Realisme Formalis pada Cerpen F. Rahardi


Oleh : Remmy Novaris D.M.

Dunia prosa, khususnya cerita pendek adalah sebuah dunia yang terbuka terhadap objek dan subjek. Terutama melalui tema, alur, plot, dan penokohan. Tetapi, mungkin juga tanpa sistimasi itu, sehingga antara subjek dan objek menjadi suatu personifikasi tunggal. Atau mungkin juga sebaliknya personifikasi tunggal itu mengalami penghancuran. Apalagi, pada abad modern ini masifikasi teknologi komunikasi telah menempatkan manusia tidak lagi hanya pada realitas tunggal,  tetapi ganda. Manusia tidak lagi hanya berada pada realitas pertama yang bersifat empiris, tetapi realitas kedua yang bersifat informatif.

Namun yang jelas, realitas adalah suatu fenomena yang menarik, baik sebagai objek maupun subjek. Terlebih lagi jika berusaha dipahami melalui dunia cerita pendek (cerpen), seperti apa yang dilakukan F. Rahardi melalui kumpulan cerpennya Kentrung Itelile (Puspa Swara, 1993), yang berisi 20 cerpen dengan gaya formalismennya. Dengan kata lain, realisme formalisnya. Bahwa hampir dari sejumlah cerpennya tersebut di atas, di mana aku sebagai subjek dari personifikasi individual, mencoba memahami realitasnya sebagai objek tanpa melakukan penghancuran subjek. Dengan demikian, terjadi perburuan subjek terhadap objek.

Reproduksi Objek

Namun, ternyata perburuan subjek terhadap objek nyaris berakhir pada narasi berbau ironis. Sebab objek, kalaupun berhasil diidentifikasi, maka objek akan mengalami masifikasi dengan mereproduksi dirinya, sementara itu subjek bersifat tetap. Hal ini, misalnya, terbaca pada cerpennya yang pertama yakni Kentrung Itelile (hal 1 – 6). Bahwa aku sebagai subjek yang mempunyai pacar bernama Srikandi yang kuliah di sebuah universitas terkenal dan mengambil jurusan Kentrung Itelile, sehingga Srikandi di sini hanya merupakan mediator untuk mengetahui apa sebenarnya jurusan itu,  lalu mengawini gadis itu. Namun, ternyata setelah kawin pun, bahkan kemudian mempunyai anak bernama Seno, aku ternyata tidak juga mendapatkan jawaban mengenai jurusan Kentrung Itelile. Bahkan anaknya pun ternyata mempunyai pacar yang kuliah di jurusan yang sama seperti yang  diambil oleh istrinya, yakni jurusan “Kentrung Itelile”. Dengan kata lain, jurusan “Kentrung Itelile” mengalami transformasi dari isteri kecalon mantunya sebagai objek yang tetap menyimpan misteri.

Masifikasi objek ini terdapat pula pada cerpen yang kedua, yakni Sesuatu Itu (hal 7 – 11) yang mengalami transformasi majemuk. Beberapa mediator objek yang digunakan pada cerpennya ini adalah Mandolo (teman dekatnya), Mbak Tuti, kegelapan dan bunyi-bunyian, sehingga aku sebagai subjek kelelahan dan akhirnya tertidur. Sebab, ternyata aku tetap saja sia-sia mengetahui “sesuatu itu”. Atau subjek kehilangan tema pada objek.

Fenomena objek di atas, di mana subjek berulangkali gagal memahaminya, membuat subjek mengalami ketegangan terus-menerus dengan objek bahkan pada beberapa cerpen berikutnya mengalami represi. Hal ini terdapat pada cerpen Asrama Anjing (hal 11 – 16), di mana aku bersikap pasrah ketika dimasukkan dalam asrama anjing. Demikian pula pada cerpen Yang Terhormat Surat (hal 17 – 21), Negeri RI (hal 22 – 26), Raden Mas Siapakah? (hal 27 – 31), dan Guci Wasiat (hal 32 – 35).

Setelah periode represif di atas, mulai dari cerpen Rencana (hal 36 – 39), kemudian cerpen 236 (hal 40 – 43) yang semula mengindentifikasi bahwa To Mi Nem sebagai objek dari “perawan suci”, ternyata hanyalah seorang wanita murah. Maka Slamet sebagai subjek kecewa dan meninggalkannya. Yang kemudian mulai melakukan perburuan objek pada cerpen-cerpen berikutnya, tanpa mempersoalkan kehadiran obhjek itu. Ketika objek itu muncul sebagai tanda, maka subjek pun segera memburunya.

Penghancuran Subjek

Pada cerpen yang Kian Santang (hal 66 – 71), ketika aku mendapat ramalan harus mengundurkan diri dari jabatan, maka aku mengalami proses iritasi yang panjang yang tanpa disadari bagi aku sebagai subjek melakukan perburuan tersembunyi terhadap objek yang sebenarnya berada pada sumber informasi iu sendiri, yakni Eyang Kian Santang. Dan perburuan objek itu berakhir dengan sebuah ledakan pistol yang dilakukan oleh subjek terhadap objek, yang sebenarnya merupakan peledakan terhadap subjek itu sendiri. Dengan kata lain, terjadinya penghancuran subjek.

Demikian pula dengan cerpen Bertarung dengan Banteng (hal 121 – 130). Pada cerpen ini objek muncul pada impian yang kemudian mengalami penjastifikasian di mana subjek dihancurkan. Pada impian itu, Umar Salim sebagai subjek bermimpi berada di satu tempat yang ramai tapi entah di mana, tiba-tiba saja di tengah keramaian itu muncul beberapa ekor banteng berkulit hitam, bertanduk hitam dan berperangai sangat buas mengejarnya seperti mengejar seorang matador. Tetapi sebelum ia diterjang oleh banteng-banteng itu ia terjaga – namun ternyata ia masih tetap merasa dikejar-kejar oleh banteng itu – sampai akhirnya pada acara perburuan, Umar Salim benar-benar menghadapi kenyatan itu.

Ia dikejar-kejar oleh beberapa ekor banteng setelah melukai seekor banteng yang semula bersikap jinak kepadanya, karena ingin memakan banteng itu supaya tidak dikejar-kejar oleh mimpi itu. Maka Umar Salim sebagai subjek yang telah menjadi kenyataan. Sehingga Umar Salim seperti terbangun dari sebuah mimpi buruk yang sangat panjang. Panjang sekali.

Dari kedua cerpen di atas, Eyang Kian Santang dan Bertarung dengan Banteng, nyaris mempunyai alur cerita yang sama, tetapi mempunyai tema yang berbeda. Nyaris, karena keduanya sama-sama memburu objek. Hanya saja yang pertama boleh dikatakan bersifat melingkar, yakni kembali pada titik informasi kepada Eyang Kian Santang, sedangkan cerpen kedua bersifat linier dari impian ke realitas. Artinya, realitas menjadi pelengkap dari impian. Karena pada impian Umar Salim ia tidak ditanduk tetapi dikejar. Sedangkan pada realitas ia dihancurkan.

Hampir tidak jauh berbeda pula dengan kedua cerpen di atas adalah cerpen Burung dan Kucing. Tetapi pada cerpen ini terjadi semacam masifikasi subjek dan objek yakni Burung dan Kucing. Bahwa burung di sini dapat merupakan subjek dari personifikasi pemilik burung itu, tetapi juga dapat merupakan objek bagi kucing, sehingga kucing merupakan subjek dari objek! Bahwa bagi si pemilik burung, kucing merupakan objek yang harus diburu dan dihancurkan. Demikian pula burung bagi kucing merupakan objek yang mempunyai alasan tersembunyi sebagai induk dari beberapa ekor anak kucing. Dengan kata lain, burung sebenarnya merupakan objek tunggal bagi pemilik burung itu sendiri dan bagi kucing karena kedua-duanya mempunyai alasan yang sama.

Bagi pemilik burung, burung-burung itu merupakan hiburan anak-anaknya, sedangkan bagi kucing memangsa burung-burung itu karena ia harus mempertahankan hidupnya untuk memberi susu kepada anak-anaknya. Maka pada cerpen ini, boleh dikatakan, tidak terjadi penghancuran subjek, tetapi pertemuan antar subjek yang mengalami penghancuran. Sementara itu, burung sebagai objek tunggal tetap bisa berkembang biak secara alamiah. Seperti apa yang dikatakan salah seorang teman pemilik burung yang sudah bisa memelihara burung, yakni Mas Parman.

“Dia bilang kalau yang namanya burung dara itu janganlah diurus terlalu serius” (hal 116).

Selain beberapa cerpen yang sudah dibicarakan di atas, masih terdapat beberapa cerpen F. Rahardi lainnya yang hampir sama kuatnya dengan cerpen-cerpen di atas. Tetapi secara umum, cerpen-cerpen Rahardi mempunyai ciri khas yang dilakukan oleh generasi “Kisah”, yakni realisme formalis untuk mengakhiri cerpen secara ironi dan surprise, tetapi dengan tema-tema yang lebih naratif.

Namun yang jelas, dengan kumpulan cerpen Kentrung Itelile, F. Rahardi telah menyubsidi di perkembangan sastra Indonesia modern bagaimana meneruskan tradisi penulisan prosa yang sudah ada sebelumnya dengan tema-tema yang lain. (Menteng wadas’93)

Sumber : Jawa Pos, Minggu Pon 22 Agustus 1993

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: