Para Kampret, Mau ke Mana Kalian?


F. Rahardi, Migrasi Para Kampret : Sebuah Kisah tentang Kampret yang Tergusur (Puspa Swara, Jakarta : 1993) iii + 162 halaman.

Kita ini sedang menghadapi era tinggal landas, dan semuanya sedang berasyik-asyik dengan pikiran sendiri menatap langit masa depan yang cerah. Seperti ketika duduk di kabin pesawat, sambil menunggu terbang, kita sudah membayangkan “negeri tujuan” yang masih nun jauh di sana, sementara badan masih tinggal di landasan. Itulah kita saat ini. Itulah yang tengah terjadi, yang sayangnya, tak semua di antara kita menyadari hal ini.

Buku ini – seperti buku-bukunya yang lain, Silsilah Garong, Tuyul, Soempah WTS (puisi), Kentrung Itelile (cerpen) – mengajak kita untuk paling tidak menengok ke luar jendela pesawat yang akan mengajak kita tinggal landas. Memang, buku ini sepenuhnya berisi protes, atau setidak-tidaknya mencatat remah-remah yang tercecer di sekitar “kue” pembangunan yang tengah kita santap ini.

Seperti tulisan-tulisannya yang lain, F. Rahardi memang nakal, mbeling, ceplas-ceplos dalam mengungkapkan ide-ide kreatifnya. Lelaki pendiam, namun penuh kejutan ini, memang dikenal lewat Puisi Mbelingnya, yang oleh para penyair serius dianggap “tidak sopan”, “kurang makna komtemplatif” dan sebagainya. Namun, Rahardi adalah Rahardi. Dia lain dari, misalnya Goenawan Mohamad, Rendra, Sutardji, dan sederet lainnya. Puisinya adalah puisi nakal, yang menyentil masalah sosial dengan gaya “wali”, atau “ulama nyentrik”, yang seakan berpihak pada “yang tertindas” dan melawan “yang menindas”, namun begitu ditelusuri lebih jauh nyatanya tidak sepenuhnya benar demikian. Yang jelas, orang semacam ini memihak pada kebenaran dan mengganyang habis ketidakadilan. Masalahnya, karena biasanya ketidakadilan berpihak pada “yang menindas”, maka buku ini berpihak pada yang “tertindas”.

Migrasi Para Kampret, sebuah prosa liris – bisa dikatakan demikian – adalah sebuah kisah tentang yang tercecer di era tinggal landas, dengan bahasa yang gampang, nakal, okem, namun sangat mengiris-iris mata hati. Meskipun demikian, penyairnya sudah mengantisipasi kemungkinan pertanyaan yang timbul pada pembaca dengan menorehkan sebuah “Prakata” : Menghadapi buku ini/ Anda tak usah kelewat serius/ atau curiga/ sebab saya hanya ingin bercerita/ tentang kampret yang tergusur/ dengan bahasa Indonesia/ yang mudah dipahami/ orang banyak/ hanya itu. (hlm. 1)

Memang benar, tokoh buku ini adalah kampret, yang makanan utamanya adalah serangga. Kampret yang adalah …”keturunan yang kedua juta/ enam ratus empat puluh anem/ itu kalau dihitung langsung/ dari leluhur keluarga kampret/ yakni devil…” (hlm. 17-18), di Indonesia tampaknya memiliki ciri-ciri “remah kue” yang tercecer itu, setidaknya di mata Rahardi. Kampret mewakili kehidupan “liar”, itupan marginal, tersisih, dan dianggap tak memiliki kebaikan yang bisa dipersembahkan bagi pembangunan skala besar ini. Oleh karena itu pula maka para kampret ini seakan tidak berhak untuk hidup, tak layak untuk tinggal di gua-gua kapur, tak punya sumber makanan lagi karena serangga sudah teracuni pestisida. Setidak-tidaknya itulah “nasib” yang menggusur para kampret dalam prosa liris ini.

***

Siapakah kampret ini sebenarnya? Menurut penyairnya, yang juga seorang Wakil Pemimpin Umum majalah Trubus, kampret memiliki pertalian keluarga dengan Dracula dan Batman. Bedanya : … Kampret memang tidak suka/ perempuan cantik/ juga kurang begitu tahu/ tentang coca-cola/ namun salah seorang keponakannya/ justru sangat berhasil/ jadi bintang film Hollywood/ yang top/ dan digandrungi perempuan cantik/ dan minumnya selalu coca-cola/ Itulah Batman/ yang ngganteng/ dan selalu mengenakan/ celana dalam sebagai/ busana paling luar…” (hlm. 15)

Lantas mengapa kampret harus migrasi? Jawabannya sudah gamblang, karena gua-gua kapur tempat mereka menggantungkan diri setiap hari, dibuldozer diruntuhkan untuk mensuplai kebutuhan pabrik-pabrik semen demi pembangunan! Lantas kemana mereka? Lalu apakah mereka berusaha melawan, sebelum mereka migrasi?

Tentu, dong. Mereka melawan, bahkan mereka mendatangi kantor LBH, gedung DPR, dan hanya mendapatkan kesia-siaan. Mereka juga mengkup gedung perwakilan rakyat itu, memporakporandakan gedung yang selama ini menjadi lambang demokrasi Indonesia. Tapi kampret-kampret itu gagal “ribuan kampret mati/ menumpuk di kursi/ kursi-kursi empuk itu/ yang tiap 5 tahun sekali/ diperebutkan/ dalam pesta demokrasi/ sekarang penuh bangkai kampret/ tahi kampret/ kencing kampret/ pecahan granat/ darah kampret/ dan peluru-peluru M16…” (hlm. 33).

Fenomena kampret yang menduduki gedung paling utama di Indonesia itu menjadi bahan pembicaraan nasional. Televisi membahasnya, koran-koran menjadikannya headline, namun hasilnya para kampret tetap harus lenyap dari gua-gua kapur mereka, seakan mereka tak memiliki hak hidup lagi. Inilah protes itu! Dengan gayanya yang okem, Rahardi membuat kita tertawa pedih mengikuti migrasi para kampret ini. Bayangkan saja, mereka harus terbang dari Jawa ke Sumatera, sementara para kampret Padang (Sumatera Barat) ingin melakukan migrasi ke Jawa.

Meskipun unsur kepedihan memang warna dasar prosa liris ini, namun Rahardi memang tak mau tersedu-sedan dengan kepedihan. Bahkan secara kreatif dia memainkan “bahan” yang ada untuk menyegarkan suasana. Ke-okeman-nya bisa kita simak pada larik-larik berikut ini : “Hidup Sumatera, hidup sumatera/ Gua yang besar dan adem/ di atas bukit-bukit kapur/ dengan Tobing-tobing/ yang Manurung/ penuh Pohan-pohan/ yang Singarimbun/ Parangin-angin bertiup Sitorus/ ke arah Hutabarat/ ada Rajaguguk/ ada Sinaga …” (hlm. 122).

Rupanya di Sumatera pun tempat tinggal para kampret sudah tak ada lagi. Bahkan dalam perjalanan mereka ke Palembang, para kampret yang menyinggahi Lampung itu, harus (terpaksa?) makan serangga yang sudah tersemproti pestisida, dan harus mati keracunan.

***

Inilah Rahardi, penyair yang pernah menjadi guru, dan kini aktif di majalah pertanian itu. Gayanya khas, bahasanya sederhana namun mandhes, yang dengan enak menggunakan kata-kata ngehek dan beol di hampir sepanjang buku ini. Mungkin ada yang risi membaca buku ini, tapi bukan soal bagi Rahardi. Kehadiran buku ini sudah selayaknya disambut dengan hangat. Mengapa?

Jelas, karena komitmen buku ini terhadap masalah sosial sangat kental. Kedua, gaya penyampaiannya tidak sok filosofis, apalagi sok suci. Masalah yang diungkapkannya bisa dengan mudah ditangkap dan tidak memerlukan “apa-apa” lagi untuk mencernanya, kecuali kejernihan hati untuk merenungkan kembali, begitu buku ini ditutup. Tidak juga sok pahlawan, seolah membela rakyat kecil yang tertindas, padahal cuma eksploitasi fenomena semata tanpa melakukan aksi apa-apa. Buku ini tidak bersok-sok-an seperti itu.

Lalu bagaimana nasib kampret-kampret itu?

“Ya, nanti juga harus kawin/ sama siapa kek/ pokoknya betina/ kita harus jadi banyak/ dan bertahan hidup/ ….lalu terbang meninggalkan base camp itu/ dengan gembira mereka mencaplok nyamuk/ belalang; kepik dan kutu loncat/ mereka terus bertambah banyak/ dan terus bermigrasi/ entah sampai kapan/ entah sampai ke mana/ menghindari keserakahan/ manusia…” (hlm. 159).

Kalau keserakahan manusia ada di mana-mana, lantas kamu mau ke mana, Pret? (Yanusa Nugroho, cerpenis)

Sumber : Kompas, 5 Juli 1994

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: