SELINGKUH


Pernah dimuat di Rubrik Bahasa Harian Kompas

 Oleh F. Rahardi

Meski berasal dari kosakata Bahasa Jawa, kata selingkuh sudah menjadi milik Bahasa Indonesia. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) susunan W.J.S. Peorwadarminta, dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) susunan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, sudah bisa kita jumpai entri selingkuh dan perselingkuhan. Namun makna kata selingkuh menurut kamus-kamus itu, berbeda dengan makna yang dipahami oleh masyarakat luas saat ini. Sama dengan kata konglomerat, yang semula berarti gumpalan batu, yang sekarang bermakna pengusaha besar.

Dalam KUBI, selingkuh Jw : curang; tidak jujur; tidak berterus terang; korup. Dalam KBBI, se.ling.kuh a 1 suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; curang; serong; 2 suka menggelapkan uang; korup; 3 suka menyeleweng. Kode kode a dalam KBBI berarti adjektiva (kata sifat). Sementara Jw dalam KUBI, artinya serapan dari kosakata bahasa Jawa. Dalam Baoesastra Djawa yang juga disusun oleh W.J.S. Peorwadarminta, slingkoeh (-an) kn : 1 ora barès; 2 nganggo doewit lsp. sing dadi tetanggoengané; 3 plingkoeran, rikoeh; di-slingkoeh-aké : dianggo déwé (tmr. doewit lsp. sing dadi tetanggoengané).

Entri selingkuh dalam KBBI, berasal dari KUBI. Sebab KBBI disusun antara lain bersumberkan dari KUBI. KBBI selama ini sudah mengalami dua kali revisi. Cetakan pertama edisi pertama keluar tahun 1988. Sedangkan cetakan pertama KUBI sudah keluar tahun 1953. Entri selingkuh dalam KUBI, berasal dari Baoesastra Djawa yang diterbitkan oleh J.B. Wolters Uitgevers Maastschappij N.V. Groningen, Batavia, pada tahun 1939. Baik dalam KBBI, KUBI, terlebih dalam Baoesastra Djawa, kata selingkuh sama sekali tidak ditujukan secara spesifik, pada hubungan seksual antara pasangan yang bukan suami isteri. Sebab untuk pengertian itu, kata yang paling tepat adalah zina.

Namun dalam perkembangan lebih lanjut, zina yang diadopsi dari kosakata bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu, dan Jawa, akhirnya jarang dipergunakan dalam bahasa Indonesia. Kata serong dan seleweng, kemudian lebih populer sebagai pengganti zina. Padahal, serong dan seleweng, pada awalnya juga digunakan untuk mewadahi pengertian yang bersifat umum, yakni miring, atau menyimpang. Lama-kelamaan, kata serong dan seleweng, mengalami pergeseran makna, yakni hanya dikaitkan dengan hubungan seksual antara pasangan yang bukan suami isteri. Hingga serong dan seleweng dengan makna lain, menjadi kurang populer.

Pernah pula berkembang istilah PIL dan WIL (Pria Idaman Lain dan Wanita Idaman Lain), yang digunakan untuk pasangan lain, selain pasangan tetap (suami/isteri) masing-masing. Beberapa tahun lalu ketika lagu Teman Tapi Mesra (TTM) kelompok Ratu menjadi HIT, maka istilah TTM pun juga memasyarakat. Belakangan TTM diartikan sebagai Teman Tapi Mesum. Tetapi berbagai istilah itu, termasuk “brondong” bagi para tante, masih kalah populer dibanding dengan selingkuh.

Entah sejak kapan, kosakata selingkuh itu telah menggeser serong, seleweng, serta istilah lain tadi, untuk mewadahi pengertian hubungan seksual dengan pasangan yang bukan suami-isteri. Sekarang ini, kalau ada kalimat: “Jangan memilih Si A menjadi Kepala Desa, sebab dia senangnya selingkuh!”  maka masyarakat akan mengartikannya bahwa Si A biasa berhubungan seks dengan pasangan yang bukan isterinya, dan juga bukan PSK (Pekerja Seks Komersial). Tetapi kalau kalimat itu diucapkan tahun 1960an atau malahan juga 1970an, maka masyarakat akan mengartikan, bahwa Si A itu suka tidak berterus-tenrang dan korup.

Bahkan sekarang pun, di pedalaman Jawa Tengah, makna kata selingkuh dalam kosakata bahasa Jawa masih belum berubah. Saya masih sering mendengar ibu-ibu berkomentar demikian: “Bayangkan si B itu, dengan suaminya pun dia masih mau (ber)selingkuh. Apalagi dengan orang lain!” Berselingkuh dengan suami? Maksudnya, tentu tidakberterus terang, alias korup. Terutama menyangkut soal penggunaan uang. Tetapi bagi masyarakat Indonesia saat ini, (ber)selingkuh dengan suami adalah sesuatu yang absurd.

F. Rahardi, Penyair, Wartawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: