Santa Maria


Dalam 3 Sajak Penyair Indonesia
Oleh Linus Suryadi AG

Dari penelitian puisi Indonesia modern yang sempat saya peroleh, paling tidak saya menemukan 3 orang penyair Indonesia yang pernah menulis puisi mengenai, bertema pokok tentang, seorang wanita yang menjadi figur karismatik. Adapun wanita karismatik tersebut ialah Santa Maria. Bagaimana sikap dan pandangan ke 3 penyair Indonesia terhadap figur karismatik itu, yang menjelma di dalam sajaknya?

Yang saya maksud ketiga penyair di atas ialah John Dami Mukese, F. Rahardi, dan Goenawan Mohamad. Ketiga penyair ini punya latar kebudayaan pribadi berbeda, kerangka referensi tidak sama, dan daya imajinasi berlainan terhadap figur karismatik itu. Tentu saja sikap dan pandangan mereka terhadap Santa Maria juga tidak akan sama, berkat persepsi yang berlatar belakang berlainan itu. Tentu juga akan menarik, apabila sidang pembaca dapat memperbandingkan kehadiran figur karismatik itu di dalam sajak Indonesia.

Secara etnik, Maria bukan bangsa keturunan Jahudi tapi adalah keturunan bangsa Jahudi. Pengertian “bangsa keturunan” melemparkan isyarat bahwa, dia berdarah campuran. Demi mengingat bahwa, bangsa Jahudi – sebagaimana tercantum dalam sebuah nas lewat seorang nabi Kitab Injil Perjanjian Lama – disebutkan : bangsa Jahudi akan tercerai berai ke segala penjuru bumi. Sedang pengertian “keturunan bangsa” melemparkan isyarat bahwa, dia berdarah asli.

Karena itu, Maria yang berdarah asli Jahudi pastilah berambut hitam ikal, bermata hitam, dan berkulit sawo kuning. Bulu-bulu kulitnya pun banyak timbul. Bukan sebagaimana tercitra pada gambar cetak yang dikenal umum selama ini : berambut blonde, bermata biru kehijauan, berkulit putih; yang terjual di kaki-kaki lima depan toko kota-kota Indonesia, karena citra itu hasil imajinasi para pelukis Eropah abad-abad silam. Maria juga tidak berambut keriting, berkulit budak hitam, dan telanjang dada. Diapun berkerudung kain : pelindung dingin dan pasir malah hari, penutup terik dan pasir siang hari. Dia bukan keturunan keluarga kaya raya – jauh dari citra seorang cinderela – yang berkalung-gelang-anting dari emas permata. Tapi sebaliknya dia dari keluarga miskin. Asumsi inderawi ini dibenarkan lewat kisah bahwa, dia bukan tunangan seorang aristokrat Jahudi atau pejabat kekaisaran Romawi, tapi hanya tunangan seorang tukang kayu rendahan; yang memperisteri dan kelak melahirkan anak tidak di sebuah rumah gedung tapi di gua kandang hewan piaraan. Tapi siapakah Maria?

Menurut sejarah keturunan ringkas yang disusun para pengarang Kitab Injil Perjanjian Baru (Mathius, Markus, Lukas, Johanes 1), Jusuf tunangan Maria ialah keturunan Abraham yang ke 42, sebuah garis keturunan yang belum panjang, bahkan relatif singkat, untuk sebuah kerangka umur keturunan manusia di muka bumi. Citra Jusuf yang lazim terdapat pada lukisan dan patung, dia berambut panjang dan brewok, berjenggot lebat. Umurnya lebih tua ketimbang si dara Maria. Di situ jelas bahwa, hirarkhi sejarah keturunan pria tercatat rinkas dan hirarkhi sejarah keturunan wanita tidak tercantum. Pada skema ini, kecuali para penyusun Kitab Injil Perjanjian Baru adalah para pengarang pria – entah bagaimana kedudukan kaum wanita pada zaman itu – maka garis sejarah keturunan yang dipakai adalah garis patriarkhal.

Diterangkan bahwa, suatu hari Maria bermimpi ditemui oleh malaikat Gabriel, yang pada bagian akhir dialognya berkata : “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Jesus”. Tapi Maria berkata : “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Malaikat itupun menjawab : “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Maha Tinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabeth, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan ke enam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil”.

Kedudukan sebuah mimpi dalam Kitab Injil Perjanjian Baru, walaupun tidak selalu tampil seperti dalam Kitab Injil Perjanjian Lama, yang dalam kehidupan manusia lumrah mimpi itu mempunyai berbagai jenis dan klasifikasi, kalau tidak boleh dianggap vital, dia adalah penting.

Lalu Maria bepergian ke pegunungan menuju sebuah kota di Jahuda, mengunjungi sanaknya, Elisabeth. Pada pertemuan antara dua wanita tersebut, terjadi dalam dialog yang indah :

“Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu “Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan”.

“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hambaNya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia”. 2)

Kedua wanita itulah yang menurunkan tokoh-tokoh penting dalam drama Kitab Injil Perjanjian Baru. Elisabeth kelak melahirkan Johanes Pembaptis : seorang nabi yang hidupnya aneh; dia berpakaian dari kulit unta, minum madu tawon, dan makan belalang. (Seorang nabi yang dipenggal kepalanya atas perintah raja Herodes, berkat permintaan sang cinderela tiri Salome atas bujukan ibunya, Herodiah, kelak). Maria melahirkan Jesus, yang dibaptis oleh Johanes Pembaptis di tepi bengawan Jordan, dimana sesaat kemudian Roh Kudus turun dari langit dan menggegerkan suaraNya.
Tatkala Maria dan keluarganya menghadiri undangan pesta perkawinan di kota Kana, yang termasuk wilayah Galilea, terdapat dialog indah antara ibu dan anaknya itu. Kata Maria : “Mereka kehabisan anggur”. Tapi Jesus menukas : “Mau apakah engkau dariKu ibu? SaatKu belum tiba”. Tapi ibu itu berkata pada para pelayan pesta : “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu”. Lalu Jesus menyuruh para pelayan mengisi 6 tempayan dengan air, yang biasanya untuk membasuh kaki para tamu. Kata Jesus lagi : “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta”. 3). Ternyata anggurnya lebih lezat dibanding anggur sajian pertama. Itulah keajaiban pertama dari Jesus.

Itulah pula dialog terakhir antara ibu-beranak, yang tercatat dalam Kitab Suci. Figur Maria – setelah melahirkan Jesus, ngungsi ke Mesir, kembali ke tanah Israel, mengajak Jesus pulang sewaktu Dia berada di Bait Allah, di pesta kawin Kana lalu ke kota Kapernaum bersama – selebihnya Maria tidak pernah terberitakan. Kemunculan terakhir hanya pada waktu Jesus dalam prosesi memanggul salib – tanpa menyebut Via Dolorosa – dan Maria menangis di bawah kayu salib di bukit Golgota. Selebihnya Kitab Injil tidak pernah mencatat lebih jauh. Dari sumber religius yang aslinya berbahasa Ibrani (Aram) kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Junani itu, orang tidak pernah tahu, darimana darah keturunan figur Maria, dan kemana pula perginya sehabis Jesus disalib.

Memang Kitab Injil “bukan buku ilmu sejarah yang dengan teliti melaporkan peristiwa-peristiwa seperti terjadinya, dan bukan pula sebuah ‘riwayat hidup’ Tuhan Jesus”, meskipun para pengarangnya “bermaksud menceritakan peristiwa-peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi”).

Pada konteks ini, apabila sejarah klan figur penting Maria tidak pernah diketahui, sebenarnya agak janggal karena, bangsa kecil Jahudi terkenal mempunyai reputasi besar dan tinggi di lapangan ilmu pengetahuan, kuno dan modern. Apalagi dari bangsa yang penduduknya berpencaran di muka bumi itu dikenal sebagai pewaris pertama The Ten Commandment, penyusun Kitab Injil Perjanjian Lama, Kitab Talmud, Kita Iyob, Kitab Wahyu, Kitab Mazmur yang tersohor. Mungkin zaman sesudah Jesus disalib luar biasa kacau balau, sampai tidak ada satu pun pujangga saksi sejarah Jahudi yang sempat mencatat dan menyusun sejarah klan pada dekade itu. Atau justru dari kekacaubalauan pada zaman tersebut menghilangkan buku-buku catatan bersejarah yang pada gilirannya kelak menjadi buku-buku sejarah keagaman dari Asia Kecil itu? Paling tidak, sulitlah memperoleh kerangka referensi faktual yang dapat membeberkan figur karismatik Maria buat zaman kini, buat komunitas tertentu di Indonesia.

Maka dimensi berskala sejarah dan sejarah etnik, untuk mengetahui lebih jauh figur Maria dalam kerangka akal sehat manusia modern yang mengandalkan pada bahan-bahan literer, berupa buku-buku sejarah agama, agaknya punya batas-batas. Terus terang juga, saya sendiri terlalu miskin bahan literatur mengenai figur Maria. Satu-satunya alternatif yang memungkinkan tulisan ini berlanjut, saya mengandalkan tanggapan yang berdimensi religius. 5).

Santa Maria tercantum di dalam Kitab Injil Perjanjian Baru – nukilan-nukilan kehadirannya sebagai terkutib di atas – lalu berkembang menjadi sebagian dari sistem kepercayaan Katolik. Figur karismatik Maria pun kukuh sebagai suatu dogma. Kebenaran religius yang bersifat dogmatik itu juga berkembang, dia menjelma dalam berbagai mazmur, litani, doa, nyanyian-nyanyian yang tertuju kepada figur karismatik Maria. Fakta religius tersebut semakin subur berkat kebenaran metaphisik, lewat berbagai misteri penampakan dan misteri penyembuhan oleh Santa Maria. Figur wanita karismatik itu hadir di hadapan persaksian ribuan orang maupun seorang dua, di berbagai belahan bumi pada abad-abad silam atau abad 20.

Kalau sebuah doa pada hakekatnya manifestasi pengakuan dan pemuliaan kebenaran Ilahi, maka berapa juta orang yang mengacungkan tubuh-jiwa-rohaninya di bumi ini? Di rumah dan tempat ibadah, gereja dan tempat ziarah, di perjalanan dan rumahsakit, berapa juga orang yang berhati bahagia dan nestapa berserah diri kepada yang dimuliakan, berkat ketidakberdayaan menanggung dan menghadapi nasibnya? Siang dan malam, pagi dan sore yang bergulir setiap hari, niscaya menyimpan misteri gelombang jutaan umat manusia. Gulungan-gulungan doa yang sudah berabad-abad lamanya ini, entah tersembunyi ke dalam misteri primitif atau mengkristal di dalam peta metaphisik.

Tempat-tempat penampakan dan penyembuhan figur karismatik Maria yang dikenal luas selama ini antara lain : Lourdes (Perancis Selatan), Fatima (Portugal), dekat Cairo (Mesir), Cherymobile (Rusia), Medjugorje (Yugoslavia). 6). Tempat-tempat tersebut adalah tempat-tempat yang di dalam konsepsi ruang dan waktu merupakan tempat berdataran tinggi, bahkan berpegunugan. Sedangkan dari kisah-kisah lisan – cerita mulut ke mulut – tidak kurang bahwa, misteri penampakan dan penyembuhan Santa Maria berlaku juga di tanah Jawa, yang dialami secara perseorangan, tanpa memandang batas-batas pemelukan agama formal. Kurnia dapat turun dan menyapa siapapun, tergantung kepada kebijaksanaan yang bersifat Adikodrati.

Adapun salah satu misteri penampakan dan penyembuhan Maria yang paling kawentar selama ini ialah di depan Bernadhette, di gua Lourdes yang dingin, tatkala gadis berpenyakit tbc itu sedang mencari kayu bakar. Sejak itu pada setiap bulan Oktober – kapan Maria menampakkan diri dan menyembuhkan Bernadhette – tempat itu dianggap sakral dan selalu diziarahi ribuan orang berbagai etnik dan agama, untuk mencari jalan penyembuhan. 7). Dari misteri penampakan dan penyembuhan di Lourdes itulah, yang merupakan tempat ziarah sekaligus tempat bersejarah menurut konsepsi keagamaan Katolik Roma, sehingga diciptakan sebuah nyanyian ber-refrain panjang :

AVE MARIA

Di gua Lourdes Sang Prawan Maria
Tlah menampakkan pada Bernadhetta
Ave Ave Ave Maria,
Ave Ave Ave Maria

Sang Dewi memanggil serta berkata
Ayo berdoalah tasbih mulia
Ave Ave Ave Maria,
Ave Ave Ave Maria

Bernadhetta lalu mohon bertanya
Siapakah Anda, O Putri Surga
Ave Ave Ave Maria,
Ave Ave Ave Maria

Aku Sang Pinurba tidak bernoda
Ibunda Jesus yang telah menjelma
Ave Ave Ave Maria,
Ave Ave Ave Maria. 8).

Kata “Ave” merupakan “salam” atau “sembah”, yang berasal dari bahasa Latin.
Sedang kata-kata yang tertera pada baris pertama dan kedua setiap baitnya – yang merupakan terjemahan dari versi bahasa Jawa – berdasar pada inti percakapan antara Maria dan Bernadhette, pada waktu penampakannya, lalu diolah dalam bentuk nyanyian pujian.

Nyanyian Ave Maria tersebut biasanya dikumandangkan para peziarah yang berkelompok-kelompok dalam bentuk koor, dipimpin seorang soloist. Ilustrasi dekat buat citra di Jawa terjadi pada para peziarah ke Sendangsono bulan Mei, yang terletak di perbukitan Menoreh, Jawa Tengah bagian selatan.

Adanya misteri penampakan dan penyembuhan Maria itu punya resonansi khas kepada para pemeluk agama Katolik atau tidak, saya tidak tahu. Sekiranya ada, akan seberapa jauh dampak tersebut terhadap prinsip keimanannya. Yang jelas, di dalam konsep Kristiani berlaku pola religi pengantara, antara manusia dan Tuhan. Pada konteks ini, pengantara itu ialah Santa Maria. 9). Figur wanita karismatik ini memperoleh banyak nama sebutan : Ibunda Jesus (Kristus = bahasa Junani; Mesiah = bahasa Ibrani), Ibunda Maria, Perawan Maria, Ibunda orang Galilea, Wanita Yang Terberkati (Roh Kudus), Madonna, Gospa (Sang Pewarta Selamat = bahasa Yugoslavia), dan sebagainya. Wanita Yang Terberkati Tuhan ini mendapat predikat dan pujian lebih lengkap dalam doa Litani Kepada Santa Maria. 10).

Sebuah religi yang mengintrodusir konsep pengantara, agaknya khas dimiliki oleh agama yang mempunyai nabi. Mungkin hubungan antara Tuhan dan manusia dianggap berjauhan, oleh manusia yang sudah pintar menciptakan abstraksi dan mencari jalan buat mendekatkan diri kepada Pencipta, karena itulah selalu butuh figur karismatik, pengantara. Sekalipun berlaku pemeo; tak ada nabi yang dihargai oleh bangsanya sendiri. Tapi disitu cendekiawan religius pada zaman Jahudi kuno punya andil pokok, yang kemudian mengalami pengesahan dan pemapanan di lembaga gereja tertinggi, Vatikan Roma. Pada agama Katolik dikenal ada banyak figur kaerismatik, yang pengesahannya terjadi sesudah mereka wafat. Mereka mendapat sandangan gelar Santo pada almarhum dan Santa pada almarhumah.

Kebenaran religius berdogma bagi prinsip keagamaan Katolik itu menyangkut segi apa? Pada konteks Santa Maria sebagai figur karismatik, dogma itu ialah adanya kepercayaan tak tergugat bahwa, Maria adalah wanita yang terberkati Roh Kudus untuk mengandung Jesus (bahasa Ibrani = Joshua), sekalipun dia melahirkan Jesus namun tetap perawan, dia pun tidak bernoda dosa. Dari fakta religius Kristiani tersebut – juga sesudah Maria meninggalkan dunia fana – dia menjadi pelindung kehidupan manusia percaya di bumi. (bersambung)
Sumber : Majalah Hidup Edisi Juli 1989.
Santa Maria dalam 3 Sajak
Penyair Indonesia (2)
Oleh Linus AG

Dari latar yang sekedar terurai pada edisi No. 28 yang lalu, saya ingin melihat sajak-sajak penyair Indonesia di bawah ini :

John Dami Mukese

Kupanggil Namamu Madonna

Salam Maria penuh Rahmat
Kupanggil namamu Madonna
Terdorong hasrat didekap
pada dadamu tak bernoda

Rinduku batang gelagah muda
terkulai di padang gembala
Tiada lagi pipil bersiul di sana
Tiada pula unggas berkidung jenaka

Salam Maria penuh rahmat
Kupanggil namamu Madonna
Terdampar rinduku kandas
pada harapanku kian goyah

Lantaran imanku pucuk labuh di ladang
terkulai dilayu wabah kekeringan
Tidak bunga-bunga berkembang segar
Kumbang pun tiada bersenda di sana

Cucurkan air matamu Madonna
membasahi pucuk-pucuk imanku
Hujankan doa-doamu nan sakti
tegakkan kembali rinduku kulai

Salam Maria penuh rahmat
Kupanggil namamu Madonna
Terpujilah engkau di antara wanita
Ulurkan tanganmu pengantara rahmat

Ende, Mei 1982

(Doa-Doa Semesta, John Dami Mukese, Nusa Indah Ende Flores, 1983)
F. Rahardi

Santa Maria

Santa
Maria
bunda
kandung
engkau mengandung
padahal
tak ada
laki-laki
yang babi
tak ada
sapi kerbau
yang marmut
tikus terbius
kambing digiring
tak ada
cacing
tak ada maling
kenapa kau bunting?

(Seompah WTS, F. Rahardi, Puisi Indonesia, Jakarta, 1983)
Goenawan Mohamad

Ephesus
(di rumah Maria)

Dalam kesederhanaan Mu
tamu itu menangis

Air suci di mulutnya tumpah:
“Ibu, aku bukan penziarah!”

Siapakah dia
Siapakah ibu itu baginya?

Maria yang ia tak kenal
dari sebuah belantara besar?

Kesedihan yang lari
ke bukit Turki,

takhayul yang tertebus
di pohon-pohon Ephesus?

Tapi tamu itu menangis
Barangkali riam

dan burung-burung hutan
telah bikin bayang-bayang

seperti sebuah sendang

Hari memang sudah habis
Tuhanku, hari seorang turis

Dan dalam kesederhanaan-Mu
tamu menangis.

(Kompas, 20 Mei 1979)

1. Sajak pertama karya John Dami Mukese berjudul Kupanggil Namamu Madonna, pada hakekatnya adalah sajak pujian kepada Santa Maria. Bagi orang yang tidak kenal dengan doa-doa litani dan nyanyian-nyanyian mazmur, agak sukar melakukan refleksi dan proyeksi pengenalan pada sajak itu. Demikian pun 3 kalimat pertama pada bait 1, 3, dan terakhir sajak itu, sebenarnya merupakan doa pembuka Salam Maria, yang merupakan doa harian dan hapalan luar kepala bagi umat Kristiani : “Salam Maria penuh rahmat, ….”

Nama Madonna sendiri adalah sebutan lain buat Maria, yang dipergunakan oleh bangsa Spanyol dan Perancis, untuk wanita yang diberkati Tuhan itu. Hanya, di tengah bangsa Barat zaman kemudian – di Eropa, Amerika dan Australia – nama Madonna dipakai sebgai nama orang kebanyakan. Seperti kita kenal keturunan imigran yang lahir di Amerika, penyanyi rock Madonna yang sangat populer pada akhir tahun 1980an, yang konon bangga karena diangslupi roh Elvis Presley itu. Demikian pun nama Maria dan Mary, diberikan oleh para orangtua Barat kepada anak-anak perempuannya. Mungkin di Barat pun berlaku konvensi yang berdasar pada nama : nama diberikan pada keturunannya diharapkan memberi tuah bagi nasib hidupnya di masa depan.

John Dami Mukese menjadi rohaniawan di Ende, sudah pada galibnya apabila di dalam mencipta sajak di atas, dia bertolak dari pengalaman kerohaniannya. Rupanya dia melakukan transformasi doa Katolik, lalu secara kreatif dia mencipta sajak itu. Dalam struktur sajak yang berpola kwatrin, terdiri dari enam bait, ia berusaha memilih dan menyaring kata-kta pujiannya. Disitu dia mengidentifikasi dirinya dengan “batang gelagah muda/Terkulai di padang gembala” untuk mencandra kerinduannya, “pucuk labuh di ladang/terkulai dilayu wabah kekeringan” untuk mencandra imannya.

Untuk melengkapi citra rindu dan imannya, penyair ini melengkapinya dengan kehidupan unggas dan bunga, yang tersusun pada baris 3 dan 4 bait kedua, baris 3 dan 4 bait keempat. Adanya ekspresi pengulangan kalimat pada bait 1,3, dan 4 tiap awal baris, selain mengukuhkan kehendak penyairnya juga menunjukkan ikatan yang kuat dengan tradisi doa litani, yang tentu saja tidak asing bagi penyairnya.

John Dami Mukese dalam sajak Kupanggil NamaMu Madonna ini meletakkan Santa Maria seperti termaktub di dalam konsep Kristiani. Dengan kata-katanya sendiri, dia menganggap Santa Maria sebagai “pengantara rahmat”, Tuhan. Di situ jelas bahwa, sajak ini bercitra vertikal. Gejala-gejala alam binatang dan tumbuhan dipakai sebagai pengandalan kondisi kemanusiaannya.

Sajak religius semacam itu, seperti halnya sajak religius umumnya, akan mempunyai konsekuensi tertentu bagi sidang pembaca khusus dan sidang pembaca umum. Adapun yang saya maksud konsekuensi tertentu ialah, dia dapat berbicara secara primordialistik keagamaan dan dia dapat berbicara secara bebas tanpa ikatan demikian itu. Fenomen tersebut didasari oleh alasan demikian :

a). Kalau sajak itu terlalu banyak terminologi keagamaan, terlalu penuh simbol yang dimiliki agama tertentu, dan dia menenggelamkan pribadi penyairnya selaku manusia, dia pun terkurung oleh segenap konvensi keagamaan; sajak demikian hanya akan menarik bagi kalangan pembaca khusus, yaitu komunitas yang punya ikatan primordialisme keagamaan itu. Sukar membedakan mana yargon keagamaan dan mana sajak berpribadi, mungkin karya demikian sertamerta dapat berkomunikasi dengan sidang pembaca khusus, karena simbol dan konvensi yang dipakai dikenal akrab. Namun karya demikian jugalah yang kurang menarik minat sidang pembaca umum, karena mereka tidak kenal simbol dan konvensi yang dipakai penyairnya.

Penyair yang tumbuh dan berkembang di tengah komunitas keagamaan besar, dia akan merasa bahwa cara yang ditempuh itu sangat wajar dan baik-baik saja. Batas-batas wilayah tebar sidang pembacanya tidak terasa apa-apa, karena kebesaran wilayah tebar sidang pembaca tersebut di luar jangkauan kerangka imajinasinya. Sebaliknya, kalau pertumbuhan dan perkembangan penyair itu di tengah komunitas keagamaan kecil, dia akan merasa bahwa apa yang ditempuh itu terasa artifisial dan sempit ruang. Fenomen tersebut semakin terasa apabila, penyair itu hidup di tengah komunitas yang latar religinya bercorak majemuk.

Lain halnya kalau dia menempuh langkah itu dengan kesadaran sepenuhnya, dia memang sudah tahu bahwa apa yang dilakukan dalam penciptaannya tertuju kepada komunitas sidang pembaca khusus. Nasib sajaknya akan tergantung kepada kalangan khusus itu, tanpa pretensi untuk diterima oleh kalangan yang lebih umum. Dia memang sudah memilih untuk berbicara dengan idiom-idiom yang diperuntukkan kepada kalangan khusus, tanpa rasa sesal dan bertanya diri. Mengapa karya saya tidak diminati oleh sidang pembaca sastra umum?

b). Kalau sajak itu tidak terlalu banyak terminologi keagamaan, tidak dipenuhi simbol yang dimiliki oleh agama tertentu, dan penyairnya dapat tampil secara pribadi, dia mengatasi konvensi keagamaannya, sajak demikian akan dapat “merangkul” sidang pembaca khusus dan sidang pembaca umum, tanpa terbelenggu oleh ikatan primordialisme keagamaannya. Sajak yang dilahirkan oleh penyair demikian, kecuali dia menunjukkan hubungan yang tidak dogmatik-mati dengan konvensi dan simbol yang dipeluknya, dia juga dapat bebas tanpa rasa sungkan buat mengekspresikan existensi kepenyairannya. Dia tidak royal kata-kata beratmosphere keagamaan, tapi punya selektivitas tinggi dan cerdas di dalam memungut dan mentransformasikan kata-kata dari simbol dan konvensinya.

Sajak keagamaan yang dapat diminati oleh sidang pembaca umum itulah, yang dalam berbagai pertimbangan bagi kacamata orang modern, dia dapat survive dan aktual bagi zamannya. Di tengah sistem norma dan nilai yang majemuk, tingkat intensitas pengertian dan kerangka nalar berlainan, dimana manusia makin sadar diri pada kedirian dan kemandiriannya, sajak yang bersemangat keagamaan melulu menjadi makin pudar daya pesonanya. Napas kehidupan orang modern menghirup dan berisi berbagai partikel kompleks, tidak lagi sektoral dan artifisial, sehingga orientasi yang mengarah-arah pada fanatisme kehilangan peminat. Di situ sajak keagamaan tidak untuk konsumsi manusia lagi, tapi malah sebaliknya sajak keagamaan untuk konsumsi institusi agama, atau untuk memperkuat ikatan primordialisme tradisional di sektor keagamaan. 11)

Tapi soalnya akan terpulang kepada pribadi penyairnya, untuk memilih dan mencipta dengan sikap jujur dan tulus, dengan kesungguhan tindak dalam penciptaan. Sajak pun dapat dikembalikan pada esensi semula dia menghendaki komunikasi personal, antar pribadi. Begitu dia lepas dari pergaulan pribadi manusia, maka fungsi-fungsi lain pun dapat dikenakan, untuk kebutuhan yang lebih majemuk.

John Dami Mukese yang tamatan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Katolik Seminari Tinggi St Paulus Ledalero Flores 1980; lahir 24 Maret 1950 di Menggol Manggarai Flores Barat, tentulah tidak asing dengan perspektif yang sekedar di atas. Sajak-sajaknya dalam buku Doa-Doa Semesta pun mensifatkan dua jenis sajak yang sekiranya untuk sidang pembaca khusus dan sidang pembaca umum. Pemuatan sajak-sajaknya di majalah HORISON berjudul Doa-Doa Semesta – yang terdiri dari beberapa bagian – sudah memberikan asumsi bagi pembenaran alternatif di atas. Saya kira karena redaksi majalah sastra Indonesia itu lebih memberikan porsi pada jenis sajak keagamaan untuk konsumsi sidang pembaca umum ketimbang sidang pembaca khusus. 12).

Kalau saya melengkapi kutipan sajak Mawar Bukit Sion di bawah ini, bukan hendak memberi gambaran sajak untuk konsumsi sidang pembaca umum, tapi masih pada konteks sidang pembaca khusus. Dalam hal ini, konsumsi sidang pembaca khusus di kalangan pemeluk agama Katolik. Saya tidak melihat pretensi eksklusif tapi dapat ikut merasa adanya napas jujur dan tulus dalam kesungguhan kerja kreatif, tanpa dia memberi warna etnik Flores di dalam sajak. Sajak ini – kalaulah dikenal kata warisan tradisi literer dari sumber lain – dia mewarisi tradisi doa Litani dan nyanyian mazmur yang penuh pujian dan pemuliaan, pada Santa Maria.

Mawar Bukit Sion

Maria Mawar terputih
mekar di bukit-bukit Sion
Dan Sion wanita suci
melahirkan Maha-Semesta
dalam gua-gua padang gembala
Maria Mawar tak berduri
berkembang di kota Betlehem
Dan akulah peziarah
di pesona tatapannya memancar
lewat kelopak-kelopak sejuta rahasia
Maria Mawar surgawi
bertumbuh subur di taman Ilahi
di ujung tangkainya tak berduri
sang Kehidupan bermekar segar
Maria Mawar abadi
Bunda sang Puspa lestari
Ibu segala yang hidup
Ratu sarwa keindahan
Bunga dari bunga-bunga
Pada namanya balada cintaku
menggantungkan melodi puisi hidupku
Di sana pucuk hidup tajuk cintaku
bersemi segar bersama bunga-bunga
Tak lagi layu hidupku
Tak lagi gugur cintaku
Dalam keabadian musim seminya
getaran imanku bergema lantang:

Ah, Mawar!
Betapa mesra kautemukan aku dengan
Dia
pada tangkai kehidupan ini!

Ende, Mei 1982

Maria yang oleh penyairnya disebut “Maria Mawar” menjadi sistem lambang khas untuk mencandra wanita tidak bernoda itu. Dalam sajak ini sampai 4 kali sistem lambang tersebut diucapkan. Dalam konvensi penghormatan kepada Maria yang berlaku di lingkungan komunitas agama Katolik pun, Maria dan kembang mawar tidak pernah terpisah. Mungkin kembang mawar merupakan lambang kelembutan dan kehalusan seorang wanita, yang sekaligus bercitra keibuan itu.

Kalau pada sajak Kupaggil Nama-Mu Madonna penyair ini menyebut figur karismatik itu sebagai “pengantara rahmat”, maka pada sajak Mawar Bukit Sion penyair ini sampai berterima kasih karena, figur karismatik itu sudah mempertemukan dengan Nya. Mungkin kata “kaupertemukan” lebih meyakinkan ketimbang kata “kautemukan”. Kata yang belakangan punya makna ganda, dapat berarti tanpa sengaja dia mendapati komunikasi penyair dengan Dia.

Katanya :

Ah, Mawar!
Betapa mesra kautemukan aku dengan
Dia
pada tangkai kehirupan ini!
***

(Bersambung)
Santa Maria
Dalam 3 Sajak Penyair Indonesia (3)
Oleh Linus Suryadi AG

2). Sajak kedua karya F. Rahardi berjudul Santa Maria, yang sangat berbeda dengan sajak Dami Kupanggil Namamu Madonna. Perbedaan antara kedua sajak ini tampak pada struktur bangunan sajak dan sikap penyair di dalam menghadapi Maria.

Pada sajak Dami mempunyai keteraturan pada bentuk kwatrin, yang mencitrakan keteraturan dan ketertiban di dalam menyusun kata-kata, sekaligus menunjukkan keteraturan dan ketertiban di dalam sikap menanggapi tema pokok. Pada skema ini, boleh dikata bahwa tanggapan Dami terhadap tema pokok berdasar pada konvensi puritan. Dia melanjutkan tradisi tanggapan pada Santa Maria, yang sudah menjadi tradisi tanggapan gerejani. Hanya, tradisi tanggapan Dami yang menjadi ekspresi pribadi itu lahir dalam bentuk sajak.

Pada sajak Rahardi mempunyai ketidakteraturan pola bentuk, yang mencitrakan kemerdekaan dan kebebasan di dalam penyusunan kata-kata, sekaligus menunjukkan kemerdekaan dan kebebasan di dalam sikap menanggapi tema pokok. Pada skema ini, boleh dikata bahwa tanggapan Rahardi terhadap tema pokok berdasar pada konvensi sekuler. Dia membelakangi tradisi tanggapan pada Santa Maria, yang sudah menjadi tradisi tanggapan gerejani. Dia meletakkan figur Santa Maria tidak lagi sebagai figur karismatik, tapi sudah pada figur profan.

Sikap bersajak yang berdasar pada konvensi puritan, melahirkan keyakinan dan pemujaan, tema pokok menjadi tambatan kerinduan dan penguap prinsip keimanannya. Sikap bersajak yang berdasar pada konvensi sekuler – kalaulah konvensi sekuler itu ada – melahirkan keraguan dan pertanyaan; tema pokok menjadi tambatan kesangsian dan berhenti pada pertanyaan.

John Dami Mukese dan F. Rahardi (kependekan dari Floribertus) pada skala umur, keduanya berasal dari generasi yang sama. Rahardi juga lahir pada tahun yang sama (10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah), dan kebetulan juga punya latar belakang kepercayaan yang sama. Akan tetapi, tradisi lingkungan dan latar pendidikannya yang berbeda, mengantar keduanya pada sikap dan pandangan berlainan. Mungkin lokasi tempatnya bermukim – yang satu rohaniwan dan editor penerbit buku NUSA INDAH yang menetap di Ende, yang satunya bekas kepala Sekolah Dasar dan menjadi redaktur pelaksana majalah TRUBUS di Jakarta – akan punya andil yang besar di dalam diri pribadi kedua penyair itu.

Sikap dan pandangan Rahardi yang sekuler, yang boleh diartikan sebagai serba duniawi dan profan, terbentuk di kota metropolitan, entah karena jaringan komunitasnya yang baru atau karena pilihan yang sudah ditetapkan sebagai keputusan pribadinya. Langkah yang diambil sudah sampai pada manifestasi kreatifnya. Sajak-sajak yang dia tulis sewaktu masih bermukim di pedalaman kota kecil Ambarawa tidak menunjukkan arah sekuler. 13). Baru setelah dia bermukim di Jakarta itulah – seiring dengan proses perkembangan kepribadiannya – sajak-sajak yang bernapaskan sekulerisme lahir. Buku kumpulan sajaknya Soempah WTS (Wanita Tuna Susila alias lonte), menunjukkan periode perkembangan itu. Judul buku kumpulan sajak itu sendiri sudah dapat menjadi indikator yang kena.

Kalau kota metropolitan Jakarta menjadi arena yang “mempermandikan” Rahardi menjadi orang sekuler, tentulah bukan karena kota metropolitan Jakarta-nya yang menjadi sumber, melainkan isi yang meramu pergaulan yang jenis tantangan hidup di kota demikian itulah yang memperhadapkan pribadinya untuk memilih. Yang jelas, ikatan kekerabatan yang bercorak primordialistik etnik maupun keagamaannya tidak sama dengan seandainya dia tetap bermukim di kota kecil Ambarawa. Dan dia mungkin tidak hendak menoleh ke belakang.

Pertanyaan pada akhir sajak “kenapa kau bunting”, mustahil lahir dari sikap dan pandangan hidup yang bercorak puritan, karena figur karismatik itu adalah figur yang suci dan terberkati Roh Kudus. Dengan memilih sikap dan pandangan hidup sekuler, maka yang serba suci dan mulia, serba sakral dan adikodrati, sudah bukan menjadi masalah yang perlu dipersoalkan lagi. Dia sudah berpaling dari sistem nilai yang serba puritan, untuk menghadapi hidup yang lebih urgen dan penting pada tata lahir. Kalau dia mempertanyakan hal-hal yang bersifat sakral dan adikodrati, maka ukuran-ukuran pertanyaannya juga bukan berasal dari ukuran-ukuran pertanyaan yang berbasis pada konvensi puritan, melainkan berasal dari ukuran-ukuran pertanyan yang berbasis pada konvensi sekuler, profan dan serba duniawi. Jika ada transendensi nilai pada sajak profan demikian, maka transendensi nilai itu akan sejauh batas-batas kemampuan keberadaan manusia yang berakal budi, berintelegensia. Tidak ada lagi peta gaib – seperti kekuatan dari luar diri manusia – yang dianggap patut campurtangan urusan hidupnya. Mungkin daya-daya di luar pribadi manusia akan masuk ke dalam kotak daya-daya alam : seperti gunung njeblug, sungai banjir, gempa bumi, wabah penyakit pembawa maut, dan sebagainya. Selebihnya, hal semacam itu akan dianggap mitos, kisah purba, isapan jempol yang mokal-mokal.

Santa Maria bagi Rahardi adalah wanita yang biasa, yang sangat mengherankan kalau dia dapat bunting, katanya :

padahal
tak ada
laki-laki
yang babi
tak ada
sapi kerbau
yang marmut

Tanggapan demikian adalah tanggapan berdasar akal sehat, berdasar asumsi pancaindra dan duniawi. Tanggapan yang mirip tanggapan seorang remaja yang baru mengenal logika bahwa, seorang wanita bunting pasti karena sudah pernah berhubungan kelamin dengan seorang pria lebih dulu. Tanpa perlu lagi berlofika balik, bertanya : Bagaimana dengan wanita disuntik sperma, lalu bunting, tanpa dia harus lebih dulu kontak jasmaniah dengan seorang pria? Daya kemampuan manusia modern sampai pada batas-batas itu. Ditambah rekayasa baru seperti yang dikenal sebagai ‘bayi tabung’, kapan sebuah embrio tanpa perlu bersemayam di dalam gua-garba wanita selama 9 bulan 10 hari, seorang bayi pun dapat hadir di bumi.

Mungkin Rahardi tidak pernah memperhitungkan sidang pembaca khusus dan sidang pembaca umum, dan dengan enak saja dia mengekspresikan idea puitiknya. Mungkin dia tanpa kompleks apa-apa. Komunitas baca khusus, yang dalam banyak hal lebih konservatif dan puritan, dapat melakukan protes pada buah karya semacam itu. Tapi Rahardi pasti lebih berbahagia selaku penyair manakala, komunitas baca khusus bagi sajak-sajaknya sudah mempunyai sikap wise dan berpandangan terbuka di dalam melengkapi dan menghormati sebuah karya seni. Juga tanpa terkecuali, terhadap sajak yang bercorak sekuler sekalipun, yang melabrak konversi puritan secara terang-terangan.

Sekalipun seluruh sajak yang terangkum dalam kumpulan Soempah WTS menapaskan sikap dan pandangan sekuler – darimana sajak Santa Maria ini dikutip – tapi saya sendiri masih punya asumsi ekstra. Dalam sajak tersebut, Rahardi masih meminjam konvensi sebutan “Santa”, tidak hanya menyebut “Maria” saja. Dengan struktur sajaknya yang disusun secara tipografis, seperti sajak-sajak lainnya dalam buku kumpulan itu, saya membayangkan bahwa struktur sajak yang tata susunnya tidak beraturan mapan itu – dia lebih mengikuti irama dalam jiwanya dan tata susun sajaknya tergantung pada irama – dalam ini – menunjukkan adanya profesi kegelisahan jiwa Rahardi. Adapun salah satu manifestasi kegelisahan kejiwaan seorang penyair dapat terwujud dalam bentuk pembrontakan. Ialah pembrontakan terhadap sikap dan pandangan puritan, sering dengan proses pribadinya yang menjadi manusia urban (baca modern). Pada babagan pembrontakan kejiwaan ini, sudah jamaknya apabila orang menyaksikan dan mempertanyakan berbagai konvensi puritan, di sektor keagamaan dan sektor-sektor lainnya. Apalagi pada pola hidup modern, bidang keagamaan bukanlah sumber legitimasi nilai-nilai dominan yang mendominasi seluruh konfigurasi hidup manusia, tapi dia “hanya” sebuah bidang di antara bidang-bidang lain.

Pembrontakan kejiwaan Rahardi – kalau pembrontakan phisik jelas bukan prototip dan wilayah penyair – juga tercermin pada pemakaian konvensi bahasa Indonesia di dalam sajak. Dia tidak mau tercengkam oleh konvensi kata benda untuk keperluan ekspresi kata benda. Dia melabrak konvensi kata benda, dan dia fungsikan kata benda sebagai kata kerja. Pada sajak Santa Maria ini, kata benda “babi” dan “marmut” dijadikan kata kerja. Bahkan nama binatang “sapi kerbau” dia identifikasi sebagai laki-laki. Kecuali penggantian kata benda menjadi kata kerja dan nama binatang sebagai pengganti orang berkesan brutal dan sadis, pemakaian kata-kata demikian memberikan nuansa seolah konvensi baku kata-kata dalam bahasa muda ini kurang mampu lagi mendukung kebutuhan citra puitiknya. Dari segi lain dapat dipahami sebagai, Rahardi berusaha melakukan penggalian potensi puitik dalam segi linguistik.

3). Sajak ketiga karya Goenawan Mohamad berjudul Ephesus yang memakai anak judul “di rumah Maria”. Dibandingkan sajak terdahulu, sajak ini menunjukkan sikap dan pandangan penyairnya yang berbeda sekali terhadap tema pokok. Demikian pun struktur sajak yang terdiri dari 2 baris setiap bait dalam 9 kalimat.

Apa yang saya singgung di muka, sesudah Jesus disalib lalu nasib Santa Maria – plus Maria Magdalena, Maria ibu Jakub, Johana; juga para pengikutnya dan orang disekeliling the galilean yang lain – nasibnya tidak jelas. Adakah mereka menjadi orang-orang buruan, atau mereka menyingkir ke tempat jauh dan sunyi untuk mengurai kenangan getir? Mungkin mereka ada yang tetap tinggal sementara di Jerusalem, mungkin mereka menyelamatkan diri secara harafiah. Mungkin mereka bercerai berai oleh hasrat untuk bertahan serta menyusun babagan hidup baru. Pada sajak John Dami Mukese dan F. Rahardi, dengan corak sajak yang mereka ciptakan, tidak memungkinkan kilasan citra ke arah pengenalan lokasi. Baru pada sajak Goenawan Mohamad yang menyebutkan judul Ephesus anak judul “di rumah Maia”, “bukit Turki”, dan “di pohon-pohon Ephesus”, maka citra latar menjadi jelas.

Ketidakjelasan latar pada sajak John Dami Mukese karena, sikap dan pandangan penyair ini sudah meletakkan Santa Maria pada bingkai metaphisik, kata-kata merupakan manifestasi hormat dalam kerangka religi yang penuh pujian, bahasa manusia berpribadi penyair untuk mencapai sentuhan keindahan di dalam kerangka religi itu. Sedang ketidakjelasan pada sajak F. Rahardi karena, sikap dan pandangan penyair ini sudah melengos kepada dimensi pemuliaan manusia yang tengah berada di alam metaphisik, kata-kata merupakan keresahan pribadi selintas dalam perspektif sekuler, bahasa yang lahir dari akal sehat manusia dalam kerangka duniawi itu menjadi bahasa termangu, bertanya.

Kedua-duanya juga absah sebagai ekspresi artistik di dalam sajak.
Kejelasan latar pada sajak Goenawan Mohamad karena, sikap dan pandangan penyair ini sudah meletakkan diri pribadinya – sebagaimana secara eksplisit dia ucapkan dalam sajak – sebagai “seorang turis”. Bagi saya, predikat seorang turis tidak bisa lepas dari citra seorang yang mengadakan journey ke suatu tempat yang jauh dan asing dalam tempo singkat. Dalam kerangka budaya masyarakat Indonesia, seorang turis juga melemparkan sebuah citra gaya hidup baru; sebuah gaya hidup yang eksoktik, kontemporer, sekaligus ringsek. Di tangan penyair ini juga tergantung peta nama, peta kota, dan peta daerah negeri kunjungannya.

Tapi turis yang satu ini bukan sembarang turis. Goenawan Mohamad bukan hanya seorang turis dalam arti harfiah – yang melakukan sebuah jorney, berkat tugas jurnalistik, undangan seminar ke sebuah negara asing, atau berkat cutinya selaku pimpinan redaksi majalah TEMPO – tapi turis dalam arti ganda. Penyair ini membuat sebuah transendensi pengertian kata “turis” menjadi sebuah pandangan hidup yang bertaraf filosofis. Turis yang lazimnya plesir ke sebuah tempat yang jauh dan asing dalam tempo singkat, dia transendensi menjadi turis yang bermakna : manusia lahir-hidup-mati di dunia yang jauh dan asing dalam tempo singkat. Ikhtiar semacam itu mengingatkan saya pada sebuah pemeo Jawa lisan terkenal, yang dipercakapkan oleh para bakul sinambe wara sebagai “Urip iku mung mampir ngombe”. Hidup itu hanya singgah minum. Penyair ini membuat aktualisasi pengertian “turis”, yang bercitra eksoktik, kontemporer, sekaligus ringsek itu menjadi sebuah pandangan hidup yang menyadari adanya kesementaraan waktu. Oleh karena Goenawan Mohamad hidup di tempat komunitas budaya modern, yang selalu bersua akrab dengan berbagai istilah dan kosakata modern, karena itu wajar apabila dia mengekspresikan pengertian-pengertian ke dalam artikulasi yang bercitra modern.

Dalam sajak Gatoloco yang dia tulis tahun 1973, yang merupakan transformasi kreatif dan karya sastra mistik Jawa ke dalam sajak yang relatif panjang pada bait-bait bagian akhir dia menutup percakapan sebagai berikut :

“Agaknya telah sampai kini batasmu”
Aku tahu
“Artinya dari kamar ini kau tak akan berangkat lagi”.
Artinya dari kamar ini mungkin aku tak berangkat lagi.
“Kau tak bisa lagi memamerkan-Ku”.
Aku tak bisa lagi memamerkan-Mu.
“Tak bisa berkeliling, seperti penjual obat, seorang pendebat”.
Tak bisa lagi berkeliling.

“Tak bisa lagi bersuara tengkar dari seminar ke seminar, memenangkan-Ku, seperti seorang pengacara. Sebab kau hanya pengembara*, yang menghitung jarak perjalanan, lebih tapi pongah, dengan karcis dua jurusan”.

Sebab aku hanya seorang turis*, tak lebih dari itu?

Gusti, baranjaklah dari sini. Telah kau cemoohkan tangis pada mataku. (Interlude), Goenawan Mohamad, Yayasan Puisi Indonesia, Jakarta, 1973). *) Cetak tebal oleh penulis).

Dalam imajinasi saya selaku salah seorang sidang pembaca, seorang turis dari benua Timur menenteng sebuah brosur wisata yang berpeta lokasi bersejarah keagamaan – mungkin lehernya juga berkalung tustel – tertegun di depan sebuah rumah sederhana, yang menurut berbagai versi rumah Maria. Nama figur karismatik tersebut, seperti sudah disinggungkan di depan, tidak pernah diketahui lagi dimana dan kemana perginya sehabis Jesus disalib. Jangan lagi bertanya. Apakah dia wafat pada umur muda atau pada umur larut-renta? Dimana pula makamnya. Selebihnya, sesuai konvensi dogmatik dalam sistem religi Katolik – karena dalam sistem religi Kristen Protestan punya konvensi lain – maka figur karismatik Santa Maria yang dianggap Ibunda Putra Tuhan sekaligus Wanita Yang Terberkati. Roh kudus, Wanita Tak Bernoda alias tetap Perawan itu, dimuliakan dan diangkat ke sorga. Konvensi dogmatik tersebut memperoleh daya kesuburan, berkat misteri penampakan dan penyembuhan di berbagai tempat di bumi. Dari seorang penyair yang begitu memuliakan citra dan esensi soerang ibu – seperti tampak pada sajak Pangrango 14) dan Di Serambi 15) – yang tampaknya juga sudah menjadi sebagian dari sistem lambang dalam pengucapan estetiknya, maka sajak Ephesus merupakan rangkaian pengucapan estetik dalam sistem lambang itu.

Kota Ephesus dalam peta sejarah keagamaan Kristen purba menduduki peranan penting karena, kota yang sekarang dekat kota Izmir di pantai Barat negeri Turki itu, dulu menjadi salah satu tempat persinggahan rasul Paulus di dalam perjalanan religiusnya. Bahkan surat-surat figur penting dalam agama Kristen itu, selain tertuju kepada orang-orang Filipi, Tesalonika, Korintus, Kolese, Ibrani, juga tertuju kepada orang-orang Ephesus. Pada konteks ini, kalaulah Santa Maria menyingkir atau mengungsi ke bagian barat laut dari Jerusalem – jalan darat : lewat Lebanon, Siria, sampai ke Turki; atau jalan laut – mungkin saja dia bersamaan dengan Paulus. Entah pada perjalanan dia yang pertama, kedua atau ketiga. Komunitas sidang pembaca khusus, maksud saya, orang Katolik Indonesia umumnya, belum tentu punya referensi historis mengenai lokasi tinggal Santa Maria di Ephesus. Yang jelas, jika benar demikian, lewat sajak Ephesus karya penyair ini, terlukis sebuah peta kuna yang berkerangka keagamaan Kristen di dalam sajak. Dalam hal ini, lokasi tinggal Santa Maria sesudah Jesus disalib.

Selaku seorang dari sidang pembaca sajak Ephesus, saya merasa adanya pengalaman religius yang bersifat pribadi di dalam sajak itu. Sebuah pengalaman religius seorang penyair yang tersentuh keindahan puitik. Sebuah kunjungan turistik yang singkat di sebuah tempat yang jauh dan asing, yang menggugah kontemplasi kreatifnya. Penyair ini merefleksikan pengalaman religius dalam keindahan puitik ke dalam sajak bersuasana naratif. Dia menolak andaikan dianggap sebagai seorang penziarah, tapi dia mengaku sebagai tamu di rumah Maria yang sederhana, dan mengaku “hanya” seorang turis. Penyair ini merasa tidak tahu apa-apa mengenai “nyonya rumah”nya. Tapi dia tidak hanya berhenti di sana. Justru karena merasa tidak kenal, dia mengembangkan imajinasinya, dan memberikan bobot yang kaya pada tema pokok, untuk ‘menengok’ kembali latar sejarah keagamaan Katolik.

Siapakah dia
Siapakah ibu itu baginya?

Maria yang ia tak kenal
dari sebuah belantara besar?

kesedihan yang lari
ke bukit Turki,

takhayul yang tertebus
di pohon-pohon Ephesus?

Dia merasa tidak kenal, dia pun bertanya -tanya, dan pertanyaan-pertanyaannya yang cerdas dan puitis sekaligus melahirkan kekuatan sajak. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, seperti juga sudah disinggung di muka, adalah pertanyaan-pertanyaan “seorang turis dari benua Timur”. Kalau di sini dipakai term itu, bukanlah dengan maksud memperlebih dan memperbesar citra, tapi saya hanya ingin mengutip sebuah citra yang sudah menjadi pemeo. Dibalik term “orang dari benua Timur” yang sudah tambal-sulam dan kocar-kacir itu, masih tersirat nuansa : di situ ada akal sehat yang mempunyai wise, ada bayangan religius yang mempunyai kerendahan hati. Di depan kesederhanaan-Nya, “tamu itu menangis”.

Sajak suasana naratif yang kaya lambang ini tampak sebagai sajak religius yang tidak murah. Tampak sebagai buah transendensi dari realitas pengalaman yang sudah diendapkan. Tampak dalam bahasa puisinya, yang terbit dan gerak-gerik intuisi yang imajinatif. Di situ ada semacam standard kebudayaan pribadi dari proses pergulatan kreatifnya, yang selalu ada yang luput dari kesimpulan-kesimpulan dan prediksi-prediksi, proses pergulatan itu pun membangun tradisi citarasa keindahan mengenai sebuah sajak. Sebuah pribadi yang mempunyai kecerdasan tinggi dan intuisi tajam akan berbeda dengan yang mempunyai kecerdasan pas-pasan dan intuisi tumpul. Dalam hal ini, sajak Ephesus tampak lahir dari penyair dalam kategori pertama itu. Bahasa puisinya yang sejati – bahasa intuisi itu – berasal dari pengetahuan di tengah chaos dan mengalami penyulingan kata-kata dari kesadaran bentuk.

Dalam rangkaian pembicaraan tiga sajak tentang Santa Maria dan dalam kerangka pembicaraan terdahulu, saya mengira bahwa penyair kelahiran Batang Jawa Tengah 29 Juli 1941 ini, barangkali dia tanpa tidak menganggap berfaedah ikatan primordialisme etnik dan keagamaan lagi buat diperkembangbiakkan. Setidaknya, sikap yang jujur dan tulus dalam menjalani proses hidup berkepribadian – walau melintasi batas konvensi keagamaan formal – bukanlah sesuatu yang keliru dan aneh. Orang modern yang merdeka dan bebas lebih mungkin bersua pengalaman religius yang asing tapi indah. Itu pun sebuah kemungkinan hidup yang absah.

Dengan merenungi sajak Ephesus, saya pun teringat sebuah lukisan cat minyak karya seorang penyair Yogya. Sepasang kaki terpaku di kayu salib yang besar, lalu jemaat yang paling dekat hanya dapat melihat bagian paling bawah. Sedang deretan makin ke belakang makin dapat melihat tubuh yang tersalib itu, dan makin ke belakang lagi makin lengkap. Sampai yang berdiri di barisan paling jauh dan paling belakang, mereka justru dapat melihat figur yang tersalib itu secara sempurna. Pada pengertian tertentu, sajak Ephesus tadi dapat dianalogikan dengan lukisan karya Sutrisno Martoatmodjo yang tanpa judul itu.

4). Pada sajak Kupanggil Namamu Madonna karya John Dami Mukese, pada dasarnya Santa Maria merupakan figur karismatik yang menjadi bagian dari kerangka hidupnya, yang memungkin dia memuliakan figur karismatik itu di dalam bahasa sajak. Penyair ini menempatkan diri di bawah aura yang menyelubungi Santa Maria. Pada sajak F. Rahardi, pada dasarnya Santa Maria merupakan figur wanita biasa yang tanpa mahkota keagungan bermisteri, yang mengherankan dan membikin bertanya, termangu. Penyair ini menempatkan Santa Maria di dalam arus kegelisahan kejiwaannya. Pada sajak Ephesus karya Goenawan Mohamad, pada dasarnya Santa Maria merupakan figur wanita asing, yang membikin dia mempertanyakan figur wanita itu sekaligus menangis, terharu. Penyair ini menjaga jarak dengan Santa Maria yang sudah menjadi mitos.

John Dami Mukese memuliakan Santa Maria yang kudus, F. Rahardi membrontaki Santa Maria yang aneh, Goenawan Mohamad merenungkan Santa Maria yang membuat terharu.

Catatan Kaki :

1). Kitab Suci Perjanjian Baru. Ditjen Bimas Katolik, Departemen Agama Republik Indonesia, Jakarta 1978/1979.
2). Ibid 1), Lukas hal. 134-136.
3). Ibid 1), Johanes hal. 209.
4). Kitab Suci Perjanjian Baru, Ditjen Bimas Katolik, Departemen Agama Republik Indonesia, Pelita IV, 1985, 1986. Pengantar hal 9.
5). a) Devosi Maria, Sindunata. Buku ini pada dasarnya sebuah pengakuan pada eksistensi figur karismatik Maria, deskripsinya bertitik-tolak pada prinsip terutama, bagi orang yang sudah ada dalam auranya. Jadi dia akan masuk ke dalam spekulasi metaphisik keagamaan.
     b) Lihat Pertimbangan Peter L. Berger, A. Rumor Of Angels. Modem Society and the Rediscovery of  the Supernatural. A Doubleday Anchor Book, 1970.
     c) Bandingkan dengan Max I. Dimond dalam Jews, God, and History Signet Book, New York, 1962.
6). Majalah HIDUP edisi tahun 1986-1987-1988.
Majalah TEMPO, rubrik Selingan, 7 Desember 1985.
7). Figur karismatik Maria bukan hanya menolong penyembuhan orang sakit, tapi penulis membatasi diri.
8). Kidung Adi, edisi bahasa Jawa, Pusat Musik Liturgi, Yogyakarta, 1987, Cetakan ke 5, hal 580.
9). Kedudukan figur karismatik Maria menduduki hirarki paling tinggi sesudah Jesus Kristus, dibanding figur-figur karismatik lainnya. Dalam “Litani Kepada Santa Maria”, antara lain disebutkan, dia sebagai “Ratunya para malaikat, Ratunya para nabi, Ratunya para rasul”.
11). a) “Posisi Sastra Keagamaan Kita Dewasa Ini”, Goenawan Mohamad, dalam Sejumlah Masalah Sastra, Satiagraha Hoerip Ed. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1982, Hal. 137-146.
 b) Baca juga Kritik Sastra : Sebuah Pengantar, Andre Hardjana, Gramedia, Jakarta, 1985. Terutama bagian “Agama dan Sastra dalam Renungan Kritik Sastra”, hal 81-90.
12). Majalah HORISON, Nomor 2 Tahun 1983.
13). Umpama sajak Perpisahan, Zohrah Pagi dan Sebuah Halte Bis Kecil, Hari Naas Bulan Naas, Laki-laki dan Perempuan. Sajak-sajak itu sudah menunjukkan kegelisahan pribadi penyairnya, tapi belum lagi secara substansial tercermin, dan masih tersembunyi di dalam citra-citra visual. Sajak John Dami Mukese dan F. Rahardi yang dibicarakan di sini terdapat dalam Tonggak antologi puisi Indonesia modern, jilid 4, Linus Suryadi AG, Ed, Gramedia, Jakarta, 1987. Sedang sajak-sajak Goenawan Mohamad terdapat dalam Tonggak jilid 3.
14). KOMPAS, 20 Mei 1979.
15). Majalah ZAMAN, No. 1 Tahun II, 28 September – 4 Oktober 1980.
16). Baca juga “Maria Di Mata Orang Muslin”, H. Harsa Surendra, Majalah HIDUP, No. 21, 25 Mei 1986 Tahun XI.

Catatan :
Fridolin Ukur juga pernah menulis sajak Maria (buku kumpulan puisi Malam Sunyi, Badan Penerbit Kristen, Jakarta 1961, atau Tonggak jilid 2), tapi pada pertimbangan saya, dari segi literer sajak itu kurang cukup berarti, Ibid 11). ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: