PUISI THUKUL DAN DARAH MARSINAH


Kompas, 6 Mei 2004

Oleh F. Rahardi

Hanya ada satu kata: Lawan! Itulah bait puisi Wiji Thukul yang lekat dengan aktivitas buruh gugat. Dan darah Marsinah, makin menegaskan bahwa potret buram buruh Indonesia, masih harus terus diperjuangkan tanpa lelah.

Bagi aktivis LSM Perburuhan, memperjuangkan nasib buruh selalu identik dengan menggugat pengusaha dan penguasa. Tapi ada sebuah ironi di sini. Ketika proses perjuangan ini dimulai, maka yang terdongkrak nasibnya justru para aktivis LSM perburuhan. Bukan para buruh itu sendiri. Yang akan muncul di media massa, termasuk layar tivi, juga para aktivis itu. Bukan para buruhnya.

Thukul, meskipun kemudian dikenal sebagai penyair, kesehariannya sangat lekat dengan kehidupan buruh. Dia sendiri juga cukup lama mencari nafkah sebagai buruh. Perjuangan Thukul, baik melalui puisi maupun aktivitasnya, tampak lebih tulus. Dan ini dibuktikannya ketika tahun 1996 dia raib. Sampai sekarang nasibnya tak ketahuan. Diduga ia tewas di tangan aparat keamanan.

Marsinah terlebih lagi. Dia adalah salah satu dari sekian banyak buruh di sebuah pabrik arloji di Sidoarjo, Jawa Timur. Kalau Thukul tidak ketahuan nasibnya, maka Marsinah sangat jelas. Dia tewas teraniaya aparat keamanan. Meski terjadi proses hukum terhadap para pelaku tindak kriminal terhadapnya, namun rasa keadilan masyarakat tetap tak terpenuhi.

Pahlawan Buruh

Era reformasi di negeri ini, tampaknya belum bisa mengubah perangai penguasa. Thukul dan Marsinah, sungguh layak untuk diangkat sebagai Pahlawan Buruh. Mereka berdua telah nyata-nyata mengorbankan milik mereka yang paling berharga, yakni nyawa. Tapi penguasa tetap penguasa. Mereka akan lebih berpihak pada pengemplang duit BLBI, dibanding dengan buruh.

Menjadikan Thukul dan Marsinah sebagai pahlawan, tampaknya masih terlalu  jauh. Istilah buruh pun, sampai sekarang masih tabu untuk digunakan. Padahal kata ini terpampang jelas sebagai entri di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang disusun oleh Pusat Bahasa Depdiknas. Di jaman Orde Baru, kata buruh memang hantu yang menakutkan.

Itulah sebabnya tahun 1973, semua organisasi buruh harus menyatu dalam wadah tunggal Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI). Tetapi nama ini pun, masih terlalu menyeramkan bagi penguasa yang “parno”. Hingga nama FBSI diubah menjadi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Di era reformasi, wadah tunggal ini jebol. Berbagai organisasi buruh lahir.

Tetapi kembali ketulusan para aktivis organisasi buruh ini bisa dipertanyakan. Sebab organisasi buruh, ternyata bisa menjadi kendaraan yang sangat baik untuk meraih fulus dan kekuasaan. Banyak aktivis buruh yang tiba-tiba berubah menjadi majikan. Banyak pula yang kemudian duduk nyaman di kursi DPRD bahkan DPR. Dan dari kursi empuk ini, suara mereka nyaris tak terdengar.

Gincu Darah

Upaya melanjutkan perjuangan Thukul dan Marsinah, kadang memang masih diupayakan. Termasuk oleh para seniman. Hingga pentas monolog Marsinah, pernah diusung dari satu kota ke kota lain. Tapi kembali, yang naik daun adalah sang aktor. Berkat darah Marsinah sebagai gincu, dia berhasil menduduki jabatan prestisius. Setelah itu Marsinah kembali sepi dan dilupakan.

Ketika UU Ketenagakerjaan akan direvisi pemerintah dan DPR, maka kembali buruh dimanfaatkan. Memang revisi terhadap undang-undang itu, hanya berkiblat pada kepentingan penguasa dan pengusaha, terutama untuk merayu investor asing. Buruh lalu hanya dilihat sebagai faktor penghambat. Tetapi sebuah partai politik besar, segera memanfaatkan momen ini. Demo buruh diorganisir untuk kepentingan politik mereka.

Aktivis buruh Indonesia, tampaknya perlu mengikuti jejak eksekutif dan legislatif kita, untuk studi banding ke luar negeri. Cobalah datang ke Jepang. Di sana, buruh bukan tanpa permasalahan. Tetapi yang muncul di tivi Jepang bukan hanya demo dan mogok. Di sana para buruh yang berprestasi diseleksi, dikonteskan dan dijadikan tontonan di tivi.

Hak untuk memperoleh penghargaan, hak untuk dipublikasikan di media massa, diberikan kepada para buruh yang berprestasi itu. Bukan hanya kepada para aktivis yang mengorganisir buruh demo dan mogok. Di Indonesia, menyelenggarakan kontes buruh, dengan mencari sponsor dan iklan, dianggap rumit dan melelahkan oleh para aktivis.

Di sini, lebih enak menulis project proposal, menyerahkannya ke lembaga donor, terutama lembaga donor asing. Setelah uang turun, kegiatan dijalankan. Tujuannya jelas bukan untuk nasib buruh, melainkan bagi para aktivis dan lembaganya. Memang tetap ada lembaga dan aktivis yang benar-benar lurus dalam memperjuangkan nasib buruh. Tetapi jumlahnya sedikit, dan mereka  justru dicap bodoh oleh sesama aktivis.

Buruh Tani & Nelayan

Selama ini, yang paling menarik untuk digarap para petualang fulus dan politik, hanyalah buruh pabrik. Padahal yang nasibnya paling jelek, justru buruh tani dan nelayan. Mereka luput dari cakupan undang-undang. Mereka juga tidak dijamin Jamsostek, asuransi apalagi pensiun. Tetapi memperjuangan buruh tani dan nelayan, jelas bukan target para aktivis.

Sebab mereka susah dikumpulkan untuk diajak mogok atau demo. Juragan mereka juga bukan konglomerat, melainkan pemilik lahan dan perahu yang juga miskin. Sulit untuk membuat petani pemilik lahan, dan nelayan pemilik perahu sebagai sasaran tembak. Project proposal dengan obyek buruh tani dan nelayan, juga kurang laku di mata lembaga donor.

Dalam konteks Indonesia saat ini, sebenarnya produktivitas menjadi sesuatu yang sangat urgent. Buruh yang produktiv sebenarnya secara otomatis akan sejahtera. Pengusahanya juga akan tambah kaya. Pabrik rokok, jamu, makanan, minuman dan otomotif, tampaknya selama ini relatif tenang. Sebab buruh mereka produktiv, diperlalukan adil dan relatif makmur.

Itulah yang selama ini didambakan Thukul dan Marsinah.  Tapi puisi yang keras, telah membuat penyair ini raib. Darah Marsinah juga sudah tumpah, bahkan sempat dijadikan gincu di pentas monolog. Demo-demo dan mogok juga akan terus berlanjut. Terlebih di sekitar hari buruh. Tapi siapa yang sebenarnya paling diuntungkan dari lakon buruh gugat ini?

F. Rahardi, Penyair/Wartawan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: