DARAH DAN HUJAN

22/05/2017 at 12:26 (novel)

Dua orang tua ini terkejut dan sangat sedih. Dari tiga bersaudara, sekarang hanya tinggal ia satu-satunya yang masih hidup. Ia lebih sedih lagi, karena adik dan kakak kandungnya meninggal dengan tak wajar, karena tewas terbunuh.

PARA Mosa Laki, dan tua-tua adat berkumpul di Sao Keda di hampir semua Tanah Persekutuan Negeri Lio, dan Negeri Sikka, untuk merundingkan ritual mendatangkan hujan. Selain dengan sesaji dan tari-tarian, ritual mendatangkan hujan wajib disertai korban yang darahnya ditumpahkan ke tanah. Darah yang mengotori tanah, akan mendorong Bapa Angkasa menyiramkan air, untuk kembali menyucikan Ibu Pertiwi. Paling mudah dan murah, yang dikorbankan ayam. Setelah itu babi, kemudian dalam keadaan sangat serius dikorbankan kerbau. Korban ayam bisa dilakukan siapa saja di ladang masing-masing. Korban babi pun masih bisa dilakukan oleh perorangan dengan lahan cukup luas. Kerbau biasanya dikorbankan oleh seluruh masyarakat, dalam satu Tanah Persekutuan. Setelah sesaji ditaruh di tempat paling keramat di sebuah ladang, doa-doa dipanjatkan, kemudian hewan korban dipotong, hujan pasti akan datang. Tapi kali ini tampaknya hujan tetap belum juga turun meski ritual telah dijalankan.

Arwah Bheda yang kini bermukim Tiwu Ata Polo, lebih sering bertualang di hati manusia. “Kemarau panjang ini hanya bisa dihentikan apabila Duä Nggaé telah diberi korban darah manusia. Hujan baru akan turun apabila darah Ine Pare telah ditumpahkan ke Ibu Pertiwi. Percuma dia masih hidup sebab hanya akan menjadi jasad yang ditumpangi Nggaé Wena Tana.” Itulah yang dibisikkan Arwah Bheda ke telinga Sipi, dan telinga para pengikutnya. Bisikan Bheda ini terus menjalar terbawa angin Laut Sabu yang pada dini hari terasa dingin menusuk tulang. Kabar tentang rencana menangkap Ine Pare merebak ke seluruh Negeri Lio. Waktu itu, tak ada tradisi silaturahmi, saling mengunjungi antara masing-masing Tanah Persekutuan, karena tak ada jalur jalan, kecuali jalan setapak lewat hutan dan sabana. Tapi untuk hal-hal yang sangat penting, mereka akan tempuh perjalanan berhari-hari itu agar antar Tanah Persekutuan bisa saling berkomunikasi.

Maka Sipi beserta para pengikut dan pengawalnya menempuh perjalanan selama enam hari dari Negeri Sikka ke Tanah Persekutuan Kelimutu untuk menemui Konde dan Ura. Rombongan itu diterima dengan baik, dan diminta naik ke Sao Ria, meskipun Konde dan Ura tidak mengenal Sipi. Maka pertama-tama Sipi memperkenalkan diri. “Bapak Konde dan Ibu Ura, nama saya Sipi, anak bungsu Bapak Raja dan Kaja dari Nua Ria, Tanah Persekutuan Ndori.” Mendengar nama-nama ini, Konde beringsut mendekati Sipi dan memeluknya sangat erat. “Kamu anakku sendiri. Saya senang sekali kamu datang ke Kelimutu.” Sipi melanjutkan ceritanya. “Ketika Nua Ria diserang oleh para pemberontak anak buah Bapak Bheda karena terprovokasi orang-orang Jawa Dwipa, saya sempat melarikan diri ke Negeri Sikka dan bermukim di sana sampai sekarang. Saya sudah mengembangkan tanaman padi ladang di Negeri Sikka, bahkan sekarang telah sampai ke Negeri Lamaholot.”

Kepada Konde dan Ura, Sipi menyampaikan maksud kedatangannya, yakni ingin menangkap Ine Pare untuk dijadikan kurban agar hujan bisa segera turun.” Konde memberitahu. “Sekarang Ine Pare dan Ndale membuat tanah pemukiman baru di dekat sini. Tanah pemukiman baru itu diberi nama Detusoko. Di sana, ia dan para pengikutnya menanam padi sawah. Mengapa kamu yakin bahwa Ine Pare perlu dikurbankan?” Sipi menjawab. “Karena ia telah menikah dengan Ndale, kakak kandungnya sendiri. Duä Lulu Wula, Penguasa Langit Tertinggi marah hingga tak menurunkan hujan.” Konde diam sejenak, kemudian menjelaskan. “Ndale dan Ine Pare bukan saudara kandung. Ine Pare anak orang Negeri Sikka yang diungsikan oleh bibinya bernama Funu, ke Negeri Lio. Keluarga besar Ine Pare, ayahnya, ibunya, kakek dan neneknya, semua dibunuh oleh Bheda, yang kemudian juga membunuh Ayah dan Ibumu, Raja dan Kaja.”

Karena berada dekat dengan Tiwu Ata Polo di Puncak Kelimutu, bisikan Arwah Bheda sangat kuat. “Orang tua ini membohongimu! Aku tak pernah membunuh keluarga besar Ine Pare. Ia hanya ingin menghalang-halangimu menangkap Ine Pare. Bunuh ia sekarang juga, dan kuasai Tanah Persekutuan Kelimutu.” Tanpa berpikir panjang Sipi menghunuh parang, lalu membunuh Konde dan Ura. Terjadilah perkelahian antar saudara sepupu, Sipi anak Raja dan Kaja, melawan anak-anak Konde dan Ura. Meskipun berjumlah lebih sedikit, Sipi dan para pengikutnya segera bisa menguasai Tanah Persekutuan Kelimutu. Ia minta dua Ata Ko’o pengikutnya untuk kembali ke Negeri Sikka, dan mengirim orang lebih banyak lagi ke Kelimutu. Sejak itulah Sipi menjadi penguasa di Tanah Persekutuan Kelimutu. Dari sini ia menghimpun kekuatan untuk menyerang pemukiman baru Detusoko dan menangkap Ine Pare.

* * *

Enam orang Ata Ko’o pengikut setia Konde dan Ura berhasil lolos dan lari ke Jopu, yang sekarang kembali dikuasai pengikut Ine Pare. Dari Jopu, mereka diantar oleh para Ata Ko’o ke Mutu Busa menemui Ratu dan Gawi. Dua orang tua ini terkejut dan sangat sedih. Dari tiga bersaudara, sekarang hanya tinggal ia satu-satunya yang masih hidup. Ia lebih sedih lagi, karena adik dan kakak kandungnya meninggal dengan tak wajar, karena tewas terbunuh. Kesedihannya bertambah lagi, karena pembunuh kakak kandungnya itu Sipi, anak Raja dan Kaja. Ia segera minta para Ata Ko’o dari Kelimutu itu diantar ke Detusoko, untuk memberitahukan kejadian di Kelimutu kepada Ine Pare. Setelah tiga hari berjalan mereka tiba sudah menjelang malam, dan diterima oleh Ine Pare, dan Ndale, di rumah Funu. Mereka mendengarkan cerita para Ata Ko’o dari Kelimutu, dengan perasaan sedih. Dari tiga bersaudara Konde, Ratu, dan Raja, sekarang yang masih hidup tinggal Ratu yang bermukim di Mutu Busa.

Funu mengusulkan untuk tidak perlu menunggu kedatangan Sipi. “Sebaiknya kita langsung datang ke Tanah Persekutuan Kelimutu dari arah Detusoko dan Jopu sekaligus. Orang-orang Detusoko langsung naik dari sisi barat ke Kelimutu, orang Mutu Busa bergabung dengan orang Jopu masuk dari sebelah timur. Sebaiknya kita juga langsung berangkat, tidak perlu menunggu waktu terlalu lama. Yang perlu diatur, agar kekuatan dari Jopu dan dari Detusoko bisa datang tepat dalam waktu bersamaan. Sebaiknya yang datang lebih dulu tetap tinggal jauh di luar pemukiman, menunggu yang lain datang dari arah berlawanan. Enam orang Kelimutu itu kemudian dibagi dua. Tiga orang tetap di Detusoko, untuk membantu gerakan dari Detusoko, tiga orang ikut kembali ke Mutu Busa, dan akan terus menuju Jopu untuk menjadi pemandu gerakan dari Jopu. Enam orang inilah nantinya yang akan menjadi penghubung, agar kelompok dari Detusoko dengan kelompok dari Mutu Busa dan Jopu bisa bertemu di Kelimutu dalam waktu bersamaan.

Dengan bersenjatakan parang, tombak dan panah, Ata Ko’o serta Tuke Sani dari Detusoko menempuh jalan berputar-putar menaiki bukit ke arah timur menuju Kelimutu. Logistik mereka naikkan ke punggung kuda. Sebenarnya Ine Pare berharap Funu tetap tinggal di Detusoko, dan hanya ia dengan Ndale yang akan memimpin pasukan ini. Funu menolak. “Pemukiman baru ini tetap akan aman. Saya harus mendampingi Tuan Puteri  ke Kelimutu.” Perjalanan kali ini, tidak sesulit ketika pertama kali Funu dengan hanya dikawal empat Ata Ko’o dan tiga ekor kuda, berjalan berbelok-belok dan naik dari Detusoko ke Kelimutu. Funu masih ingat, Konde menyambut Funu dengan sangat hangat, dan memintanya untuk mendinginkan dan menyejukkan hati di Kelimutu. Orang tua itu sekarang telah tiada. Mengenang masa lalu itu, tanpa sadar Funu meneteskan air mata. “Mengapa ia harus selalu menghadapi pembunuhan demi pembunuhan? Mengapa ia harus tetap hidup dan menyaksikan pembunuhan-pembunuhan itu?”

Meskipun jarak Detusoko Kelimutu lebih dekat, tetapi perjalanan ini tetap lebih lama dan lebih sulit dibanding dengan memutar lewat Mutu Busa dan Jopu. Maka ketika kelompok ini tiba di atas bukit, kurir dari kelompok Mutu Busa yang berangkat dari Jopu sudah menunggu di sana. “Bagaimana kabar kalian, apakah dalam keadaan baik-baik?” Tanya Funu kepada kurir itu. Dengan takzim kurir itu menjawab. “Kami semua dalam keadaan baik Ibu Funu. Kami membuat pemukiman di hutan, kira-kira setengah hari perjalanan dari Kelimutu. Karena rombongan Ibu sudah sampai di sini, kami akan segera memberi tahu kelompok Mutu Busa dan Jopu, agar bersiap-seiap menuju Kelimutu. Jadi nanti ketika rombongan Ibu tiba di sana, rombongan Jopu dan Mutu Busa juga sudah tiba pula dalam waktu bersamaan. Kami mohon pamit untuk berangkat memberitahu Bapak-bapak di sana.” Kurir itu terdiri dari dua orang dan hanya berbekalkan parang, batu api dan besi pemantik.

Waktu itu masyarakat Negeri Lio sudah bisa membuat api dengan menggunakan batu api, besi pemantik dan bulu pelepah aren. Bulu-bulu halus pelepah aren dibungkus kain, kemudian bersama dengan batu api dan besi pemantik dimasukkan ke dalam buluh bambu atau kantung daun lontar berpenutup kedap air. Meskipun dibawa berjalan dalam hujan yang sangat lebat, tiga benda ini akan tetap kering, hingga ketika berhenti orang bisa segera membuat api. Bulu halus pelepah aren ditaruh di atas batu api, ditekan dengan ibu jari, lalu besi pemantik dipukulkan ke permukaan batu mengarah ke bulu pelepah aren. Ketika ujung besi pemantik memukul permukaan batu, akan keluar percikan api yang segera membakar bulu-bulu halus itu. Api segera dibungkus dengan serasah lalu ditiup pelan-pelan sampai menyala. Di tempat yang basah atau sehabis hujan, dibuat serutan kayu halus dari cabang kering, sebagai ganti serasah.

* * *

Meskipun secara fisik Sipi dan orang-orang dari negeri Sikka sudah menguasai Tanah Persekutuan Kelimutu, masyarakat masih menyesalkan pembunuhan terhadap Mosa Laki Konde, dan Ura. Secara formal mereka menyatakan tunduk pada Sipi dan para pengikutnya, tetapi dalam hati mereka masih tetap merasa sebagai Ata Ko’o dan Tuke Sani Konde dan Ura. Mereka tetap berharap ada bantuan dari pihak luar yang bisa membebaskan mereka, dan mendudukkan putera sulung Konde sebagai Mosa Laki Kelimutu. Maka ketika beredar informasi bahwa ada pengepungan terhadap pemukiman Kelimutu, mereka merasa sangat senang, dan diam-diam mendukung penyerangan terhadap Sipi. Ine Pare, dan Funu tak setuju penyerangan langsung, sebab kekuatan Sipi dan orang-orang Sikka sebenarnya sangat kecil. Mereka juga tidak terlatih untuk berperang.

Ine Pare, Ndale dan Funu, memerintahkan orang-orang Detusoko, Mutu Busa dan Jopu mengutus tiga Ata Ko’o, ke Sao Ria Konde dan Ura, yang sekarang ditempati Sipi dan pengikutnya. Sipi diminta untuk datang ke Kanga. Sipi dan para pengikutnya keluar dengan membawa parang. Di Kanga itu berhadap-hadapan Ine Pare, Ndale, Funu dan para pengikutnya, dengan Sipi dan para Pengikutnya. Ine Pare dengan parang keramatnya maju ke depan berdiri di tengah Kanga. Parang ia tancapkan di tanah di samping kiri. Ia lalu berlutut dan menyorongkan lehernya. “Sipi, adikku yang saya cintai. Inilah leherku, yang ingin kau penggal, agar darah tertumpah ke tanah dan hujan segera turun. Silakan tak usah menunggu terlalu lama.” Ndale dan Funu maju beberapa langkah tetapi dicegah oleh Ine Pare. Kakak Ndale dan Funu tetap di tempat, jangan ikut campur. Maka dua orang itu kembali ke belakang dan menunggu.

Sipi dalam kenangan Ine Pare, adalah Sipi yang masih anak-anak, yang selalu ia gendong-gendong, yang kemudian ketika menginjak remaja juga tetap manja kepadanya. Sipi yang dihadapinya sekarang, bukan Sipi yang dulu lagi. Sipi yang sekarang ini seorang pemuda berhati kosong, hingga bisikan Arwah Bheda sangat kuat berkumandang di telinganya. Terlebih sekarang ia berada dekat dengan Tiwu Ata Polo, di Puncak Kelimutu. Sinyal-sinyal jahat itu sedemikian kuatnya hingga bisa merusak perangkat lunak dan perangkat keras di tubuhnya. Seperti orang kalap ia mengangkat parang, maju ke depan dan dengan sekuat tenaga ia ayunkan parang itu untuk memenggal leher Ine Pare. Tepat pada saat Sipi mengayunkan parang, Ine Pare menghindar lebih cepat menggunakan kekuatan Nggaé Wena Tana,  hingga parang itu tak mengenai sasaran. Pada saat bersamaan tangan Nggaé Wena Tana meraih parang yang tertancap di tanah lalu diayunkan dari kiri ke kanan, lebih cepat dari ayunan parang Sipi.

Mata parang tajam Ine Pare membentur punggung parang Sipi yang tengah diayukan. Parang Sipi patah jadi dua, dan lepas dari tangan . Karena parang tak mengenai sasaran, tenaga yang sudah terlanjur dikerahkan oleh Sipi, tak terkendali. Tubuh Sipi terdorong ke kiri dan jatuh. Ine Para menjambak rambut dan mendongakkan kepala Sipi agar ia bisa menatap wajahnya. “Sipi, adikku yang kusayangi. Dengan parang seperti itu, kau hanya bisa menebas belukar untuk membuka ladang. Bukan untuk memenggal leherku.” Kemudian ia mendorong tubuh Sipi hingga kembali terjengkang ke belakang. Ine Pare menebarkan pandangnya ke para pengikut Sipi. “Ayo, siapa lagi yang akan memenggal leherku?” Ine Pare kembali menancapkan parangnya ke tanah. Suasana hening. Tanpa ada yang meminta, satu per satu para pengikut Sipi meletakkan parang, di depan parang Ine Pare, kemudian mereka semua berjongkok di belakang Sipi.

“Jaga orang-orang ini, dan perintahkan mereka yang mengepung Kelimutu untuk berkumpul di Kanga. Bawa Sipi masuk ke Sao Ria” Kemudian Ine Pare, Ndale, Funu, dengan diikuti pengawal membawa Sipi masuk ke Sao Ria. Orang-orang Kelimutu yang awalnya ketakutan, sekarang keluar rumah dan ikut berkumpul di sekeliling Kanga. Tak lama kemudian para pengepung juga berdatangan mengelilingi Kanga hingga para pengikut Sipi berada di tengah. Parang-parang mereka diambil dan dibawa ke Sao Ria. Di Dalam Sao Ria Ine Pare menampar Sipi. “Bheda! Aku tahu apa yang kau bisikkan ke Sipi adikku. Kembalilah kau ke Tiwu Ata Polo, atau kubakar kau dengan mantra-mantra dari Jawa Dwipa.” Sipi seperti terbangun dari mimpi. Ia bingung, tapi kemudian bersujud di depan Ine Pare dan Ndale. Ine Pare minta Sipi kembali ke Sikka dan terus melanjutkan pengembangan padi ladang di sana. * * *

Fragmen Novel Ine Pare/Novel Ibu Padi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: