“Puisi Saya Tidak Sakral . . .”


F. Rahardi

Rahardi di dalam dunia puisi kontemporer kita, agaknya semakin mendapat tempat. Karya-karyanya banyak dibicarakan kritikus sastra dan hampir setiap pertunjukannya memancing perdebatan. Ini terjadi lantaran ia sering mengangkat apa yang tak tampak estetik ke dalam peristiwa estetik. Ia melibatkan pelacur dalam pertunjukan Soempah WTS dan menganggap puisi bukan sebagai barang agung lagi. Berikut ini obrolan dengan  penyair “kontroversial” tersebut.

Anda katakan puisi Indonesia sekarang didominasi oleh penggunaan aku – lirik sebagai aku – biografis. Menurut Anda bagaimana kita menyikapi gejala ini?

 Tidak apa-apa ada gejala yang semacam ini. Yang penting penyairnya bisa menggarap yang sebaik mungkin. Model macam apa pun tidak menjadi soal. Yang penting bisa dijual. Semua tidak menjadi soal. Tidak harus barang yang mahal-mahal, tetapi apa pun, kalau kita bisa mengemas dengan baik dan kita bisa menjualnya dan orang mau, tak ada masalah. Jadi apakah itu aku – liris, apakah protes sosial, bahkan puisi antar – RT/RW pun bisa bagus, asal kita bisa mengemas, menempatkan pada posisinya dan orang mau. Misalnya saja kita tahu bahwa warteg itu makanan tukang becak, apa kita mesti malu. Toh ia laku. Mungkin yang biasa makan di Hilton akan menganggap warteg itu begini dan begitu. Tetapi ini bukan karena warteg jelek. Ini terjadi karena orang itu dasarnya memang tidak suka. Ia terbiasa makan di hotel, dan di hotel tak ada warteg.

Jadi apakah puisi aku – liriknya Afrizal Malna yang dibilang sulit dimengerti itu sekarang menjadi model, ya tidak apa-apa. Ada memang konsumen yang hanya ingin menikmati tanpa mengerti.

Apa kelemahan puisi aku-lirik itu, hingga terlalu sering dipersoalkan?

Kelemahan puisi aku-lirik itu biasanya susah dimengeti. Ini terjadi lantaran sangat individual sekali di dalam menciptanya. Tetapi toh ada yang senang juga. Sekali lagi ini terjadi karena mereka memang tidak ingin tahu apa yang dibicarakan, tetapi hanya ingin menikmati saja.

Seperti ketika kita mendengar pidato pejabat, kita kan nggak tahu isinya. Tetapi melihat gaya bicaranya yang begini-begitu, kan mengasyikkan. Dalam kondisi semacam itu, kita sebenarnya hanya menikmati saja tanpa harus mengerti apa yang dibicarakannya. Dan ini tidak apa-apa.

Tetapi menurut Afrizal Maina, dengan menggunakan aku-biografis sebagai aku lirik, puisi-puisi Indonesia menjadi tidak dialogis. Bagaimana ini?

Apa semuanya harus dialog. Kadang-kadang ada monolog yang baik dan monolog itu juga berguna untuk orang-orang lain. Kalau nenek saya lagi sendirian, grenengan, itu menjadi ada gunanya. Dia menjadi tidak stres, karena tidak ada yang diomongin, dia akhirnya bermonolog. Ini berguna bagi anak-cucunya, karena dengan mendengar grenengan nenek, mereka menjadi tahu problem sang nenek. Jadi belum tentu bahwa monolog itu tidak berguna bagi orang lain. Bahkan kadang sebenarnya lebih menarik daripada sebuah dialog. Semua ini sangat tergantung pada kualitas monolog ini.

Orang sering beranggapan, bahwa sastra yang level tinggi yang ditulis penyair-penyair yang sudah menjadi ayatullah itu baik. Belum tentu. Itu juga banyak yang jelek. Lantas sajak-sajak yang ditulis penyair pemula yang tinggal di Tegal, di Klaten, juga tidak harus dianggap jelek. Kalau ini jelek, bukan karena barangnya jelek, tetapi karena dia belum bisa memaparkan. Dia tidak berada di titik pusat dan ini hanya soal pemasaran saja.

Dari tadi bicara soal pemasaran. Sedang miskin?

Mungkin orang-orang aneh kalau ngomong tentang pemasaran sastra. Tetapi ingat, memasyarakatkan sastra kan menjual. Saya punya ide dan ide ini akan saya jual, lalu orang mau terima atau tidak. Jadi gejala puisi menjadi monolog, itu tidak berbahaya. Dan secara de fakto mereka juga punya penggemar, meskipun kecil. Dalam posisi tertentu toh akhirnya mereka juga punya fungsi. Dan ini jangan diganggu gugat.

Apakah lantaran ini, posisi penyair lantas berada di pinggiran?

Siapa bilang? Ini tidak betul. Fungsi penyair dalam era teknologi dalam era industri itu tidak berada di pinggiran, tetapi justru larut di tengah-tengah mereka. Coba baca koran yang ada iklannya, siapa yang bikin teksnya, kalau bukan penyair. Di sinetron juga begitu, siapa yang bikin kalimat-kalimat puitis kalau bukan penyair? Penyair harus masuk ke sana. Jangan memposisikan syair dalam arti saya bikin syair dan Anda harus beli. Tidak. Ini kan bahan mentah. Ini harus menyusup ke sana, karena orang awam tidak mau disuguhi syair yang masih belum dikemas sedemikian rupa, sesuai dengan kehendaknya.

Tetapi kenyataannya puisi banyak digusur di media massa…
 

Itu malah bagus, karena puisi yang muncul di media massa itu puisi dengan ide-ide ketenangan yang hanya sesaat. Itu berguna, tetapi tidak lebih dari semacam pojok, semacam yang kita baca lalu dilupakan. Penawar haus, yang apabila habis jalan kita harus minum. Tetapi kalau kita ingin makan kenyang yang bergizi, ide harus dibikin konsep yang jelas, harus ditulis dalam bentuk yang serius, dan menjadi buku. Meskipun konsumen terbatas, tetapi ini lebih berdaya guna daripada yang seperti itu. Jadi seyogianya begitu media massa menggeser, kita mesti mengantisipasi dengan menerbitkan buku. Lha kalau kemudian kita merengek-rengek karena koran menggusur ruang kebudayaannya, atau pemerintah tidak memberi penghargaan, itu seperti anak kecil yang merajuk.

Penyair adalah hati nurani bangsa yang harus memberikan semangat kepada bangsanya dalam keadaan kritis. Tetapi kalau dia sering merajuk, apa mampu memberikan semangat kepada bangsanya. Ia harus tegar dan memberi roh. Kalau melihat pembangunan sekarang lebih materialistis misalnya, penyair harus tampil. Jangan hanya materialistik, berikan juga segi-segi kerohanian dengan puisi. Hanya itu. Dan jangan merajuk, tetapi harus memberi contoh. Begini lho yang betul.

Penyair itu kan pujangga yang dalam kondisi dulu itu bukan hanya mempromosikan keraton dan raja, tetapi juga meluruskan. Apakah ia secara frontal dari luar menghadapi keraton hingga dianggap sebagai pembangkang, tetapi juga bisa secara nonkonfrontatif dan memperbaiki keraton dari dalam. Jadi jangan merasa bahwa sekarang tersudut, terkucil dari dunia industri. Apa pernah ada upaya dari penyair untuk kesana? Belum!

Bagaimana dengan usaha-usaha memanggungkan puisi?

Antara puisi dan puisi yang dipanggungkan berbeda. Yang namanya puisi atau sastra adalah olah pikir. Saya mentransfer pikiran saya ke audens lewat bahasa. Ini merupakan esensi puisi. Kalau kemudian sudah lewat pentas yang ada nyanyi-nyanyiannya, ada aktingnya, ini show. Ini berbeda lagi. Show bisa juga untuk memasyarakatkan pikiran-pikiran, namun merupakan dunia yang berbeda dengan dunia olah pikiran. Dan show lebih merupakan satu hiburan yang biasa, yang harus menarik, panggungnya ditata, kostumnya diperhatikan, vokalnya harus bagus. Karena itu ada penyair yang mampu melakukannya sendirian seperti Rendra, tetapi ada pula yang harus memburuhkan orang lain, membutuhkan para pekerja panggung. Tanpa itu, ini tak mungkin jalan.

Puisi-puisi Anda sering dianggap tidak serius dan melawan struktur puisi yang agung, apa komentar Anda?

Selama ini orang secara keliru mengaitkan bidang satu dengan bidang yang lain. Penyair yang bergelut dengan puisi, sering dihadapkan secaa berlebihan untuk menjadi pencerah bangsanya, menjadi inspirator sebuah pergerakan sosial, dan sebagainya. Akibatnya penyair dituntut untuk menjadi sesuatu yang berlebihan. Selama ini saya ingin, supaya hal-hal yang menganggap sakral puisi itu diluruskan. Puisi itu bukan sesuatu yang sakral, yang harus dipikirkan dengan dahi yang berkerut. Ini bukan berarti sajak-sajak yang nilai sastranya tinggi, yang rumit, lantas menjadi sesuatu yang jelek. Justru karena pada mereka ada sisi negatif dan sisi positif, saya lantas membikin puisi-puisi yang sering dianggap tidak sakral itu. Toh masing-masing punya penggemar sendiri dan punya pasar sendiri.

Konon karena itu, karya-karya Anda ditolak untuk menjadi bacaan anak-anak sekolah?

Tidak apa-apa. Yang namanya pelajaran selalu tertinggal dengan apa yang telah terjadi kini. Apa yang terjadi dengan sajak-sajak saya pun begitu. Karena tidak sama dengan sajak-sajak yang baku, lantas sajak-sajak saya ditolak. Memang ada gap antara yang diajarkan di sekolah dengan apa yang terjadi kini. Tetapi toh, anak-anak sekolah itu mengenal fenomena sastra yang saya tulis lewat TV atau media yang lain. Ini soal audiensi yang berbeda saja.

Kira-kira Anda tahu sebabnya kenapa Depdikbud menolak puisi-puisi Anda?

Ah, ini jangan dianggap terlalu serius atau politis. Semua ini kan motifnya karena uang. Cuma itu saja kok. Mungkin mereka tidak tahu sajak-saja saya kok.

Tetapi Darmanto Jatman sebagai salah seorang tim pemilih, juga menolak dengan alasan tertentu?

Ini kan karena soal edukatif. Tidak mungkin memberi contoh sajak yang paling modern, untuk mengenalkan dasar-dasar pembuatan saja. Karena itu, saya tidak perlu marah kepada Darmanto. Dalam kapasitasnya sebagai pendidik, Darmanto benar itu. (tt-36)

Sumber : Suara Merdeka 14 Agustus 1993

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: