ANTARA IDE, MÉNU DAN SLAMÈT


Pernah dimuat di Rubrik Bahasa Harian Kompas

ANTARA IDE, MÉNU DAN SLAMÈT

Menonton (dan mendengarkan) tévé, kadangkala menyebalkan juga. Dalam acara sinetron, musik bahkan juga berita, kita sering mendengar pemain, pembawa acara atau pembaca berita mengucapkan kata idé dengan ide. Fonem vokal é dalam idé yang seharusnya dibaca sebagai dé dalam désa, déwa dan Dépok, telah diucapkan sebagai de dalam depan, deru dan dekap. Salah lafal fonem ini paling merata di kalangan generasi muda kita, hingga lama-lama mereka yang mengucapkan ide sebagai idé akan menjadi kedengaran kuno.

Anehnya, salah lafal fonem ini justru terbalik, ketika para penampil di tévé itu mengucapkan menu. Seharusnya mereka mengucapkan fonem me pada menu seperti menang, mekar  dan memar. Tetapi me pada menu diucapkan seperti mé pada mérah, méga dan Médan. Salah ucap fonem me menjadi mé ini banyak terjadi pada saudara-saudari kita dari Tapanuli. Mereka bahkan sering mengucapkan nama Slamet sebagai Slamèt dan kalènder menjadi kalèndèr. Kali ini, fonem e dalam Slamet dan kalènder diucapkan seperti è pada komèt, dèrèk dan serèmpèt.

Fonem konsonan, selama ini tidak pernah membingungkan masyarakat kita. Hingga tulisan foto copy, tidak pernah dilafalkan foto copy seperti c pada cokelat, melainkan foto kopi. Anehnya, service 24 jam selalu dibaca  sebagai servis 24 jam. Bukan servik atau service (ce dalam cecak). Sama anehnya, ketika masyarakat membaca BCA (bé-cé-a) cé dalam hal ini dibaca sebagai cé dalam cétak. Namun ketika mereka membaca kepanjangannya: Bank Central Asia, maka cé disini dibaca sebagai sé dalam sédan dan sérum.

Salah lafal fonem fokal, pertama-tama disebabkan oleh pedoman dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang merupakan penyempurnaan Ejaan Soewandi, tidak membedakan penulisan  e (emas), é (élok) dan è (èfèk). Semuanya ditulis dengan emas, elok dan efek. Hingga pembaca bisa mengucapkan emas, émas, èmas; elok, élok, èlok dan efek, éfék atau èfèk. Semuanya benar sebab tulisannya sama. Namun semua bahasa mengenal adanya faktor fonem (satuan bunyi terkecil) yang bisa membedakan pengertian suatu kata.

Kalau pengucapan suatu kata tidak benar, maka kata kere (kéré = pengemis) dan kere (keré = tirai) bisa disalah tafsirkan. Demikian pula dengan seret (seret = tidak lancar) dan seret (sèrèt = menarik); keset (keset = tidak licin) dan  keset (kèsèt = anyaman sabut dll. pembersih alas kaki). Lafal fonem ini harus diajarkan, agar pengguna suatu bahasa tidak keliru ucap, yang potensal menimbulkan salah pengertian. Lebih-lebih, pengguna bahasa Indonesia berasal dari berbagai etnis yang bisa aneh-aneh dalam mengucapkan konsonan maupun vokal bahasa Indonesia.
Kata Indonesia sendiri, selama ini lebih sering diucapkan sebagai Éndonésia, bukan Indonésia. Padahal ketika mengucapkan kata indah, indera, induk, intan dll. kita tidak salah. Sekarang ini, kalau ada orang yang mengucapkan kata Indonesia dengan Indonésia dan bukan Éndonésia, justru menjadi tampak aneh. Kebingungan masyarakat ini juga terjadi pada fonem vokal a yang harus diucapkan seperti o pada otot, bukan o soto atau a pada apel. Nama-nama kota seperti Purwakarta dan Purwokerto, Purbalingga dan Probolinggo, memerlukan pengucapan yang benar supaya pendengar tidak bingung.

Salah lafal fonem, bukan hanya monopoli entis Batak. Semua etnis di Indonesia punya andil dalam salah ucap tersebut. Ketika pertamakali masuk Jakarta tahun 1974, teman-teman yang sudah terlebih dahulu di Jakarta banyak yang menertawakan saya. Sebab saya melafalkan Salemba dengan Salemba (lem = lembut, lembur). Padahal masyarakat Jakarta mengucapkannya sebagai Salémba (lém = lémpar, lélang). Belum lama ini saya juga ditegur teman karena mengucapkan event dengan iven seperti dalam oven. Padahal seharusnya diucapkan ivèn seperti dalam vèntilasi.
Salah ucap saya ini hanya jadi bahan tertawaan teman. Tidak menimbulkan salah pengertian atau kejengkalan bagi siapapun. Sebab saya bukan pemain sinetron,  prèsènter atau pembaca berita tévé. Mereka yang salah ucap di depan pemirsa tévé itu pun, sebenarnya tidak bisa disalahkan. Sebagai lembaga yang besar, dengan SDM dan dana kuat, stasiun tévé sebenarnya bisa dengan mudah melatih pembaca berita, prèsènter dan sutradaranya sebelum ditampilkan. Kalau tidak, bahasa yang seharusnya menjadi cermin dari kemampuan berpikir bangsa ini, akan menjadi rusak. Atau kemampuan berpikir kita memang sudah terlanjur rusak? * * *

F. Rahardi
Penyair

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: