F. Rahardi, Pelanjut Generasi Penyair Mbeling


Oleh : Harta Pinem

Sejalan dengan bergugurannya majalah hiburan yang membuka diri membuat puisi-puisi mbeling semacam Aktuil, Astaga, Midi, Top atau sebagian masih terbit tapi tak lagi memuat genre puisi mbeling seperti majalah Gadis atau media lainnya; pada sisi berikutnya menghambat kiprah para penyair mbeling di Indonesia. Rupanya mereka ini kebanyakan uang belum mampu berdikari dalam genre pilihannya atau masih sangat tergantung kepada uluran tangan media masa penampungannya. Sehingga wajar bila kemudian kiprah dan identitas kepenyairan mereka jadi amblas begitu saja. Nama-nama penyair mbeling yang sebelumnya sudah akrab dan dikenal dalam jagat kepenyairan puisi mbeling seperti Remy Silado, Jeihan, Gumilar Suparya, Huda Vanagoef, Hardo Waluyo, Mahawan, untuk sekadar beberapa nama, hingga kini tak lagi kita dengar suaranya lewat puisi ciptaannya.

Tampaknya, penyair mbeling yang kemudian bisa eksis nama dan identitas kepenyairannya dalam jagat perpuisian mutakhir ialah mereka yang punya semangat mandiri yang tinggi didukung oleh intelektualitasnya yang tinggi pula selaku penyair. Dan mereka ini hanya tinggal beberapa orang saja yang bisa dikatakan punya andil besar memperluas daerah-daerah baru dalam dunia kepenyairan mutakhir, baik dari tema maupun dari segi pengucapan. Di antaranya adalah Darmanto Jatman, Yudhistira ANM Massardi, dan F. Rahardi. Mereka ini tetap konsekuen memegang jalur pilihannya, yakni mengembangkan genre puisi mbeling secara sofistikatif, mencari kemungkinan-kemungkinan baru atau penjelajahan-penjelajahan baru secara kreatif. Dan pencarian dan kiprah penciptaan ini sangat tertolong dan bisa eksis lantaran mereka ini kebetulan punya status ekonomi yang tergolong mapan. Sehingga, dengan memiliki gaya publikasi yang begitu gencar yakni dengan menerbitkan buku-buku kumpulan puisi karya mereka, didukung pula oleh mutu karyanya yang juga ternyata tak bisa diabaikan begitu saja, kedudukan mereka dalam jagat kepenyairan semakin kokoh pula. Kemudian ditambah lagi oleh keterbukaan media massa untuk meligitimasi karya mereka. Media massa yang dinilai kualitatif semacam Horison, Basis, dan surat-surat kabar yang membuka ruang puisi, juga membuka pintu untuk memuat puisi-puisi mereka.

Demikian pun halnya dengan proses kreatif kepenyairan F. Rahardi yang tampaknya terus mengeliat mengembangkan jalur pilihannya. Sekalipun dalam kapasitas kesehariannya begitu sibuk sebagai Wakil Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Majalah Pertanian TRUBUS : ternyata karier kepenyairannya tak pernah mandek atau tertinggal. Ia terus berupaya melakukan pembaruan-pembaruan, pembocoran-pembocoran terhadap kaidah-kaidah perpuisian yang dinilainya sudah membeku atau mengalami tahap penjenuhan. Manifes kepenyairannya yang pernah diajukannya dengan judul “Proklamasi Puisi” yang kemudian dimuatnya dalam buku antologi puisinya yang kedua “Catatan Harian Sang Koruptor” (Pustaka Sastra, 1985), tetap dipegangnya secara teguh.

Isi manifes tersebut yang tak lain dari sikap kebebasannya sebagai penyair merdeka, pada satu sisi memang membuatnya jadi lebih leluasa bergerak merambahi segala tema, isu, fenomena sosial-politik yang tengah terjadi pada masyarakat kita. Demikian pun ia leluasa menemukan pola pengucapan yang lebih santai dan penuh kelakar yang berisi ironi atau satire-satire yang segar. Sebab, puisi bukan lagi seni yang agung, melainkan hanyalah sebagai alat permainan, bagi F. Rahardi. Tapi bukan untuk main-main. Dalam hal ini tampaknya penyair ini menganut paham “homo ludens”-nya Johan Huizinga; yang dalam bukunya “Homo Ludens, Fungsi dan Hakikat Permainan dalam Budaya” (1990) menjelaskan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk bermain. Dalam kapasitas manusia sebagai makhluk bermain, manusia selalu berusaha menaati tata permainan, paling tidak secara normatif. Dan sebagai makhluk bermain, menurut Huizinga, manusia harus kembali menjadi anak-anak, dalam arti berpikir dan bertindak dengan polos, jujur, spontan, tanpa pretensi terhadap sesamanya. Lantaran sifatnya kreatif, bukan manipulatif.

Tetapi rupanya harapan dengan kenyataan sering mengalami persimpangan budaya yang jauh berbeda. Pada saat seperti inilah terjadi benturan-benturan budaya bermain; manusia tak lagi bermain dengan polos, jujur, dan spontan seperti anak-anak. Sebaliknya, bertindak pretensius demi kepentingan pribadi, kelompok, dan sejenisnya.

Sehingga, ketika orang-orang sibuk membicarakan efek negatif para wanita penghibur (WTS) bagi masyarakat luas, Rahardi pun mengangkat penanya dan kemudian memuisikannya dalam buku puisi pertamanya “Soempah WTS” (Puisi Indonesia, 1983). Jika kebanyakan orang lebih sering melihat sisi gelap kehidupan WTS sebagai penyebar virus penyakit dan keretakan dalam keluarga, Rahardi melihat dari sisi keduanya. Bahwa kaum WTS juga diperlukan masyarakat banyak, meski secara normatif orang-orang bilang  WTS merupakan salah satu sumber perusak moral dan etika manusia. Ini memang menarik dan punya nada kontraversi. Justru itu Rahardi  memasuki dari segi kelakarnya.

Demikianlah ketika masyarakat bicara soal korupsi dan koruptor, Rahardi pun memplesetkan dirinya sebagai salah seorang tokoh koruptor kata-kata. Segala norma yang sudah mapan, dibocorkannya kembali dalam jagat perpuisian seperti dapat disimak dalam buku puisi keduanya. “Catatan Harian Sang Koruptor”, lantas buku puisi ketiganya “Istilah Garong” (Pustaka Sastra, 1990) ia menyulap dirinya laksana seorang garong yang gemar beraksi, maka lahirlah lirik-lirik macam ini.

Bohong, mulutmu laksana lubang kakus yang rakus. Tiap hari makan tai. Yang pesing, tiap hari dikencingi. Omong kosong, kau hanya pintar menipu. Tukang copet, kau serobot pulpenku dari saku. Tukang cukur, kau sikat kumisku siang tadi, waktu sedang lelap terlena. Begitukah kerja badut, begitukah (Lenggang-lenggang Kangkung, Silsilah Garong, 1990).

Rupanya kadar kritik puisi-puisinya periode berikutnya semakin tajam dan menukik meski unsur kelakarnya tetap kental. Hal ini misalnya kita dapati pada buku puisi keempatnya “Tuyul” (Pustaka Sastra, 1990) yang berisikan puisi-puisi yang ditulisnya pada rentang waktu 1985-1989. Pada kumpulan ini ia banyak bicara soal tuyul yang beberapa waktu lalu sempat jadi isu sentral yang dibicarakan masyarakat luas, bahkan dibawa jadi bahan seminar. Tuyul dalam puisi-puisi Rahardi telah menjelma semesta simbol yang beragam, seperti pencuri, penipu, pembohong, penggelap uang negara, dan sebagainya, yang semuanya itu dikemas Rahardi jadi puisi yang unik, lucu, sekaligus kritis.

Simak misalnya cara Rahardi melukiskan ulah tuyul sehingga jadi pembicaraan di tengah masyarakat luas.

Dalam beberapa bulan terakhir ini masyarakat telah  dibikin resah oleh sebuah isu mengenai tuyul tanpa jelas asal-usulnya, tahu-tahu isu tentang tuyul ini telah beredar luas mulai dari Padang sampai Ambon. Akibat isu tuyul itu, ayam kampung dan itik telah berhenti bertelur. Listrik mendadak turun voltasenya, dan hama tikus serta wereng coklat telah merajalela dan menghancurkan beberapa lapangan golf. Pendek kata, akibat isu tuyul itu stabilitas nasional telah guncang, pembangunan yang dulu lancar itu, sekarang macet total. Untuk itu, bapak Presiden telah memberi petunjuk agar isu tuyul itu segera ditangkal secara tuntas sampai ke akar-akarnya. (Penjelasan Menteri Penerangan tentang Tuyul, Tuyul, 1990).

Dari kutipan pendek ini jelas imaji tuyul itu begitu jamak. Ada tuyul berupa maling arus listrik, maling uang kantor, maling pulsa telepon, dan sebagainya. Sehingga, meskipun secara estetis puisi-puisi Rahardi tidak terlalu ketat, tapi secara tematis puisi-puisinya jadi relevan dan aktual.

Kritik-kritik segar macam itu kembali hadir secara lebih kompleks dan komplet. Pada buku terbarunya “Migrasi Para Kampret” (Pustaka Sastra, Jakarta 1993), memuat 27 buah puisi terbarunya yang khusus mengulas kehidupan dan masa depan para kampret, ketika gua dan hutan semakin dirambahi manusia untuk kepentingan pembangunan, sehingga kelestarian lingkungan hidup jadi terusik dan bahkan terancam. Kehidupan para kampret jadi tergusur. Mereka harus migrasi ke kota-kota, ke bawah kolong jembatan layang atau ke gedung-gedung pencakar langit. Dari pulau Jawa para kampret merencanakan migrasi ke hutan dan gua di Pulau Sumatera karena mengira gua dan hutan-hutan di Sumatera masih perawan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Bahkan kerusakan gua dan hutan di Jawa tak jauh berbeda dengan yang terjadi di Sumatera. Demikian pun para kampret Sumatera ingin bermigrasi ke pulau Jawa dengan perkiraan bahwa di Pulau Jawa banyak bahan makanan.

Secara analogis-simbolistis, idiom kampret pada puisi-puisi Rahardi ternyata punya kaitan dengan masyarakat lemah yang kehidupannya juga tak kalah getir. Beban kemiskinan dan kasus penggusuran tempat tinggal, tanah, dan ganti rugi yang kurang sesuai, merupakan hal yang sudah umum terjadi dalam kehidupan masyarakat bawah. Yang nasibnya sering tidak menentu dan kalah oleh birokrasi.

Bersamaan dengan biografi pada kampret seperti dilukiskan Rahardi pada puisinya “Biografi Para Kampret”, di antaranya berbunyi :

Biografi para kampret adalah catatan panjang dari gua-gua kapur, dari gedung-gedung tua yang akan terus digusur, dibongkar dan dirobohkan…. Biografi para kampret hanyalah sebuah kecemasan, hutan-hutan tropis yang kalah melawan gergaji mesin, bukit-bukit kapur yang menyerah pada pabrik semen.

Keresahan-keresahaan makhluk kecil yang tidak jadi perhitungan ini disorot Rahardi dengan nada satir dari berbagai segi agar menjadi agenda bagi kita untuk menanggulanginya.

Dengan “demikian”, ketika puisi dicurigai sebagai medium yang tidak efektif untuk menyampaikan aspirasi masyarakat, puisi-puisi Rahardi kembali mempertanyakannya dan sekaligus menjawabnya bahwa puisi juga bisa dijadikan medium yang efektif untuk menyalurkan aspirasi. Dan pembelotan kreatif macam ini sebenarnya sudah umum terjadi pada puisi-puisi penyair mutakhir kita, meski tidak memilih jalur puisi mbeling. Tentu dengan cara yang berbeda pula. Seperti dapat dibaca pada karya penyair Afrizal Malna, Wahyu Prasetya, Acep Zamzam Noor, Beni Setia, Soni Farid Maulana, Isbedy Stiawan ZS, Gus tf, Dorothea Rosa Herliany, Herry Lamongan, Ari Setya Ardhi, Joko Pinturbo, dan lainnya. Bahwa estetika perpuisian itu tidak bernada tunggal, tapi memiliki nilai pluralitas yang tidak terbatas; tergantung kepada kemampuan kreatif penyairnya. Dan F. Rahardi tampaknya mempunyai keyakinan diri berjuang di jalur penciptaan puisi-puisi bergaya “mbeling” yang bukan sembarang mbeling. Rupanya di jalur ini, pulalah Rahardi menemukan dirinya sebagai seorang tokoh yang tak mungkin terabaikan dalam sejarah perpuisian Indonesia mutakhir. (Medan, 5 Oktober 1993)

Sumber : Surabaya Post, 19 Desember 1993

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: