PUISI DAN PLANET BUMI YANG KESEPIAN


Teks Orasi Budaya Hari Puisi Sedunia, TIM, Kamis, 21 Maret 2002
Dimuat di Harian Republika, 9 Juni 2002
PUISI DAN PLANET BUMI YANG KESEPIAN

Oleh F. Rahardi

Andaikata penyair dan penulis lakon William Shakespeare tidak pernah lahir di dunia ini, Kerajaan Inggris Raya akan tetap sehat-sehat saja, tak kurang suatu apa. Bahasa Inggris juga akan tetap menjadi bahasa pergaulan dunia. Jurusan sastra Inggris di semua fakultas sastra di perguruan tinggi Indonesia, juga akan tetap dibanjiri peminat. Ada atau tidak ada Shakespeare, kehidupan di planet bumi ini akan tetap berjalan normal. Sebab ada atau tidak  ada penyair, manusia akan tetap bisa hidup layak dan bersenang-senang dan langsung bisa masuk surga kalau tak melakukan dosa berat. Puisi memang bukan komoditas penting. Puisi bukan sembilan bahan kebutuhan pokok, yang setiap hari  diperlukan dalam jumlah banyak oleh semua orang. Puisi bukan beras, sabun, gula pasir, minyak goreng dan  kopi tubruk. Bahkan sama-sama sebagai produk sastra, pamor puisi kalah jauh dengan cerita pendek.  Lebih-lebih dengan novel dan cerita sinetron.

Lembar budaya di koran-koran bisa tidak memuat puisi, tanpa ada reaksi yang berarti dari para pembacanya. Tetapi memuat cerita pendek sudah seperti suatu kewajiban.  Kalau tidak, penggemar cerita pendek akan protes dengan melayangkan surat elektronik atau menelepon redaktur budayanya. Kedudukan penulis cerita pendek, karenanya menjadi lebih penting dibanding penyair.  Kehadiran seorang penyair dengan puisinya di koran-koran  lalu menjadi hanya sekadar embel-embel.  Boleh ada, boleh juga tidak ada. Tetapi ada sesuatu yang agak aneh. Bisa jadi memang benar bahwa penyair dengan puisinya hanyalah embel-embel yang tidak berarti apa-apa. Tetapi mengapa pemerintah yang korup dan otoriter selalu takut dengannya? Rendra yang pernah sekian lama ditahan pemerintah Orde Baru adalah penyair. Demikian pula halnya dengan Wiji Thukul yang sampai sekarang nasibnya masih tidak jelas benar. Padahal Rendra maupun Wiji Thukul tidak punya bedil dan seandainya di rumah mereka ada golok, gunanya hanya sebangsa untuk memotong singkong atau pepaya.

Ada apa dengan penyair dan puisinya?  Hingga pemerintah yang punya segala-galanya pun harus takut dengannya? Apakah puisi masih menyimpan kekuatan gaib seperti halnya mantra yang bisa menyihir loyang menjadi emas? Menyihir pangeran tampan menjadi kodok dan putri cantik menjadi nenek-nenek? Tampaknya, ketakutan terhadap penyair dan puisinya, selama ini lebih disebabkan oleh sesuatu yang tidak pernah jelas benar dan sesungguhnya agak berlebihan. Sama halnya dengan harapan-harapan yang juga terlalu tinggi, yang sering diarahkan kepada penyair oleh kelompok penggemarnya. Meskipun dalam kenyataannya, seorang penyair  memang bisa lebih hebat dari raja atau ratu. Orang tidak lagi peduli dengan ratu Elizabeth I dan raja James I yang memerintah Kerajaan Inggris Raya pada pergantian abad XVI ke abad XVII pada masa kehidupan Shakespeare (1564 – 1603).

Itulah ternyata kelebihan seorang penyair. Kita dengan mudahnya melupakan sekian banyak raja dan ratu. Sementara dari penyair sangat banyak yang masih bisa  diingat. Misalnya lakon-lakon gubahan tangan Shakespeare  seperti Hamlet, Othello dan Macbeth yang sampai detik inipun  masih terus dipentaskan di banyak tempat di dunia termasuk di negeri ini.  Ungkapannya yang sangat terkenal  “apalah artinya sebuah nama” juga masih senantiasa dikutip-kutip dalam percakapan sehari-hari kita.  Dalam konteks yang kurang lebih sama, sekarang ini pun anak-anak Indonesia lebih banyak yang bisa mengingat Chairil Anwar jika dibanding dengan siapa menteri pendidikan kita pada tahun-tahun ketika penyair besar kita itu hidup. Jadi, ternyata penyair dan puisinya  ditakuti penguasa, sekadar karena namanya bisa lebih lama diingat orang, dibanding nama raja-raja atau menteri. Singkatnya, ketakutan-ketakutan penguasa terhadap para penyair itu hanyalah sekadar faktor kecemburuan sosial.

* * *

Dalam khasanah budaya umat manusia, seni sastra menduduki ranking tertinggi. Meskipun kalau dilihat dari nilai rupiahnya justru yang paling rendah. Ketika manusia purba masih belum mengenal bahasa, maka mereka pun mulailah berteriak-teriak dan menggerak-gerakkan tubuh. Mereka meniru-niru suara dan gerak binatang. Jadilah seni suara dan seni tari. Di dalam gua yang merupakan rumah tinggal mereka, manusia purba memukul-mukul batu stalagtit dan stalagmit dengan batu-batu lain. Terciptalah seni musik. Lalu mereka iseng menempelkan telapak tangan mereka ke dinding gua, kemudian menyemprotnya dengan cairan warna yang awet hingga membekas sampai sekarang. Lahirlah seni lukis. Baru dalam periode yang agak lebih kemudian, manusia mulai mengenal agama, tata-krama dan sopan-santun. Mereka mulai mengenal pula  bahasa lisan dan tulisan. Ketika itulah lahir seni sastra.

Dalam dunia sastra sendiri, puisi memiliki tataran yang paling tinggi dibanding dengan prosa. Sebab prosa biasanya digunakan untuk mendongengkan kisah raja-raja atau nenek moyang. Sementara puisi ditulis dan diucapkan untuk hal-hal yang sakral. Termasuk untuk berdoa memuliakan Allah.  Bahkan ayat-ayat Al Qur’an adalah puisi agung yang langsung datang dari Allah. Allah tentu enggan untuk menuliskan Al Qur’an dalam bentuk prosa. Sebab Allah sudah tahu bahwa prosa akan digunakan manusia untuk menulis dongeng kancil dan cerita porno. Ranking puisi yang demikian tinggi inilah yang justru membuatnya tidak diperlukan oleh sembarang orang setiap hari. Yang dimaksud dengan puisi dalam konteks ini tentu puisi yang benar-benar puisi. Bukan sampahnya puisi yang bertebaran di koran-koran, di warung-warung internet dan di lomba baca puisi peringatan tujuh belasan tingkat kelurahan.

Kebutuhan hidup manusia memang sudah dibagi-bagi oleh Allah dengan sangat rinci dan rapi. Pertama, manusia perlu udara untuk bernapas. Kita boleh tahan  tidak minum seharian. Tetapi tanpa udara sepuluh menit pun kita akan mati. Kebutuhan berikutnya adalah air. Orang boleh tahan tidak makan berhari-hari, tetapi kalau cairan tubuhnya habis, maka dia akan mati juga. Kebutuhan pokok berikutnya adalah makanan, pakaian lalu sabun, rumah, penerangan dan lain-lain termasuk seks. Setelah kebutuhan-kebutuhan tadi tercukupi, barulah orang memikirkan kesenangan. Nonton tivi, piknik, nongkrong di kafe, menyanyi, berjudi, main tenis, memelihara perkutut dan lain-lain. Terakhir, kebutuhan umat manusia yang paling mulia adalah memuliakan Allah. Pada tataran inilah puisi yang benar-benar puisi berupa ayat-ayat doa diperlukan. Namun, bagi manusian kebanyakan, kebutuhan ini merupakan prioritas urutan nomor terakhir.  

Masyarakat modern telah demikian disibukkan oleh banyak hal, hingga puisi lalu  bukan merupakan sesuatu yang penting sekali. Namun bagi masyarakat Badui Dalam, Tengger atau Bali, puisi masih melekat erat dengan seluruh kehidupan sehari-hari mereka dan penting. Memang sebutan untuk puisi dalam bahasa mereka adalah mantra atau doa. Masalah perut, bernapas, menanam padi, bersetubuh dan menyembah Allah masih menjadi satu kesatuan yang utuh dan itulah kehidupan mereka. Itulah makna puisi mereka. Karenanya, komunitas asli ini hampir tidak pernah menghadapi permasalahan yang serius, seperti halnya yang dihadapi oleh manusia modern. Ketika UNDP menyusun sebuah kriteria miskin bagi masyarakat dunia, maka orang-orang  Badui Dalam tentu termasuk di dalamnya. Tetapi perbendaharaan kata miskin dan juga kaya, tidak mereka kenal. Strata yang mereka kenal hanyalah Puun untuk pimpinan spiritual, Jaro sebagai pimpinan keduniaan dan rakyat biasa yang terdiri dari Badui Dalam serta Luar.

Kekayaan yang sangat berlebihan, yang kemudian menciptakan kemiskinan yang juga berlebihan, memang telah membuat kehidupan ini menjadi berkelas-kelas. Kondisi inilah yang telah digugat antara lain oleh Marx yang sangat dipengaruhi oleh teori dialektikanya Hegel. Gugatan Marx itu kemudian melahirkan gerakan Komunisme dunia. Gerakan ini memang telah gagal karena ingin mengubah struktur kapitalis yang ada dengan kekerasan. Bukan dengan mengembalikan “puisi” ke kehidupan sehari-hari. Yang dilakukan oleh Komunisme dunia malahan menjadikan puisi sebagai alat untuk menghajar kaum borjuis. Sementara puisi yang benar-benar puisi harus dicurigai. Sementara bagi masyarakat Badui Dalam, puisi masih merupakan suatu keseharian yang  melekat erat dengan seluruh aspek kehidupan mereka. Tak ada urusan perbedaan kaya miskin yang tajam hingga puisi adalah ungkapan perasaan dan kejadian sehari-hari yang bersahaja untuk memuliakan Allah.

* * *

Permasalahan yang dihadapi umat manusia dewasa ini, tentu bukan hanya sebatas di sekitar perbedaan kelas. Peperangan dan perusakan lingkungan juga menjadi hal yang kian hari menjadi semakin gawat. Rahmat Allah berupa kecerdasan otak yang telah dimiliki oleh umat manusia, justru telah digunakan untuk mempercepat kerusakan  planet kecil ini. Seandainya anggaran belanja persenjataan negara-negara maju dikurangi seperempatnya saja, lalu dipergunakan untuk membantu negara miskin, maka perbedaan kelas itu mungkin tidak akan semakin mencolok. Korban nyawa manusia akibat bom, peluru dan ranjau juga akan bisa diminimalkan. Perampokan hutan tropis untuk kenyamanan masyarakat di negara maju, serta penggunaan bahan bakar fosil, juga telah menjadikan atmosfir planet ini makin panas. Dan sebuah getar puisi akan menjadi sangat terasa, ketika Kang Juli dari Badui Dalam berjalan kaki ke Jakarta. Sementara pada saat yang sama jutaan mobil berseliweran dan Jumbo Jet 747 mengotori atmosfir bumi nun di atas sana. Tampaknya kita harus banyak belajar dari sebuah kebersahajaan, untuk bisa mempertahankan kehidupan di planet ini.  Puisi harus bisa tahu diri untuk ikut menjadi bersahaja pula. Bukan menjadi sarana penggugat dan protes.

Perbedaan utama antara prosa dengan puisi adalah dalam hal esensi. Prosa memberikan banyak hal yang bukan esensi. Sementara puisi memberikan hanya sedikit hal, tetapi lebih esensial. Puisi tak pernah peduli bahwa esensi hanya diperlukan oleh sedikit orang, dalam jumlah yang sangat sedikit dan dengan frekuensi yang juga sedikit sekali. Kalau puisi dipaksakan  untuk menjadi massal, maka esensinya harus dikurangi atau malahan ditiadakan. Esensi puisi ibarat alkohol dalam minuman keras. Hanya sedikit sekali orang yang mampu minum minuman keras yang beralkohol tinggi namun bermutu baik. Selain karena daya tahan seseorang untuk menerima alkohol yang terbatas, harga minuman berkelas ini juga sangat tinggi bagi ukuran orang kebanyakan. Champagne misalnya, hanya akan disajikan sebagai minuman dalam suasana yang sangat khusus oleh kelompok yang khusus pula. Sementara dalam hidup sehari-hari kita cukup minum Coca Cola, teh tubruk dan air putih.

Esensi permasalahan  yang dihadapi oleh umat manusia tentu memiliki kadar yang berbeda-beda pula. Perang, perbedaan kaya miskin, penindasan ras dan etnis tertentu oleh ras dan etnis lain, rusaknya lingkungan,  kesemuanya menjadi permasalahan yang esensial. Namun permasalahan yang esensial ini tidak serta merta akan menjadi puisi yang baik, apabila disajikan dengan target untuk ikut mengubah keadaan. Justru di sinilah sering sebuah puisi terjebak menjadi slogan, hasutan dan khotbah etika, moral serta keagamaan. Padahal esensi puisi bukan berada di sana. Untuk bisa menangkap esensi, atau lebih tepatnya agar kita bisa menjadi bagian dari esensi itu, tidak hanya diperlukan sebuah intensitas perhatian, namun juga sikap kebersahajaan. Ketika Rendra menulis puisi pamplet dan Wiji Thukul membela buruh dengan puisinya, maka mereka sebenarnya sedang menjadi semacam pekerja sosial atau mendapat panggilan untuk menjadi pahlawan. Bukan menjadi penyair. Sebab yang mereka tulis, bukan esensinya.

Bagaimana pun juga penyair tetap seorang manusia biasa yang mudah tergoda oleh banyak keinginan. Termasuk keinginan untuk menegakkan keberaran, membela yang lemah, mendekatkan diri dengan Allah dan sebagainya. Itu semua tentu sangat mulia adanya. Godaan yang paling besar bagi seorang penyair dan juga profesi lainnya; adalah nafsu untuk ikut campur tangan dalam banyak hal. Keserakahan demikian akan melahirkan sebuah garis demarkasi yang sangat jelas seperti halnya Tembok Berlin. Di seberang sana adalah mereka yang seluruhnya setan, sementara di sebelah sini ada kita yang malaikat. Yang tercipta hanyalah gambar hitam putih yang kontras, namun bisa menyesatkan. Sebab dalam kenyataan sehari-hari, di lingkungan gereja, mesjid, pura dan tempat-tempat suci lainnya pun terjadi korupsi, perzinahan dan lain-lain tindak kejahatan. Sementara di lingkungan para bandit dan kemaksiatan juga masih bisa kita temukan adanya kebaikan. Karenanya garis demarkasi yang sangat tegas seperti itu, sebenarnya tidak pernah ada di dunia. Bahkan dalam diri kita masing-masing pun, tersimpan benih kebaikan dan kejahatan dalam kadar yang sama besar. Untuk bisa terus berbuat baik dan benar, diperlukan perjuangan yang harus dilaksanakan terus-menerus sepanjang hidup.   

* * *

Kemarahan dan ketakutan penguasa yang ditujukan kepada  penyair, sebenarnya bukan disebabkan oleh esensi yang disajikan sebuah puisi. Kemarahan itu biasanya  lebih ditujukan pada gerakan massa yang menentang kekuasaan. Entah kekuasaan pemerintahan, kekuasaan bisnis maupun kekuasaan keagamaan. Karena penyair ikut berdiri di sana, maka dia akan terkena terjangan amarah penguasa. Padahal massa yang tertindas akan terus bergerak, ada atau tidak ada puisi, selama ketidakadilan masih tetap berjalan. Bahkan seorang aktifis gerakan yang militan, akan lebih efektif untuk menggerakkan buruh daripada seorang penyair. Penyair memang boleh memilih seratus persen berdiri dalam posisi ini, dan bisa juga berhasil menangkap esensi puisi. Meskipun hal ini jarang terjadi.  Sebaliknya, hal-hal yang sangat biasa dan sederhana, juga bisa menjadi puisi yang luarbiasa. Haiku adalah salah satu contoh yang tepat. Embun, batu, lumut, deru knalpot di malam buta, langkah sepatu tentara, semuanya bisa menjadi puisi yang baik dan bisa menggetarkan kehidupan.

Esensi dari semua esensi adalah pertanyaan-pertanyaan klasik yang sederhana. Siapakah saya (atau kita); mengapa kita ada; dari mana asal kita dan mau ke mana? Dalam konteks lebih global, pertanyaan itu ditujukan untuk hal yang lebih global pula. Bagaimanakah asal-usul jagat raya ini dan bagaimana pula akhirnya nanti? Atau jagat raya ini tidak ada awalnya dan juga tidak ada akhirnya, karena semuanya hanyalah sebuah siklus yang akan berlangsung terus tanpa batas? Pertanyaan-pertanyaan demikian sebenarnya sangat mencemaskan  untuk dikemukakan. Sebab lebih nyaman hidup seperti masyarakat Badui Dalam yang mengucapkan mantra (puisi) dalam rangka keseharian mereka, tanpa perlu bertanya ini itu. Karena irama hidup mereka adalah sebuah irama alam. Sebuah puisi yang sempurna. Sementara manusia modern adalah Adam dan Siti Hawa yang telah berani bertanya siapa diri mereka dan juga terlanjur tahu jawaban-jawabannya.

Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya buntu tatkala perangkat yang dimiliki manusia hanya sebatas bisa menjangkau inti atom (ke dalam) dan galaksi (keluar). Selebihnya masih gelap pekat dan penuh dengan tanda tanya besar. Untuk menjangkau sebuah tata  surya lain dalam galaksi kita sendiri pun, masih sangat sulit dilakukan saat ini. Jarak dari tatasurya kita, tempat planet bumi ini berada, ke bintang Centauri, tetangga tatasurya terdekat, adalah 4,3 tahun cahaya.  Garis tengah galaksi Bimasakti adalah 100.000 tahun cahaya yang berisi sekitar 100 milyar bintang. Jarak dari galaksi Bimasakti ke tetangga galaksi terdekat Andromeda sekitar 2.000.000 tahun cahaya. Kita tak pernah tahu ada berapa banyak gugusan galaksi di jagat raya ini. Hingga pertanyaan esensial itu tetap buntu dan belum terjawab. Apakah manusia di planet biru yang kecil ini hanya sendirian di jagat raya, atau ada plenet-planet lain, tata surya lain dan galaksi-galaksi lain yang seperti bumi ini? Apakah Allah itu sebuah kesempurnaan atau hanya kebaikan? Kalau Allah itu kesempurnaan, mestinya di dalamnya juga akan ada kejahatan. Kalau hanya kebaikan, maka berarti bukan kesempurnaan.

Kesadaran tentang kesendirian homo sapiens di planet kecil dan tua inilah yang telah melahirkan sebuah perasaan sunyi yang luar biasa dalam diri manusia. Di sana ada kerinduan untuk pada suatu ketika nanti, kita bisa berkomunikasi dengan makhluk lain entah itu ET, malaikat, setan atau malahan dengan Allah sendiri. Seperti dulu pernah dialami oleh para Nabi. Memang secara teknis, kesunyian dan kerinduan ini akan sulit untuk terobati; apabila kita baru sebatas bisa memanfaatkan gelombang radio dan cahaya untuk mendeteksi sinyal-sinyal dari langit. Tetapi kesulitan ini terutama hanyalah masalah fisika dan mekanika. Bukan masalah jiwa manusia. Masalah roh atau spirit. Di sinilah sebenarnya agama bisa kembali mengaktualkan diri sebagai sarana untuk mengadakan kontak dengan Allah. Bukan untuk urusan yang sangat duniawi di sekitar perebutan uang, politik dan kekuasaan. Dan penyair dengan puisinya bisa menjadi semacam jembatan. Penyair bisa dengan rendah hati menulis tentang hal yang remeh-remeh dan bersahaja, tetapi bisa sampai ke yang hakiki. * * *   
Rabu, 06 Februari 2008
Puisi; Kepingan Puzzle Dunia yang Kompleks
Berto Tukan (Diposting di Blog Kecoa Merah)

Bicara tentang puisi berarti bicara tentang sebuah jalan sunyi yang butuh ketabahan hati untuk melaluinya. Namun jalan sunyi ini, tanpa disadari, telah memasuki keseharian hidup manusia dewasa ini. Puisi hadir dalam berbagai penjelmaannya melalui media apa saja. Di radio, televisi, coretan-coretan di dinding, di buku-buku, bahkan dalam pembicaraan setiap hari, kita menemukan puisi. Puisi akan terus berubah dan, bagai bunglon, mampu beradaptasi dalam semua sisi kehidupan, seiring berkembangnya ibu kebudayaan.

Membaca tulisan F. Rahardi, Puisi dan Planet Bumi yang Kesepian, banyak hal yang bisa kita amini bersama dan banyak hal pula yang tak bisa kita amini begitu saja. Bagi Rahardi, ada atau tidak adanya puisi tak berpengaruh atas kehidupan di bumi. Dengan pernyataan demikian, Rahardi telah masuk pada dunia “andai-andai” yang tak bisa terlacak kepastiannya. Bagaimana kita memastikan penting atau tidak penting peran puisi, di saat penetrasi puisi telah masuk begitu dalam ke kehidupan manusia? Namun benar apa yang dikatakan Rahardi bahwa, puisi bukanlah bahan pokok kehidupan. Dan tak tersangkalkanlah bahwa, pamor puisi begitu jauh tertinggal dari sejawatnya yang lain semisal cerpen dan novel.

Hal yang paling tidak bisa saya setujui dari tulisan Rahardi adalah pengelu-eluan yang terlampau tinggi atas puisi. Rahardi bahkan men-just puisi-puisi yang bertebaran di majalah, koran, situs-situs internet dan di lomba-lomba baca puisi peringatan tujuh belasan sebagai sampahnya puisi. Sedangkan puisi yang benar-benar puisi menurutnya adalah puisi-puisi yang digunakan untuk memuliakah Allah. Dengan pengkotak-kotakkan seperti ini, Rahardi yang juga adalah penyair itu telah memiskinkan ruang lingkup dan meluasnya puisi. Ia juga dengannya telah membatasi penggunaan puisi, hanya pada beberapa tujuan saja. Lebih jauh lagi, dengan mengikuti pemikiran Rahardi tersebut, tersirat legitimasi berpuisi hanya untuk segelintir orang. Mereka yang percaya pada Tuhan bolehlah berpuisi, sedangkan yang tidak janganlah berpuisi.

Selain itu, batasan apa yang digunakan Rahardi sehingga berkesimpulan bahwa, puisi-puisi, selain di tempat-tempat ibadah, adalah puisi-puisi sampah? Bukankah seiring berkembangnya kehidupan ini, (ingat, kita hidup di galaksi McLucan dan kami adalah generasi Y dengan perkembangan media berekspresi yang begitu banyaknya) puisi itu pun berkembang, bercecabang, dengan dahan-dahan aliran dan gaya yang berbeda-beda, dengan hukum estetikanya sendiri-sendiri? Sampai kapan puisi harus elitis tanpa bisa dijangkau kebanyakan orang nir-kecuali?

Satu lagi pandangan Rahardi yang patut diberi catatan yakni puisi sempurna adalah puisi yang lahir dari kehidupan (interaksi) manusia dengan suara alam. Sedangkan kehidupan manusia modern akan melahirkan puisi yang tidak sempurna. Alam dalam pengertian Rahardi adalah alam yang pure, alamiah, sesuai dengan konsep natur dalam naturalisme yang berkembang di Jerman beberapa dasawarsa lalu. Dengan demikian, ia tampak seolah-olah menutup mata akan alam yang telah begitu tercemar dewasa ini. Apakah dengan hidup di natur saja orang bisa bermeditasi, mengolah rasa, bercengkrama sendirian di dunia dalam? Apakah betul mereka yang ada di natur lebih bisa mengolah dunia dalam dari pada mereka yang ada di alam tercemar semisal Jakarta? Saya rasa tidak. Di mana saja berada, manusia bisa mengolah dan berinteraksi dengan dunia dalam-nya. Maka bagi saya, lahir di alam tanpa kebisingan bukanlah satu-satuya pasword untuk seseorang bisa bersyair, mencipta puisi sempurna. Semua bnetuk kehidupan, segala keadaan alam bisa menjadi puisi. Bahkan menurut hemat saya, alam yang hancur tercemar (alam modern?) lebih membutuhkan sentuhan penyair. Di sana, penyair bisa mengolah pengalamannya dengan dunia luar yang hancur berantakan, lantas diolah di dunia dalamnya untuk selanjutnya dilontarkan kembali pada khalayak dalam rupa puisi sebagai bahan refleksi komunal. Alam dalam rupanya seperti ini telah melahirkan Afrizal Malna, Binhad Nurohmat, Indra Tjahjadi dan masih berderet nama lagi yang karya mereka tak bisa serta-merta kita cap sebagai “sampahnya puisi”.

Rahardi juga menghimbau puisi untuk bersahaja dan tidak menjadi sarana pemrotes dan penggugat. Hal ini bisa dibaca sebagai ajakan pada penyair untuk hanya bermenung diri di kamar, sendirian, tanpa harus berinteraksi (sebagai penyair) dengan khalayak ramai. Puisi tak perlu menjadi senjata, begitu kira-kira maksud Rahardi. Seingat saya, puisi punya dua katagori yakni puisi kamar dan puisi mimbar. Rahardi agaknya membenarkan keberadaan puisi kamar ketimbang puisi mimbar. Para penyair pemrotes semisal Rendra dan Widji Thukul adalah para penyair puisi mimbar yang baik. Agaknya kurang adil bila mengatakan bahwa, puisi-puisi protes, puisi-puisi penuh teriakkan pemberontakan bukan puisi sebenarnya. Sebab yang sebenarnya adalah puisi-puisi bersahaja tanpa perlu berontak dan menggugat. Rahardi mungkin lupa, puisi seperti karya seni lainnya adalah cerminan kehidupan.

Puisi protes penuh gugatan merupakan puisi yang timbul dari kehidupan manusia termarjinal, manusia-manusia tertindas-terlupakan. Mungkin segala cara untuk terdengar tak berhasil dan puisi memberi jalan baru keselamatan. Bahasa puisi yang menggebu-gebu penuh protes, tidak bisa begitu saja dihakimi sebagai puisi tanpa isi, tanpa permenungan. Bukankah permenungan setiap orang akan menghasilkan hal yang berbeda-beda, begitu pula bahasa yang dilahirkan puisinya?

Mungkin ada baiknya saat ini kita mulai memandang puisi sebagai jalan sunyi yang dipilih mereka-mereka yang ingin menyepi. Mereka-mereka yang ingin berkontemplasi dengan cara kontemplasi yang berbeda-beda, dengan output masing-masingnya yang berbeda pula. Seiring mengkompleksnya dunia ini, mengkompleks pulalah mereka dan hal-hal yang hidup di dalamnya. Maka mungkin tak bisa lagi kita berpegang teguh pada definisi-definisi puisi lama yang muncul dari dunia yang tak sekompleks sekarang. Saya percaya, puisi akan tetap lahir selama manusia masih berpikir dan bernapas. Biarkan puisi dan jalan sunyinya membuktikan diri sebagai sebuah hasil kebudayaan yang bermutu. Ada baiknya kita tak memilah-milah mana yang baik mana yang jelek. Percayalah, yang bermutu akan bertahan di jalan sunyi itu dan yang tak bermutu akan tenggelam di tikungan jalan sunyi pertama atau pun tikungan kedua. Puisi adalah puzzle kecil dari kehidupan yang kompleks. Puisi pun menjadi kompleks dan beragam, seberagam dan sekompleks zamannya.

–MarkasKata, Februari 2007, Dari berbagai sumber sebagai reaksi setelah membaca tulisan F Rahardi Puisi dan Planet Bumi yang Kesepian–

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: