“Tuyul” : Pamflet Simbolik F. Rahardi


Oleh Nyoman Tusthi Eddy

Istilah puisi pamflet pertama kali dipakai oleh WS Rendra. Istilah ini dipakai untuk puisinya sejak ia secara sadar meninggalkan model kepenyairan dalam Empat Kumpulan Sajak dan memulainya dengan Blues Untuk Bonnie. Mengapa pamflet? Ia menyebut demikian untuk puisi yang ditulis dengan bahasa lugas keseharian, minus metafor kontemplatif, bergaya orasi dan sarat dengan kritik sosial. Kadang-kadang kritik sosial ini cenderung agitatif. Hal ini memang mirip dengan karya tulis yang disebut pamflet.

Dalam konteks perpuisian Indonesia modern sepuluh tahun terakhir ini nama Rendra telah identik dengan pamflet (puisi pamflet). Ia seperti tugu yang berdiri dengan warna tersendiri.

Tampaknya Rendra tidak berjalan sendiri. Di tahun 1980-an F. Rahardi menerbitkan dua buah kumpulan puisi (Soempah WTS, 1983 dan Catatan Harian Sang Koruptor, 1985). F. Rahardi, yang oleh Sapardi Djoko Damono disebut “suka menulis yang aneh-aneh” (Wawancara Harian Bali Post, 12 Desember 1993, hlm 2), ikut merintis tumbuhnya puisi pamflet. Dalam beberapa puisinya pada kedua buku itu sifat-sifat pamflet telah tampak. Puisi pamfletnya berlanjut dalam kumpulan puisinya Tuyul yang terbit tahun 1990.

Pertama, yang perlu dicatat adalah gaya pamflet Rendra amat berbeda dengan pamflet F. Rahardi. Pembaca yang sedikit jeli akan segera merasakan perbedaan gaya itu tanpa mesti menilik lebih dalam. Persamaan keduanya terletak pada “kepahitan” suaranya dalam memberikan reaksi terhadap ketimpangan sosial masyarakatnya. Dalam hal ini keduanya adalah “terompet” masyarakatnya.

Tuyul, mengapa mesti Tuyul? Dipakainya judul ini tidaklah kebetulan, atau sekadar mengambil nama yang dipakai tema lima buah puisinya dalam buku itu.

Dari lima puisi pertama Tuyul itu kita menangkap isyarat, penyair terobsesi oleh nama Tuyul yang muncul sebagai fenomena sosial di lingkungannya dengan acuan baru. Masyarakatnya menyebut Tuyul bagi orang yang melakukan pungutan liar, bagi orang yang menilep uang negara, bagi pasangan laki-perempuan yang berbuat mesum di tempat-tempat sepi di luar rumah. Nama Tuyul tambah menarik dengan pernah munculnya ide Seminar Tuyul.

Bertolak dari kumpulan puisi Tuyul, juga dari dua kumpulan puisi sebelumnya, gaya puisi F. Rahardi berciri kocak, lugu, menyindir, menyajikan permainan kesan dan adanya belokan-belokan diksi yang tak terduga.

Menyiasati kumpulan puisinya Tuyul, berapa puisi yang perlu mendapat perhatian khusus. Puisi-puisi ini tak selalu bisa dikatakan puisi terbaik, tetapi dengan jelas memberi warna umum terhadap gaya puisi F. Rahardi.

Puisi pamflet F. Rahardi tidak menyuarakan gugatan verbal. Diksinya mengandung sindiran. Dalam beberapa aspeknya bersifat simbolik. Tapi dalam beberapa puisi ungkapan simbolik itu diucapkan dengan perumpamaan sarkastis. Dalam puisi “Kisah Sebutir Debu di Trotoar Jalan Salemba Raya Jakarta” misalnya, terdapat larik :

para mahasiswa itu
agar tidak melempem
dan berani berak di meja dosen
lalu kencing di kantor rektor
aku ingin sekali begitu

Sebatas apa yang tersurat larik itu bernada sarkastis dan cenderung jorok. Namun makna sesungguhnya masih tersimpan di balik bentuknya yang vulgar. Aku (aku lirik) menginginkan agar mahasiswa berani melakukan terobosan dan mendobrak kemapanan. Berani mendobrak apa yang selama ini ditabukan.

Tanpa menukik lebih dalam ke balik simbol yang tampak orok itu, orang dengan mudah akan menuduh pernyataan itu sebagai hasutan saskastis. Jika kita melihatnya dari sudut objek sasaran pernyataan itu, simbol itu hanya humor, karena tidak ditujukan kepada objek nyata. Hal semacam ini merupakan “canda” puisi khas Rahardi.

Dalam melontarkan kritik sosial F. Rahardi mengungkapkan kenyataan pahit tanpa menudingnya sebagai sesuatu yang buruk. Dengan gaya paradoks ia memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menangkap siratan kritiknya. Hal ini merupakan ciri simbol puisi F. Rahardi. Sebuah contoh misalnya :

“Mari kita tambal lubang di dinding kantor
kelurahan
dengan grafik dan angka-angka
yang menyenangkan”
bujuk sarjana pertanian yang tak
kebagian kerjaan di kota
(“Matahari, Wereng dan Sol Sepatu”)

Sesungguhnya pernyataan ini dimaksudkan untuk menggugat kepalsuan angka-angka statistik yang bersifat ABS (Asal Bapak Senang). Namun dalam ucapan verbalnya disampaikan dalam bentuk anjuran.

Puisi tadi juga memperlihatkan adanya jalinan simbolisasi yang rumit (dalam arti tak mudah ditangkap). Judul yang tampaknya “main-main” membangun simbol-simbol setelah berada dalam konteks puisi yang utuh. Larik berikut mengisyaratkan sifat-sifat simbolistiknya.

wereng bersembunyi dengan rapi
di balik jas dan dasi
wereng berebut tempat di ketiak
pejabat tinggi
sol-sol sepatu itu menyatu
menancap di pelipis pak tani.

Puisi “Sepuluh Pertanyaan Untuk Ibu-ibu di Waduk Kedungombo”, bukanlah menyuarakan protes langsung atas peristiwa Kedungombo. Rahardi mengungkapkan dengan gaya sinisme akibat lanjut dari peristiwa Kedungombo. Itulah keterbungkaman apatis dari masyarakat Kedungombo. Hal ini tersirat dalam larik jawaban yang selalu mengandung kata tidak tahu dan terakhir tidak mau.

Larik-larik pertanyaannya kocak dan menyindir dengan gaya sinisme, merupakan humor sindiran khas Rahardi. Di sini pun ia menggunakan gaya paradoks dengan mengontraskan dua suasana yang berbeda. Penderitaan masyarakat Kedungombo dikontraskan dengan berbagai aksesori glamour kehidupan kota. Lewat gaya sinisme dan simbolik nasib masyarakat Kedungombo dipertanyakan.

F. Rahardi tampaknya juga membawa dunia wayang kedalam konteks kekinian. Hal ini tampak dalam ia menempatkan tokoh Batari Durga dalam konteks fenomena masa kini. Batari Durga yang berwajah seram dan bergelar Dewi Maut itu, dikatakan kini bergentayangan dengan wajah cantik memikat, tetapi tetap menyebarkan maut. Hal ini diungkapkan Rahardi sbb :

raksasa perempuan permaisuri syiva itu,
sudah tidak seram lagi
mulutya harum
matanya sudah kembali
jadi mata Dewi Uma yang cantik
tapi roknya tersingkap
memamerkan paha
menawarkan cinta, sipilis, herpes
dan AIDS.

Secara simbolis puisi ini mengisyaratkan : maut di jaman kita kini justru berasal dari sesuatu yang paling menarik, bukan yang menyeramkan.

Dalam komunikasi vertikal dengan Tuhan, puisi F. Rahardi menyiratkan keakraban sikap; kadang-kadang sangat duniawi. Tanpa mengusut makna di balik ungkapan yang tersurat pembaca kemungkinan akan sampai pada kesimpulan keliru. Keakraban duniawi itu tampak sebagai tindakan profan yang kurang pantas dalam hubungan vertikal makhluk – Khalik. Pembaca yang bersedia mencari hakikat akan menemukan makna yang sebenarnya. Keakraban itu adalah ajakan buat kita untuk mencari kesejatian Tuhan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Dalam puisi panjangnya “In Memoriam Tuhan” ia menulis :

Tuhan memang telah mati dan
jadi fosil yang keras
di kitab-kitab Injil
Tuhan telah dibalsem dan dibebat
kain kafan
jadi mumi yang antik.
Kemudian ia mengakhiri puisinya dengan larik-larik berikut :
sampai akhirnya kutemukan Tuhan
masih sebar bugar dan sexy,
sedang menunggu dalam batinku
kucolek dia, lalu kupeluk dan
kugandeng
kuajak pulang.

Sesungguhnya Tuhan tetap dijunjung. Yang digugat adalah dogma-dogma yang kadang-kadang justru mengeringkan makna religius dalam hati nurani manusia. Bagi si pencari dengan keimanan sejati, Tuhan bagaikan gadis seksi yang menunggu dalam hati, bukan dalam kitab suci. Dalam hal ini Tuhan dan kitab suci tak selamanya berkonotasi. Agama pun boleh digugat tanpa mesti melepaskan kebutuhan. Tuhan pun diajak “berhumor-humor” dalam puisi ini.

Puisi F. Rahardi juga punya kecenderungan jurnalistik. Hal ini muncul dari gaya naratif dengan pembeberan kelewat lugas. Unsur jurnalistik ini tersirat dalam larik puisinya, tetapi ada yang ditampilkan dalam bentuk pengantar/suplemen.

Puncak “canda” khas Rahardi adalah puisi terakhir, yaitu “Enam Buah Garis 12 Point Masing-masing Sepanjang 10 Cm’. Puisi ini diawali dengan enam buah garis balok. Panjang masing-masing 9 cm, bukan 10 cm.

Tampaknya seperti puisi konkret. Garis-garis itu melambangkan dunia iptek yang serba tegas dan eksaks. Di sini penyair tampaknya memang mau “berhumor-humor” dengan iptek. Tapi di balik itu ia pun mau mengatakan sebuah pesan “jangan menganggap iptek sebagai sesuatu tanpa cela”. ***

Sumber : Suara Karya, Minggu 9 Januari 1994

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: