PERJAMUAN TERAKHIR

05/06/2017 at 13:13 (novel)

Dan hambamu memutuskan untuk menjalankan tugas suci itu dengan senang hati.” Ine Pare lalu mendongakkan kepala ke arah datangnya suara. Kali ini tak terdengar apa pun. Hanya kicau burung Garugiwa. Langit biru tapi kosong.

 

SETELAH Sipi dan para pengikutnya pulang ke Negeri Sikka, Kelimutu kembali tenang. Pertemuannya dengan Sipi setelah sekian tahun berpisah, membuat Ine Pare merasa rindu pada kampung halamannya di Nua Ria. Tapi kampung halaman itu sudah tak ada. Ia juga kembali ragu, bahkan takut untuk menjalankan tugas terakhirnya. Pagi itu, mengenang masa remajanya, Ine Pare berjalan-jalan di tepi pemukiman. “Burung Garugiwa, sudah beberapa hari ini aku di Kelimutu, mengapa kau tak menampakkan diri? Apakah kau lupa dulu pernah meramalku? Kalau kau lupa, akulah Ine Puũ, dan aku akan nyanyikan lagi mantra itu.

O… Duä Nggaé
Duä ghéta Lulu Wula
Nggaé ghalé Wena Tana
Nggoro sai noő soku lo
Tau ka aré kau gau doa
Rué kibi kau lema koja
Moő tau mujo wiwi kau
Noő moke mi.

(O… Dewa
Penyangga langit tertinggi
Pemangku bumi terdalam
Hadirlah lewat tiang sesaji
santaplah persembahan makanan ini
emping untuk meliukkan pinggang
segarkan mulut
dengan manis air nira).

Nyanyian Ine Pare itu hilang di antara ranting-ranting jeruk, yang buahnya tengah menguning. Tapi tak ada suara Burung Garugiwa. Ine Pare berteriak. “Burung Arwah, wahai Burung Garugiwa, apakah kau juga disandera Arwah Bheda, yang sekarang sudah bermukim di Tiwu Ata Polo?” Tetap hening. Hanya sedikit gemerisik daun-daun kering diterpa sedikit angin. “Kau di mana Burung Garugiwa aku merindukanmu. Kau dimana?” Tiba-tiba terdengar nyanyian burung Garugiwa dari tempat yang cukup jauh di tajuk cemara gunung. “Garugiwa, aku tahu itulah kau. Tapi mengapa kau tak dapat berbicara seperti dulu? Mengapa kau hanya bisa berkicau seperti burung-burung lain? Meskipun kuakui kicauanmu itu sangat merdu. Burung arwah, mengapa kau tak kembali menjadi burung yang dulu berbicara kepadaku?” Kali ini yang terdengar suara Duä Nggaé. “Ine Pare, apakah kau sudah gila hingga berharap burung bisa berbicara seperti manusia?” Ine Pare malu, tetapi juga takut. “Mohon ampun Duä Nggaé, hambamu tak tahu kalau dulu itu Paduka yang berbicara.”

“Tak apa-apa. Waktu itu kau masih remaja, hingga supaya sedikit mistis aku menyamar jadi burung Garugiwa. Sekarang kau sudah dewasa, jadi aku cukup tampil dalam bentuk suara tanpa ada sosoknya. Kubiarkan Burung Garugiwa berkicau di antara tajuk cemara di kejauahan sana. Ine Pare, mengapa kau panggil-panggil nama Dewa?” Kali ini Ine Pare menunduk, dan menaruh dua telapak tangannya saling menangkup di depan dada. “Ampun Duä Nggaé, hambamu sedang ragu, juga takut untuk menyelesaikan tugas, mewujudkan ramalan yang pernah Paduka sampaikan melalui Burung Garugiwa.” Duä Nggaé tertawa. “Kau jangan menipuku Nggaé Wena Tana! Aku tahu yang galau bukan Ine Pare tapi kau. Kau keenakan hidup di bumi dengan meminjam tubuh Ine Pare, agar bisa setiap saat berkencan dengan Duä Lulu Wula, tanpa ada musimnya. Di Alam Para Dewa, kau hanya bisa menikmati hubungan dengan Duä Lulu Wula selama tiga bulan dalam setahun. Ine Pare, kau jangan mau terlalu lama memberi tumpangan kepada Nggaé Wena Tana!”

“Ampun Paduka Duä Nggaé. Sebenarnya sebagai manusia biasa, hambamu Ine Pare ini pun juga takut berangkat ke Keli Ndota di Tanah Persekutuan Detukeli, di utara sana. Mohon bantuan kekuatan dari Paduka.” Kali ini kedengaran suara Duä Nggaé serius. “Ine Pare, aku tak bisa memberi apa pun padamu, sebab semua yang kau perlukan sudah ada pada dirimu. Rasa takut, rasa bersalah, rasa sombong, rasa angkuh, rasa malu, rasa senang, rasa sedih; semua sudah ada pada semua manusia termasuk kau. Kau juga bebas. Ramalan bukan peraturan, bukan undang-undang, hukum alam yang kalau kau langgar akan ada sanksinya. Ramalan itu boleh kau jalani, bisa kau tolak, tak akan ada yang tahu, sebab yang tahu hanya dirimu dan diriku. Burung Garugiwa itu pun tak tahu-apa-apa hingga ia hanya bisa berkicau terus di kejauhan sana. Maka kau bebas. Akan berangkat ke Keli Ndota , atau kembali ke Detusoko, tak akan ada halangan apa pun.”

Karena Ine Pare masih diam, Duä Nggaé melanjutkan. “Ine Pare, kemarau panjang tak ada sangkut pautnya dengan dirimu. Bahkan ketika Nggaé Wena Tana tetap di tubuhmu dan Duä Lulu Wula berada di tubuh Ndale pun, alam tak akan guncang. Hujan akan terus turun, meskipun waktunya kadang tepat, kadang terlalu cepat, bisa pula sangat terlambat. Kalau hujan terlambat datang, itu bukan salah siapa-siapa tetapi karena memang demi keseimbangan agar tercipta harmoni. Kali ini Ine Pare menghaturkan sembah. “Terimakasih yang sebesar-besarnya atas kemurahan Duä Nggaé. Hambamu makin yakin bahwa berangkat ke Keli Ndota agar leher hamba ini bisa dipenggal, bukan kewajiban melainkan merupakan kehendak hamba pribadi secara bebas. Dan hambamu memutuskan untuk menjalankan tugas suci itu dengan senang hati.” Ine Pare lalu mendongakkan kepala ke arah datangnya suara. Kali ini tak terdengar apa pun. Hanya kicau burung Garugiwa. Langit biru tapi kosong.

* * *

Pagi ini cuaca di Kelimutu seperti biasanya sangatlah cerah. Tapi itu tak akan berlangsung lama. Biasanya setelah posisi matahari hanya bisa dilihat dengan cara sedikit mendongak, kabut akan datang dan menyelimuti Kelimutu. Kabut itu bisa terus turun sampai sore, sampai malam, atau sampai dini hari. Tak jarang selama berhari-hari kabut terus menutup Kelimutu. Pada hari-hari lain, tak jarang cuaca cerah sepanjang hari selama beberapa hari. Tatapi yang ini jarang sekali terjadi. Ine Pare tak tahu, apakah cuaca cerah pagi ini akan terus berlanjut sampai sore, sampai pagi, atau tak lama lagi akan jadi kelabu dan dingin. “Hari ini aku akan memasak nasi dengan caraku, dan akan kita makan bersama-sama.” Funu, dan para Ata Ko’o heran. Funu bertanya. “Cara Tuan Puteri? Bagaimana itu?” Ine Pare memerintah. “Kumpulkan dulu bahan yang ada, beras, sayuran, daging, bumbu dan garam. Nanti kuberitahu cara memasaknya.”

Tak lama kemudian, Funu melaporkan, “Tuan Puteri, beras tersedia, sayuran hanya ada pucuk pakis, tetapi masih harus diambil. Daging yang tersedia hari ini daging ayam. Bumbu tersedia kelapa, kunyit, lengkuas, daun salam, sereh, asam, lada, cabai jawa. Apakah ini cukup?” Ine Pare bertanya, “Apakah tidak ada sayuran lain?” Funu tak bisa menjawab dan menoleh ke arah para Ata Ko’o. Salah satu Ata Ko’o menjawab, “Ata Tuan Puteri, tetapi masih harus diambil di ladang. Buah labu air, kacang kara.” Ine Pare mengangguk. “Itu baik kalau kalian ambil.” Funu kembali bertanya, “Tuan Puteri, di maka kita akan memasak, di Kanga, atau di rumah ini, dan alat apa yang harus kami sediakan?” Ine Pare menjawab, “Kita memasak di Sau Ria ini, cukup disiapkan satu kuali dengan tutup dan pengaduk.” Funu dan para Ata Ko’o meninggalkan Sao Ria, untuk mempersiapkan bahan-bahan, peralatan, dan kayu bakar kering. Mereka melihat di tengah tungku yang hanya terdiri dari tiga buah batu tersusun segi tiga itu, masih ada bara api bekas memasak kemarin.

“Ndale, kemana Ndale? Apakah ia juga ikut mencari bahan-bahan itu? Hari ini aku Ine Pare, merasakan hidup ini menjadi sangat sepi dan kosong. Apakah sebenarnya aku takut menyerahkan hidupku kepada Duä Nggaé, dan mengembalikan tubuhku kepada Nggaé Wena Tana? Bukan. Aku merasa sepi dan kosong, karena sendirian di Sao Ria ini, sementara yang lain bergerak di luar sana. Tubuh dan terutama pikiran yang sendirian dan diam tak berbuat apa pun, akan sangat mudah tersusupi Ata Polo dari Tiwu Ata Polo dari Puncak Kelimutu. Aku sering minta orang-orang itu bergerak cepat, dan hanya diam ketika sudah sangat capek dan segera tidur. Tetapi terhadap diriku sendiri, kadang aku lalai. Baiklah, aku akan bergerak. Benda yang bergerak akan sulit menjadi sasaran anak panah dan tombak. Tubuh dan pikiran yang terus bergerak juga akan sulit dimasuki Ata Polo.”

Ine Pare bangkit, menyalakan api, mengambil kayu bakar, mengambil air dari tempayan besar dengan gayung, menuangkannya ke kuali ukuran sedang, lalu kuali itu ditaruhnya di atas api dan ditutup. Ia lalu duduk di atas potongan balok kayu yang dibentuk empat persegi panjang dan mengamati api membakar kayu-kayu itu. Kayu itu merupakan energi dari Leja yang memancarkan sinarnya dengan terik, ditangkap oleh daun-daun untuk mengolah nutrisi yang diambil dari kedalaman Ibu Pertiwi. Energi itu disimpan dalam bentuk umbi-umbian, biji padi, juga kayu ini. Api ini berasal dari Leja dan panasnya akan mendidihkan air dan mematangkan beras menjadi nasi. Juga menghangatkan ruangan pada malam yang dingin. Saat air itu menjelang mendidih, Funu, Ndale, dan para Ata Ko’o datang membawa sayuran, dan daging ayam yang sudah dibersihkan. Mereka meletakkan sayuran dan daging ayam itu, lalu menunggu perintah dari Ine Pare.

“Beras dicuci dan dimasukkan, sayuran dipotong-potong dan dicuci, sebagian bumbu dimasukkan utuh, sebagian dimemarkan, sebagian ditumbuk halus. Sayuran dan bumbu dimasukkan ketika nasi menjelang masak.” Lakukanlah memasak dengan cara ini, ketika kalian berada dalam perjalanan, di ladang, atau dalam keadaan darurat, hingga memasak bisa lebih cepat, dan makanan bisa segera disajikan. Cara memasak ini merupakan gabungan antara tradisi kita membakar pisang, sukun, umbi-umbian, sayuran, ikan, dan daging, dalam sebuah lubang, dan dimakan bersama-sama. Tradisi memasak nasi, sayuran, daging dan ikan secara terpisah-pisah dari Negeri Chola di India, dari Negeri Han di Tiongkok, yang menyebar ke Negeri Jawa Dwipa, dan Negeri Lio kita ini, juga harus kita terima. Cara memasak yang kuajarkan ini, merupakan gabungan dari bahan makanan dan peralatan baru, dengan cara tradisi lama kita. Makanan ini kuberi nama Bubur Lio.”

* * *

“Bubur Lio ini harus dimakan panas-panas, ditaruh di atas daun yang lebar dan tak berbulu gatal, dan tak bisa diambil dengan tangan untuk disuapkan ke mulut. Cara memakannya menggunakan daun pisang yang disobek seukuran dua jari, ditekuk jadi dua, sedikit dicekungkan, disusupkan ke makanan yang lembek dan berair ini, ditiup-tiup sebentar, lalu disuapkan ke mulut. Kita akan merasakan kehangatan Leja masuk ke tubuh kita. Lakukanlah ini untuk mengenangkan daku!” Mereka yang hadir di Sao Ria itu, termasuk anak-anak dan menantu Konde dan Ura, terkejut dan bertanya-tanya. Akan ke manakah Ine Pare? Melihat wajah yang bertanya-tanya ini, Ine Pare melanjutkan. “Besuk pagi, saya, Ndale, dan Funu, akan melanjutkan perjalanan ke Keli Ndota, untuk memenuhi permintaan Duä Nggaé. Aku akan kembali ke Ibu Pertiwi, Nggaé Wena Tana, Penguasa Bumi Terdalam. Ndale kembali ke Duä Lulu Wula, Penguasa Langit Tertinggi, Funu akan ke Jopu, atau ke Detusoko.

Karena semua terdiam, Ine Pare melanjutkan. “Marilah sekarang kita menikmati makanan ini. Inilah perjamuanku, perjamuan terakhir, sebab besuk aku akan ke Keli Ndota dan tak akan kembali lagi. Tetapi jangan takut, akulah Ine Pare, ibu padi, yang akan terus menyertai kalian yang rajin menanam padi. Tanaman biji-bijian dari Negeri Chola, dari Negeri Han, yang kemudian menyebar ke Negeri Jawa Dwipa; atas perintah Duä Nggaé, telah dibawa ke Negeri Lio kita, untuk dijadikan makanan cadangan, terutama pada sasat paceklik. Paceklik Negeri Lio bukan saat kemarau panjang. Kemarau panjang justru menghasilkan banyak pisang, banyak sukun, banyak umbi-umbian. Makanan justru sulit diperoleh ketika hujan sudah datang. Para waktu itu buah pisang dan sukun, serta umbi-umbian sudah habis, tetapi sayuran daun-daunan belum ada. Waktu itulah rakyat negari Lio hanya mengandalkan bahan makanan pati sagu dan aren.”

Siang itu mereka makan bersama-sama. Meskipun suasana dibuat agar segembira mungkin, semua yang hadir tak dapat menyembunyikan kesedihan mereka. Berita tentang masakan baru yang mereka sebut Bubur Lio segera menyebar dari mulut ke mulut, dan orang-orang menerima makanan baru itu dengan antusias sebab bahan-bahannya fleksibel, dan cara memasaknya mudah serta cepat. Masyarakat bahkan mengembangkannya dengan menggunakan bahan-bahan lama. “Mengapa harus beras? Bukankah Bubur Lio juga bisa dibuat dari bahan pisang, sukun, talas, umbi ti, dan bewa? Kecuali umbi banggo dan suja, karena terlalu manis.” Yang lain menjawab. “Aku tadi membuat Bubur Lio dari buah sukun dengan sayuran dan daging babi, juga sangat enak. Memasaknya mudah dan cepat. Ini berkat Ibu Padi. Tetapi mau kemanakah Ibu Padi, mengapa beliau akan ke Keli Ndota untuk dihukum mati? Apa kesalahan beliau?”

“Yang bersalah telah membunuh Bapak Konde dan Ibu Ura, bukankah Bapak Sipi dari Negeri Sikka? Mengapa Bapak Sipi dan para pengikutnya malahan dibebaskan dan disuruh kembali ke Negeri Sikka? Apakah tidak lebih baik Ibu Ine Pare kita minta tetap di sini, agar Kelimutu bisa menghasilkan lebih banyak padi, dan aman tidak diserang oleh para pendatang?” Belakangan ini orang-orang Kelimutu memang kebingungan. Pemimpin mereka terbunuh, mereka dikuasai bangsa asing. Betapa tak enaknya menjadi Ata Ko’o, menjadi budak bangsa asing. Mereka diperintah-perintah, dibentak-bentak, melakukan kesalahan sedikit pun akan dipukul, bahkan tak jarang dibunuh. Sipi dan orang-orang Sikka menguasai Kelimutu hanya dalam waktu sangat singkat, karena kedatangan Ine Pare dan pasukannya. Tetapi pengalaman yang sangat singkat ini sungguh membekas bagi masyarakat Tanah Persekutuan Kelimutu.

Malam itu Ndale, dan Funu, berniat untuk berkemas hingga besuk barang-barang itu tinggal menaikkannya ke atas kuda. Ine Pare melarang. “Kita bertiga tak akan membawa apa-apa kecuali parang dan Mbeka Weti tempat sirih pinang. Kita akan makan apa saja yang kita jumpai di jalan. Kita pergi bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk mengantar saya menjalankan tugas akhir sebagai Ibu Padi. Jadi tak usah membawa perbekalan, tak usah diantar oleh para Ata Ko’o.” Funu mengangguk. “Baik Tuan Puteri, perintah saya jalankan.” Tetapi kembali Funu mengajukan pertanyaan. “Mengapa Tuan Puteri tetap ingin menyerahkan diri kepada mereka yang menginginkan darah Tuan Puteri Ine Pare? Bukankah Bapak Bheda sudah tak ada? Bukankah Adik Sipi juga sudah kembali ke Negeri Sikka? Siapa lagikah yang masih menginginkan kematian Tuan Puteri Ine Pare? Apakah kita tidak bisa melawan mereka?” * * *

Fragmen Novel Ine Pare/Novel Ibu Padi

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: