SEBUAH KELUH-KESAH SETENGAH HATI


Makalah Diskusi Peluncuran Buku JJ. Kusni: Sansana Anak Naga
Komunitas Mata Bambu, PDS – TIM, Sabtu 13 Agustus 2005

SEBUAH KELUH-KESAH SETENGAH HATI 

Oleh F. Rahardi

Mereka yang sekarang ini berumur di atas 55 tahun, tahu betul apa yang pernah terjadi di Indonesia sekitar tahun 1965 – 1966. Tanggal 30 September 1965, ada sekelompok perwira TNI Angkatan Darat yang diculik dan dibunuh oleh sebuah komplotan. Kemudian menyusul gelombang pembunuhan terhadap para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) berikut organisasi onderbownya. Pembunuhan ini dilakukan oleh masyarakat yang diprovokasi, atau dipaksa oleh aparat TNI. Pelaksana utama operasi ini adalah pasukan elite Angkatan Darat, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang kemudian berubah nama menjadi Korps Pasukan Sandhi Yudha (Kopasandha) dan sekarang Korps Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus).

Tragedi Nasional 1965 – 1966, sampai sekarang tetap kontroversial. Ada yang menyebut korbannya sampai jutaan orang. Ada yang mengatakan sekitar 500 ribu. Aparat pemerintah memberikan angka kurang dari 500 ribu jiwa. Selain yang terbunuh, jutaan orang lain dipenjara tanpa proses pengadilan. Di antaranya diasingkan ke Pulau Buru, Maluku. Dalang dari peristiwa tragis yang kemudian populer sebagai Gerakan 30 September (G 30 S) ini, menurut versi pemerintah adalah PKI. Menurut PKI, Gestok (Gerakan Satu Oktober) merupakan konflik intern Angkatan Darat. Meskipun kenyataannya Angkatan Udara pun ikut terlibat. Ada yang mengatakan bahwa,  dalang dari peristiwa ini adalah Soekarno. Ada yang menyebut Letjen Soeharto. Banyak pula yang mengatakan bahwa Central Intellegence Agency (CIA) berperan besar dalam peristiwa ini. Mereka yang kritis akan menyebut bahwa, peristiwa ini merupakan gabungan dari berbagai permasalahan yang sangat kompleks, dan melibatkan banyak pihak, tetapi dengan pemegang peran utama Partai Komunis Indonesia.

Tragedi 1965 – 1966 adalah konflik politik. Bukan peristiwa kriminal, bukan pula masalah pelanggaran hukum. Puncak dari konflik politik biasanya adalah perang. Dalam peperangan, pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Yang menang, akan membunuh dan memenjarakan yang kalah dengan atau tanpa proses hukum. Dalam peperangan, menyerbu negara lain tanpa alasan jelas juga dibolehkan. Sampai sekarang teror politik seperti ini tetap terjadi. Contohnya Afganistan yang dulu diserbu Uni Soviet, dihajar Taliban dan sekarang ganti ditaklukkan AS. Irak pun merupakan contoh dari negara berdaulat, yang bisa seenaknya diserbu dan diduduki pasukan Asing tanpa bisa dicegah oleh hukum internasional.

* * *

Salah satu korban dari tragedi 1965 – 1966 adalah JJ Kusni. Dia putera Dayak, kelahiran Kasongan, Kalimantan  Tengah, 25 September 1940. Sejak tahun 1951 ia sudah pergi dari kampung halaman untuk sekolah. Termasuk kuliah publisistik di UGM, Yogyakarta. Di Yogya inilah JJ. Kusni masuk menjadi anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), sebuah organisasi onderbow PKI. Sebagai anggota Lekra, akhir tahun 1965 ia diundang oleh Himpunan Pengarang Seluruh Tiongkok untuk berkunjung ke RRC. Sejak itulah ia tidak bisa (atau tidak bersedia) pulang ke tanahair. Hidupnya kemudian mengembara ke mana-mana sampai akhirnya terdampar di Paris. Kota yang merupakan “oasis” bagi para pelarian politik kiri maupun kanan.

 Tahun 1990, JJ. Kusni menjadi sangat produktif menulis  puisi. Pada tahun 1990 tersebut, total ia menghasilkan 33 puisi yang kemudian dibukukan dengan judul Sansana Anak Naga, dengan sub judul Dan Tahun-tahun Pembunuhan. Ketika itu JJ. Kusni menggunakan nama Magusig O Bungai. Penerbitnya Stichting ISDM, Postbus 439, 4100 AK Culemborg, Nederland, 1990, dengan pengantar dari Prof. Dr. W.F. Wertheim dan catatan editor dari A. Kohar Ibrahim. Buku kumpulan puisi inilah yang kemudian pada tahun 2005 ini, kembali diterbitkan oleh Penerbit Ombak, Yogyakarta. Pemberi illustrasi sampul dan isi pada buku setebal 88 halaman ini adalah Surya Wirawan, perupa kelahiran Mojokerto 17 Februari 1973.

Sebanyak 33 puisi JJ. Kusni ini, warnanya seragam. Semuanya bersuasana seperti yang tertera dalam sub judul buku: Dan Tahun-tahun Pembunuhan. Yang dimaksudkannya adalah pembunuhan para anggota PKI, organisasi underbow serta simpatisannya. Secara umum ke 33 puisi JJ. Kusni bersifat linier. Pandangannya terhadap para korban serta pelaku pembunuhan sangat stereotip. Para korban selalu berhati bersih. Mereka adalah pejuang kepentingan rakyat yang heroik: maka yang tak mau jadi budak, ayo, bangkit/ memberontak! Sementara para pembunuhnya, militer Indonesia itu berhati keji: sedikit saja gundah pentung menghunjam di kepala/serdadu-serdadu siap mengantar/ke penjara subversi (Yang Tak Mau Jadi Budak, Ayo, Bangkit Memberontak!)

Akibat pandangan linier yang stereotip ini, kekeliruan terjadi. “Petrus” akronim dari pembunuhan misterius yang diprakarsai L.B. Moerdani selaku Panglima ABRI ketika itu, dianggap sebagai pembunuhan terhadap petani yang tergusur dan menggelandang di kota (Revolusi Hijau). Padahal, lepas dari kontroversi tindakan L.B. Moerdani, korban petrus adalah residivis. Para residivis ini tidak ada hubungannya dengan petani yang lahannya tergusur. Kesalahan lain adalah, pengertian Gerakan Aksi Sepihak BTI (Barisan Tani Indonesia), sebagai perjuangan untuk melaksanakan UUPA (Undang-undang Pokok Agraria) dan UUPBH (Undang-undang Pokok Bagi Hasil). Padahal dalam praktek, aksi sepihak adalah pengambilalihan perkebunan swasta besar dengan kekerasan oleh BTI, untuk selanjutnya dikuasai partai (Matinya Arjo Pilang di Tengah Mimpi).

* * *

Tidak semua puisi dalam buku ini bertemakan pembunuhan di sekitar G. 30 S. Sebagai anak Dayak, ada pula puisi Tabur Beras Garam Berabu. Puisi ini menceritakan adat Dayak Katingan, Kalimantan Tengah. Tetapi, suasana yang bisa ditangkap dalam sajak bertemakan adat setempat inipun, tetap aroma  pembunuhan: lebih baik kepala terpenggal/harga diri kampung halaman pantang dijual/terhalau kami anak enggangmu dari sungai kelahiran/perihnya luka tak meneteskan airmata/darah yang tumpah penyang berlawan tujuh/turunan. Tampaknya, yang menaruh dendam tujuh turunan bukan hanya sang penindas, melainkan juga yang tertindas. Baris tersebut mengingatkan ketika paruh pertama 1960an, PKI masih berkuasa dan menindas para penandatangan Manifes Kebudayaan.

Jargon-jargon politik yang digunakan oleh pemerintah Orde Baru seperti subversiv, OTB (Organisasi Tanpa Bentuk), terlibat G. 30 S. PKI, tidak bersih lingkungan dll. terhadap musuh politik mereka, sebenarnya juga pernah digunakan oleh PKI pada paruh pertama 1960an. Misalnya: Komunisto Phobia, Antek Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperialisme), Kabir (Kapitalis Birokrat) Tujuh Setan Desa dll. Hanya kebetulan, pada akhir tahun 1965 yang keluar sebagai pemenang adalah Soeharto dan tentaranya, yang kemudian memerintah negeri ini. Seandainya yang menang bukan Soeharto, melainkan pihak PKI dengan angkatan kelimanya, tidak ada jaminan bahwa keadaan akan menjadi seperti yang diimpikan oleh JJ. Kusni. Sebab siapa pun, isme apa pun, bisa menjadi sangat otoriter setelah berkuasa tanpa adanya kontrol.    

Gereja Katolik (Vatikan), pernah selama 300 tahun menjadi agama terlarang di wilayah kekaisaran Romawi. Pemimpin agama dan umatnya dikejar-kejar, ditangkap dan disalib atau diumpankan binatang buas sebagai tontonan. Kemudian setelah berkuasa, institusi agama ini juga menjadi sangat otoriter dan kejam di hampir seluruh Eropa. Mereka yang dianggap “berdosa” juga dihukum seperti cara kekaisaran Romawi menghukum para pendahulu mereka. Sekarang ini di salah satu negara Komunis, kembali tokoh Gereja Katolik yang tidak loyal kepada penguasa masih terus ditangkapi dan dipenjara. Tetapi yang otoriter dan bengis, sekarang bukan hanya pemerintah negara Komunis. Pemerintah AS, yang mengaku sebagai biangnya demokrasi pun,  kekejamannya ibarat centeng tuan tanah di jaman VOC.

Tindak sewenang-wenang, kejam dan bengis, bisa dilakukan oleh siapa saja. Mulai dari Gereja Katolik, Partai Komunis, Taliban, dan Pemerintah AS. Bahkan perilaku iblis ini bukan hanya bisa dilakukan oleh institusi keagamaan dan negara. Pers, perusahaan multinasional, lembaga pendidikan, dan LSM bisa saja bengis dan menyeramkan. Stigma dan jargon-jargon untuk meneror lawan, bisa silih berganti penggunanya. Jargon yang digunakan oleh penguasa Orde Baru bahwa komunis itu najis (Yang Tak mau Jadi Budak, Ayo, Bangkit Memberontak!), sebenarnya sama saja dengan akronim Manikebu (maninya kerbau), yang pernah dilontarkan kaum Komunis untuk meneror penandatangan Manifes Kebudayaan. Sejarah akan terus berputar dan berulang. Perang antara kebaikan dan kejahatan tidak akan pernah ada habisnya.

Namun di lain pihak, tidak pernah ada yang mutlak di muka bumi. Mutlak jahat tidak ada, mutlak baik juga tidak mungkin. Sejahat-jahatnya Komunis, tetap masih ada sisi baiknya. Sekejam-kejamnya pemerintah Orde Baru, juga masih ada lemah-lembutnya. Yang bisa 100% baik katanya hanya Allah, sementara yang 100% jahat namanya syaiton. Dengan landasan berpikir demikian, bukan berarti sebuah puisi harus oportunis dan tidak punya sikap. Sebab puisi yang baik justru harus berpihak. Dalam keadaan tertentu, puisi tidak hanya berpihak kepada kebenaran, melainkan juga kepada yang lemah dan terkalahkan. Tetapi puisi bukan berita. Puisi bukan jargon-jargon politik. Puisi adalah sebuah ungkapan yang kalau disampaikan dengan medium lain akan kehilangan kekuatannya.

Suasana di sekitar G. 30 S memang sungguh mencekam. Tetapi materi puisi yang diciptakan JJ. Kusni, bisa dibuat oleh siapapun dalam bentuk apapun. Mulai dari berita, keluh-kesah, catatan harian dll. Namun keluh kesah yang disampaikan oleh JJ. Kusni adalah-keluh kesah setengah hati. Sebab dia kemudian memilih tinggal di Paris, sebuah negeri kapitalis. Bahkan setelah sempat pulang kampung 1998 pun, dia hanya bisa bertahan sampai 2002 dan kemudian kembali ke Paris. Keluh-kesah JJ.Kusni yang setengah hati, sebenarnya juga disebabkan oleh kenyataan bahwa, penguasa keterbukaan dan media massa dunia justru negara-negara barat yang kapitalis. Bukan negara Komunis. Kemudian pada saat Soeharto mengeksekusi para anggota PKI, maka di Uni Soviet, RRC, Vietnam, Kuba dan Korea Utara para pembangkang justru sedang dihajar oleh penguasa Komunis. Di Kamboja malahan sedang terjadi pembantaian massal oleh rezim Polpot. 

* * *

Betapa pun lemahnya posisi kepenyairan JJ. Kusni, kumpulan puisi Sansana Anak Naga ini tetap punya nilai bagi khasanah sastra Indonesia. Kumpulan puisi ini justru tidak tepat kalau didekati hanya dengan kacamata sastra. Sebab pernyataan-pernyataan yang linier dan stereotip justru menunjukkan bahwa yang sedang marah dan sakit hati adalah penyairnya. Bukan pembacanya. Padahal, sebuah karya sastra yang baik (juga karya tulis lain pada umumnya), yang harus emosional adalah pembacanya, bukan penulisnya. Untuk bisa menjadikan pembacanya emosional, sang penulis harus dalam kondisi tidak sedang emosional. Sebab kalau seseorang sedang emosional karena menghadapi penguasa yang otoriter dan bengis, lebih baik memberontak atau  demo dan bukan menulis puisi.

Kumpulan Sansana Anak Naga, mungkin lebih tepat didekati dengan disiplin ilmu non sastra. Bisa psikologi, politik, antropologi atau ilmu-ilmu sosial lainnya. Justru di sinilah sumbangan kumpulan puisi ini terasa kuat. Sajak-sajak JJ. Kusni, bisa menjadi sebuah model untuk menggambarkan salah satu figur intelektual, yang terusir dari tanah-airnya karena pergolakan politik. Dan dia tidak sendirian. Banyak mahasiswa, seniman dan intelektual yang pasca G. 30 S terdampar di negeri asing.  Selain mereka yang beraliran kiri, pada tahun 1990an juga banyak aktivis politik kanan yang terusir ke negeri jiran. Belum lagi para pejuang kemerdekaan Timtim, Papua dan Aceh yang sangat tegas menyuarakan perjuangan mereka. Para aktivis politik kanan yang lari ke Afganistan, Libya, Malaysia dan Filipina Selatan,  meski secara rahasia, juga lebih jelas merumuskan perjuangan dan menggalang kekuatan. Sementara para pelarian politik pasca G. 30 S, hanya bisa berteriak dengan setengah hati.

Saya pribadi akan sangat hormat, apabila penganut faham Komunis bisa lebih lantang dan tegas menyuarakan perjuangannya. Misalnya memperjuangkan bangkitnya  Komunisme dunia termasuk Indonesia. Mengapa takut? Sebab yang menakutkan bukan Komunis, bukan Zionis, bukan Islam, bukan Kristen tetapi sikap ekstrim, tertutup, totaliter, tidak adil, sewenang-wenang dan teror. Baik teror fisik maupun mental sampai ke pembunuhan dan pemusnahan lawan politik. Sikap ekstrim demikian, bisa datang dari mana saja. Ketika Uni Soviet menyerbu Afganistan, maka wajah Komunisme dunia menjadi tampak menyeramkan. Ketika Taliban meledakkan Situs Warisan Dunia, Patung Budha Raksasa di Bamyan, Afganistan 2001, maka wajah Islam pun menjadi garang. Sekarang ini ketika pasukan AS yang Protestan petentang-petenteng di Irak, maka yang paling sebel justru warga AS sendiri. * * *

Cimanggis, 9 Agustus 2005

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: