Tentang Sajak2 Dalam Horison 1976


“Sinar Harapan”, Sabtu, 19 Pebruari 1977

Tentang Sajak2 Dalam Horison 1976
Oleh : Sutardji Calzoum Bachri

Yang akan saya bicarakan sajak2 yang dimuat majalah sastra “Horison” tahun 1976, minus sajak2 terjemahan. Maka ada 78 sajak, dari 28 penyair. Menarik sekali bagi saya bahwa beberapa sajak yang dimuat itu adalah sajak2 yang belum dewasa dan lebih mengesankan sebagai sajak anak2.

Ambillah sajak Mira Sato “Seekor Ulat dalam buah jambu” dimuat dalam Horison No. 9 :

aku terkejut melihat ulat
menggeliat dalam buah jambu
ketika aku memakannya

aku termenung sesaat, kupikir
mungkin ulat itu ingin berbisik
bahwa ia sama laparnya seperti aku

Penghayatan dan perenungan dalam sajak di atas terasa masih anak2. Suatu dunia yang sungguh kanak2. Penyair mempersoalkan dunia kanak2 secara kanak2. Bandingkanlah dengan sebuah sajak anak2 yang saya kutip secara “at random” dari ruangan anak2 dalam “Sinar Harapan” (ruang “Sahabat Kita”). Sajak itu ditulis oleh Bellina Hadi, SD. K. I. Kelas 5B, Jakarta dimuat tanggal 2 Pebruari 1977 :

Di senja hari
Dikala matahari mulai terbenam
Binatang-binatang kembali ke kandangnya
orang-orang kembali ke rumahnya
masing-masing

Tapi bagaimana dengan tanam-tanaman
Aku ingin bertanya padamu,
tanaman-tanaman
Bagaimana engkau bila matahari mulai terbenam?

Dan bandingkan pula dengan sajak Ediyushanan “Ada capung, katak dan ular di tepi kolam” dimuat dalam Horison No. 12 :

ada capung
sendirian
di tepi kolam
 
ada katak
sendirian
di tepi kolam

katak melompat
menerkam capung
ular menjalar
mengejar katak

capung terbang
katak tenggelam
ular di tepi kolam

tiba-tiba ular menatapku
tajam dan mendesis
aku pun cepat berlalu
hujan turun gerimis

Atau bandingkan pula dengan sajak Handrawan Nadesul “Semut dan roti” dimuat dalam Horison No. 2 :

semut duduk di atas roti
di dalam roti ia telah tidur malam
dua kali
padahal yang punya roti baru mulai
mereguk kopi
kini semut telah mati di dalam roti
sementara yang punya roti baru
selesai sarapan pagi
menikmati sepotong roti

Mengapa sajak-sajak mereka menjadi sajak anak2? Saya kira, kalau kita tidak mau menganggap pengalaman batin mereka masih anak2 maka yang jadi sebabnya ialah karena mereka salah mengerti tentang makna kesederhanaan dalam puisi modern.

Pengelakan dari gaya agung dalam berpuisi, penghindaran dari “sophistication”, menyebabkan mereka memilih “le style naif” dalam menyair.

Gaya kanak2 dalam persajakan bisa saja berhasil dengan baik seperti yang telah ditunjukkan oleh penyair Perancis Jacques Prevert dalam sajak-sajaknya. Seperti “Cancre” (“Bebal”), saya terjemahkan dari antologi yang disusun oleh Pierre Seghers “Le livre d’or de la poesie francaise contemporaine” :

Dia bilang tidak dengan kepala
dia bilang ya dengan hatinya
dia bilang ya apa yang dia suka
dia bilang tidak pada gurunya
dia berdiri
ditanya
dan segala soal diajukan padanya
tiba-tiba dia meledak dengan tawa
dan menghapus semua
angka-angka dan kata-kata
tanggal-tanggal dan nama-nama
kalimat-kalimat dan semua perangkap

meski guru mengancam
dan bocah-bocah jenius mengejeknya

dengan kapur segala warna
di atas papan hitam dari kemalangan
dilukisnya wajah kebahagiaan

Pada sajak2 Horison yang saya kutipkan di atas penyairnya begitu saja terjun ke dunia kanak2 dan mengubah diri mereka jadi anak2 penuh. Dan tentu saja hasilnya sajak anak2 secara penuh. Sebab dunia anak2 yang mereka terjuni kembali tidak mereka angkat dengan tangan batin yang dewasa.

Maka kesan yang saya dapat dari sajak2 semacam itu hanyalah keasyikan kanak2 dalam dunia kanak2.

Misalnya keasyikan mengotori benda2 sekitar dengan tangan, suatu hal yang populer dikalangan anak2. Seperti dalam sajak Anita “Daun pintu” dalam Horison No. 12 :

Daun pintu yang konon berwarna putih
dan satunya hijau
yang kanan selalu gres dan
yang satu selalu berkeriut tak sedap
tanganku menjamah keduanya
memberikan bekas masing-masing yang kacau

Dalam usaha untuk mendapatkan pengucapan yang sederhana, ada pula penyair  yang menggunakan bahasa prosa, meskipun sajak dibuat dalam baris2. Seperti yang kelihatan pada sajak T. Mulya Lubis “Renungan I” dimuat dalam Horison No. 6 :

Kubaca juga buku itu sembari menyisir rambut
yang sudah beruban. Detik jam, suara beca
dan asap obat nyamuk menyentuh bukuku
Dan menggeluti pikiranku yang kabur dengan
rencana-rencana. Pelajaran luar biasa
dari nafsu bersenggama. Serta berkuasa
Bagian yang tak pernah terasakan hanya
dengan kata-kata
 
Sajak tsb terasa hambar karena bahasa prosa masih berfungsi sebagai bahasa prosa dan belum bisa diangkat ke dalam fungsi puitik. Bahwa bahasa dalam bentuk prosa bisa dipakai dalam puisi sudah ditunjukkan oleh Arthur Rimbaud dalam “Une Saison En Enfer”, misalnya, Saya kutipkan sebagian :

Dulu, jika ingatan benar, hidupku sebuah pesta tempat semua hati terbuka dan semua anggur ngalir.

Satu senja aku dudukkan Cantik pada lututku. Terasa pahitnya. Dan dia kukutuk.
Aku bersenjata melawan keadilan.
Aku lari, O Penenung O Derita, O Benci, pada kalian telah kupercayakan harta!
Kucoba hilangkan segala harapan manusia dari dalam jiwaku. Pada segala gembira, untuk mencekiknya, aku meloncat diam-diam bagaikan binatang ganas.

Sambil sekarat, aku bilangkan pada algojo aku bisa menggigit batang senapangnya. Aku panggil bencana agar menyumbatku dengan pasir, darah. Kelamangan itulah tuhanku. Aku rentangkan badan lumpur. Aku keringkan diriku dalam udara jahat.

Tetapi sajak Sapardi Djoko Damono “Ketika menunggu bis kota malam-malam” dalam Horison No. 5, bagi saya terasa sungguh2 prosa, barangkali fragmen sebuah cerpen atau novel :

“Hus, itu bukan anjing; itu capung!” katanya. Tapi capung tak pernah terbang malam, bukan? Capung tak suka ke tempat sampah – biasanya ia hinggap di ujung daun rumput waktu pagi hari, dan kalau ada gadis kecil akan menangkapnya ia pun terbang ke balik pagar sambil mendengarkan suara “aahh!” Tubuhnya mungil, bukan? Sedangkan yang kulihat tadi jelas anjing kampung yang ekornya buntung, menjilat-jilat tempat sampah yang di seberang halte itu, mengelilinginya lalu kencing di sudutnya. Hanya saja, aku memang tak melihat kemana gaibnya.
“Itu capung!” katanya. Sayang sekali bahwa kau merasa tak melihat apa pun di seberang sana tadi.

Dalam keasyikan menciptakan mikrokosmos sajak di atas, Sapardi tidak mengacuhkan bahasa. Padahal mikrokosmos sajaknya hanya bisa terbentuk dengan kata2 maka kata2 pun tidak mengacuhkannya. Mikrokosmosnya hadir secara tidak meyakinkan. Hambar dan encer.

Setidak2nya ada dua sisi yang harus diperhatikan oleh seorang penyair. Di satu sisi dia harus mengenal bahasa dengan baik, akrab dengan kata2. Di sisi yang lain dia harus akrab dengan kedalaman konsepsi hidupnya, dunianya. Pada sajak pendek dapat dengan mudah kita lihat apakah penyair punya ketangguhan dalam dua sisi itu.

Ambillah beberapa sajak pendek yang cukup banyak dimuat dalam Horison tahun 1976. Sajak Herman KS “Nama” Horison No. 6.

Ia sebutkan sebuah nama
Tapi ia tak tahu sama siapa
Sudah itu ia pun melupakannya

Sajak Mira Sato “Di muka cermin”, Horison No. 9 :

kutemui sekarang
orang yang sering
menggangguku dengan bisik-bisik

Sajak Noorca Marendra “Kun” dalam Horison No. 2 :

jadi atau
tahukah kamu
apakah ku apakah kau
adakah ku adakah kau
adakah kun adakah kau
adakah?

Sajak Dinullan Rayes “Jakarta”, Horison No. 2 :

Pucuk menara
kembang api
telapak kaki
sepi

Sajak Darman Moenir “Maksud”, Horison No. 3 :

maksud nya
kamu itu
menunggu
maksud nya
aku itu
ke situ
tapi
maksud
Nya itu :
engkau tahu?

Sajak Upita Agustine (tak pakai judul) dalam Horison No. 1 :

Dalam gamitan waktu yang lewat
Dalam rangkulan ruang yang meluas
Kita bercinta
Dalam himpitan bayang-bayang bianglala

Sajak2 di atas menunjukkan para penyairnya belum akrab dengan bahasa. Mereka baru sampai pada bahasa umum, belum personal. Bahasa belum menjadi milik pribadi, makanya belum menunjukkan pribadi.

Penghayatan terhadap kata2 sebagai sesuatu yang personal siatnya, belum kelihatan. Yang nampak hanya penggunaan bahasa secara umum. Memang sudah tidak sajak anak2 lagi tetapi penghayatan masih umum, dangkal dan klise.

Sikap hidup yang personal dan mendalam akan bisa menghasilkan sajak yang otentik dan punya kedalaman (bobot). Demikian pula kehadiran bahasa (kata2) dalam suatu sajak yang timbul dari penghayatan yang mendalam dan personal terhadap bahasa, akan bisa membantu memberikan bobot dan otentisitas sajak.

Tetapi, menggantungkan kehadiran puisi pada ketrampilan tehnis dalam berbahasa, tanpa didampingi kedalaman sikap hidup yang personal, hanya akan melahirkan sajak artifisial. Karena penyair belum melayani kehidupan secara otentik. Hidupnya masih secara xerox, hanya fotocopy dari penghayatan umum yang banal. Maka sajak2 yang diciptakannya juga akan menjadi sajak xerox, sajak yang klise. (Bersambung)
“Sinar Harapan”, Sabtu, 26 Pebruari 1977

Tentang Sajak2 Dalam Horison 1976 (Bagian II – Habis)
Oleh : Sutardji Calzoum Bachri

Usaha penyair mencari suara sendiri pada taraf permulaannya bisa saja mengidentifikasikan dulu pada suara penyair lain, pada cara pengucapan penyair lain yang dikaguminya. Dia meminjam suara penyair yang dikaguminya. Tapi tentu saja ini namanya sajak pinjaman. Belum menjadi suatu pengaruh yang bisa membantu mendewasakan si pembuat sajak.

Sajak2 pinjaman terdapat juga dalam Horison tahun 1976. Dari tiga buah sajak Emha Ainun Nadjib yang dimuat dua buah masih terasa sebagai “sajak pinjaman” dari Sapardi Djoko Damono. Saya kutipkan disini satu diantaranya “Kau Bertanya” Horison No. 3 :

Kau bertanya siapa yang berdiri di belakang hujan
yang menderas dan menggemakan suara-suara
(Setidaknya dalam hati kita
diam-diam merasa. Ada yang
selalu bersikap tak percaya dan
membayangi gerak kita)

“Itu siapa?” tanyamu
Ya, itu siapa
Kita berselimut kedinginan dan itu pertanda
Saat begini kita tak bisa sendiri atau berdua

Kantuk pun tiba – tapi kapankah kita bisa bersiap pasrah?
“Sedang perundingan antara kita selalu maya”. Bisu.
(Engkau menukik dan Kau rampas Aku dalam tidurku)

“Merampas atau menyimpan baik-baik?” tanyamu.
Ya, mungkin. Kita memang selalu tak pernah beres dalam bersikap.

Kau bertanya siapa yang mengurung kita ini : Ah,
Bukan siapa-siapa. Bernyanyi-nyanyi sajalah kita, atau
bergumam-gumam. Mengikuti derap hujan.

(Tapi heran : Rinduku tak pernah membusuk!
Kau juga?)

“Bapak kitakah Ia
Atau anak yang kita lahirkan bersama?”

Sedangkan pengaruh Gunawan Muhamad pada sajak Yudhistira Ardhi Noegraha “Sebuah Potret” Horison No. 9 belum berhasil dicernakan dengan baik :

Potret di bingkai. Terletak jauh. Disebuah rumah.
“Kalau sajak Ia ada, pasti, tak sesepi ini”

(Tapi itu tidak benar,
Ia pernah datang. Dan tetap sepi).

“Ia juga dibaptis. Seperti kita.
Tubuhnya bercahaya”
(Tapi Ia terbunuh. Dengan tubuh yang lusuh. Dan tak berdaya).

Sebuah potret. Masih tergantung. Di sebuah rumah.
Terletak jauh.
Ia bergoyang. Diusap sepi. Tetap tak berdaya.
“Ia tak juga datang. Entah kemana”

Beberapa penyair seperti Agus Dermawan T. B. Priyono, I.B. Sugiharto sibuk dengan percobaan kata2 dengan pengharapan timbul image2 yang segar dan dengan demikian keterkejutan puitik bisa didapatkan. Sayang usaha mereka itu tidak sering berhasil dan yang sering saya temukan pada mereka barulah sampai pada kelatahan kata2 saja.

Saya kutipkan satu dari sajak Agus Dermawan T yang dimuat dalam Horison No. 1 berjudul “Tentang Sebutir Kelereng”.

lubang ayaman lubang buatan
dan lubang dari sekian lubang
adalah tempat ia dimainkan
tempat ia dibuangkan

buangkan ke dalam maka angka adalah rejeki yang ditanamkan
ialah usaha yang dimaklumkan, sebuah angan-angan

kelereng, bulatan sepi, inti
mata api, senggama kita dengan
aneka keputusan matahari
yang datang atas bumi yang
rendam atas pelaminan, nasib beruntut di ujung jari

lubang ayaman lubang buatan
dan lubang dari sekian
lubang adalah wadah kita yang selalu membayang
sangsi
kelereng, bulatan sepi, inti mata api,
senggama dalam dunia kanak tercenung dalam
benak, perjudian nasib
dimulai hari-hari ini.

Linus Suryadi AG dalam pergulatan dan keasyikannya mencari bahasa puitik, dalam pencarian ritme dan rima, terjeblos kedalam sentimentalitas yang nampaknya lebih cocok untuk zaman Pujangga Baru. Saya kutipkan satu sajaknya “Bintang Malam” Horison No. 12 :

Semesta hariku menjadi lain,
sejak hujan musimpun menepiskan dingin
tanpa angin, diam diam diam
mengguyur kelam, di langit semerbak bintang

Malam hariku menembus dinding
terbuka lobang menyampaikan takzim
tanpa enggan, pelan pelan pelan
memegang diyan, bersinar
sekitar ranjang

Cintaku, Bintang malamku
ranjang pendiangan ini pun tersedu
pedih pilu, syahdu syahdu
dalam rindu, tersisih waktu
wahai! habis jemu

Beberapa penyair dalam usaha menolak “sophistication”, mencari kesederhanaan dengan menulis sajak2 tentang hal2 atau objek2 kecil yang dalam kehidupan sehari-hari sudah dianggap biasa saja atau hampir terlupakan – dengan gaya sederhana, santai dan dengan semangat ingin bermain-main atau ingin melucu.
Seperti F. Rahardi dengan sajaknya “Si Ikan Asin” dalam Horison No. 9 :

si ikan asin yang gurih
yang dipanggang: yang ditendang

yang di….
yang telah dilupakan
tak diingat-ingat lagi
tak disebut-sebut
tak pernah disinggung-singgung

tak dibicarakan
di dalam syair
di dalam
wahai ikan asin yang tipis
mengapa???

Ditinjau dari usaha sekedar untuk melucu, sajak ini berhasil. Dan lebih mengingatkan saya pada majalah “Astaga” daripada Horison. Bahwa dengan semangat bermain-main bisa dihasilkan sajak yang baik dengan tukikan bobot yang dalam, saya kira semua orang maklum. Tapi hendaknya harus sering diingat bahwa antara permainan laut dan permainan selokan tentu ada bedanya. Maka jadilah laut dulu sebelum ber-main2, agar permainan bisa lebih bernilai.

Kalau tidak bermaksud melucu, sikap santai dan ber-main2 terutama ditujukan untuk mendapatkan kesan aneh2 dalam sajak. Konon dengan keanehan semacam itu, misteri kehidupan dan absurditas dapat ditangkap dan sajak diharapkan berhasil mendapatkan bobot. Saya ambilkan sebagai contoh “Sajak Sikat Gigi” karya Yudhistira Ardi Noegraha dalam Horison No. 9 :

Seseorang lupa menggosok giginya sebelum tidur
Di dalam tidur ia bermimpi
Ada sikat gigi menggosok-gosok mulutnya supaya terbuka
Ketika ia bangun pagi hari
Sikat giginya tinggal sepotong
Sepotong yang hilang itu agaknya
Tersesat di dalam mimpinya dan tak bisa kembali

Dan ia berpendapat, bahwa kejadian itu terlalu berlebih-lebihan.
Sajak yang amat prosaik ini berkisah tentang seseorang yang ketika bangun tidur melihat sikat giginya tinggal sepotong lantas menghubungkannya dengan mimpi yang baru saja dialaminya. Tak lebih dari itu. Maka bukannya misteri yang berbobot yang saya dapatkan dari sajak ini. Tapi sebuah sajak yang masih anak2. Dan tentu saja sedikit kelucuan yang sering kita dapatkan dari fantasi anak2.

Pada beberapa sajak Sapardi Djoko Damono usaha untuk mendapatkan misteri  tidak dengan semangat santai santaian, tetapi hasilnya bagi saya baru semacam keanehan yang sengaja dipersiapkan. Otak nampaknya terlalu memegang peranan. Dan misteri yang didapat hanyalah sepreti misteri dalam cerita2 detektif.

Lihatlah sajak Sapardi Djoko Damono “Disebuah halte bis” dalam Horison No. 5 :
Hujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis
dan membaringkanmu di sana. Kau memang tak pernah berumah,
dan hujan tua itu kedengaran terengah batuk-batuk dan nampak putih.
Pagi harinya anak-anak sekolah yang menunggu di halte bis itu
melihat bekas-bekas darah dan mencium bau busuk.
Bis tak kunjung datang. Anak-anak tak bisa sabar menunggu.
Mereka menjadi kesal dan, bagai para pemabok, berjalan sempoyongan sambil melempar-lemparkan buku dan menjerit-jerik menyebut-nyebut namamu.

Atau misteri itu ingin diperoleh dari keanehan2 yang wajar terjadi dalam semacam dongeng2. Sajak Sapardi Djoko Damono berjudul “Bunga 1”, Horison No. 5, hanya sempat mengingatkan saya pada semacam dongengnya La Fontaine :

Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia rekah di tepi padang waktu hening bagi terbit : siangnya cuaca berdenyut ketika nampak sekawanan gagak terbang berputar-putar di atas padang itu; malam hari ia mendengar seru serigala.
Tapi katanya, “Takut? Kata itu milik kalian saja para manusia;
aku ini si bunga rumput, pilihan dewata!” dst.dst.

Atau sajaknya “Puisi Cat Air Untuk Rizki”, Horison No. 6 :
angin berbisik kepada daun jatuh
yang tersangkut kabel telpon itu, ”
aku rindu, aku ingin mempermainkanmu!”
kabel telpon memperingatkan
angin yang sedang memungut
daun itu dengan jari-jarinya
gemas, “jangan berisik, mengganggu hujan!”
hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam,
hardiknya “lepaskan daun itu!”

Sajak tersebut seperti dongeng dimana angin, daun, kabel telepon bisa ber-cakap2 mengingatkan saya pada “Alice in Wonderland”, fantasi yang mengasyikkan bagi anak2. Bikin sajak dengan mendongeng tentu boleh saja. Tapi hendaknya janganlah dongeng2 datar saja, agar orang dewasa bisa terkesan membacanya.

Dalam Horison tahun 1976 tentu ada juga terdapat beberapa sajak yang cukup baik. Meskipun tidak banyak. Seperti sajak F. Rahardi “Kepada Maria I”, Horison No. 1 :

seekor laba-laba kecil yang nakal
melilitkan benangnya di leherku
lalu dengan diam-diam ia pun merayap sejauh
empat ratus mil
dan membangun perangkap di sudut kamarmu
di rongga yang gelap dan dingin itu
ia pun memasang jaring-jaringnya
dan dengan sabar ditungguinya

dari waktu ke waktu
siap menjerat
seluruh tubuhmu.

Bahasanya sederhana namun bisa menyuguhkan kesegaran. Dalam kesetiaannya pada ungkapan dirinya yang otentik penyair kalau perlu bersedia melawan tata-bahasa yang lazim berlaku. Perhatikan bukan ditunggunya tetapi ditungguinya.

Dengan cara demikian penyair ingin mendapatkan atau setia dengan bahasa pribadinya. Dan saya kira dalam hal ini dia berhasil.
Dengan bahasa yang sederhana penyair mengantarkan laba2 kecil dan sederhana itu yang kemudian ternyata dapat merayap empat ratus mil dan “siap menjerat tubuhmu”. Penyair berhasil dengan lumayan menciptakan tension pada sajaknya. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: