PARAGRAF 2017 (3)

17/07/2017 at 13:09 (artikel)

Saya sudah menulis sejak tahun 1969. Saya juga tahu bahwa satu paragraf hanya boleh memuat satu pokok pikiran. Tapi ketika menulis dengan sangat bersemangat, atau sama sekali tak bersemangat, dalil tadi terlupakan.

Beberapa pokok pikiran berjejalan dalam satu paragraf. Dalam keadaan terlalu bersemangat, pikiran mudah berubah dan melompat dari satu pokok pikiran ke pokok pikiran lain. Dalam kondisi tak bersemangat, pikiran macet lalu mengada-ada membuat kalimat sekenanya dalam sebuah paragraf.

Kalau sudah sampai ke jalan buntu, biasanya saya akan berhenti, lalu paragraf itu pelan-pelan saya baca ulang. Misalnya begini: “Saya ngantuk. Badan ini kok juga gatal semua sih? Di luar itu siapa pula yang berisik?” Tiga kalimat itu satu sama lain tak saling mendukung, karena tiga-tiganya merupakan kepala kalimat.

Agar satu sama lain bisa saling mendukung, harus dipilih salah satu sebagai kepala kalimat, lalu diberi kalimat pendukung dan konklusi: 1 “Saya ngantuk. Tapi saya harus tetap bertahan. Kalau sampai ketiduran, tulisan ini tak akan selesai.” 2 “Badan ini kok juga gatal semua sih? Padahal saya sudah mandi. Mungkin karena tadi siang saya ikut blusukan di rumpun bambu itu ya?”. 3 “Di luar itu siapa pula yang berisik? Sudah tahu ada tetangga sedang sakit. Atau jangan-jangan tetangga yang sakit itu meninggal?

Cimanggis, 7 Januari 2017

Pernah dimuat di FB Floribertus Rahardi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: