“Kebanyakan Caci Maki yang Saya Terima”


Floribertus Rahardi :Floribertus Rahardi terkenal sebagai manusia singkong, karena karya-karyanya bersumber pada sikap orang-orang desa yang polos tapi kukuh. Lelaki kelahiran Ambarawa, Jawa Tengah, 10 Juni 1950 ini, pernah mengajar dan menjadi kepala sekolah dasar di Kawasan perkebunan teh Ungaran, tahun 1967 hingga 1974. Sejak saat itulah ia menulis puisi dan cerita pendek. Karya-karyanya telah tersebar di berbagai media, mulai dari yang paling serius seperti majalah Horison dan harian Kompas, sampai majalah wanita : Femina, dan majalah hiburan : Humor. Kini ia memimpin divisi majalah pada Yayasan Sosial Tani Membangun yang menerbitkan majalah Trubus.

“Saya tertarik pada dunia tulis-menulis sejak remaja,” tutur Floribertus Rahardi mengawali kisahnya kepada BB. “Tapi karena waktu itu tinggal di desa, maka kegiatan saya dalam tulis-menulis terbatas pada buku kenang-kenangan antar teman”.

Kala itu, Floribertus menetap di pelosok desa yang terpencil. Jauh dari kota dan dari pusat keramaian yang ada. Bayangkan, jarak antara tempat tinggalnya dengan pusat keramaian desa tidak kurang dari empat kilometer, sedangkan dari tempat tinggalnya ke kota kecamatan kurang lebih delapan kilometer. Apalagi pada waktu itu belum ada kendaraan sama sekali. Dengan demikian ia kesulitan mendapatkan sarana utama untuk mengembangkan bakat kepenulisannya, yaitu kertas dan mesin tik.

Ketertarikan Floribertus pada dunia kepenulisan dari waktu ke waktu semakin kuat. Dalam benaknya timbul keinginan untuk menuangkan imajinasinya dalam media yang lebih luas. Tidak hanya terbatas pada buku kenang-kenangan antar teman. Dan keinginannya itu baru bisa terealisasikan ketika ia sudah menjadi guru sekolah dasar menjelang tahun tujuh puluhan. Ketika ia telah memiliki kesanggupan untuk “menaklukkan” keadaan.

“Jadi kalau mau membeli kertas folio paling banyak dua puluh lembar, harus jalan kaki delapan kilometer. Berarti pergi-pulang enam belas kilometer. Kalau mau pinjam mesin tik harus datang ke kantor kelurahan dengan jalan kaki sepanjang empat kilometer. Itu pun kalau mesin tiknya sedang nganggur. Sebab di desa tersebut hanya ada satu mesin tik yang di kelurahan itu. Di sekolah dasar tempat saya mengajar tidak ada mesin tik,” kenang Floribertus.

Setelah kertas dimilikinya, dan kesempatan mengetik diperolehnya, Floribertus dapat menuangkan ide tulisan dengan leluasa. Di luar kesulitan mendapatkan kertas dan kesempatan mengetik, ia tidak mengalami kesulitan apa pun dalam menulis.

“Di luar masalah kertas dan mesin tik, saya lancar-lancar saja menulis,” tegas Floribertus penuh percaya diri. “Meski tidak ada seorang pun yang membimbing atau mengajari saya menulis, terutama menulis karya sastra.”

Tentu saja Floribertus – yang mengaku memiliki bakat menulis bukan dari keturunan – tidak memungkiri, kematangannya dalam kepenulisan karena hasil belajar juga. Ia banyak belajar dari tulisan-tulisan para penulis senior. Misalnya dari sajak-sajak penyair Taufik Ismail dan lain-lain.
Tergantung Suasana

Selaku pengarang, Floribertus tidak pernah mengalami kesulitan untuk mendapatkan ilham. Ilham, menurutnya, ia dapatkan dari mana-mana secara tidak sengaja. Tanpa harus melakukan kegiatan tertentu, atau merenung berjam-jam.

“Jadi saya tidak pernah berusaha mendapatkan atau mencari ilham,” ungkap Floribertus menandaskan. Kemudian lebih jauh ia tambahkan, “Sebab ilham, atau lebih tepatnya disebut ide tulisan itu, selalu datang dengan sendirinya, kapan saja di mana saja mirip coca-cola”.

Ide yang Floribertus peroleh tidak langsung dituliskannya. Pada tahap menuangkan ide dalam kertas inilah, ia sering mengalami kesulitan. Bukan kesulitan teknis – perihal cara menyampaikan ide melalui kata-kata dan lain sebagainya – yang ia hadapi, melainkan kesulitan menyiapkan suasana hatinya untuk menulis.

“Kesulitan yang sering terjadi kalau ide tulisan sudah siap tetapi suasana atau katakanlah semangat untuk menulis tak kunjung tercipta. Berarti gagal. Kalau saya paksakan terus untuk menulis, karangan yang saya hasilkan akan penuh dengan gagasan namun kering. Tak enak dibaca,” papar Floribertus.

Bisa juga kesulitan Floribertus dalam menulis akibat dari keadaan yang sebaliknya. Memang, ia akui, kadang-kadang semangatnya untuk menulis menggebu-gebu, namun tidak mempunyai ide tulisan. Walaupun tidak memiliki ide yang ingin dituangkan, ia tetap menulis. Paling tidak, barangkali, supaya keinginannya menulis yang menggebu-gebu terlampiaskan. Tentu saja hasilnya jauh dari memuaskan.

“Jadinya ya . . . tulisan ngalor-ngidul. Sekalipun enak dibaca, mengasyikkan, namun kosong. Tak ada gagasan apa-apa.” Ungkap Floribertus blak-blakan.

Lepas dari ada ide tulisan atau tidak, membuat cerpen atau sajak bagi Floribertus merupakan masalah yang teramat sangat mudah. Ia bisa melakukannya dengan cepat. Untuk menulis sebuah cerpen misalnya, ia cuma memerlukan waktu selama satu sampai dua jam. Sedangkan untuk menulis sajak dengan panjang dua sampai tiga halaman kuarto, ia cuma membutuhkan waktu paling lama setengah sampai dua jam.

Kemampuan Floribertus menulis cerpen atau puisi dalam waktu yang relatif singkat, besar kemungkinan karena ia tidak dibebani oleh pikiran apa pun. Misalnya, siapa pembaca yang ingin dituju. Dalam hal ini ia menuturkan. “Pada saat menulis saya tidak pernah membayangkan pembaca saya, kecuali pada tulisan-tulisan pesanan. Hanya saja saya yakin, pembaca saya ialah mereka yang punya kecerdasan, kelas sosial, ekonomi, dan juga ‘kewarasan’ setingkat saya”.

Sebagaimana penulis-penulis yang lain, ia selalu membaca ulang dan memperbaiki tulisannya sampai dua-tiga kali, setelah itu baru final. Ada memang sajak atau cerpen yang Floribertus revisi berkali-kali. Bahkan tiga sajaknya, Matahari, Wereng dan Sol Sepatu ia revisi terus-menerus selama lima tahun. Juga cerpennya “Menembak Banteng”, masih ia revisi menjelang dimuat KOMPAS.

“Saya ingat betul, hari Jumat mau diturunkan oleh Redaksi ke percetakan, Kamis malam masih saya revisi. Namun banyak juga yang begitu selesai ditulis, ketika dibaca ulang hanya dibetulkan ejaannya. Misalnya sajak saya In Memoriam Tuhan. Juga cerpen saya yang banyak dimuat di Horison”.
Rata-rata Mencaci

Sekalipun Floribertus mampu menulis cerpen dengan baik, namun ia lebih tertarik pada puisi. Itu mungkin karena ketertarikannya pada dunia tulis-menulis berawal dari puisi. Karya pertamanya, Malam-Titian Bambu-Malam yang dimuat di majalah semangat awal tahun tujuh puluhan, juga berupa puisi.

“Saya lebih mudah membuat puisi daripada cerpen,” jelas Floribertus. Alasannya? “Karena dalam menulis puisi samua bisa tampil lebih bebas dan lebih total. Kebetulan saya juga jauh lebih banyak menulis puisi”.

Tidaklah mengherankan jika karya-karya puisi Floribertus jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlah cerpen yang pernah ditulisnya. Puluhan jumlah puisi yang telah dihasilkannya, dikumpulkan dalam lima buku : Sumpah WTS, Catatan Harian Koruptor, Migrasi Para Kampret, Silsilah Garong, dan Tuyul. Sedangkan buku kumpulan cerpen yang telah dihasilkannya baru satu, Kentrung Itelile. Dari judul-judul yang ditampilkannya, tampaklah bahwa ia banyak menaruh perhatian kepada lingkungannya. Juga tampak jelas, bahwa ia ingin memprotes kepincangan-kepincangan melalui penanya. Tepatlah kiranya jika majalah Jakarta-Jakarta menyebutnya penyair Sarkastis dari pegunungan. Juga tidaklah berlebihan jika Eka Budianta mengatakan, dunia Rahardi adalah tatanan yang komplit dari kehidupan rakyat jelata sampai kegiatan menteri dan presiden.

Floribertus Rahardi, lebih jauh Eka Budianta katakan, adalah anak zaman pembangunan yang gemuruh akibat berbagai perubahan. Tetapi dalam proses peleburan dan peralihan kebudayaan yang serba tumpang-tindih, dan riuh-rendah, ia tetap menunjukkan integritas pribadi yang menonjol. Selain memperkaya bangsanya dengan sajak-sajak yang kocak dan tanpa aturan, ia juga menulis bacaan-bacaan praktis untuk dunia pertanian dan peternakan, antara lain Bercocok Tanam Dalam Pot, dan Beternak Kodok.

Kesan para pembaca lainnya terhadap karya-karya Floribertus Rahardi, cukup banyak dan beragam. “Tetapi kesan para pembaca yang saya terima kebanyakan caci maki dan kekecewaan,” akunya tanpa memperlihatkan ekspresi keberatan. “Orang biasanya sudah kasih komentar meski baru baca judul, setelah baca semua, kecewa dan mencaci-maki”.

Lebih jauh Floribertus ceritakan, pernah ada seorang ibu yang sangat kesemsem pada sajaknya yang berjudul Sajak Semangka. Si ibu tersebut mengatakan akan membacanya di depan anak-anak. Namun setelah membaca Sajak Semangka dari awal sampai akhir, si ibu marah karena ternyata sajak itu porno. Selain itu ada juga seorang teman Floribertus yang marah karena sajak Santa Maria.

Ada kasus lebih tragis lagi yang menimpa Floribertus akibat dari sajaknya juga. “Teman dekat saya, cewek Batak ‘memutuskan hubungan’ gara-gara saya menerbitkan Sumpah WTS dan Catatan Harian Sang Koruptor yang ‘murtad’,” ungkapnya tanpa kesenduan. “Baru-baru ini teman saya, wartawan Kartini bilang mau memuat sajak saya Arti Sebuah Pohon. Ternyata setelah dia baca semua, dia membatalkannya karena takut majalahnya kena semprot penguasa nantinya”.

Karena sajak-sajak yang ditulisnya itu pula, Floribertus Rahardi beberapa kali mendapatkan “penghargaan”. Pertama, pada tahun 1984, ia dilarang pesta oleh Dewan Kesenian Jakarta. Kedua, pada tahun berikutnya 1985 ia dilarang naik panggung oleh Laksus/Polda. Dan terakhir, tahun 1986, ia dicekal TIM. “Penghargaan” lain yang masih diingatnya sampai sekarang, beberapa kali tidak diberi honor.

Sekalipun Floribertus Rahardi cenderung pada karya-karya sastra, namun ia tidak merasa lebih tinggi dari para penulis populer, terutama yang baru bermunculan. Menurutnya, “Mereka juga sastrawan. Meskipun kadar sastra dalam tulisan mereka rendah, namun mutu tulisan mereka banyak yang baik”. Benar juga.

Sumber : Berita Buku No. 47 Januari – Februari 1994

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: