Menggugat Manusia


Judul Buku  : Migrasi Para Kampret, Sebuah Kisah tentang Kampret yang Tergusur
Penulis         : F. Rahardi
Penerbit      : Puspa Swara, Jakarta 1993
Tebal Buku : 162 halaman

Buku ini berkisah tentang kampret binatang menyusui dari golongan kelelawar yang umumnya mendiami gua-gua kapur yang gelap. Namun bukan berarti isinya tidak mempunyai kaitan dengan manusia. Kampret dalam buku ini dipersonifikasikan sehingga dapat mengadu ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) agar para pembela LBH bisa membantu menghentikan kasus penggusuran tempat tinggal mereka.

Kampret meminta bantuan para wakil rakyat di gedung perwakilan rakyat. Para kampret yang bersidang diwawancarai untuk memenuhi ambisi wartawan akan sensasi yang mengacak-ngacak kota Jakarta hingga akhirnya mereka bermigrasi ke Sumatera. Peristiwa perjalanan kampret inilah yag dipergunakan penulis untuk menggugat ketidakpedulian manusia terhadap masalah lingkungan hidup dan pelestariannya – yang berbuntut pada persoalan-persoalan sosial lainnya.

F. Rahardi yang dikenal sebagai pemerhati masalah lingkungan hidup betul-betul fasih menghadirkan kehidupan kampret dengan segala persoalannya. Hal ini kemudian ia kaitkan dengan persoalan kemasyarakatan yang ada dewasa ini, terutama ihwal nasib rakyat kecil. Sehingga bila menelusuri kehidupan kampret sepanjang 26 puisi yang tersaji dalam buku ini, pembaca seolah-olah ikut masuk ke persoalan manusia yang beraneka ragam.

Di situlah terjadi pertemuan antara rekaan penulis dengan kampret sebagai tokoh utama serta pandangan penulis sendiri sebagai pencerita dengan tanggapan terhadap dunia di sekitarnya. Kampret dibuat bebas bergerak, bebas mengemukakan pendapat demi memperjuankan kehidupan mereka yang terancam punah. “Kayaknya kita akan punah ya, manusia memang ganas, kita sudah kalah (hal. 33)”.

Manusia memang mempunyai kepentingan dengan alam yang harus diolah demi kepentingan mereka sendiri. Manusia terus menggarap dan membuka alam lebih luas, lebih dalam, dan lebih tinggi – sampai-sampai makhluk-makhluk alam lainnya harus kehilangan habitat mereka. Demikian pula dengan kampret yang harus tunduk pada penguasaan manusia atas gua-gua kapur tempat tinggal mereka.

Para kampret terus diburu dan dibasmi agar manusia leluasa menguras kapur semaksimal mungkin dari tempat tinggal mereka – demi pemenuhan kebutuhan manusia akan semen, demi pembangunan di berbagai sektor kehidupan manusia. “Manusia memang perlu membangun. Untuk dapat membangun, mereka juga harus membongkar. Termasuk membongkar gua kita inim (hal 65).

Itu sebabnya para kampret berusaha keras mempertahankan hak hidup mereka di atas bumi ini yakni dengan menyadarkan manusia akan tindakan kesewenang-wenangan mereka. Namun usaha itu tidak menemui sasarannya karena manusia tidak mungkin memahami bahasa kampret. Para kampret kalah dan pembangunan terus berlangsung. Haruskah pembangunan memakan korban, meminta tumbal, dan berdiri di atas kelemahan pihak lain?

Kehidupan manusia terus berjalan, pengurasan alam pun terus berlanjut. Kini, kerimbunan pohon dengan aneka satwa di dalamnya pupus oleh rimbunnya gedung dan polusi. Alam semakin terbuka, celah-celah langit semakin menganga, matahari kian terik, namun semua itu belum mampu menyadarkan manusia akan keserakahan mereka.

Begitulah manusia, kalau merasa diri berkuasa tanpa dibatasi, baik dari diri sendiri maupun orang lain, akan bertindak menuruti nafsu untuk memiliki secara berlebihan. Tidak peduli akan pihak yang lemah, yang tergusur – seperti juga kisah kampret dalam buku ini. Dalam hal ini akhirnya para kampret hanya dapat menghindari keganasan manusia dengan hengkang ke Sumatera. Namun ternyata di sana mereka menemukan hal yang sama dengan di Jawa.

Para kampret terus saja terbang mencari tempat yang layak untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka di bumi ini. “Entah sampai kapan, entah sampai ke mana, menghindari keserakahan manusia (hal. 159)”.

Persoalan pelik di atas dipaparkan dalam buku ini dengan begitu sederhana dan gamblang tanpa dibebani teori-teori atau istilah-istilah berat. Malah ada banyak kata-kata “kampung” seperti, dicuekin, bunting, kumpulin, nyungsep, angslup, ngehek, dan sebagainya.

Hal ini justru memperkuat kehadiran kisah kampret yang tragis itu ke hadapan pembaca, agar mudah mencernanya. Sekarang tinggal bagaimana pembaca merefleksikan persoalan tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. *** (Michael Albert Liemena)

Sumber : Hidup, 1 Mei 1994

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: