Represi Pencinta Lingkungan Hidup


Tinjauan Buku

F. Rahardi, Migrasi Para Kampret (Puspa Swara, 1993)

Inilah sebuah buku puisi pesaing Pangkuan Pariyem Linus Suryadi AG dalam hal panjangnya yang mencapai lebih 150 halaman buku saku. Kali ini “penyair singkong” Rahardi mengambil tema lingkungan hidup dengan setting hanya ada satu bumi. Sebuah “parodi” yang ingin menyentil wajah buruk konsep Amdal pembangunan berkesinambungan yang sedang kita lakukan.

Satwa kampret dipilih sebagai tokoh karena, saya kira penyair melihat dalam pakem dunia persatwaan figur dan tabiat kampret dinilainya lebih pas buat mengungkapkan dampak buruk pembangunan terhadap lingkungan. Seperti didesain penyairnya, bahwa dunia kampret merasa tidak pernah makmur dan tak jelas bentuk populasi bangsanya (hal 7), yang hanya bisa mengaku sebagai “gerombolan” kampret.

Dari awal mula penyair merekayasa biografi kampret sebagai kaum yang resah-cemas dan muncul dalam personifikasi utuh manusiawi karena seolah-olah berakal budi, pada kesempatan lain tampil dengan sifat tunggal satwa bernaluri bulat.

Pemberontakan pertama bangsa kampret lebih karena protes hati nurani penyair yang bertindak sebagai dalang dan kadang-kadang juga masuk terlibat sebagai pemeran dalam adegan-adegan dengan imajinasi yang sangat liar seperti terungkap dalam larik, keluarga kampret tetap berhak / untuk menjadi penghuni sah / dari planet ini (hal 18).

Personifikasi yang tak sempurna muncul di sana-sini karena kepribadian kampret yang sering-sering mendua antara suara hati nurani manusia (penyairnya) dengan naluri kebinatangannya. Seperti muncul dalam judul Para Kampret Ditolak LBH, tersirat kepasrahan  hati manusia yang merasa tak terselamatkan hari depannya, sekaligus terselip pula sifat kesatwaannya yang tak mampu berkomunikasi dan tidak dikomunikasikan  penyairnya dalam lirik, tapi bahasa kampret / mereka tak paham (hal 21).

Menyimak tabiat kampret dalam kumpulan puisi panjang ini terkesan berperilaku aneh dan berubah, bagian dari terganggunya keseimbangan ekologi sebagaimana bisa terjadi pada semua jenis satwa yang habitatnya diganggu, muncul dalam larik ini, para ahli biologi sedang meneliti perilaku para kampret ini. Dramatisasi penyair dalam kebringasan  kampret yang menyeruak dalam bagian-bagian lain terasa seperti ingin menghadirkan kepanikan  kaum lemah  yang meronta, tergambarkan mirip spirit dalam film The Bird misalnya.

Ada semburat yang misterius dan menegangkan di sana, karena seperti ada suatu bentuk remote control yang mengerahkan para kampret secara spontan menyerbu gedung-gedung pencakar langit ibu kota, gedung DPR/MPR dan menimbulkan hiruk-pikuk lingkungan fisik. Pada saat yang sama, di seberang lain hiruk-pikuk perilaku para kampret itu seperti hendak mencerminkan kegelisahan batin penyair menyaksikan kepasrahan kaum lemah si pecundang.

Kampret yang menyerbu gedung DPR/MPR lebih sebagai sosok manusia ketimbang naluri kampretnya. Demikian selalu bertukar-tukarnya kepribadian tokoh kampret disetel penyairnya, sekuen satu utuh manusiawi, sekuen lain naluri kesatwaannya.

Kampret yang bikin chaos dalam dunia manusia suatu saat ditampilkan sebagai sosok satwa sehingga secara fisik kehadiran gerombolan kampret membuat manusia stres dan senewen. Tapi tokoh kampret tidak tetap hadir begitu secara ajek. Di sana-sini penyair menyuarakan hati nuraninya sendiri, falsafah hidupnya lewat tokoh kampret yang bisa digonta-ganti dengan sangat merdekanya seperti yang terungkap begini.

“Hidup ini harus praktis tidak perlu tetes-tetesan darah lalu mati. Pahlawan memang mahal / tapi jangan jadi pahlawan kesiangan / Gua ini memang milik kita satu-satunya tapi cukup dipertahankan sampai tetes liur dan kencing dan tinja yang terakhir. (hal 74).

Bait tersebut sepenuhnya milik akal budi manusia, sebuah sublimasi ketika pemberontakan secara frontal menjadi tidak mungkin lagi dipilih.

Bahwa sosok kampret bukan mewakili manusia terungkap dalam larik keresah-cemasan kampret seperti meratap dalam larik berikut. Mungkinkan Tuhan para manusia itu mau memperhatikan diriku seekor kampret yang sedang sekarat ini Tuhan, berilah aku mukjizat (hal 102).

Kesadaran kampret untuk melakukan migrasi, separuh milik hukum ekologis yang terganggu, separuh lagi seperti milik hati nurani setiap manusia yang tersingkir habitatnya. Makna habitat di sini bisa berarti ganda. Atau habitat fisik jika bukan habitat sosial kaum lemah yang terseok oleh proses “Darwinisme sosial” membaca ungkapan penggurusan fisik dalam simbolisasi habitat kampret.

***

Penyair Rahardi, seperti dalam kumpulan-kumpulan puisinya terdahulu, demikian terbebas dari kungkungan rima dan pemilihan kata untuk mampu menampung imajinasinya yang liar dan meluber kemana-mana. Ungkapan kegelisahannya semakin mengental dan imajinatif dalam bebeapa judul terakhir buku ini, di antaranya terbaca dalam judul Seekor Kampret di Atas Jalan Bebas Hambatan Jakarta-Tangerang.(hal 117).

Bahwa penyairnya tetap berada dalam obsesinya bercanda dalam pengungkapannya nyata tampil hampir pada setiap judul puisinya yang lebih dari 25 buah itu. Penyair bertindak sebagai sutradara yang dipanggil para kampret dengan sebutan Oom, ini nyaris mirip dengan gaya pentas Group Lawak Sinar Petromak, yang di tengah-tengah pertunjukan diselingi interupsi dialog secara langsung antara sutradara dan pemainnya.

Demikian dalam pementasan puisi pada kampret itu, selingan dagelan ini beberapa kali dimunculkan, antara lain protes kampret sebagai pemeran utama karena selalu jadi tokoh yang pecundang terus. Di sekuen lain penyair hadir terpisah dai tokoh kampret yang tak mewakili hati nuraninya seperti terungkap dalam larik ini : “Baiklah Oom / Lantaran situ yang maksa terpaksalah kami berpendapat / tapi maaf ya Oom kalau pendapat kami-kami / ini tidak berkenan di hati Oom / kan Oom yang paling berkuasa / dalam buku ini.” (hal 131)

Klimaks muncul dengan pernyataan bahwa migrasi akhirnya bukan tujuan lagi setelah melihat kenyataan di belahan geografi mana pun juga sama buruknya. Tapi perjalanan batin sebagai proses pemberontakan hati nurani itulah yang kemudian dijadikan sesuatu yang bermakna. Kita kemudian jadi memperoleh sesuatu dari pengembaraan imajinasi itu.

Jika benar semua ini ungkapan kaum pecundang yang diwakil-perankan satwa kampret yang pada ujungnya menyatakan kepasrahan dan penyerahan diri untuk keabadian, dalam lirik “Kompas kita ketemu Arah itu tampak jelas sekali “Firdaus Keabadian”.

Ya kita akan kesana apa pun yang kita lakukan (hal 158), terkesankan sebagai sebuah represi kaum lemah yang merasa selalu kalah dan pada akhirnya berserah diri secara transendental karena rupanya mata dan telinga yang tajam di bumi tak mampu lagi berperan sebagai juru bicara hati nurani semua umat.

Ada yang unik dalam cara penyair melakukan kritik lembut melihat bercampur aduknya ramuan skenario yang melibatkan penyair sebagai sutradara pemeran pembantu sekaligus pemilik hati nurani umat, mewakili kaum pecundang. Sebentar-sebentar mampir buat menyentil drama kehidupan pembangunan yang kurang mengabaikan etika lingkungan. Kita sama-sama menyaksikannya tapi tak bisa mengungkapkannya. Di sini Rahardi telah mengucapkannya buat kaum pencinta lingkungan hidup, buat kita yang senantiasa bisu tapi ingin berkata-kata, dengan gaya yang sangat merdeka. (Handrawan Nadesul)
Sumber : Kompas, Jumat 16 Juli 1993.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: