KELI NDOTA

14/06/2017 at 10:35 (novel)

Di bawah tegakan lontar itu berserakan buah yang berjatuhan. Sebagian telah membusuk, sebagian telah dimakan babi hutan. Funu mencari buah yang baru saja jatuh dan masih utuh.

 

DETUKELI kering kerontang. Rumput dan belukar cokelat mengering. Batu-batu telanjang. Debu beterbangan diterpa angin kencang. Terik matahari membuat air makin cepat menguap kembali ke Duä Lulu Wula. Uap air itu tersapu angin Laut Sabu dan hilang di utara sana. Lagi pula, uap air itu terlalu sedikit hingga tak akan pernah bisa membentuk awan untuk menurunkan hujan. Ine Pare, Ndale, dan Funu berjalan tanpa membawa apa pun, kecuali parang dan Mbek Weti, menuju Tanah Persekutuan Detukeli. Mereka akan menuju Keli Ndota, sebuah puncak bukit tanpa pepohonan, di dekat pemukiman Watunggere. Perjalanan Kelimutu ke Keli Ndota ditempuh dalam waktu tiga hari. Dengan tanpa membawa beban, perjalanan bisa lebih dipersingkat. Dengan tanpa istirahat memasak, waktu akan bisa lebih diperpendek lagi. Cara berjalan juga akan menentukan waktu tempuh. Ketika menuruni lereng bukit, perjalanan harus ditempuh dengan sedikit berlari secara zig-zag.

Saat mendaki bukit, setiap beberapa langkah perlu istirahat sejenak, dan lereng itu juga harus didaki dengan cara zig-zag. Kecuali tebing yang sangat terjal, yang harus didaki dengan memanjatnya, berpegangan pada tonjolan batu dan pokok-pokok serta akar perdu berkayu. Yang disebut jalan pada waktu itu hanyalah sela-sela belukar, hutan, dan padang sabana yang biasanya menjadi rute perjalanan babi hutan, rusa, dan kerbau. Karena alam tampak selalu sama, kemungkinan tersesat sangat besar. Itulah perlunya orientasi arah berdasarkan posisi matahari dan bintang. Maka selama musim penghujan, orang-orang lebih banyak tinggal di rumah, karena jalan becek dan hilang ditumbuhi rumput. Selain itu matahari dan bintang juga tak kelihatan karena langit sering mendung. Pada musim penghujan, orang-orang hanya berani pergi ke kawasan yang sudah mereka kenal dengan sangat baik.

“Funu, kita beristirahat sebentar.” Kata Ine Pare di sebuah puncak bukit. Funu dan Ndale berhenti dan mencari tempat duduk. “Apakah Tuan Puteri capek?” Ine Pare mengangguk. “Aku merasa capek sekali. Kelihatannya di depan itu ada pemukiman. Kau lihat itu Funu, kau lihat Kakak Ndale?” Funu dan Ndale melihat ke arah yang ditunjuk Ine Pare. Mereka memang melihat ada pemukiman di lembah yang masih sangat jauh. “Apakah itu Watunggere Funu?” Funu menggeleng. “Aku tak tahu Tuan Puteri. Kita lihat saja nanti.” Ine Pare berdiri. “Marilah kita lanjutkan perjalanan.” Funu ikut berdiri, juga Ndale. Funu menangkap kegelisahan hati Ine Pare, tetapi ia tak bisa menghiburnya. Ia hanya bisa mengikuti apa yang dikehendakinya. Maka mereka melanjutkan perjalanan, dan hanya minum air yang mereka jumpai dan makan apa saja yang didapat dalam perjalanan. Sayangnya, Detukeli merupakan kawasan yang kering kerontang.

Ketika melintas di bawah tegakan batang-batang lontar, Funu mengajak beristirahat. “Tuan Puteri sebaiknya kita beristirahat.” Di bawah tegakan lontar itu berserakan buah yang berjatuhan. Sebagian telah membusuk, sebagian telah dimakan babi hutan. Funu mencari buah yang baru saja jatuh dan masih utuh. Ia mendapatkan satu, lalu mencongkel kulit buah itu dengan parang, dan memakan sabutnya. Sabut itu penuh dengan jelly berwarna kuning yang beraroma harum, tapi rasanya agak pahit. Funu mengisap-isap jelly sabut lontar itu, lalu membuang ampasnya. Tanpa bertanya apa pun Ine Pare dan Ndale mengikuti Funu. Mereka mencari buah lontar yang masih utuh, mencabik dan menarik sabut, lalu mencecap jelly kuning yang pahit itu. Perut mereka yang kosong sediikit terisi dengan jelly buah lontar. Funu mengambil parang, lalu memotong bambu, dan menariknya. Ia memotong buluh dengan bagian bawah beruas dan bagian atas terbuka sepanjang satu jengkal, sebanyak tiga buah.

Batang bambu itu kemudian ia potong sepanjang dua depa. Ia menaruh potongan buluh sejengkal itu dengan lubang menghadap ke atas, kemudian ia mengangkat buluh sepanjang dua depa itu tegak di atasnya. Air jernih mengucur dari buluh bambu panjang itu, dan tertampung dalam buluh kecil sampai terisi setengah. “Silakan minum Tuan Puteri. Ine Pare minum air bambu itu. Rasanya benar-benar tawar, dan tak ada aroma apa pun. Ine Pare merasakan perbedaan air biasa dengan air bambu yang baru saja diminumnya. Funu kembali memotong bambu itu sepanjang dua depa, lalu menegakkannya agar air mengalir keluar, dan tertampung di potongan buluh kecil. Ia memberikan air bambu itu untuk Ndale. Kemudian ia melakukan hal yang sama untuk dia sendiri. Tubuh mereka kembali segar, dan bisa melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka lebih sering menjumpai padang sabana berbelukar dan berbatu-batu.

* * *

Pemukiman itu ternyata bukan Watunggere tetapi Kanganara. Padahal mereka sudah berjalan selama tiga hari. “Berarti kita salah arah. Seharusnya ke arah timur laut, tetapi kita terlalu ke timur.” Orang-orang Kanganara menyambut kedatangan Ine Pare, Ndale dan Funu dengan curiga. “Siapa kalian bertiga ini, tanya mereka dengan galak.” Tampaknya orang ini Mosa Laki di Kanganara. Ine Pare menjawab. “Aku Ine Pare, dari Detusoko, dan bermaksud pergi ke Keli Ndota dekat Watunggere.” Tiba-tiba orang itu memberi aba-aba kepada orang-orang yang ada untuk menangkap dan mengikat Ine Pare, Ndale dan Funu; dengan Bahasa Lio yang tak mereka ketahui. Funu dan Ndale ingin melawan, tetapi Ine Pare melarang. “Biarkan saja kita ikuti keinginan mereka.” Mereka lalu berbicara dengan Bahasa Lio yang dialeknya tidak terlalu mereka ketahui. Tetapi setelah mengucapkan kata-kata dengan lebih pelan, Funu tahu maksud mereka.

“Mereka bilang Ine Pare dan dua temannya ini harus dipenggal lehernya di tempat ini, untuk membuat lahan Kanganara bisa sesubur Kelimutu.” Ine Pare meminta Funu untuk bertanya, kapan leher mereka akan dipenggal? Mereka menjelaskan, bahwa leher akan dipenggal besuk. Ine Pare bilang, “Kami tak perlu diikat karena tidak akan lari.” Maka orang-orang itu melepaskan ikatan, memasukkannya ke Sao Keda, memberikan makanan, dan membiarkan tiga tawanan ini tidur dengan tetap menjaganya secara bergiliran. Funu sulit untuk tidur, dan berbincang dengan para penjaga. Karena bisa berbahasa Sikka, sedikit-sedikit Funu bisa berkomunikasi dengan orang-orang Kanganara ini. Sebenarnya mereka tetap berbahasa Lio, tetapi dengan dialek yang sudah tercampur dengan Bahasa Sikka. Ternyata, mereka telah mendengar berita tentang Ine Pare, sebagai Ibu Padi, yang harus dikorbankan untuk menyuburkan lahan.

Orang-orang Kanganara juga sudah menanam padi ladang, tetapi lain dengan Detukeli yang mendapat benih dan belajar menanam padi dari orang-orang Detusoko dan Kelimutu; orang-orang Kanganara dapat benih dan belajar menanam padi dari orang-orang Sikka para pengikut Sipi. Malam itu Funu hampir tidak bisa tidur. Ndale tidur tetapi sebentar-sebentar terbangun. Hanya Ine Pare yang bisa tertidur nyenyak. Pagi-pagi sekali mereka sudah dibangunkan, kembali diikat dan digiring ke Kanga. Di sinilah mereka bertiga akan dipenggal kepala mereka, agar darah mereka membasahi tanah Kanganara. Semua penghuni Kanganara, baik Ata Ko’o, Tuke Sani, maupun Mosa Laki beserta keluarga mereka hadir mengelilingi Kanga. Sebagai algojo, disiapkan seorang Ata Ko’o bertubuh besar dan berotot kekar. Ia sudah siap dengan sebilah parang. Mosa Laki, pemimpin pemukiman Kanganara maju ke dan bertanya. “Benarkah yang kami tangkap ini Ine Pare? Dan yang mana yang bernama Ine Pare?”

Ine Pare menjawab. “Akulah Ine Pare, Ibu Padi. Laki-laki yang bersamaku ini bernama Ndale, ia suamiku. Perempuan ini bernama Funu, ia bibiku. Kepalaku memang akan dipenggal atas perintah Duä Nggaé, agar Nggaé Wena Tana yang ada di tubuhku kembali ke alam tanah Negeri Lio, dan Duä Lulu Wula yang ada di tubuh suamiku bisa kembali ke langit Negeri Lio. Tetapi Duä Nggaé tak mau aku dipenggal oleh orang-orang Kanganara di tempat ini. Duä Nggaé minta aku dipenggal di Keli Ndota, dekat Watunggere sana.” Mosa Laki itu ragu-ragu, tetapi kemudian bilang “Kalian harus tetap dipenggal di Kanganara ini, karena kami yang berkuasa.” Ine Pare berdiri dan menantang, “Silakan penggal kepalaku saat ini juga kalau kalian mampu.” Algojo itu mendekat, meminta Ine Pare membungkuk, agar lehernya mudah dipenggal. Ine Pare menuruti perintah itu, dan segera membungkuk. Dengan sekuat tenaga, algojo itu mengayunkan parangnya ke arah leher Ine Pare. Nggaé Wena Tana bergerak lebih cepat mendorong kaki kiri algojo itu ke belakang.

Akibatnya tubuh besar itu tersungkur ke depan. Setelah tubuh itu membentur tanah, parang yang ia genggam dengan dua telapak tangan itu terlempar. Ine Pare menginjak leher algojo itu dengan kaki kanannya keras-keras dan kemudian ia berteriak. “Dalam tubuhku bersemayam Nggaé Wena Tana, Penguasa Bumi Terdalam. Algojomu ini akan ditarik oleh Nggaé Wena Tana.” Tubuh algojo itu pelan-pelan masuk ke dalam tanah, seperti tenggelam dalam debu. Ia berteria-teriak minta untuk dilepaskan. Ine Pare menunjukkan bahwa tali yang mengikat tangannya sudah terlepas akibat teriakan algojo ini. “Lihat, tanganku sudah terlepas!” Ine Pare mengambil parang algojo itu, lalu menaruh di lehernya, sementara separo badannya sudah berada dalam tanah. Bagaimana kalau yang kalian penggal algojo ini, karena darahnya pasti akan lebih banyak hingga tanah Kanganara bisa lebih subur lagi?” Mosa Laki Kanganara itu maju ke depan, meletakkan parang di depan Ine Pare, lalu disusul oleh orang-orang lain.

* * *

Dengan diantar orang-orang Kanganara, Ine Pare, Ndale, dan Funu berangkat ke Keli Ndota. Perjalanan Kanganara Kelindota salama satu hari penuh dengan mendaki dan menuruni tiga buah bukit, lewat lembah yang agak luas, lalu mendaki bukit dengan lereng terjal dan panjang. Bukit terakhir ini sudah merupakan bagian dari Keli Ndota, tujuan akhir Ine Pare. Jalan di sepanjang kawasan ini juga gersang. Hanya hamparan batu-batu, belukar, dan alang-alang. Kadang dijumpai gerombolan lontar dengan batangnya yang kekar berwarna cokelat keabuan, dengan daun-daunnya yang hijau juga keabu-abuan. Bagian bawah daun-daun lontar yang mengering itu tampak utuh, pertanda tak pernah ada kebakaran lahan. Kawasan ini memang benar-benar tandus hingga tak banyak serasah, rumput kering dan belukar, yang mudah terbakar. Akibatnya daun-daun lontar kering itu tetap berada di tempatnya menunggu lapuk setelah bertahun-tahun bertahan menggantung di sana.

Ketika melewati pemukiman Watunggere tampak orang-orang sudah menunggu. Tampaknya ada beberapa Ata Ko’o Kanganara yang diminta berlari, dan memberi tahu Mosa Laki di pemukiman Watunggere, bahwa hari ini Ine Pare dan rombongan berangkat ke Keli Ndota. Orang-orang Watunggere berdiri di tepi jalan yang dilewati Ine Pare, Ndale, Funu, dan orang-orang Kanganara. Di Watunggere juga baru saja masuk padi ladang. Mereka memperoleh benih dan belajar menanam padi dari orang-orang Detukeli, dan orang-orang Detukeli belajar dari Detusoko. Jadi sumber benih padi ladang Watunggere, lain dengan benih di Kanganara. Mereka juga lebih mengenal Ine Pare sebagai Ibu Padi, dan mereka bertanya-tanya, mengapa Ibu Padi ini harus dihukum mati dengan dipenggal kepalanya menggunakan parang? “Apakah kesalahan Ibu Padi, hingga harus dihukum mati? Bukankah ia berjasa bagi Negeri Lio kita? Supaya lahan menjadi subur? Bukankah lahan akan subur kalau tanaman dipelihara baik-baik dengan diberi daun-daun dan serasah yang telah lapuk sebagai pupuk?”

Keli Ndota sebenarnya bukit yang tak terlalu tinggi. Bagian tertinggi di Keli Ndota hanya separo lebih sedikit dari ketinggian Kelimutu. Tetapi Keli Ndota berukuran paling besar di seluruh Tanah Persekutuan Detukeli. Bagian datar dari puncak Detukeli juga cukup luas hingga bisa menampung sampai ratusan orang secara bersamaan. Puncak Kelimutu paling tinggi di Negeri Lio, tetapi sangat sempit, dengan tebing-tebing terjal yang langsung mengarah ke tiga danau kawah di gunung tersebut. Tebing Keli Ndota hanya curam di bagian utara, itu pun masih dengan tingkat kemiringan yang bisa dinaiki dengan cara biasa tanpa memanjat. Posisi Keli Ndota, lebih dekat ke Pantai Laut Flores di arah utara, dibandingkan ke selatan ke arah Laut Sabu. Meskipun Keli Ndota tak setinggi Kelimutu, tetapi mendaki bukit ini juga sangat melelahkan. Terlebih ketika pendakian ini merupakan jalan menuju kematian, dengan cara yang tak wajar, leher dipenggal dengan parang tajam.

“Funu, benarkah apa yang kulakukan ini merupakan pilihan tepat? Mengapa pada saat-saat terakhir seperti ini aku justru ragu?” Funu memeluk erat Ine Pare sambil berurai air mata. “Tuan Puteri Ine Pare, kalau ini sudah kehendak Duä Nggaé, itu merupakan pilihan yang paling baik.” Ine Pare melepaskan pelukan Funu dengan cepat, lalu menatap wajah Ata Ko’o perempuan yang sebenarnya masih merupakan bibi sendiri. “Funu, apa yang kulakukan ini bukan kehendak Duä Nggaé. Ini bukan perintahnya, tetapi pilihanku. Duä Nggaé memberi kebebasan padaku, juga pada semua orang Negeri Lio untuk memilih apa yang harus dilakukan, dengan disertai segala hasil dan resiko yang akan didapatnya. Aku memilih datang ke Keli Ndota untuk memenuhi janjiku pada Burung Garugiwa, burung arwah itu, dan aku sangat siap.”

Langit menjadi gelap dan gerimis yang awalnya turun pelan, berubah menjadi hujan lebat. Funu memeluk parang Ine Pare, parang Ndale, dan parangnya sendiri, basah kuyup menuruni bukit tandus itu, sendirian. Ia tak tahu mau kemana. Ia merasa harus segera menjauhi Keli Ndota, ia tak terlalu hirau dengan orang-orang Watunggere, dengan orang-orang Kanganara. Aroma darah masih tercium tajam dari parang itu. Tak sadar Funu mengamati tangan yang memeluk erat tiga parang itu. Ia melihat mulai tampak banyak keriput di kulit pergelangan tangan itu. “Berarti aku sudah mulai tua. Mengapa yang mati terlebih dahulu justru yang masih muda, bukan diriku yang sudah beranjak tua dan lemah ini? Duä Lulu Wula yang Agung, apakah Duä Lulu Wula, dan Nggaé Wena Tana, sudah kembali menjalankan tugas mereka sebagai Bapa Angkasa dan Ibu Pertiwi?” Funu terus menuruni lereng bukit yang kini sangat licin itu, dengan menjaga keseimbangan tubuhnya yang mulai lemah agar tak terjatuh. * * *

Fragmen Novel Ine Pare/Novel Ibu Padi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: