TEMA SOSIAL DALAM PUISI F. RAHARDI


Oleh : Sides Sudyarto DS

Pada dasarnya karya-karya sastra selalu memiliki benang yang merentang, yang menghubungkannya dengan berbagai fenomena termasuk realitas sosial. Tetapi kemudian kenyataan menunjukkan bahwa cara pengangkatan realitas itu sebagai isi sebuah karya, tergantung kepada pengarangnya, selaku manusia kreatif.

Setiap pengarang adalah manusia yang berdiri sendiri, memiliki otonomi atas dasar kebebasan yang memang merupakan bagian mutlak dan integral dari seluruh hak-hak hidupnya.

Manusia sebagai pengarang, juga merupakan produk budaya dan zamannya, memiliki atau menempuh proses sosialisasinya sendiri, yang kemudian ikut mewarnai pendirian serta gayanya dalam bersastra. Maka ada pengarang yang mengangkat tema sosial secara eksplisit, tetapi tidak sedikit juga yang implisit. Dalam hal ini warna karya para pengarang juga tidak terlepas dari dasar pandangan hidup yang diyakininya, serta wawasan yang mendarah daging dalam hidupnya. Maka tidaklah aneh bila ada karya-karya bertema sosial yang terjatuh sebagai slogan, tetapi ada pula karena daya pikir dan daya olah pengarangnya, maka melahirkan karya-karya sastra yang sebenarnya. Satu saat berujar seorang sastrawan, bahwa karya sastra adalah juga slogan yang baik, tetapi sebuah slogan jelas belum tentu/bukan karya sastra.

Lalu dimanakah tempat atau posisi karya-karya F. Rahardi yang mengambil bentuk puisi-puisi? Rahardi punya tempat sendiri. Walaupun orang atau pembaca bisa tertawa membaca karya-karya Rahardi, pada dasarnya ia tidak sedang melawak. Puisi-puisi Rahardi memang bisa membuat orang tertawa, tetapi pada waktu yang sama, dengan intensitas yang tinggi orang bisa juga meneteskan air mata. Sangat bisa disimak, dan disimpulkan bahwa puisi-puisi Rahardi adalah hasil pengamatan dan penghayatannya atas realitas sosial itu sendiri. Tambahan pula, tidak sulit untuk menikmati karya-karya Rahardi. Asalkan saja orang tidak buta huruf dan tidak buta bahasa Indonesia, ia sudah memiliki modal dasar untuk menikmati karya-karyanya.

Ia tidak mementingkan simbolisme yang rumit, tidak tertarik terhadap apa-apa yang bisa disebut bentuk absurditas, serta tidak mengenal ketakutan sehingga tidak perlu sembunyi-sembunyi. Walaupun bisa saja ia satu saat “memotret” sesuatu realitas yang absurd! Tampaknya hampir bisa disimpulkan bahwa Rahardi tidak ingin menyembunyikan sesuatu dan tidak memiliki sesuatu untuk disembunyikan. Walau sesekali terasa juga ia bersikap agak diplomatis dalam tulisannya, mungkin untuk menghindari satu hal yang tidak perlu ia ambil sebagai risiko. Kita baca saja sebait dari karyanya yang berjudul “Kisah Sebutir Debu Di Trotoar Jalan Salemba Raya Jakarta” :

Sebutir debu kedinginan di trotoar
jalan Salemba Raya
“Kalau saja hari lekas jadi siang,” kata debu itu
“Aku ingin matahari itu segera memanaskan
badanku
lalu angin yang kencang akan menerbangkan
diriku tinggi-tinggi
lalu hinggap di pipi seorang mahasiswi
aku ingin ikut masuk ruang kuliah
mendengarkan pelajaran biologi
ikut praktek di laboratorium
dan makan siang di kantin
aku ingin sekali menggugah nyali
para mahasiswa itu
agar tidak melempem
dan berani berak di meja dosen
lalu kencing di kantor rektor
aku ingin sekali begitu
tapi aku sadar
aku hanyalah sebutir debu di atas trotoar
yang malam ini diinjak-injak Hansip
dan diludahi maling”.

Pada umumnya puisi Rahardi panjang-panjang dan gamblang. Atau, bisa pula dikatakan, puisinya terpaksa ditulis panjang-panjang agar gamblang dibaca orang. Gamblang dalam arti jelas, sekaligus juga lengkap sebagai potret. Potret sosial. Sebagaimana layaknya potret, maka ia pun menangkap realitas yang tertangkap oleh lensanya. Apakah Rahardi bisa dikatakan seorang satiris atau sarkastis? Jawabnya ya atau tidak. Bisa dikatakan satiris, memang demikianlah karakter karya-karyanya.. Bisa dikatakan tidak, sebab realitas sosial itu sendiri, yang diangkat oleh Rahardi, memang sudah getir. Tentu masih ada hal lain yang perlu kita bicarakan. Seandainya Rahardi adalah seorang romantikus, tentu ia akan menghasilkan karya-karya yang romantik pula, tidak berupa potret yang teramat realistik. Jadi ada faktor lain pula, mengapa Rahardi menghasilkan karya-karya satiristis, karena kacamata dan sikapnya yang realistik itu.

Lebih jauh, marilah kita baca sejumlah larik dari puisi F. Rahardi yang berjudul “Matahari, Wereng Dan Sol Sepatu” :

Pegawai negeri eselon satu melaju dengan
safari abu-abu
………………………..
………………………..
wartawan-wartawan yang bebas dan
bertanggungjawab
melotot menyambar amplop
sarjana-sarjana pertanian berebut melamar
kerjaan
dan seniman-seniman senior serius
memperdebatkan
angin, maut, Tuhan, filsafat kehidupan dan
order bernilai jutaan.

Membaca larik-larik tersebut, tidaklah mustahil orang bertanya, apakah itu juga ditulis Rahardi berdasarkan realitas? Jawabnya sangat sederhana. Realitas seperti itu mungkin terjadi, mungkin juga tidak.

Dari segi logika dan pengalaman empiris, realitas seperti itu tidak mustahil terjadi. Dari segi yuridis formal, tentu kita bisa berbicara lain lagi, karena untuk itu diperlukan hukum pembuktian. Tetapi hampir pasti bisa dinyatakan, bahwa apa yang tersurat dalam karya puisi Rahardi bukanlah satu peristiwa yang utuh, artinya terjadi dalam satu paket dalam satu peristiwa seperti terlukis dalam puisinya.

Tetapi siapa gerangan yang tidak percaya, bahwa setiap bagian atau peristiwa yang dilukiskan Rahardi itu pernah terjadi? Seorang pakar ilmu sejarah Dr.Taufiq Abdullah pernah membahas karya sastra dalam kemungkinannya sebagai sumber sejarah. Tentu ia akan berhadapan langsung dengan pertanyaan atau pernyataan, bisakah realitas dalam karya sastra dapat diperlakukan sama atau sejajar dengan realitas yang sesungguhnya sehingga bisa diangkat sebagai fakta sejarah?

Tetapi lain halnya dengan karya Rahardi. Sejarawan sosial, yang ingin mencatat situasi tertentu, bisa mengambil atau sedikitnya memanfaatkan realitas seperti yang disiratkan atau disuratkan dalam karya-karya Rahardi. Asalkan jangan lupa, dengan catatan, bahwa karya-karya Rahardi adalah karya sastra, yang mengikatkan diri dalam kadar-kadar tertentu dengan masalah estetika, imajinasi serta kreativitas, dalam ukurannya sendiri.

Kesenian modern memang tidak menolak terhadap kenyataan-kenyataan baru. Dulu pernah, bahwa kesenian hanyalah mengandalkan bobot estetika saja sebagai misi utama. Semakin modern zaman, tampak ada pergeseran, dimana estetika juga memberikan sebagian tempatnya kepada tema-tema, khususnya yang memancarkan intensitas serta solidaritas seniman terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Entah besar atau kecilnya, posisi karya-karya Rahardi menunjukkan solidaritas terhadap masyarakat dan sesamanya. ***

Sumber (?) : Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: