dalam perang, para penakut justru bisa jadi pemberani dan membunuh banyak musuh, pemberani bisa ketakutan dan lari lalu dikejar musuh dan tewas. Dalam perang apa pun bisa terjadi dan teori sebaik apa pun bisa tak berlaku.” Para Ata Ko’o juga dilatih memanah. “Prinsip utama pemanah, musuh masih cukup jauh, hingga bisa tenang. Karena mengambil anak panah, memasangnya di tali busur, membidik sambil menarik tali busur, memerlukan ketenangan. Dengan pikiran tenang, posisi pemanah juga akan stabil, hingga sasaran bisa dibidik lebih tepat. Tenaga tentu diperlukan, agar tali busur bisa ditarik sampai penuh.”

* * *

Funu punya strategi ingin memancing Bheda, agar tidak menyerang Detusoko, melainkan terus mengejar ke Kelimutu. “Kemasi barang-barang, kosongkan rumah termasuk Lewa. Kumpulkan perempuan, anak-anak dan barang di tempat tersembunyi, jauh dari pemukiman ini. Pemukiman harus terkesan kosong. Ketika mereka sudah dekat, bakar salah satu rumah terdepan. Sebagian pasukan kita siap di jalan menuju Kelimutu, sebagian menjaga perempuan, anak-anak dan barang di tempat persembunyian yang aman dan tak mungkin mereka temukan. Kita harus mengupayakan agar Bheda dan pasukannya mengejar Ine Pare, Ndale dan saya ke arah Kelimutu.” Pemukiman baru itu segera dikosongkan dengan cepat. Perempuan, anak-anak dan barang diungsikan ke hutan lebat di utara. Ine Pare, Ndale, Funu, serta sebagian pasukan, berjalan terlebih dahulu ke arah Kelimutu. Sebagian kecil pasukan berjaga di sini. Menjelang tengah hari, Bheda dengan prajuritnya datang. Mereka heran melihat pemukiman sudah sepi dan salah satu rumah terbakar.

Saat itulah beberapa Ata Ko’o di jalan ke arah Kelimutu berteriak. “Ibu Funu ayo cepat, Tuan Puteri Ine Pare mereka sudah datang. Awas ayo cepat. Kita bisa mereka kejar kalau tidak cepat.” Padahal waktu itu Ine Pare, Ndale, dan Funu sudah jauh di depan, malah sudah hampir sampai di Kelimutu. Jebakan Funu termakan. Setelah berhenti sebentar dan berunding, prajurit Bheda dipecah menjadi dua. Sebagian kecil mengejar ke selatan, arah Detusoko pertama, dan Mutu Busa. Bheda dengan sebagian besar pasukan mengejar ke arah Kelimutu. Para Ata Ko’o yang bertugas memancing, terus berteriak-teriak agar Bheda dan prajuritnya terus mengejar. Dengan pancingan ini, Bheda dan prajuritnya terpancing untuk terus mengejar tanpa berhenti beristirahat. Ine Pare, Ndale, dan Funu bersama para Ata Ko’o yang dipimpin prajurit dari Jawa Dwipa, sudah bisa makan dan beristirahat di puncak bukit, menjelang berbelok ke arah Puncak Kelimutu. Kemudian mereka bersiap mengatur strategi.

“Usahakan Bheda dan pengawalnya mengejar kami ke arah Puncak Kelimutu. Prajurit lain, habisi di sini, saat mereka kehabisan tenaga sebelum mencapai puncak bukit. Maka ketika para prajurit pemancing tiba, pasukan segera disiagakan. Ine Pare, Ndale, dan Funu harus berada di posisi yang mudah terlihat oleh Bheda, tetapi dalam jarak yang masih cukup jauh. Tak lama kemudian Bheda dan pasukannya terengah-engah mencapai puncak bukit. Saat itulah Funu berteriak lantang. “Bheda, kau cari Ine Pare dan lontar ini bukan? Ayo kita adu kekuatan satu lawan satu di Puncak Kelimutu.” Setelah teriakannya didengar oleh Bheda, Funu, Ine Pare dan Ndale, segera menuju Puncak Kelimutu. Bheda bersama pengawal mengejar dari belakang. Saat itulah pasukan Ine Pare menutup akses naik ke Puncak Bukit.

Prajurit yang masih berada di bawah mudah ditangkap karena kelelahan. Lainnya cerai berai, beberapa kembali turun ke bawah, dan akan disambut oleh prajurit yang menjaga Detusoko. Pasukan besar Bheda yang sebenarnya sangat profesional, dengan mudah dikalahkan tanpa peperangan. Jalan dari puncak bukit ke arah Puncak Kelimutu relatif datar dan terbuka, hingga menjelang sore mereka sudah tiba di sana. Funu berdiri di tepi Tiwu Ata Polo diapit oleh Ine Pare dan Ndale. Ketika Bheda dengan pengawalnya datang, Funu menunjukkan dua lontar. “Bheda, ini lontar milikmu, yang sebenarnya belum lengkap. Ini lontar dari Jawa Dwipa, pelengkap lontarmu itu. Di samping saya ini, Ine Pare, yang bersedia kau nikahi, setelah terlebih dahulu kau bunuh aku, dan Ndale.” Ine Pare berdiri dengan sangat tegang. Ia pegang hulu parang erat-erat. Dalam hati ia tak rela kalau mata parang itu ia gunakan pertama-tama untuk leher Bheda, baru kemudian lehernya sendiri.

Tapi kalau terpaksa, ia akan mencincang pembunuh ayah dan ibu kandungnya, kakek dan neneknya; bahkan kemudian juga Raja dan Kaja, ayah dan ibu angkatnya. Tapi parang Ine Pare itu tak perlu ia gunakan sekarang. Tiba-tiba saja Funu melemparkan dua lontar itu bersamaan ke arah Bheda, tetapi agak dimiringkan ke Tiwu Ata Polo. Bheda berupaya menangkap lontar yang dilemparkan Funu, dengan memiringkan tubuh ke arah Tiwu Ata Polo. Keseimbangan tubuhnya terganggu. Ia pun jatuh bersama dengan lontar miliknya, dan lontar dari Jawa Dwipa itu, ke arah Tiwu Ata Polo. Para pengawal yang berdiri di belakangnya, tak sempat menyelamatkan. Melihat Sang  juragan jatuh masuk Tiwu Ata Polo, para pengawal itu berlarian turun ke bawah. Para pengawal Ine Pare akan mengejar tapi dicegah oleh Funu. “Biarkan saja. Di bawah sudah ada yang akan menangkap mereka.” Tetapi dua pengawal tetap mengejar, sekadar untuk memastikan bahwa mereka benar-benar turun ke bawah, bukan bersembunyi di salah satu tempat untuk menyergap Ine Pare.

* * *

Ruang Sao Ria di Tanah Persekutuan Kelimutu, terasa lebih hangat dari biasanya. Konde dan  Ura, menerima kedatangan Ine Pare, Ndale, dan Funu, beserta beberapa Ata Ko’o sebagai pengawal, yang berjaga-jaga di luar sana. “Hari ini aku merasakan kebahagiaan yang tiada taranya sepanjang hidup. Aku yang sudah mulai renta ini, kedatangan Ine Pare, dan Ndale, serta Funu. Ini peristiwa yang mungkin hanya akan terjadi sekali ini dalam hidup saya. Kedua, Funu yang dengan sangat cermat melaksanakan saran yang pernah saya sampaikan, tidak perlu membunuh Bheda. Dia telah mengakhiri hidupnya secara sukarela. Demikian pula dengan prajurit bayaran dari Negeri Ende itu, hanya beberapa yang tewas, dan luka-luka. Sebagian besar di antara mereka bisa pulang dengan selamat tak kurang suatu apa. Ini merupakan kabar yang sangat membahagiakan diri saya.”

“Ini sungguh bertolak belakang dengan ketika Funu datang sendirian beberapa waktu lalu, yang memberitakan kematian adik bungsu saya Raja dan istrinya Kaja. Funu, aku juga senang sekali, karena beberapa waktu setelah kedatanganmu, adikku Ratu dan Gawi istrinya, datang kemari, bersama anak-anak mereka, dengan diiringi banyak Ata Ko’o yang membawa benih padi. Beberapa Ata Ko’o dari Mutu Busa ditinggal di sini, untuk mengajar orang-orang Kelimutu menanam padi. Hasilnya memang tidak sebagus di Mutu Busa, karena di sini lebih dingin. Ratu dan Gawi datang kemari tentu karena keluh-kesahku kepadamu, kau sampaikan kepada mereka. Kalau tak percaya padi sudah ada di sini, sebentar…. ” Konde membisiki Ura, lalu Ura keluar dari Sao Ria. “Ya ini tadi aku minta Ata Ko’o untuk mengambil padi ketan yang sebenarnya masih muda, tapi nanti mau dibuat emping.”

Ata Ko’o yang diperintah Ura, segera menuju sawah. Ia memetik padi ketan yang sudah berisi, tetapi masih hijau. Setelah mendapat satu ikatan, padi itu dibawa pulang. Ia lalu menaruh wajan gerabah di atas tungku. Padi itu ditaruh di atas wajan gerabah itu, dibalik, sampai setengah kering, kemudian dengan pisau bambu padi itu dirontokkan, dan kembali dimasukkan lalu disangrai. Beberapa butir gabah meledak dan mengembang jadi brondong. “Itu api terlalu besar, dikurangi kayunya!” Kata Ura kepada Ata Ko’o itu. Kemudian Ura melihat ke wajan, lalu meminta Ata Ko’o untuk mengangkat gabah, menumbuk dan menampinya. Hasilnya beras ketan yang sebagian besar pipih dan tampak masih berwarna hijau dengan aroma harum. Beras emping itu dimasukkan ke dalam santan dan gula yang sudah dididihkan, lalu diaduk-aduk sebentar.

“Inilah bukti bahwa padi sudah ada di Kelimutu. Ayo Ine Pare mencicip paling awal.” Ine Pare mengambil emping ketan itu, menaruhnya dalam wadah daun pisang, dan menyerahkannya kepada Konde. “Bapak Konde, yang muda harus melayani yang lebih tua.” Konde menerima emping itu lalu menikmatinya. Rasa emping ketan itu manis, gurih, dengan aroma campuran ketan, gabah muda yang disangrai, santan dan gula. “Baru makan sedikit, sudah berasa kenyang. Ada manisnya, ada gurihnya ada harumnya. Sebenarnya Kelimutu sangat terlambat kedatangan benih padi. Itu juga salah saya, karena saya bisa minta Ata Ko’o untuk turun mencari benih dan belajar dari sana. Tetapi, ini mungkin juga kesombongan saudara tertua. Kalau yang muda tak datang, yang tua sekalian tak ikut datang. Itu memang salah, tetapi itu pulalah yang telah saya lakukan selama ini. Maafkan Ine Pare dan Ndale!”

Hari itu, Ine Pare, Ndale, Funu dan para pengawal, pulang melalui Jopu, dan Mutu Busa. Para Ata Ko’o dan Tuke Sani di Jopu sangat takut melihat kedatangan Ine Pare dan rombongan. Mereka berjongkok di depan Sao Ria, rumah besar Bheda, dan ketika rombongan ini lewat mereka menunduk serta menyembah tanda takluk. Funu memerintah agar mereka berdiri, karena tak ada yang akan menyakiti mereka. Para Ata Ko’o dan Tuke Sani itu dikumpulkan di Sao Keda, lalu Ine Pare berbicara. “Jopu merupakan tempat pertama kali padi sawah ditanam di Negeri Lio, akulah yang memrakarsainya. Aku senang karena tempat ini ada yang mengurus dan melanjutkan. Aku sedih, karena Nua Ria, tempat Aku, Ndale, dan Sipi dibesarkan oleh Bapak Raja dan Kaja, sekarang sudah tidak ada. Aku juga sedih bahwa Bapak Bheda, yang selama ini bermusuhan dengan Bapak Raja, sekarang juga telah tidak ada. Lanjutkan semuanya, nanti Ibu Funu akan mengatur, siapa menjadi Mosa Laki di Jopu ini.” * * *

Fragmen Novel Ine Pare/Novel Ibu Padi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: