Cerpen-cerpen F. Rahardi


Tinjauan Buku

F. Rahardi, Kentrung Itelile (Kumpulan Cerpen Manusia Singkong), Puspa Swara, Jakarta 1993, 130 halaman.

F. Rahardi memang lebih dikenal sebagai penyair. Penyair kontroversial yang beberapa pembacaan puisi yang direncanakannya, kandas di tengah jalan. Penyair yang menurut Sapardi Djoko Damono beberapa tahun silam merupakan salah seorang penyair yang “lain” dari gejala “penyeragaman” yang pernah dituduhkan beberapa seniman atas kehadiran majalah sastra Horison. Dialah penyair yang dunia kesehariannya disibuki pekerjaan mengelola majalah pertanian Trubus. Dan sekarang, awal tahun 1993, ia secara “diam-diam” meluncurkan sebuah kumpulan cerpen.

Cerpen barangkali adalah sebuah media ekspresi berkesenian yang cukup diterima “diam-diam” saja (oleh dan) dari Rahardi. Dalam dunia prosa ini ia kurang produktif. Dalam 20-an tahun terakhir ini misalnya, ia baru membukukan Kentrung Itelile ini; kalah jumlah dengan kumpulan puisi yang telah dihasilkannya, maing-masing Soempah WTS, Catatan Harian Sang Koruptor, Silsilah Garong, dan Tuyul.

Namun, bukan berarti di dunia “diam-diam” ini ia menjadi kedodoran. Ia tetap menjaga kapasitasnya, baik sebagai penyair, maupun sebagai cerpenis. Hingga bisa juga disimpulkan bahwa penggunaan media yang berbeda di sini adalah masalah kebutuhan semata-mata. Artinya, secara teknis, pada keduanya ia telah siap.

Terlihat misalnya, dalam ke-20 cerpen yang terkumpul dalam Kentrung Itelile ini, ia cukup menguasai plot, penokohan, cerita, dan elemen prosa lainnya – yang dalam perpuisian nyaris kurang diperhitungkan (dan kurang diperlukan). Walau begitu, secara umum semangat bercerpen pada Rahardi bisa dikatakan lebih diwarnai aliran formalis yang menata prosa sebagai alur yang dipenuhi oleh peristiwa unik, khas, lain dari yang sudah ada. Dengan keunikan, kekhasan, diharapkan dunia kesenian mampu membangunkan kembali kesadaran terhadap realitas yang telah menjadi rutin.

Di sini, cerita terkadang menjadi tidak sepenting alur yang harus mampu mengikat pembaca pada susunan alinea demi alinea yang disuguhkan. Begitulah pada cerpen Kentung Itelile. Cerpen ini dimulai dari tokoh “Aku” yang sedang bercinta-cintaan dengan kekasihnya “Srikandi”. Alinea demi alinea yang diselingi dialog-dialog lepas, kemudian tersuguh secara berangkai membangun rasa ingin tahu pembaca tentang “apa” itu Kentrung Itelile yang disebutkan sebagai fakultas si gadis “Srikandi”. Sampai kemudian perkawinan dilangsungkan, Kentrung Itelile tak dijelaskan maknanya.

Lalu persoalan Kentrung Itelile ini muncul kembali ketika kehidupan bercinta-cintaan dialami oleh anak “aku” dan “Srikandi”. Melihat kebebasan sang anak bersama pacarnya, “Aku” tiba-tiba saja bertanya, apa kegiatan pacar si anak. Jawabnya, “Eng, dik Jakielin masih kuliah kok dia mengambil jurusan Kentrung Itelile.” (h. 5). Hal yang kemudian mengembalikan rasa ingin tahu “Aku” tentang makna Kentrung Itelile. Hal yang kemudian mengembalikan rasa ingin tahu pembaca tentang makna Kentrung Itelile. Sayang, cerpen sudah berakhir.

Hal yang sama pun berulang kembali pada cerpen Sesuatu Itu, yang tak menjelaskan apa sebenarnya Sesuatu Itu. Juga pada cerpen 236 Two Mi Nem (Toe Mien Nem), yang tak pernah memastikan siapakah yang telah menghamili “Maria”. Demikianlah pada hampir keseluruhan cerpen-cerpen dalam kumpulan ini, “rasa ingin tahu” yang kemudian berujung pada “entah apa atau entah siapa” ini terus dipertahankan sebagai pola penyusunan alur yang akhirnya menyerempet berbagai hal dalam kehidupan, baik itu pada tataran metafisis, sosial, maupun psikologis, yang secara semiotis mampu membuka ruang dialog yang lebar antara si pengarang dan pembaca.

***

Barangkali, dari sini jugalah bisa ditarik satu garis perbedaan antara Rahardi dengan beberapa cerpenis yang memiliki kecenderungan teknik alur ini dalam sastra Indonesia. Dengan Hamsad Rangkuti misalnya, Rahardi mampu bersikukuh tanpa penjelasan lebih jauh tentang sesuatu yang sejak semula gelap seperti halnya pada cerpen Kentrung Itelile dan Sesuatu Itu. Sementara Hamsad Rangkuti selalu mengakhiri dengan syspense yang mengejutkan, sekaligus memperjelas semua permasalahan, yang akhirnya menutup terbentuknya cerita.

Sementara pada Putu Wijaya misalnya, teknik alur ini mengambil bentuk berupa luapan pikiran dan emosi yang acapkali menggetarkan, ketika cerpen akhirnya berakhir dengan cerita yang tak memerlukan lagi awal dan akhir. Awal dan akhir saling tumpang tindih, dan berhasil, khususnya pada beberapa cerpen terbaik Putu.

Lalu yang bisa dikemukakan juga, atas hadirnya kumpulan cerpen Kentrung Itelile ini adalah kemajemukan media ekspresi para sastrawan di dunia sastra Indonesia. Ada Ajip Rosidi, Sitor Situmorang, Rendra, Sutardji Chalzoum Bachri, Eka Budianta, Yudhistira ANM, Korrie Layun Rampan, Beni Setia, dan banyak lagi, yang masing-masing lebih dikenal sebagai penyair, ternyata harus diperhitungkan juga dalam dunia prosa, khususnya cerpen.

Apakah hal ini bisa dijadikan salah satu indikasi betapa rapuhnya konsep “spesialisasi” yang disuburkan oleh peradaban industri – tentu saja akan menjadi topik yang sebaiknya dibicarakan dalam tulisan lain. Yang pasti adalah Kentrung Itelile, sebagai kumpulan cerpen yang telah memperkaya dunia cerpen Indonesia dengan sumbangan ke-20 cerpen di dalamnya. Ia pun telah menguakkan beberapa persoalan substansi di dunia sastra itu sendiri.

Itu tadi, Kemajemukan media. (Arie MP Ramba)

Sumber : Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: