Puisi Kampret Gaya Rahardi


Judul Buku  : Migrasi para Kampret, Sebuah Kisah tentang Kampret yang Tergusur
Penulis          : F. Rahardi
Penerbit       : Puspa Swara, 1993
Tebal             : x + 162

Buku ini bukan prosa kendati sangat prosais. Tetapi, untuk disebut prosa lirik ia pun tak begitu saja dapat diterima. Dari susunan sintaksisnya, dapat dikatakan bahwa baris-baris yang tersusun di dalamnya merupakan kalimat-kalimat lengkap yang sengaja dipenggal-penggal sehingga ‘mirip sajak’. Namun, sebuah argumen dapat diajukan : batasan sajak pun dewasa ini begitu longgarnya, sehingga menjadi hak setiap orang untuk menyorongkan satu-satu hasil karyanya sambil menyatakan bahwa itu sajak.

Pengarangnya sendiri, dalam buku atau kisah ini, kerap menyebut dirinya penyair tatkala sang narator itu berdialog dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Jadi, penyebutan diri tersebut sudah merupakan indikasi bahwa pengarang memaksudkan karyanya sebagai suatu syair panjang. Dan ini sah saja.

Menyinggung soal itu, kita teringat percontohan A Teew tentang ‘sajak’ atau ‘bukan sajak’ (lihat Membaca dan Menilai Sastra, 1983). Teew menyuguhkan sepotong kutipan berita singkat yang diambil dari Kedaulatan Rakyat 26/11/1977. Kutipan berita sengaja dipenggal-penggal sehingga pembaca terdorong untuk segera ingat pada bentuk sajak. Begitulah kira-kira yang terjadi pada buku ini.

Tetapi lepas dari perdebatan soal lite-rariness buku ini tak dapat diabaikan sebagai karya kreatif yang responsif terhadap fenomena ekososial masa kini. Dan bagaimana pun, sebagai sebuah kisah, buku ini enak dibaca dan humoris. Tak heran bila pada halaman 1, terdapat teks yang  bertajuk Pemberitahuan yang berbunyi sbb :

Menghadapi buku ini
Anda tidak usah kelewat serius
atau curiga
sebab saya hanya ingin bercerita
tentang kampret yang tergusur
dengan bahasa Indonesia
yang mudah dipahami
orang banyak
hanya itu.

Sudut pandang atau pun titik tolak gagasan yang telah diambil F. Rahardi memang sangat menarik. Ia berhasil memetik gagasan baru tatkala umumnya pengarang masih bergerak dari aspek-aspek karya yang sudah terasa umum dilakukan.

Siapa yang terpikir untuk mempersoalkan problem ekologi melalui dunia kampret atau kelelawar dengan cara sedemikian menarik?

F. Rahardi memang dimungkinkan untuk tampil dengan cara demikian. Ia merupakan salah seorang pengarang kita yang memiliki satu kelebihan. Ia mengenal baik dunia flora dan fauna (Rahardi adalah Pemimpin Redaksi Majalah Trubus, majalah yang bertema soal pertanian, peternakan dan perkebunan – red).

Dengan pengetahuan itu, karyanya tak hanya melukiskan suasana pastoral semata-mata, sebagaimana beberapa pengarang yang biasa menggarap alam pedesaan dalam setiap tulisan mereka. Bahkan – ini perlu ditambahkan, Rahardi sama sekali tidak bicara soal pedesaan. Ia bicara tentang pengrusakan linkungan hidup secara brutal oleh manusia dengan cara bertutur santai. Rahardi hanya ingin secara polos mendongeng tentang warga kampret yang hiruk-pikuk menghadapi ekspansi manusia yang kian padat di muka bumi ini.

Kita mengenal F. Rahardi sebagai penyair yang pernah membikin ulah di waktu-waktu lalu. Ia beberapa kali dilarang manggung membacakan sajak-sajaknya lantaran memang agak nakal. Ia misalnya bermaksud mengikutsertakan WTS dalam pentasnya di TIM, dan sebagainya. Ia pun mencuat dengan sajak-sajaknya yang kurang ajar, menyebut dan berakrab-akrab dengan Tuhan dengan cara bergurau kalau tak boleh dibilang seenaknya. Dengan  karyanya yang sekarang, barangkali kita dapat menamainya sebagai penyair mbeling masih giat hingga saat ini.

Migrasi Para Kampret adalah syair mbeling yang digarap dengan cara tak main-main.

Dari dunia kampret yang sumpek terasing, dan lembab, ia mampu memasuki dunia elit pemerintahan dan pegiat LSM secara kritis dan menegur. Sebagai penyair mbeling, Rahardi bukanlah penyair kelas kambing.

Tetapi memang, intelektualitasnya tidak dituangkan dalam ruang salon yang berteduh di balik kalimat-kalimat apik. (Kurnia JR)

Sumber : Republika Minggu, 22/8/95

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: