‘Migrasi Para Kampret’ Membuat TIM Terpingkal


JAKARTA – Publik Gedung Teater Arena Taman Ismail Marzuki terpingkal-pingkal, Senin (16/7) malam, mendengar pembacaan sajak Migrasi Para Kampret karya F. Rahardi yang kocak, satir, sinis dan komunikatif. Sajak panjang lelaki yang sering dijuluki “penyair singkong” ini, selain dibacakan penyairnya sendiri – yang tampil pada akhir pertunjukan – juga dimeriahkan oleh beberapa seniman, antara lain deklamator andal Yose Rizal Manua, sutradara Teater Kubur Dindon, dan penyair Sitok Srengenge.

Semula nasib para kampret itu akan dibacakan di sebelah utara Teater Arena, tetapi karena hujan deras, maka pindah ke Teater Arena. Tetapi perpindahan itu toh tidak mengurangi tawa sekitar seratus orang pengunjung yang ada, termasuk antara lain Ratna Sarumpaet, Taufik Rahzen, dan Budi S. Otong.

Begitu Sitok membacakan bagian pertama buku itu yang Penjelasan Umum Tentang Kampret tawa pun sudah menggema. Simak kutipan-kutipan berikut ini :

“Nama Kampung : Kampret

Nama Babtis : Microchiroptera

Suku bangsa : Kelelawar (Chiroptera)

Kelas Binatang : Mamalia (binatang menyusui)

Jadi kampret itu melahirkan anak dan bukan bertelur.” Dan seterusnya.

Lalu nasib suku bangsa kelelawar yang semula berumah di gua-gua kapur itu nasibnya terus tergusur. Dan cerita duka pun terus berlanjut. Maka,  “Biografi para kampret hanyalah/sebuah kecemasan …” Atau “hanya kenangan terhadap/tetesan air di batu stalaktit…”

Para kampret pun mengadu ke LBH, tetapi Lembaga Bantuan Hukum itu menolaknya. Akhirnya kawanan kampret ini menuju gedung DPR/MPR, tetapi di sana ia pun dihujani semprotan gas air mata, peluru, dan granat. Dan, pada hari ketiga di gedung itu “ribuan kampret mati/menumpuk di kursi/kursi empuk itu/yang tiap 5 tahun sekali/diperebutkan/dalam pesta demokrasi/.

Tawa pun menggemuruh di seluruh gedung, Karena nasib tragis para kampret ini dibacakan dengan sangat bagus. Dan tak bisa dipungkiri, jika deklamator andal Jose Rizal Manua yang membacakan bagian sajak tersbeut, ia melagukan beberapa bagian saja dengan berbagai irama. Ada keroncong, mars, dan rock sesuai tuntutan yang ada dalam puisi tersebut, dengan gaya seorang aktor.

Tetapi, ketika penonton terpingkal-pingkal, sang penyairnya, yang duduk di kursi paling depan malah tenang-tenang saja. “Gila, dia tidak ada ekspresi sedikitpun,” kata seorang penonton.

Setelah para pembaca lain usai, dengan gayanya yang lugu, penyair yang kini Pemimpin Redaksi majalah Trubus itu maju ke podium. Ia mengawalinya dengan sebuah maklumat. Bahwa menghadapi karyanya penonton/pembaca tak usah serius dan jangan curiga. “Sebab, saya hanya ingin bercerita tentang kampret yang tergusur dengan bahasa Indonesia yang mudah dipahami orang banyak. Hanya itu”.

Bahasa dalam Migrasi Tanpa Akhir memang sangat mudah dipahami oleh kalangan mana pun. Isinya tidak remang-remang. Kita tidak usah repot-repot menafsirkan. Ia bercerita tentang berbagai persoalan negeri ini, lingkungan hidup, sosial, politik, dan budaya, tanpa dengan kening berkerut, tetapi santai-santai saja. (Djt/Hrd).

Sumber : Media Indonesia, 7 Juli 1993

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: