GAYA MILITERISTIK PEJABAT KESENIAN KITA


PENGELOMPOKAN SASTRA RURAL, URBAN DAN SUB URBAN
Oleh F. Rahardi
Makalah Temu Sastra Jakarta, TIM, 19 – 21 Desember 2003
Dimuat dalam buku Sastra Kota, Bentang 2003

Sastra modern, baik sastra tulis, maupun lisan (pelisanan sastra tulis sebagai tontonan), semuanya merupakan bagian dari kultur urban. Meskipun tema yang diangkat merupakan kehidupan rural, sastrawannya juga hidup di desa, tetapi sastra modern tetap merupakan satu kesatuan urban culture area. Contohnya trilogi novel Ahmad Tohari dan puisi-puisi D. Zawawi Imron. Sepintas karya mereka tampak sarat dengan tema dan latar rural area. Novelis serta penyair ini juga memilih tetap tinggal di kampung halaman mereka. Tetapi tema dan set rural ini, diambil dalam semangat urban culture area. Sastra dengan tema dan latar kampung, tetapi dikemas dan dijual kepada kaum urban. Sama halnya dengan kisah etnis Indian, petualangan para koboi bahkan juga Tarzan. Tema dan set rural bahkan jungle, justru sengaja dihadirkan karena sangat digemari kaum urban. Saya kutipkan fragmen novel Ahmad Tohari dan bait puisi D. Zawawi Imron berikut ini.

Desa Pegaten yang kecil itu dibatasi oleh Kali Mundu di sebelah barat. Bila datang hujan sungai itu berwarna kuning tanah. Tetapi pada hari-hari biasa air Kali Mundu bening dan sejuk. Di musim kemarau Kali Mundu berubah menjadi selokan besar yang penuh pasir dan batu. Orang-orang Pegaten yang memerlukan air, cukup menggali belik di tengah hamparan pasir. Ceruk yang dangkal itu akan mengeluarkan air minum yang jernih. (Ahmad Tohari, Kubah, Bagian Kedua, alinea kedua, 1980)

sungai kecil, sungai kecil!
di manakah engkau telah kulihat?
antara cirebon dan purwokerto ataukah hanya dalam mimpi?
di atasmu batu-batu kecil sekeras rinduku
dan di tepimu daun- daun bergoyang
menaburkan sesuatu yang kuminta dalam doaku
sungai kecil, sungai kecil!
terangkanlah kepadaku,
di manakah negeri asalmu?
(D. Zawawi Imron, Sungai Kecil, 1980)

Citra rural dalam fragmen novel serta bait puisi ini terasa luarbiasa kentalnya. Mustahil pencitraan yang demikian fasih, dikerjakan “sekadar” agar kaum urban berkenan. Fragmen ini bukan sekadar menampakkan pencitraan rural, melainkan mampu menangkap roh (spirit) dari sesuatu yang benar-benar berdenyut nun di tempat yang sangat jauh itu. Keterampilan yang demikian tinggi ini, hanya bisa lahir dari figur yang telah benar-benar menyatu dengan obyek yang diceritakannya. Berarti, Ahmad Tohari dan D. Zawawi Imron adalah bagian dari rural area tersebut. Namun Tohari maupun Zawawi tidak sedang mengerjakan sesuatu untuk tetangga di kampungnya. Novelis dan penyair papan atas Indonesia ini, sedang memungut air dan batu kali yang tak begitu berharga di kampungnya, tetapi bisa menjadi sesuatu yang bernilai tinggi bagi masyarakat urban culture area.

Yang dimaksud sebagai urban culture area, tidak persis sama dengan culture areanya Clark Wissler, yang pernah meneliti komunitas Indian AS pada tahun 1917. Sebab area dalam urban culture area lebih bersifat maya. Batasnya bukan hanya geografis (ruang) atau generasi (waktu), tetapi lebih ke “gaya hidup”. Mulai dari pola makan, minum, berpakaian, berumahtangga, bepergian (sarana transportasi), sampai ke bacaan, hiburan dll. termasuk di dalamnya kebutuhan bersastra ria. Sementara Culture areanya Clark Wissler, masih berupa satuan teritorial. Meskipun batasnya juga tidak bersifat masif. Baik Tohari maupun Zawawi, pasti doyan mie, roti dan soft drink asal halal. Kalau bepergian mereka juga memakai baju dan celana serta membawa-bawa tas. Kendaraan yang ditumpanginya, mulai dari sepeda motor, mobil, kereta api, kapal laut sampai ke pesawat terbang. Di rumah mereka, pasti ada sarana komunikasi dan informasi. Minimal pesawat tivi. Hingga mereka berdua, juga sah sebagai bagian dari kultur urban. Meskipun domisili dan tema karya mereka tetap rural. Mungkin mereka berdua inilah yang secara konseptual, bisa disebut sebagai penghasil sastra sub urban. Mereka tinggal dan mengais “dagangan” di kawasan rural, lalu menjualnya ke masyarakat urban. Ibarat pedagang pengumpul hasil bumi yang tinggal di desa, lalu sesekali mengantar dagangan ke pasar induk di Jakarta.

* * *

Sastra yang benar-benar rural, biasanya bersifat fungsional. Misalnya mantra atau rapal doa yang digunakan untuk upacara adat setempat. Atau yang selalu dibaca setiap kali anggota masyarakat akan melakukan suatu pekerjaan. Misalnya mantra yang wajib dibaca sebelum seseorang menggauli istri: “Banyu suci pitung prakara, sadurungé tumètès, manggon anèng dhangkèling rikmaningsun, nuli ingsun tètèsaké saka pucuking brojo, manggon ana cupu kang ana tengah dadi rasa mulya, tumiba dadi manungsa kang mulya” {“Air suci tujuh perkara, sebelum menetes, diam dalam akar rambutku, kemudian kuteteskan dari ujung senjata, masuk pas di tengah lubang lesung (alat penumbuk padi), mendatangkan kebahagiaan yang sangat manusiawi”}. Mantra semacam ini, jumlah dan ragamnya mencapai ribuan dalam satu rural culture area. Karya sastra demikian, biasanya anonim. Juga folklor (cerita rakyat), fabel (dongeng binatang) dan legenda (dongeng sejarah). Penciptanya tidak diketahui, atau diketahui tetapi dianggap sebagai milik bersama komunitas rural. Meskipun sumber tertulisnya ada, penyampaian dari generasi ke generasi selalu dilakukan secara lisan.

Sastra rural demikian, bersama-sama dengan pola menu, berpakaian, rumah dan perabotannya, senjata dan alat-alat hiburan, semuanya menjadi satu kesatuan berupa rural culture area. Di Indonesia ada ribuan etnis dengan rural cultur area masing-masing, termasuk sastra rural mereka. Tetapi ketika bentuk sastra ini dikumpulkan, diberi pengantar, dan diterbitkan sebagai buku, maka mantra, folklor, fabel dan legenda tadi akan berubah bukan hanya sebagai sastra rural, melainkan juga menjadi bagian dari sastra urban. Lebih-lebih ketika folklor atau legenda tadi disinetronkan dan disiarkan di stasiun televisi. Batas antara rural dengan urban menjadi tidak ada lagi. Sinetron Si Kabayan atau Nyai Dasima misalnya, bisa ditonton penghuni apartemen di Menteng, Jakarta Pusat, sekaligus bisa dinikmati penghuni kampung transmigran di pedalaman Kalimantan sana.

Dalam sastra modern, tema rural memiliki daya tarik tinggi bagi masyarakat urban. Dalam sastra klasik, terjadi hal yang sebaliknya. Tema-tema urban dalam hikayat, babad, kakawin dll. termasuk saduran epos besar Mahabharata dan Ramayana, justru dikonsumsi oleh masyarakat rural. Di pedesaan, karya dengan tema-tema urban ini (raja-raja, dewa-dewa, dan peperangan) difungsikan untuk kebutuhan praktis sehari-hari. Misalnya untuk upacara sunat, pernikahan, ruwatan, sedekah desa dll. Dengan penyampaian secara lisan, disertai peraga visual (topeng, wayang dan tari-tarian). Supaya cocok dengan kondisi riil komunitas rural, maka diciptakan pula tokoh-tokoh lucu yang bukan raja, kerabat raja atau ksatria, yang disebut punakawan. Ini penting sebab dalam sastra klasik, dewa-dewa, raja, ksatria dan brahmana harus selalu tampak serius, hingga pantang untuk melawak.

Gairah masyarakat modern terhadap sinetron, acara nyanyi-nyanyi, infotaiment, debat politik dll. di stasiun televisi, masih merupakan kelanjutan dari kebiasaan masyarakat rural zaman dulu yang menyenangi kisah para dewa, para raja dan para ksatria. Namun saat ini juga terjadi arus balik. Masyarakat urban sudah mulai senang nonton acara Seren Taun, Bekakaan Sapar, Kesodo, flora-fauna, discovery channel dll. Termasuk, disenanginya novel Ahmad Tohari dan puisinya Zawawi yang “ndeso” tadi. Culture area modern, memang telah sangat telak mendekonstruksi batasan ruang dan waktu. Wilayah teritorial AS dan Jepang sangat jelas. Tetapi wilayah “kerajaan” Hollywood, Microsoft, Coca-cola, Fuji, Sony dan Mitsubishi; bukan hanya AS dan Jepang. Komunitas filsafat, fisika dan astronomi, bahkan punya wilayah “kerajaan” dari jaman Yunani Kuno sampai ke sekian millenium yang akan datang. Ruang dan waktu, tidak mampu lagi membatasi gerak bisnis, gaya hidup dan ide.

Hingga pengkotak-kotakan sastra menjadi rural, urban dan sub urban dalam pengertian hanya geografis (teritorial), sama bodohnya dengan pengkotak-kotakan sastra menjadi angkatan-angkatan seperti dalam dunia tentara. Ini merupakan pola pikir militeristik (militerisme) yang salah kamar masuk ke dunia sastra. Bisa pula militerisme memang sudah seperti kanker yang menjalar ke aparat birokrat, wartawan, seniman sampai ke perguruan tinggi. Hingga para sastrawan pun, akan menjadi kurang pede kalau tidak terdaftar di salah satu angkatan, dan belum menjadi bagian dari Kodas (Komando Daerah Sastra). Bisa Kodasral (Komando Daerah Sastra Rural), Kodasban (Komando Daerah Sastra Urban) atau Kodasuban (Komando Daerah Sastra Sub Urban). Tetapi rakyat hanya takut pada Kopasus dan Marinir. Bukan pada Kodasuban. Hingga di satu pihak, para pejabat kesenian kita harus terus sibuk melestarikan gagasan Letjen Marinir (Purn) Ali Sadikin. TIM harus tetap menjadi “pusat kesenian” dan Gelanggang Remaja adalah “satelit-satelitnya”. Tetapi di lain pihak, kantong-kantong kesenian seperti TUK, Bentara Budaya, Bengkel Teater, KSI, Cyber Sastra, Lintas Studi Sastra dll. tumbuh dan berkembang tanpa bisa dibendung penguasa sastra dengan Kodas-kodasnya.

* * *

Dalam konteks geografi Indonesia saat ini, Jakarta memang benar merupakan kawasan urban. Sementara pedalaman Jawa, termasuk kota-kota kabupatennya, bisa dikatagorikan sebagai rural. Kabupaten dan kota Tangerang (Banten), Bekasi, Bogor dan Kota Depok (Jawa Barat) adalah sub urban dari Jakarta. Para sastrawan Jakarta, banyak pula yang tinggal di kawasan sub urban. Tetapi puisi Sapardi Djoko Damono dari Depok, tidak kelihatan lebih udik dibanding puisi Taufiq Ismail yang tinggal di Utan Kayu, Jakarta. Bahkan puisi dua penyair ini, juga sulit untuk dibedakan “kandungan” rural – urban dan sub urbannya dengan puisi Dorothea Rosa Herliany yang tinggal di Magelang. Untuk ukuran nasional, Magelang di Jawa Tengah adalah kawasan rural. Hingga logikanya, puisi Taufiq Ismail akan kaya nuansa urban. Sapardi harus sedikit udik dan norak. Sementara Dorothea boleh 100% kampungan. Tetapi yang terjadi tidak demikian. Berikut saya kutipkan masing-masing bait puisi mereka.

Ia penggemar berat iklan.
“Iklan itu sebenar-benar hiburan,” kata lelaki itu.
“Siaran berita dan cerita itu sekedar selingan.”
Ia tahan seharian di depan televisi. Istrinya suka menyediakan kopi dan kadang-kadang kacang atau kentang goreng untuk menemaninya mengunyah iklan
.
(Sapardi Djoko Damono, Iklan, 2000)

Matahari terlalu gembira menyinari bukit-bukitnya.
Bukit-bukit yang ditumbuhi rumah-rumah Eropa, Meksiko, Habsyi dan Cina, bercat putih beratap merah tua dengan bunga-bungaan yang mekar karena persekutuan akrab dengan musim semi bagai tak kunjung habisnya.

(Taufiq Ismail, Trem Berklenengan di Kota San Francisco, 1972)

sebuah siaran radio, pagi, dan korankoran di meja:
tak kudengarkan dan tak kubaca.
dering telepon dan surat-surat
lalu cermin-cermin kupecahkan
kubaca buku alamat dan kartu nama.

(Dorothea Rosa Herliany, Indonesia, Suatu Hari, 1998)

Tiga penggalan puisi dari tiga penyair ini hanyalah sekadar contoh, bahwa penyair yang tinggal di kawasan urban, bisa menulis tentang San Francisco, dengan nuansa yang sangat rural. Sebaliknya penyair yang tinggal di kawasan sub urban maupun rural, bisa menulis tentang permasalahan kaum urban dengan sangat fasihnya. Padahal mereka merupakan generasi yang berbeda. Taufiq kelahiran 1935, Sapardi 1940 dan Dorothea 1963. Mereka menulis tiga puisi tersebut, dalam kurun waktu yang juga berbeda (1972, 1998 dan 2000). Hingga tempat domisili mereka yang urban (Taufiq Ismail), sub urban (Sapardi Djoko Damono) dan rural (Dorothea Rosa Herliany), sama sekali tidak berpengaruh apa pun terhadap puisi mereka. Sebab secara fisik maupun kultural, Utan Kayu, Depok dan Magelang tidak akan berpengaruh besar terhadap proses kreatif penciptaan puisi.

Seandainya ada pengaruh domisili yang rural, urban dan sub urban, terhadap proses kerja kreatif, itu hanyalah salah satu faktor. Masih ada pengaruh culture area lain berupa pola menu, pakaian, perabotan rumah tangga, pekerjaan, cara bepergian, informasi, hiburan dan keseluruhan lingkungan, yang akan lebih menentukan corak karya sastra mereka. Dan masih ada satu faktor lagi yang paling kuat pengaruhnya terhadap “corak” sastra yang dihasilkan, yakni medium bahasa yang digunakan. Selama para penyair itu masih menulis puisi dalam bahasa Indonesia, akan sulit untuk memperoleh semangat (spirit), bagi lahirnya “genre” sastra urban, sub urban dan rural yang utuh dan independen. Beda misalnya dengan Manthous dan Didi Kempot yang berhasil melahirkan dan mempopulerkan “genre” musik campur sari. Sukses dua komponis ini, disebabkan oleh keberhasilan mereka mengawinkan perangkat musik gamelan (pentatonik) dengan keyboard (diatonik). Seandainya mereka berdua hanya berada di jalur pentatonik atau diatonik thok, genre campur sari tidak akan pernah lahir dan jadi populer. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang masih sangat muda, hingga masih diperlukan jangka waktu cukup lama untuk mampu menghasilkan “genre” sastra rural, urban maupun sub urban yang kuat dan independen.

Kaburnya batas antara rural, urban dan sub urban secara geografis, sebenarnya terjadi di mana-mana. Apakah kita tinggal di Utan Kayu, Depok, Magelang, Beijing, New York atau Wamena, akan sama saja kalau ada listrik, telepon, tivi, kulkas, komputer, kartu kredit dan rekening kita di bank penuh dengan US $. Kecuali kita tinggal di Badui Dalam, Puncak Gunung Halimun atau Ujung Kulon. Atau meskipun tinggal di Menteng, tidurnya di emperan TIM dan tidak punya apa-apa selain impian. Di sini tampak sekali bahwa pengertian kultur urban atau sub urban, bukan mengacu pada faktor geografis dan teritorial, melainkan justru pada “gaya hidup”. Kalau Taufiq Ismail, Sapardi dan Dorothea ketemu dan ngobrol, maka mereka tidak harus bicara soal puisi atau sastra supaya tidak tu-la-lit. Lebih-lebih tentang status domisili mereka yang urban, sub urban dan rural. Kesamaan gaya (dan strata) hidup mereka, memungkinkan lahirnya obrolan tentang makanan kesukaan, kondisi sosial politik bangsa, bisnis penerbitan, dunia pendidikan, ancaman bom dll. dengan cukup baik. Sebab meski dari segi umur Dorothea pantasnya jadi anak Taufiq dan Sapardi, tetapi strata sosial, pendidikan dan ekonomi mereka, telah menciptakan gaya hidup dan lingkup pergaulan, yang membuat mereka kurang lebih menjadi setara.

* * *

Perlakuan terhadap kesenian, termasuk sastra, dengan gaya militer sesuai kemauan sang penguasa, sebenarnya juga sarat dengan motif KKN. Menghabiskan dana proyek dengan mudah, murah dan aman adalah tujuan utama sang penguasa. Caranya dengan menyelenggarakan “pertemuan”. Namanya bisa macam-macam. Mulai dari seminar, diskusi, workshop, pelatihan, temu sastrawan dll. Sang penguasalah pada akhirnya yang akan “menikmati” porsi terbesar dana proyek tersebut. Padahal, mereka yang menduduki kekuasaan, belum tentu pelaku kesenian yang sedang mencapai puncak prestasi mereka. Hingga distribusi pendapatan untuk sasterawan di negeri ini, menjadi tidak adil. Mereka yang tidak produktif dan kreatif, justru menguasai dana yang sebagian besar mereka nikmati sendiri. Sementara ruang untuk produktif dan kreatif yang seharusnya mereka upayakan pendanaannya, diterlantarkan. Kemudian soal yang urgent ini justru diurus oleh lembaga independen yang kadangkala cekak keuangannya.

Upaya pengkotak-kotakan kesenian yang dilakukan sang penguasa, selama ini berhasil dengan cukup baik. Hingga kita selalu menganggap bahwa AFTA dan GATT hanyalah urusan bisnis dan perdagangan. Kesenian, lebih-lebih sastra, tidak berurusan dengan hal-hal semacam itu. Padahal sastra modern juga sebuah bisnis. Buku-buku atau CD yang memuat karya sastra adalah barang dagangan yang akan diperjual belikan di toko-toko dan pasar swalayan. Membanjirnya novel-novel terjemahan dengan oplah puluhan ribu sekali cetak, sangat kontras dengan novel pribumi kita yang hanya dicetak 5.000 bahkan kadang 3.000 eksemplar, kemudian bengong di toko buku. Untuk bisa masuk ke pasar sastra dunia, diperlukan kompetisi di antara para pelaku kesenian kita sendiri secara ketat namun sehat. Untuk itu, diperlukan pula dana yang cukup besar. Baik sebagai biaya penyelenggaraan kontes, maupun insentif (hadiah) bagi yang berprestasi. Hal inilah yang tidak pernah secara benar dilakukan oleh penguasa kita. Hingga para sasterawan berprestasi kita, terpaksa bekerja di sektor lain, atau menjadi parasit dengan meminta-minta sedekah dari orang kaya.

Ketika ada penulis-penulis baru yang bukunya laku sampai puluhan ribu eksemplar, maka komentar “para penguasa” sastra adalah: “Itu kan sastra hiburan!” Kotak-kotak sastra sudah demikian banyaknya hingga sangat membingungkan publik. Celakanya, kotak-kotak tersebut, kadangkala juga dibuat oleh para sasterawan sendiri. Diam-diam, sasterawan kita ternyata doyan juga menikmati sekat-sekat gaya militer yang diterapkan oleh penguasa. Hingga ada kotak sastra hiburan, sastra buruh, sastra perempuan, sastra cyber, sastra koran dll. Di satu pihak, tumbuhnya komunitas-komunitas sastra tadi sangat positif, apabila targetnya produktifitas dan kreatifitas. Tetapi penerbitan-penerbitan yang mereka lakukan, hampir semuanya merupakan “daur ulang”. Satu puisi dari satu penyair yang kualitasnya di bawah standar, bisa terus-terusan muncul dalam banyak buku. Kompetisi lalu menyimpang hanya melulu pada wadah, bukan isi. Kegiatan seremonial dan struktural menjadi lebih penting dibanding yang fungsional.

Perilaku semacam ini bukan merupakan tren baru. Tahun 1972, DKJ pernah menerbitkan antologi Jakarta dalam Puisi Indonesia, yang diberi pengantar Ajip Rosidi. Antologi ini berbentuk buku mungil (18 X 12 cm.), tebal 148 hal. dan memuat 63 puisi dari 24 penyair. Terbanyak (12 puisi) karya Ajip sendiri. Upaya semacam ini sangat tidak produktif, karena yang termuat kebanyakan puisi-puisi yang sudah dipublikasikan. Lain halnya kalau DKJ dan pemerintah DKI mengalokasikan dana penyelenggaraan lomba atau penulisan kreatif tentang Jakarta. Bukan sekadar upaya daur ulang. International Writing Program yang diselenggarakan universitas Iowa, AS, Festival Penyair Internasional Rotterdam di Negeri Belanda, Hadiah Sastra Asean dari pengusaha Thailand dan jabatan “Sasterawan Negara” di Malaysia, sebenarnya merupakan alternatif kegiatan yang bisa dicontoh. Hingga minimal yang kita hasilkan produktivitas. Sebelum mampu beranjak ke kreatifitas. * * *

Cimanggis, Oktober 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: