Mengajak Petani Berpikir Kreatif


Judul         : Petani Berdasi
Penulis     : F. Rahardi
Penerbit  : Penebar Swadaya
Tahun       : 1994
Tebal        : VIII + 183 halaman

Juni 1993 Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengumumkan hasil pemetaan desa miskin di Indonesia. Dari 67.514 desa di Indonesia, 22.917 di antaranya dalam kategori miskin. Tetapi kemudian, atas saran presiden Soeharto, Bappenas meninjau ulang hasil pemetaan tersebut. Dua bulan berikutnya Bappenas mengumumkan hasil pemutakhiran data; 20.633 desa (dari 65.554 jumlah desa di Indonesia) tergolong miskin.

Penyebab utama kemiskinan, selain faktor minimnya sarana dan prasarana serta fungsi kelembagaan desa, juga sumberdaya alam. Lahan kritis dan pendayagunaan lahan yang belum optimal masih dijadikan indikator penyebab utama kemiskinan di desa.

Sebenarnya setiap desa – meski itu desa miskin – tidak ada yang tidak potensial secara ekonomis. Sebab masing-masing desa mempunyai potensi untuk bisa mengembangkan diri. Pengenalan terhadap potensi tersebut membutuhkan pengamatan dan penelitian yang serius.

Karena itulah, dalam pandangan F. Rahardi, idealnya dalam dunia pertanian tidak sekadar mengendalikan otot belaka, tapi juga akal sehat dan kreativitas. Desa yang tidak subur, kalau mau dikenali potensinya, akan membuahkan keuntungan ekonomis yang besar bagi penduduknya.

Buku ini (meski tidak secara khusus membahas kemiskinan petani di Indonesia) sebagian besar membicarakan kemiskinan dan juga faktor-faktor penyebab kemiskinan petani di desa. Rahardi bukan hanya menggambarkan, tapi juga menawarkan solusi. Di samping itu, bidang-bidang lain yang potensial dan menjanjikan prospek cerah (agrobisnis dan agrowisata) tidak luput pula dari perhatian Rahardi.

Jalan keluar tersebut di antaranya melalui perubahan keterampilan (skill reform) petani, khususnya pertanian lahan kering yang selama ini belum digarap secara maksimal. Kalau dulu skill reform membuahkan sukses dalam memproduksi beras, kenapa tidak pertanian non-padi? Perubahan keterampilan ini bisa dilaksanakan asal didukung pionir (hal. 96-97).

Diversifikasi usaha tani secara campuran (mix farming) tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena pola ini terbukti cukup efisien dalam pengolahan tanah, perawatan tanaman, pemupukan bahkan pengelolaannya, selain menghemat biaya produksi juga mendukung teori daur ulang – tentunya kalau dikombinasikan dengan peternakan (hal. 140).

Selama ini orang cenderung apriori terhadap keterlibatan pengusaha non-pertanian (petani berdasi) di bidang pertanian. Namun tidak demikian dengan Rahardi. Dalam pandangannya, justru petani berdasi mampu mengangkat nasib buruh tani dan petani gurem. Logikanya, kalau mereka memburuh pada petani berdasi yang menanam komoditas ekspor, pasti upah mereka cukup besar. Dalam menjalankan usahanya, petani berdasi bisa memakai sistem PIR dan non PIR (hal 20).

Selain faktor di atas, dalam buku yang ditulis dengan gaya jenaka bahkan terkadang nakal ini masih ada beberapa formula untuk menghindarkan petani dari kemiskinan, misalnya melalui kejelian petani membaca peluang (pasar dan musim), kesinambungan antarlembaga pemerintahan, peningkatan kualitas dan pola penyuluhan PPL, PPM, dan PPS.

Buku ini menjadi menarik lantaran terbit di tengah gencarnya program Inpres Desa Tertinggal (IDT) di 20.633 desa miskin di Indonesia. Pasalnya, pinjaman sebesar Rp 20 juta yang akan dimanfaatkan petani berdasarkan Daftar Usulan Kegiatan (DUK) dari masing-masing desa tidak akan menghasilkan apa-apa manakala tidak dilandasi penggunaan akal sehat, kreativitas, dan kejelian membaca potensi desa. (Budi Santoso)

Sumber : Surabaya Pos, 20 Agustus 1994.

2 Komentar

  1. ydy said,

    bukunya masih ada yg jual pak?

    • frahardi said,

      Maaf pak Ydy, bukunya sudah tidak ada yang jual.
      Terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: