MAKNA KATA MISKIN


Pernah dimuat di Rubrik Bahasa Harian Kompas

Oleh F. Rahardi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata miskin berarti tidak berharta; serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Kemiskinan berarti hal miskin; keadaan miskin. Namun tidak semua orang yang tidak berharta dan serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah), bisa disebut sebagai orang miskin. Di kota Bangkok, Thailand, sering tampak para rahib Budha, yang berjalan kaki untuk meminta-minta sedekah. Mereka pasti tidak berharta dan sangat kekurangan, tetapi tidak bisa dikategorikan sebagai orang miskin.

Di Jakarta, kita sering mendengar ungkapan demikian: “Mengapa kamu ingin jadi guru/dosen? Apakah mau miskin seumur hidup?” Bahkan ungkapan dengan nada serupa pernah disampaikan oleh seorang presenter di salah satu acara di stasiun televisi. Beberapa profesi di Indonesia, misalnya guru/dosen, seniman dan aktivis LSM, selalu dikonotasikan sebagai miskin. Padahal semiskin-miskinnya seorang guru, tetap saja mereka punya rumah, punya perabotan, punya baju, punya penghasilan dan mereka juga hepi-hepi saja. Mereka juga risih kalau disebut miskin dan diberi santunan.

Tetapi kita tidak bisa menyangkal, bahwa di Indonesia, terdapat jutaan orang miskin. Kemiskinan di Indonesia, masih menjadi masalah yang cukup serius, terutama setelah terjadi krisis multi dimensi tahun 1998. Itulah sebabnya ketika Presiden SBY dalam pidato kenegaraan menyinggung masalah kemiskinan di Indonesia, maka pro dan kontra pun menyeruak ke media massa. Kata miskin dan kemiskinan lalu tidak hanya bermakna leksikal (sebagai lambang pengertian) dan gramatikal (dalam kaitan dengan kata, frasa atau klausa lain dalam satu kalimat/paragraf).

Kata miskin dan kemiskinan lalu bermakna  koknitif, seperti yang tahun 1980an pernah dilansir oleh Prof. Sayogyo dari IPB dan Prof. Mubyarto dari UGM. Sekarang ini pun, muncul polemik tentang benar atau tidaknya data yang dikemukakan dalam pidato presiden, dan juga tentang pengertian kemiskinan itu sendiri. Lalu ada istilah garis kemiskinan, kemiskinan absolut, kemiskinan struktural, dan lain-lain. Anehnya, kita tidak pernah menyebut para gembel dan peminta-minta yang menggelandang di kota-kota di Indonesia, sebagai orang miskin.

Masyarakat tradisional seperti Badui Dalam, Dayak, Suku Anak Dalam, Papua dll. selama ini tidak pernah mengenal kosakata miskin atau kaya. Dulu-dulunya, manusia purba memang hanya mengenal kata punya dan tidak punya. Punya makanan, punya kapak batu, punya api. Atau tidak punya makanan, tidak punya kapak batu dan tidak punya api. Tetapi orang yang tidak punya makanan, kapak batu dan api, tidak pernah disebut miskin. Orang yang punya makanan, kapak batu dan api, juga tidak pernah disebut kaya. Kosakata miskin dan kaya, baru dikenal manusia, ketika ada kultur metropolis.

Babilonia, Mesir, Roma, Aztek, adalah metropolis yang makmur. Di sini ada orang-orang yang kehilangan kebebasannya dan dianggap sebagai budak. Eksploitasi pihak yang lemah oleh yang kuat ini, pada akhirnya menciptakan strata kaya dan miskin. Dalam kultur Hindu, strata ini diformalkan sebagai kasta. Ada kasta Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Mereka yang tidak masuk ke dalam kasta disebut Paria. Brahmana, meskipun tidak berharta dan tidak berpenghasilan cukup, tidak pernah disebut sebagai orang miskin. Bahkan dalam strata kasta Hindu, Brahmana berada di urutan teratas. Ksatria dan Waisya adalah kelompok orang kaya. Sudra dan Paria adalah kelompok yang miskin itu.

Saya sendiri, selalu disebut oleh rekan-rekan dekat sebagai orang miskin. Atau sèkèng (e dibaca seperti pada lengkeng atau kaleng). Saya membenarkan predikat pemberian rekan-rekan itu. Tetapi saya sebutkan, bahwa kakek-nenek saya adalah orang yang teramat sangat miskin. Kedua orang tua saya sangat miskin. Saya adalah orang miskin. Ada peningkatan status yang merupakan idikator perbaikan nasib. Ini lumayan dibanding dengan teman lain yang kakek moyangnya kaya raya, orang tuanya kaya dan dia sendiri sudah tidak terlalu kaya. Degradasi memang tidak enak. Makanya presiden SBY dalam pidatonya menunjukkan, bahwa orang miskin di Indonesia populasinya menurun. Karena menjadi kaya atau mati?

F. Rahardi, Penyair, Wartawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: