PADI SAWAH KE BARAT

08/05/2017 at 11:10 (novel)

Nua Ende lebih beruntung dibanding Ndori, karena Tanah Persekutuan ini banyak dikunjungi kapal cadik dari Jawa Dwipa, kapal junk china dari Negeri Han di Tiongkok, bahkan kapal Chola dari Negeri Chola di India juga pernah berkunjung ke mari.

RAJA Nua Ende itu bernama Bhoka. Kadang ia juga menyebut dirinya Raja Bangsa Lio, meskipun Nua Ende, sebenarnya hanya terdiri dari Tanah Persekutuan Ende, dan tak ada hubungan hirarkis dengan tanah-tanah Persekutuan Bangsa Lio. Meskipun orang-orang menyebutnya sebagai Raja Nua Ende, Bhoka sebenarnya hanyalah Mosa Laki paling kaya, sekaligus paling berkuasa di Ende. Dialah yang telah menyewakan para prajurit kepada Bheda. Sepulang dari Detusoko, para prajurit, Ata Ko’o yang dipersenjatai, bercerita bahwa ketika ditahan di Detusoko, mereka diberi makan nasi. Raja Bhoka tak begitu percaya. “Di tengah hutan itu sudah ada nasi? Dari mana mereka mendapatkan beras?” Para Ata Ko’o itu bercerita bahwa masyarakat di Tanah Persekutuan baru itu sudah menanam padi. Raja Bhoka tambah tak percaya.

“Tidak mungkin, di tengah hutan lebat seperti itu mereka menanam padi. Benihnya dari mana, siapa yang mengajari mereka menanam padi? Sedangkan di Nua Ende yang sudah seramai ini pun, belum ada orang menanam padi.” Para Ata Ko’o itu kemudian bercerita. “Ketika kami tiba di pemukiman itu, suasananya sepi. Salah satu rumah terbakar. Mereka lari ke arah Kelimutu. Kami mengejar mereka. Menjelang puncak bukit, dalam keadaan kelelahan, kami diserang. Dari pada tewas semua, kami langsung menyerah dan dibawa kembali ke bawah. Ternyata pemukiman itu sudah ramai, dan mereka sudah menanam padi di lahan yang ada airnya. Di sini kami diberi makan nasi, sebelum dibebaskan dan disuruh kembali ke Ende.” Raja Bhoka mengangguk-angguk. “Sebaiknya secara resmi masyarakat Nua Ende menyatakan persahabatan dengan masyarakat Detusoko. Aku akan kirim utusan untuk membawa hadiah, dan kita minta diajari menanam padi.”

Pada suatu siang, suasana tenang di pemukiman Detusoko terganggu oleh teriakan ketakutan para Ata Ko’o. Mereka berlarian ke dalam rumah mengambil parang, tombak dan panah. Anak-anak langsung menangis dan berlarian mencari ibu mereka. Suasana tenang dan tenteram itu pecah menjadi gaduh dan menakutkan. Ine Pare juga mengambil parang keramatnya lalu keluar menuju Kanga. Semua penghuni pemukiman baru itu mengira para penyerang datang lagi. Ternyata yang datang bukan orang-orang bersenjata, melainkan para Ata Ko’o yang menuntun kuda, serta beberapa orang mengenakan kain yang diselempangkan untuk menghadiri upacara dengan membawa barang-barang mirip sesaji. “Apakah mereka ini para penyerang yang menyamar, pedagang, atau siapa?” Pikir Ine Pare dalam hati. Pemimpin rombongan, yang berjalan paling depan, menunduk memberi hormat, kemudian menyampaikan salam serta memperkenalkan diri.

“Mohon maaf kalau kedatangan kami telah mengagetkan dan mengusik ketenangan tanah pemukiman ini. Nama saya Imu, saya pemimpin rombongan, utusan dari Raja Bhoka, dari Tanah Persekutuan Nua Ende.” Semua yang memegang senjata di Kanga itu menarik napas lega, lalu menaruh senjata masing-masing. Ine Pare maju ke depan, memberi hormat, lalu membalas. “Kami juga mohon maaf, karena telah menyambut kedatangan utusan Raja Nua Ende, dengan memegang senjata. Ini bukan kesengajaan, tetapi karena kami mengira akan ada lagi serangan dari bawah sana. Nama saya Ine Pare, saya pemimpin pemukiman baru ini.” Ine pare lalu mempersilakan para tamu masuk ke salah satu rumah yang cukup besar, sebab Detusoko, belum punya Sao Ria dan Sao Keda. Di dalam rumah, para Ata Ko’o telah menyiapkan Mbeka Weti berisi sirih pinang. Imu kembali menyampaikan salam dari raja mereka, lalu menyerahkan hadiah-hadiah.

Imu juga menyampaikan permohonan maaf Raja mereka, karena beberapa waktu lalu telah khilaf membantu Bheda menyerang pemukiman ini. “Waktu itu Bapak Bheda menyebut, akan mengejar pembunuh penulis lontar dari Jawa Dwipa, yang juga pembunuh Raja dan Kaja, Mosa Laki dari Nua Ria, Tanah Persekutuan Ndori. Untuk selanjutnya, Raja Bhoka dari Nua Ende, bermaksud menjalin persahabatan dengan masyarakat Tanah Persekutuan Detusoko. Raja Bhoka berharap permintaan persahabatan ini bisa diterima dengan baik. Beliau juga berpesan, agar apabila diperkenankan, masyarakat Nua Ende bisa ikut belajar menanam padi seperti masyarakat di Detusoko ini.” Dengan perasaan terharu, Ine Pare menjawab, “Kami merasa terhormat, dan dengan sangat senang menerima permintaan persahabatan dari Raja Nua Ende. Kami juga akan membantu masyarakat Nua Ende agar bisa menanam padi sawah.”

* * *

Ine Pare kemudian mengirim Rishi, Sarik, dan beberapa Ata Ko’o, ke Nua Ende, dengan membawa benih padi, dan cangkul. Mereka membuat persemaian di lahan yang banyak airnya. Kemudian mencari lahan yang bisa dibuka menjadi sawah, menggiring kerbau liar, dan mengajari masyarakat setempat serta kerbau-kerbau itu untuk menginjak-injak lahan bergulma menjadi lahan siap tanam. Di Jopu, Mutu Busa, dan Detusoko, atraksi ini dianggap masyarakat sebagai hal yang biasa. Tetapi di Nua Ende dengan populasi penduduk sangat besar, menggiring kerbau agar mau menginjak-injak lahan berlumpur ini menjadi tontonan yang menarik. Para penonton itu dengan sukarela ikut menjadi pagar agar kerbau-kerbau itu tidak keluar lahan. Selain mengolah lahan, menanam, dan menyiangi rumput, orang-orang Detusoko juga harus melatih masyarakat Nua Ende membuat ketam penuai padi, Lewa khusus padi, alat penumbuk, penampi, dan penanak nasi.

Nua Ende lebih beruntung dibanding Ndori, karena Tanah Persekutuan ini sangat banyak dikunjungi kapal cadik dari Jawa Dwipa, kapal junk China dari Negeri Han di Tiongkok, bahkan kapal Chola dari Negeri Chola di India juga pernah berkunjung ke mari. Hingga akan banyak para pendatang asing yang mendarat di Ende dan perlu makan. Para pedagang dari Jawa Dwipa, Negeri Chola dan Negeri Han, inginnya makan nasi. Biasanya mereka membawa perbekalan sendiri. Tetapi kondisi alam tak bisa ditebak. Pelayaran dari Jawa Dwipa yang seharusnya hanya makan waktu satu bulan, bisa menjadi dua bulan bahkan tiga bulan, hingga perbekalan habis. Maka terpaksalah mereka makan apa saja yang bisa ditemukan di Ende. Talas, buah sukun, umbi ti, bewa, bahkan uwi monda yang bisa membuat mabuk apabila pengolahannya tidak cermat, mereka santap juga.

“Para tua-tua adat, dan Mosa Laki di Tanah Persekutuan Nua Ende. Terus terang kita kalah dari pemukiman baru yang masih sepi, di tengah hutan.  Mereka sudah lebih dulu menanam padi, dan cukup ahli. Kita malah kita juga baru tahu bentuk tanamannya, baru tahu kalau ada padi sawah ada padi ladang. Tetapi tak ada salahnya terlambat, bahkan kita beruntung, karena tak perlu mendatangkan benih dan tenaga ahli dari Jawa Dwipa untuk mengajari kita menanam padi. Para tua-tua adat, dan Mosa laki; tanah yang banyak airnya di Ende masih banyak. Terutama di atas sana, baik di jalan menuju Detusoko, maupun ke arah Nagakeo. Apabila kita bisa menanami lahan-lahan basah yang tak bisa ditumbuhi cendana itu dengan padi, maka tamu-tamu kita dari Jawa Dwipa, dan dari Negeri Han, akan bisa kita jamu dengan makanan sehari-hari mereka, yakni beras.”

Sejak itulah budi daya padi sawah menjadi trend di Tanah Persekutuan Ende. Karena jalur perdagangan Nua Ende, Nagakeo, Ngada, terus sampai ke Manggarai, lebih ramai dibanding dengan di sekitar Kelimutu; maka dengan sangat pelan tetapi pasti padi sawah menyebar ke arah barat pulau Flores. Bersamaan dengan itu juga menyebar pula kultur pandai besi untuk membuat alat-alat pertanian dari besi, kultur anyam-menganyam untuk menampi padi dalam proses pengolahan gabah menjadi beras; dan kultur pembuatan gerabah untuk memasak beras menjadi nasi. Pelan-pelan kultur makan dengan mengumpulkan bahan dari hutan dan memasak dengan cara dibakar, diganti dengan kultur menanam dan memasak dengan cara direbus, dikukus, kemudian digoreng. Minyak kelapa yang sebelumnya hanya untuk bahan bakar pelita, berkembang digunakan untuk menggoreng.

Perkembangan budi daya padi sawah di Nua Ende ke arah barat,  lebih maju dibanding perkembangan padi ladang yang diprakarsai Sipi dan pengikutnya di Negeri Sikka dan Negeri Lamaholot di bagian timur Pulau Flores. Sipi dan pengikutnya hanya bisa mengembangkan padi ladang. Sementara ke arah barat, berkembang secara bersamaan padi sawah dan padi ladang. Kawasan Kelimutu ke arah barat, memang lebih basah, dibanding dengan Kelimutu ke arah timur. Di Negeri Nagakeo, dan Negeri Ruteng, perkembangan sawah lebih baik, dibanding Negeri Ende. Lahan basah di Nagakeo, dan Manggarai sangat banyak dan luas. Di Negeri Ngada, perkembangan padi sawah tak terlalu baik, karena lahan mereka bergunung-gunung. Masyarakat Negeri Manggarai, membuat petak-petak sawah dengan pusatnya di tengah, hingga membentuk pola jaring laba-laba. Berawal dari Negeri Lio, proses perkembangan padi sawah ke arah barat dan padi ladang ke arah timut, berlangsung selama ratusan tahun.

* * *

Ine Pare tetap ingat nasihat Pandai Besi dari negeri Jawa Dwipa itu. “Parang ini harus diasah tiap hari dengan batu asah halus, menggunakan minyak kelapa, bukan air. Mengasahnya dengan sekali menggerakkan batu asah, dari pangkal ke bagian ujung. Tidak boleh dibalik, atau ulang-alik.” Maka tiap hari batu asah itu selalu ia gosokkan ke parang keramat tersebut dengan penuh perasaan, dari bagian pangkal mengarah ke ujung. Pasir kwarsa, silikat, besi, atau metarial lain yang sangat keras dalam batu asah itu, pelan-pelan akan mengikis besi dan batu bintang, hingga menjadi tajam. Tetapi batu asah itu sendiri juga akan ikut terkikis hingga makin lama digosokkan akan menyusut volumenya. Minyak kelapa yang tercampur kikisan batu asah, besi dan batu bintang akan berubah warna menjadi kehitaman, hingga harus diganti dengan minyak baru.

Meskipun parang sangat kuat, ringan dan tajam sudah disiapkan, Duä Lulu Wula dan Nggaé Wena Tana, justru makin kerasan di tubuh Ine Pare dan Ndale. Mereka juga semakin tidak merasakan kehadiran dua Dewa penguasa langit dan bumi itu. Terlebih karena padi sawah di bagian barat Pulau Flores, memang tidak terlalu bergantung pada air hujan. Meskipun kemarau berkepanjangan, air tetap melimpah hingga budi daya padi sawah bisa terus berlangsung. Sejalan dengan perkembangan padi sawah ke arah barat, pemukiman Detusoko juga menjadi semakin rapi, meskipun tetap kecil. Ketika Ratu melihat lahan basah di Detusoko ia langsung mengatakan bahwa lahan itu sangat luas. Ia tidak tahu bahwa lahan-lahan di bagian barat Flores, di Negeri Manggarai, luas lahan-lahan sawah itu puluhan kali lipat dari lahan di Detusoko ini. “Apakah salah kalau aku tetap ada di tubuhmu Ine Pare?” Tanya Nggaé Wena Tana.

Ine Pare menjawab. “Tak ada yang salah. Duä Nggaé sebagai Dewa Tertinggi tetap akan mengatur segalanya, termasuk menjatuhkan hujan, menumbuhkan rumput, meniupkan angin dan memelihara kehidupan. Tetapi aku yang tak suka kau manfaatkan tubuhku untuk menikmati kehidupan duniawi melalui tubuhku!” Nggaé Wena Tana menantang. Kalau demikian halnya, mengapa tak kau akhiri hidupmu sekarang, agar aku bisa kembali ke Alam Kedewaan? Bukankah kau sudah punya parang yang sangat kuat, sangat ringan, dan sangat tajam?” Ine Pare mencemoh, “Kualitasmu sebagai Dewi telah hilang ketika kau ada di tubuhku Nggaé Wena Tana. Justru kualitasku sebagai manusia yang menjadi lebih baik, dan lebih bermartabat.” Nggaé Wena Tana tak tahu maksud Ine Pare. “Apa maksud kata-katamu itu?” Ine Pare kembali mencemoh, “Itu tanda kualitas intelektualmu sebagai Dewi juga telah hilang. Aku jadi bosan denganmu!”

Ine Pare lalu memberi petuah kepada Nggaé Wena Tana, “Apakah Duä Nggaé akan mengizinkan, kalau tiba-tiba, dalam keadaan sekarang ini aku minta Ndale, atau siapa pun untuk memenggal leherku? Bodoh kau Dewi Bumi! Duä Nggaé akan mengatur semua, hingga setelah tiba saatnya aku harus bersedia untuk dibunuh demi sesuatu yang sangat penting bagi Bangsa Lio, bahkan juga bagi Penghuni Pulau Flores ini. Tahukah kau yang kumaksudkan Nggaé Wena Tana?” Yang ditanya makin bingung. “Aku tetap tak tahu apa yang kau maksudkan. Bukankah kau bisa memilih mati dengan cara jatuh dari tebing jurang, atau dari pohon, dan tak akan ada yang mempermasalahkannya? Atau kau juga bisa memutuskan untuk tetap hidup sampai tua, punya anak, punya cucu, lalu meninggal secara alamiah? Apakah itu juga salah?” Ine Pare marah. “Dari tadi aku sudah bilang tak ada yang salah, tapi aku tidak mau. Aku akan patuh pada Duä Nggaé, bukan padamu Dewi Bodoh!”

Pada waktu bersamaan, Duä Lulu Wula juga membujuk Ndale, “Ndale, apakah kau rela kalau Ine Pare yang cantik itu mati terpenggal parang yang dibuatnya sendiri?” Ndale memberikan jawaban standar, “Aku memang tak rela, tetapi aku akan patuh pada perintah Duä Nggaé, kata-kata Ine Pare, dan nasihat Funu.” Duä Lulu Wula tertawa terbahak-bahak. “Laki-laki macam apa itu? Tunduk pada perintah istri, bahkan ikut saran seorang budak perempuan. Memalukan. Lihatlah, di mana-mana di Negeri Lio, laki-laki selalu beristri banyak meski dirinya sangat miskin. Kalau perlu perempuan-perempuan yang menjadi istrinya itulah yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kau benar-benar lelaki bodoh Ndale!” Dengan tenang Ndale menjawab. “Anda benar Duä Lulu Wula! Aku memang seorang laki-laki bodoh. Bahkan sangat bodoh. Tetapi sebodoh-bodohnya manusia seperti diriku, masih lebih baik dibanding Dewa yang mau masuk ke tubuh manusia sebodoh diriku ini.” * * *

Fragmen Novel Ine Pare/Novel Ibu Padi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: