Lobby, Patriotisme dan Ukuran Sukses


Tak seperti ortu-ortu pada umumnya, yang paling hobi mengorek sisi gelap anak muda, kemudian saling melempar kesalahan, saling mencari kambing hitam, tak berani menunjuk diri pribadi, F. Rahardi berani tampil beda.

Taktis – Strategis
Concern-nya pada anak muda, diakui karena kacamata dirinya melihat anak muda kini semakin krisis identitas. Dan kondisi ini lebih banyak ditimbulkan karena keegoisan para ortu. Dari pengamatannya yang dituturkan pada SM, menunjuk bahwa hanya segelintir anak muda yang berani melakukan apa yang menjadi interest pribadinya. Selebihnya, cuma sebagai saluran obsesi para ortu yang tak kesampaian. Contohnya, ujar wakil redaksi Trubus ini banyak anak muda yang les piano, komputer, bahasa asing, akuntansi, de el el, karena ortunya suka, tapi bukan karena minat si anak.

Menghadapi tantangan zaman yang sudah jauh beda, seharusnya orangtua menggunakan kiat lain dalam mengatur anak muda. Memakai anak lebih untuk bernostalgia seperti sering tercermin lewat ungkapan “lho kalau dulu bapak/ibu gini lho, kok kamu begitu” itu sebaiknya dihapus saja. “Dulu waktu saya susah, kalau lapar, nenek nyuruh saya mandi, kan habis mandi ngantuk, lalu tertidur supaya rasa laparnya terlupa,” kisahnya. Tapi sekarang, tambah mantan guru SD ini, wong banyak makanan, kalau anak bilang lapar ya …saya suruh makan.

F. Rahardi (43), drop out SMA tahun 1967. Usia 15 tahun jadi guru SD di Kendal, bahkan sampai menjabat Kepala Sekolah selama tujuh tahun. Selama jadi guru lulus ujian SPG (1969). Jarak 12-16 km pp untuk mengajar murid-muridnya barangkali bukan halangan, tapi karena pengalaman ngajar kelas VI, dari 21 murid cuma 1 orang yang lulus, Rahardi berpikir dirinya nggak bakat jadi guru. Kemudian tahun 1974 diputuskan hijrah ke Jakarta.

‘Pembelaan’nya terhadap anak muda masih ditambah dengan ungkapannya yang jujur bahwa anak muda sekarang kurang taktis. Menurutnya peluang untuk memberontak memang harus ada, namun tentu saja bukan lewat protes atau poster. “Ada cara lain, melobby ke orang yang lebih tua. Protes itu kan nggak taktis, nggak strategis,” tegas Rahardi.

Disinggung soal kebiasaan anak muda meniti jalan pintas, Rahardi malah menilai itu baik. “Tentu jalan pintas dalam arti positif. Misalnya gini, dulu saya menghabiskan 100 rol film untuk menghasilkan foto dengan latar belakang kabur. Dari pengalaman itu saya bisa ngajari anak saya, gini lho cara buat foto yang belakangnya kabur, maka anak saya cuma butuh 2 rol. Itu juga jalan pintas, dan baik kan”.

Yang penting anak jangan terlalu banyak diganggu. Ibarat menanam pohon, ketika banyak cabangnya condong ke jalan dan mengganggu orang lewat, tebang cabangnya, tapi jangan cabut akarnya.

Sukses yang ‘lain’
Bapak 3 anak yang gemar naik gunung serta merambah rimba belantara ini juga punya ukuran ‘lain’ tentang sukses. “Sukses adalah puncak prestasi, jadi bukan pencapaian posisi di puncak piramid seperti pemahaman kebanyakan banyak orang”. Kemudian Rahardi mengandalkan, seorang prajurit yang jujur, bekerja dengan baik, itu lebih sukses dibanding sang jenderal yang korupsi.

Jarak yang memisahkan dia dengan desa, juga dengan bapaknya malah meluruskan pandangannya tentang nilai sebuah kesuksesan. Dari jauh dia menyadari bahwa kejujuran, kemampuan dan kebahagiaan sang ayah yang hanya seorang tukang jahit itu merupakan sukses besar, prestasi puncak yang sebenarnya. Bisa mengukur kemampuan, berani menciptakan peluang, jujur dan tidak ‘neka-neka’ itulah kunci meraih sukses.

Dibesarkan oleh nenek yang buruh tani, mengkondisikan Rahardi tumbuh sebagai manusia ulet dan pantang putus asa. Ayahnya seorang penjahit di Bruderan Ambarawa. Sikap bapak yang jujur, sopan itu memberi inspirasi pada Rahardi.

Perbedaan persepsi itu membuat dia sempat bertindak sesuatu dan diketawain habis-habisan. Pasalnya sementara teman-teman di Trubus hengkang ke Sanggar Prativi, sebaliknya Rahardi yang sudah sekian bulan kerja di Prativi dengan penghasilan lebih besar, justru memilih loncat ke Trubus. Untungnya, di Trubus keuletannya terpakai. Jadilah dia kerja sendiri, jadi pemimpin untuk diri sendiri, sekaligus bawahan bagi diri sendiri. Meski tanpa bekal pendidikan jurnalistik apalagi agribisnis, dengan ‘stil’ yakin dia kelola majalah pertanian itu. Itu terjadi belasan tahun, tepatnya tahun 1977. Sekarang, Rahardi sudah sampai di puncak. “Waktu itu saya diterima tanpa test, majalahnya saya nilai sangat strategis, dan dari segi situasional, saya merasa bisa kerja optimal di sini,” aku Rahardi.

Spesifik dan Global
Seperti komentarnya tentang sukses, Rahardi juga menerjemahkan patriotisme sesuai kondisi yang tengah berlangsung sekarang. Menurutnya patriotisme kini menuntut sesuatu yang spesifik, yang konkret untuk dijadikan cantolan. “Anak muda mestinya membuat cantolan ke sesuatu yang ideal, yang global, kemudian baru ke langkah konkret supaya cantolan tadi bisa tercapai.” Soalnya, tambah suami Francisca Sri Winarti ini, ngomong patriotisme sekarang ini tidak bisa mengelak dari masalah global, karena masalahnya sekarang bukan cuma Indonesia tapi sudah mendunia.

Sebagai pemuda desa Rahardi juga gemar menulis puisi. Tak peduli 12 km pulang-pergi mesti ditempuhnya cuma buat beli kertas. Dan masih harus menunggu malam, supaya bisa pinjam mesin tik di kelurahan. Meski kemudian dia merasa gagal jadi seniman.

Yang penting, demikian Rahardi, orang muda sekarang harus memberi perhatian pada apa yang tengah membesar. Misalnya, sekarang masalah kemiskinan, terjunlah ke sana dan tunjukkan tindakan konkret. Ingat, harus taktis dan strategis. Laporan Eddy & Anny.

  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: