PARAGRAF 2017 (4)

24/07/2017 at 12:44 (artikel)

Awal tahun 2000an, tak sengaja saya menonton acara TVRI. Dalam acara itu ditampilkan tayangan obyek wisata alam Perum Perhutani yang cukup menarik. Presenter cerita panjang lebar tentang obyek wisata alam itu, tapi dari awal saya tunggu-tunggu tak pernah disebutkan, obyek wisata itu berada di mana? Kemudian tak sengaja, kameraman menshot papan nama Pos Perhutani Cidahu, Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Saya langsung bilang: “O….. Cidahu!”
Di media sosial, lebih spesifik lagi di FB, tak terbilang banyaknya postingan foto dan video tanpa penjelasan apa pun. Nitizen dianggap Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (3)

17/07/2017 at 13:09 (artikel)

Saya sudah menulis sejak tahun 1969. Saya juga tahu bahwa satu paragraf hanya boleh memuat satu pokok pikiran. Tapi ketika menulis dengan sangat bersemangat, atau sama sekali tak bersemangat, dalil tadi terlupakan.

Beberapa pokok pikiran berjejalan dalam satu paragraf. Dalam keadaan terlalu bersemangat, pikiran mudah berubah dan melompat dari satu pokok pikiran ke pokok pikiran lain. Dalam kondisi tak bersemangat, pikiran macet lalu mengada-ada membuat kalimat sekenanya dalam sebuah paragraf.

Kalau sudah sampai ke jalan buntu, biasanya saya akan berhenti, lalu paragraf itu pelan-pelan saya baca ulang. Misalnya begini: “Saya ngantuk. Badan ini kok juga gatal semua sih? Di luar itu siapa pula yang berisik?” Tiga kalimat itu satu sama lain tak saling mendukung, karena tiga-tiganya merupakan kepala kalimat.

Agar satu sama lain bisa saling mendukung, harus dipilih salah satu sebagai kepala kalimat, lalu diberi kalimat pendukung dan konklusi: 1 “Saya ngantuk. Tapi saya harus tetap bertahan. Kalau sampai ketiduran, tulisan ini tak akan selesai.” 2 “Badan ini kok juga gatal semua sih? Padahal saya sudah mandi. Mungkin karena tadi siang saya ikut blusukan di rumpun bambu itu ya?”. 3 “Di luar itu siapa pula yang berisik? Sudah tahu ada tetangga sedang sakit. Atau jangan-jangan tetangga yang sakit itu meninggal?

Cimanggis, 7 Januari 2017

Pernah dimuat di FB Floribertus Rahardi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (2)

11/07/2017 at 12:58 (artikel)

Sebuah paragraf, hanya bisa mewadahi satu pokok pikiran. Satu paragraf paling sedikit terdiri dari tiga kalimat. Pertama kepala kalimat (pokok kalimat, kalimat utama). Kedua kalimat pendukung. Dan ketiga kalimat konklusi. Biasanya kepala kalimat ditempatkan pada awal paragraf. Tetapi ini bukan keharusan.

Sebuah kalimat, paling sedikit terdiri dari dua kata, berupa subyek dan predikat. Tanpa subyek atau tanpa predikat; kumpulan kata itu bisa berupa frasa, bisa bukan frasa, bukan kalimat. Kalimat: “Saya (subyek) ngantuk (predikat)”. Frasa: “Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Bukan Frasa, bukan kalimat: “Ngantuk saya.” dan “Indonesia Kesatuan Republik Negara”.

Contoh paragraf: “Saya ngantuk (kepala kalimat). Padahal saya baru bangun tidur (kalimat pendukung). Jangan-jangan saya sakit (kalimat konklusi). Silakan mulai mencoba menulis satu paragraf, tiga kalimat, sokur ada foto, dan diposting.

Cimanggis, 5 Januari 2017.

Pernah dimuat di FB Floribertus Rahardi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017

07/07/2017 at 10:19 (artikel)

Tahun 2017 saya akan membuka pelatihan menulis untuk media digital, terutama menulis di media sosial. Fokusnya ke menyusun paragraf dengan fakta dan data tanpa hoax.

Pernah dimuat di FB Floribertus Rahardi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

“PERCERAIAN” PROSA DAN PUISI

07/06/2016 at 15:07 (artikel)

Makalah Kemah Sastra Medini 23 April 2016

F. Rahardi

Sebenarnya Panitia Kemah Sastra minta saya mengulas tentang “Perkawinan” Prosa dengan Puisi. Sebab belakangan memang ada kecenderungan seperti itu. Puisi makin bernarasi, prosanya menjadi puitis. Tapi ternyata prosa dan puisi itu sebenarnya  tidak pernah kawin. Mereka sekadar rindu pada masa lalu saat prosa dan puisi merupakan satu kesatuan.

Dalam sastra purba, prosa dan puisi memang merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Contohnya dalam Epik Gilgamesh, yang ditulis tahun 2.100 SM di Sumeria (lembah Sungai Tigris dan Euphrat), yang sampai sekarang masih dianggap sebagai salah satu Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

UMBU DAN PUISI INDONESIA MODERN

31/05/2016 at 15:48 (artikel)

Kompas Minggu, 14 Mei 2006

Oleh F. Rahardi

Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan
berdebu
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu
   
(Taufiq Ismail, Beri Daku Sumba, 1970)

Siapakah Umbu? Hingga penyair Taufiq Ismail, menyebut nama itu dalam salah satu puisinya? Umbu, nama lengkapnya Umbu Landu Paranggi, adalah sosok misterius. Ia selalu menghindar dari publisitas. Tetapi dialah sumber energi yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan puisi Indonesia modern, sejak tahun Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Analisis Cerpen Sastra Samanasanta karya F Rahardi

09/05/2016 at 12:13 (artikel)

Jumat, 21 November 2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Cerpen (cerita pendek) merupakan salah satu karya sastra yang tergolong dalam prosa. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan dengan karya-karya sastra lain yang lebih panjang. Hal inilah yang menjadikan cerpen banyak digemari oleh para pembaca. Selain itu, daya tarik sebuah Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PERANGKAP TIKUS DAN SIKLUS KEHIDUPAN DALAM PUISI GOENAWAN MOHAMAD

05/05/2015 at 13:05 (artikel)

Makalah Diskusi Bincang Tokoh # 5 – 2011

Oleh F. Rahardi

Menandai HUT ke 70 Penyair Goenawan Mohamad, 29 Juli 2011; telah terbit dua judul kumpulan puisi: Tujuh Puluh Puisi, dan Don Quixote (Tempo/PT Grafiti Pers 2011). Dewan Kesenian Jakarta, minta saya mengulas puisi Goenawan Mohamad dalam dua buku kumpulan tersebut, untuk acara diskusi Bincang Tokoh # 5 di Taman Ismail Marzuki, 23 September 2011.

Sebagai penyair, Goenawan Mohamad baru akan terdorong untuk menulis puisi, apabila ia bersentuhan dengan hal-hal yang sangat beragam, yang tidak bisa cepat ditangkap oleh masyarakat awam, Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

DOKTORANDUS TIKUS 1, TITEL UNTUK PARA KORUPTOR

27/04/2015 at 13:45 (artikel)

Oleh Moh. Qowiyuddin Shofi[1]

“Sebuah puisi di dalamnya merupakan
rekaman dan interprestasi pengalaman manusia yang penting
digubah menjadi wujud yang paling berkesan.”
( Pradopo, 1987:7[2] )

Pernyataan di atas nampaknya tidak jauh beda dengan pernyataan yang selalu dilontarkan oleh beberapa orang, seperti beberapa dosen sastra saya yang saya tanyai mengenai bagaimana cara kita memahami sebuah karya sastra. ‘Karya sastra lahir tanpa Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

APRESIASI PUISI F.RAHARDI

08/04/2015 at 13:16 (artikel)

Cerita dan Karya
Friday, October 10, 2014
APRESIASI PUISI F.RAHARDI

APRESIASI PUISI
Agis Amalia Wibawaty

PUISI SEBAGAI SALAH SATU KARYA SASTRA

1.  PENGERTIAN PUISI

Herman J. Waluyo mendefinisikan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.
Aristoteles, Puisi adalah fragmen yang ada pada penyair yang menggambarkan tiga genre puisi adalah epik, komik, yang tragis dan Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »