NEGERI SIKKA

15/05/2017 at 13:34 (novel)

Tetapi padi negeri Sikka lebih bernas, lebih padat, dengan kalori lebih tinggi. Rasa nasi yang berasal dari beras padi ladang Negeri Sikka, lebih enak dibanding nasi dari beras padi sawah Negeri Lio.

PERISTIWA siang itu tak pernah akan terlupakan oleh Sipi. Ia tak tahu apa yang terjadi, tetapi banyak orang berlarian. Waktu itu sedang ada tamu dari Jawa Dwipa. Tiba-tiba saja ada Ata Ko’o yang mengajaknya berlari dengan Kaju, dan Tuke Sani ke atas bukit, kemudian menuju timur. Dari atas bukit itu Sipi melihat kapal cadik dari Jawa Dwipa pergi menjauh ke tengah Laut Sabu. Selanjutnya ia harus terus berjalan, kadang kalau capek sekali diminta naik kuda. Ia, para Ata Ko’o, Tuke Sani, dan Kaju makan apa saja yang bisa diperoleh. Mereka memang membawa beras, membawa padi, tetapi beras itu tak mungkin dimasak, sebab tak ada yang membawa memasak. Setelah berhari-hari berjalan, sampailah mereka di perbatasan Negeri Sikka. Rewo, salah satu Ata Ko’o yang masih bujangan bisa berbahasa Sikka, karena waktu kecil pernah ikut orang tuanya menjadi Ata Ko’o di Negeri Sikka.

Memalui Rewo, mereka menyampaikan bahwa Nua Ria diserang dan mereka melarikan diri tanpa sempat membawa apa-apa. Mereka akan menumpang hidup di Negeri Sikka. Masyarakat Negeri Sikka menyambut mereka dengan baik, dan mempersilakan untuk memilih tempat bermukim. Mereka juga membantu membuatkan rumah, dan membuka lahan. Kawasan yang didatangi Sipi dan para pengikutnya sebenarnya masih merupakan perbatasan, antara Negeri Lio dengan Negeri Sikka. Hingga di kawasan itu tinggal orang-orang Lio, maupun orang-orang Sikka. Kawasan itu merupakan pegunungan tandus, dengan penduduk sangat jarang. Kampung-kampung hanya dihuni oleh kurang dari 10 keluarga. Sebenarnya di kawasan ini banyak dijumpai hutan cendana, dan tidak ada pemiliknya. Tetapi tak mungkin menebang pohon-pohon cendana itu untuk dibawa ke pantai, karena jaraknya sangat jauh dan jalannya tidak mungkin dilewati kuda.

Orang-orang Sikka juga sudah terbiasa membuka ladang, dengan cara menebas, mengumpulkan hasil tebasan, lalu membakarnya. Kemudian ketika hujan turun mereka akan menanam pisang, talas, umbi ti, umbi banggo, suja, bewa, rora dan lain-lain. Uwi Monda tak pernah mereka tanam, sebab di hutan umbi itu tumbuh liar cukup banyak. Mereka juga belum tahu cara mengolah uwi monda. “Kata orang-orang Lio, uwi monda bisa diolah hingga racunnya hilang. Tapi kami tak tahu cara mengolahnya, dan takut mati kalau memakan umbi itu.” Orang-orang Sikka itu mengira, Sipi dan pengikutnya juga akan menanam pisang dan umbi-umbian. Ternyata mereka menanam padi. “Apa itu padi? Bagaimanakah rasanya? Bentuknya seperti apa? Bagaimana cara mengolahnya?” Sipi menjawab, “Tanamannya seperti alang-alang, rasanya enak, dan mengolahnya harus dengan banyak peralatan.”

Orang-orang Sikka itu berdatangan untuk melihat, seperti apakah bentuk biji padi itu? “Ternyata kecil-kecil, dengan kulit kasar. Bagaimana cara mengupasnya? Apakah tidak capek? Apakah itu bisa membuat kenyang, karena tidak sebesar umbi ti? Banyak sekali pertanyaan yang mereka sampaikan. Mereka senang sekali membantu Sipi menanam padi. Setelah hujan turun, ketika orang-orang lain menanam pisang dan umbi-umbian, Sipi dan pengikutnya menanam padi. Beberapa hari kemudian padi ladang itu tumbuh seperti rumput alang-alang. Orang-orang Sikka heran. Apakah tidak akan dimakan rusa dan babi hutan? “Pasti akan dimakan rusa dan babi hutan, karenanya harus terus dijaga. Kalau sudah panen pun, mereka juga harus menyiapkan perkakas untuk mengolah padi itu menjadi beras, kemudian peralatan untuk memasaknya menjadi nasi. Air yang lebih sulit diperoleh di kawasan pegunungan yang kering ini, juga harus dibawa pulang dalam jumlah cukup untuk memasak beras menjadi nasi.

Sipi dan para pengikutnya harus bekerja lebih keras. Di pemukiman baru ini mereka harus membuat kuali dan tempayan dari gerabah, membuat nyiru, keranjang tempat padi, alu dan lesung untuk menumbuk padi, kukusan, serta bakul untuk tempat nasi. Semua harus diingat-ingat oleh Sipi, dan para Ata Ko’o. Kaju tak terlalu tahu, karena ketika masih tinggal bersama Bheda, ia dilarang untuk ikut memasak nasi. Yang paling menguntungkan, tanah liat di sini cukup bagus untuk bahan gerabah. Tetapi mereka harus mengingat-ingat, bagaimanakah bentuk alat pemutar adonan tanah liat hingga bisa menjadi kuali dan tempayan? Bagaimana kalau parang itu sudah rusak, di mana harus membeli? Ternyata tetap ada pedagang keliling yang datang, tetapi paling banyak hanya dua kali dalam setahun. Jadi kalau mereka memesan parang sekarang, baru akan datang tahun depan, dengan barang barter lebih banyak.

* * *

Setiap hari, Sipi dan para pengikutnya, sibuk melayani pertanyaan tentang padi, yang diajukan oleh para tetangga. Semua harus dijawab, meskipun kadang, pertanyaan itu akan mereka ulang-ulang terus. Salah satu pertanyaan yang terus mereka ulang-ulang, kapan akan dipanen, dan rasanya seperti apa? Sipi dan para pengikutnya, tentu tidak bisa mengharapkan hasil panen kali ini bisa mereka gunakan sebagai cadangan pangan selama setahun. Bahkan bisa jadi, hasil panen tahun ini akan mereka bagi-bagikan ke seluruh tetangga sebagai benih. Sebab kata mereka, kabar tentang padi sudah menyebar ke mana-mana, hingga yang memerlukan benih cukup banyak. Karena Sipi dan pengikutnya tak menanam umbi-umbian, mereka akan menerapkan sistem barter. Benih padi ditukar dengan pisang dan umbi-umbian.

Ketika panen perdana tiba, orang-orang berdatangan dan ikut membantu panen. Mereka berebut, ingin ikut mengoperasikan pengetam padi. Mereka juga memaksa Sipi untuk mencoba memasak padi itu. Sipi menjawab, padi ini harus dijemur, ditumbuk, kemudian ditanak menggunakan kuali. Mereka belum punya kuali karena masih terus gagal membuat cetakan gerabah. Karena terus didesak agar mencoba memasak nasi, Sipi mengutus tiga orang Ata Ko’o yang bisa berjalan cepat, untuk datang ke Nua Ria guna menukar gerabah dengan kayu cendana. Lima hari kemudian tiga Ata Ko’o itu datang dengan napas terengah-engah. “Nua Ria telah hilang!” Sipi kaget. “Apa? Bagaimana?” Ata Ko’o itu menjawab, “Benar Bapak Sipi, kampung Nua Ria itu sudah tidak ada. Bukit di atasnya runtuh ke bawah dan kampung itu hilang.” Sipi tak bisa berkata apa-apa, tetapi ia ingin segera melihat sendiri kampung Nua Ria. “Benarkan nasibnya seperti yang telah disampaikan para Ata Ko’o itu?”

Sekarang Sipi harus bisa membuat pemutar gerabah. Setelah dibantu tukang kayu berpengalaman dari kampung tetangga, Sipi berhasil membuat pemutar gerabah. Ia lalu membuat kuali, tutup kuali, tempayan, dan tutup tempayan. Dia cukup membuat tiga kuali dan tutupnya serta dua tempayan dan tutupnya, lalu setelah kering segera dibakar. Ia mengajar orang-orang menganyam kukusan. Lumpang dan alu dibuat, lalu seikat padi ditumbuk. Nyiru sudah lama mereka buat. Maka gabah ditampi, disosoh, dan tibalah saat menanak nasi. Agar semua orang bisa melihat, beras itu dimasak di halaman rumah, tempat orang-orang biasa membakar bahan makanan. Pertama dibuat karon, lalu karon dimasukkan ke dalam kukusan. Aroma harum merebak ke mana-mana, dan hari itu, untuk pertama kalinya para tetangga Sipi tahu bagaimana rasa nasi.

Setelah bermukim selama lebih dari lima tahun, padi ladang yang dibawa Sipi terus berkembang ke arah timur, ke seluruh Negeri Sikka, kemudian ke Lamaholot. Padi ladang itu juga berkembang ke arah barat ke kalangan orang-orang Lio yang bermukim di Negeri Sikka. Sebagian orang-orang Lio memang bermukim di Negeri Sikka. Mereka tetap berbahasa Lio, dengan adat istiadat Lio, tetapi mereka mengakui Bangsa Sikka sebagai pemilik lahan yang mereka tempati. Bertiga Ine Pare, Ndale, dan Funu mengembangkan padi sawah ke arah barat. Tetapi mereka juga mengembangkan padi ladang ke arah utara. Dari Detusoko, mereka ingin mengembangkan padi sawah ke Detukeli, tetapi di sana tak ada air. Maka di Detukeli berkembang padi ladang. Dari Mutu Busa, padi sawah dan padi ladang dibawa ke Kelimutu. Dari kelimutu dan Detukeli, padi ladang menyebar masuk ke negeri Sikka dan bertemu dengan padi ladang Sipi dari arah timur.

Lain dengan padi sawah, padi ladang hanya mengandalkan air hujan, yang di Negeri Sikka juga hanya akan turun selama tiga bulan. Resiko gagal panen akibat kekeringan sangat besar. Padi yang di Negeri Chola, di Negeri Han, dan di Negeri Jawa Dwipa dimanjakan dengan air melimpah, di Negeri Sikka ini dipaksa hidup di tanah tandus, dengan air sedikit, tetapi dengan terik matahari sangat panas. Produktivitas padi dari Negeri Sikka lebih rendah dibanding padi dari Negeri Lio. Tetapi padi negeri Sikka lebih bernas, lebih padat, dengan kalori lebih tinggi. Rasa nasi yang berasal dari beras padi ladang Negeri Sikka, lebih enak dibanding nasi dari beras padi sawah Negeri Lio. Tingginya kualitas padi Negeri Sikka ini, justru disebabkan oleh iklim yang ekstrem kering.

* * *

Sebagai anak termuda, Sipi tak tahu, bahwa Ndale dan Ine Pare bukan saudara kandung. Bahkan Ine Pare pun tak tahu tentang hal itu. Hanya Ndale yang tahu, bahwa ia dan Ine Pare, bukan saudara kandung. Sebab ketika Ine Pare datang bersama Funu, dan para Ata Ko’o, Ndale sudah cukup besar, hingga bisa ingat apa yang terjadi. Kemudian memang ada pencabutan status Ine Pare sebagai anak Raja dan Kaja, untuk diambil sebagai anak angkat oleh Kalyan dan Swesti. Setelah itu baru keduanya dinikahkan. Tetapi dalam pikiran Sipi, mereka berdua tetap berstatus kakak adik dan tidak boleh menikah. Pada waktu itu, secara tak sadar ia pernah mengemukakan hal ini kepada para Ata Ko’o. Maka ia beranggapan bahwa penyerangan atas Raja dan Kaja, yang membuat ia terlunta-lunta sampai ke Negeri Sikka, merupakan dampak dari perbuatan inses Ndale dan Ine Pare.

Terlebih lagi, ketika ia tahu bahwa Kampung Nua Ria itu sekarang telah lenyap. Nua Ria sudah menyatu dengan Laut Sabu. Itu semua pasti disebabkan oleh dosa Ine Pare dan Ndale. Sipi yang berpikiran sederhana, tak akan pernah bisa memahami, masuknya Duä Lulu Wula dan Nggaé Wena Tana ke dalam tubuh Ndale dan Ine Pare. Peristiwa itulah yang telah menyebabkan banyak bencana alam. Kali ini pun, ketika hujan terlambat datang dan masih tertahan sebagai awan di langit sana; pikiran sederhananya tertuju ke perbuatan inses Ine Pare dan Ndale. Prasangka buruk seperti ini, sebenarnya merupakan pintu masuk bagi Para Polo yang bermukim di Tiwu Ata Polo, di Puncak Kelimutu.

Arwah Bheda, yang sudah menyatu dengan para Polo di Tiwu Ata Polo, sedang berupaya untuk membalas dendam. “Aku ingin melihat Ine Pare dan Funu celaka, seperti halnya Raja dan Kaja terbunuh. Tapi sekarang aku hanya arwah yang tak bisa membalas dendam, tak bisa membunuh, tak bisa perang. Tapi bukankah aku masih bisa mempengaruhi manusia yang masih hidup? Baiklah, aku akan mencari-cari orang lemah, orang-orang yang sejak awal sudah punya prasangka buruk, yang bergerak di dunia bukan atas perintah Duä Nggaé.” Ketika arwah  Bheda sedang melayang-layang di atas Tiwu Ata Polo, ia menerima sinyal prasangka buruk dari Sipi. Maka ia pun segera melayang menuju Negeri Sikka ke arah sumber sinyal prasangka buruk itu. Arwah Bheda tidak mau menyusup lalu merasuki Sipi. Sebab kalau ia lakukan, yang ada di tubuh itu Bheda bukan Sipi. Maka, ia hanya akan memperkuat sinyal prasangka buruk itu.

Ketika hujan sudah waktunya turun, tetapi belum juga turun, maka sinyal prasangka buruk itu menguat. Sinyal itu menyebar ke para petani ladang yang menunggu-nunggu saat menugal dan menabur. “Malapetaka memang beruntun menimpa keluargaku.” Kata Sipi yang telah diberi kekuatan oleh Bheda. “Sekarang pun, selalu hujan terlambat datang. Ini juga akibat perbuatan Ine Pare dan Ndale. Kalau mereka berdua belum dilenyapkan, maka Negeri Lio, Negeri Sikka, bahkan Pulau Flores akan terus menerus tertimpa bencana.”  Fatwa Sipi tentang dosa Ine Pare dan Ndale, terdengar sangat nyaring oleh telinga para Ata Ko’o. Fatwa itu terbang dan menyebar bersama debu musim kemarau. Fatwa itu diperkuat oleh arwah Bheda menjadi sinyal buruk yang beterbangan ke seluruh Negeri Sikka, menyeberang ke Negeri Lio, bahkan juga sampai ke kawasan yang basah yang selama ini banyak hujan.

Hama babi hutan, hama walang sangit, hama wereng, hama burung pipit, semua ditimpakan ke Ine Pare. “Harusnya Ibu Padi itu melindungi anak-anaknya dari serangan hama. Ine Pare telah memberi banyak pekerjaan kepada kita. Padi itu juga harus ditumbuk, ditampi, dimasak dengan wadah, dengan air banyak; itu semua merupakan kerepotan-kerepotan yang dulu tak pernah ada. Hidup kita tak bisa sesantai dulu!” Massa yang sangat mudah terkena pengaruh baik maupun pengaruh buruk, sekarang sedang dibujuk, dipanas-panasi, bahkan didesak untuk bergerak. “Apakah Bapak Sipi, tahu di mana Ine Pare dan Ndale itu berada?” Sipi menjawab. “Aku tidak tahu. Aku hanya tahu mereka menanam padi sawah di tanah dengan air banyak, di barat sana.” Orang-orang itu kembali mendesak. “Apakah Bapak Sipi tidak bermaksud untuk mencari mereka dan membunuhnya?” Sipi menjawab. “Itu sedang aku pertimbangkan. Aku akan berusaha mencari tahu, dimanakah mereka berada sekarang.” * * *

Fragmen Novel Ine Pare/Novel Ibu Padi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: