PEMILIH KUNO SUKA KLENIK YANG GRUSA-GRUSU


Pernah dimuat di Rubrik Bahasa Harian Kompas

Megawati dan Wiranto, peluangnya sama kuat karena didukung oleh para pemilih tradisional. Mereka itu adalah pendukung PDIP, Golkar dan Nahdlatul Ulama (NU). Dalam hal ini, NU mendukung Hasyim dan Gus Solah, cawapres Mega dan Wiranto. Sementara  Amien Rais dan SBY, peluangnya juga sama-sama besar, karena mereka didukung oleh para pemilih rasional.

Hamzah Haz entah kenapa tidak terlalu sering disebut. Lawan kata (antonim) tradisional, adalah modern. Makanan tradisional >< makanan modern, baju tradisional >< baju modern, rumah tradisional >< rumah modern dst. Kalau tradisional diantonimkan dengan rasional ya tidak jalan. Makanan tradisional >< makanan rasional, pakaian tradisional >< pakaian rasional, rumah tradisional >< rumah rasional dst.

Tetapi kalau para pendukung Amien dan SBY disebut sebagai pemilih modern, kedengarannya juga lucu. Sebab kata modern juga diantonimkan dengan kuno, padanan (sinonim) tradisional. Yunani modern >< Yunani kuno, Mesir modern >< Mesir kuno, Jawa Modern >< Jawa kuno dst. Kalau para pendukung Amien dan SBY dipaksakan untuk disebut sebagai pemilih modern, maka berarti pendukung Mega dan Wiranto adalah pemilih kuno.

Ihwal asal muasal pemilih emosional, mungkin berangkatnya dari frasa pemilih rasional. Antonim rasional adalah irasional = tidak rasional. Tetapi di Indonesia, kata irasional, sudah terlanjur sering digunakan untuk hal-hal yang tidak masuk akal. Misalnya  percaya kepada klenik, tahayul dll. Tentu tidak sopan menyebut para pendukung PDIP sebagai pemilih irasional. Diketemukanlah frasa yang lebih tepat, yakni pemilih emosional.

Pada Pemilu 1999, pencoblos PDIP memang tepat disebut sebagai pemilih emosional. Sebab Megawati sebagai Ketua Umum PDIP, waktu itu dianggap sebagai lambang keteraniayaan. Penganiayanya, pemerintah Orde Baru. Hingga secara emosional, publik berempati kepadanya. Para peserta Pemilu 1999 pun kemudian memilihnya. Tetapi antonim emosional adalah tenang, kalem dan sabar.

Kalau ada orang yang suka tidak sabaran, maka temannya akan menegur: “Jangan emosi dong!” Maksudnya  supaya lebih tenang, kalem dan sabar. Tidak grusa-grusu. Lho, kalau begitu, para pemilih emosional PDIP tahun 1999 dulu, adalah mereka yang tidak tenang, tidak kalem, tidak sabar dan suka grusa-grusu? Demikian pula halnya dengan pemilih Golkar dan tentu saja Nahdlatul Ulama.

Makna emosional dalam konteks ini adalah, para pemilih itu lebih menggunakan perasaannya (emosinya) daripada pikirannya (rasionya). Hingga terciptalah frasa pemilih emosional. Para ibu yang hari-hari ini gencar ngerumpi untuk sama-sama memilih SBY karena gagah dan ganteng, bisa dikatagorikan pula sebagai kelompok pemilih emosional ini. Tapi kalau pertimbangannya demikian, maka para pemilih pemula (17 – 21 th), mending memilih mencalonkan Nikolas Saputra atau Ade Rai yang pasti lebih kiut abis.

Maka dalam kampanye Pemilu Presiden kali ini, diangkatlah ajakan untuk memilih capres/cawapres sesuai dengan nurani. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) makna nurani adalah berkenaan dengan atau sifat-sifat cahaya (sinar dsb). Sebab asal katanya adalah nur yang artinya cahaya. Kecuali kalau disebut lengkap: “Pilihlah dengan hati nurani”. Kalau demikian, menurut KBBI maknanya adalah: perasaan hati yang murni dan sedalam-dalamnya, atau: lubuk hati yang paling dalam.

Memilih dengan lubuk hati yang paling dalam adalah memilih dengan perasaan bukan dengan rasio. Berarti masih sama saja. Kembali lagi ke pemilih emosional, yang sekaligus tradisional. Kalau sinonim dua kata tersebut yang digunakan, maka sial sekali para pendukung Golkar, PDIP dan PKB (yang berbasis NU). Sebab mereka adalah pemilih kuno, percaya pada yang gaib-gaib (irasional) dan tidak tenang, tidak sabaran alias suka grusa-grusu.

Yang sangat jarang dikemukakan oleh para pakar dan analis politik adalah para pemilih komersial. Makna frasa ini sudah sangat jelas, yakni pemilih yang akan memberikan suaranya kepada pihak mana pun yang bersedia memberikan imbalan paling menarik. Imbalan itu paling menarik kalau diberikan mentahnya saja. Tetapi bisa pula berupa janji-janji yang belum tentu diingat terus kalau nantinya si capres/cawapres sudah terpilih. * * *

F. Rahardi, Penyair.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: