Melihat Pelarangan F. Rahardi di TIM

20/06/2016 at 11:42 (berita)

By F. Rahardi on 11 February, 2012 Viewed 1866 times, 1 times today | 4 Comments |

F. Rahardi feat. Bujang Praktiko

Pihak berwenang telah melarang penyair “setan” F. Rahardi untuk tampil membacakan puisinya Catatan Harian Sang Koruptor pada hari Rabu tanggal 22 Januari 86 di Graha Bakti Budaya TIM.

Tentu saja, sang penyair kelabakan mendengar keputusan yang mendadak datangnya lewat telpon tersebut. Padahal sebelumnya sang penyair sudah siap-siap mengasah lidahnya untuk membaca puisi-puisi, yang memang Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PERSINGGUNGAN POLITIK DAN PROSTITUSI DALAM PUISI

14/06/2016 at 16:47 (berita)

Muhajir
email : karyamuhajir@gmail.com
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas PGRI Semarang

Abstract

The purpose of this research is to find the intersection of politics and prostitution in poems entitled “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” by W.S. Rendra and “Pidato Akhir Tahun Seorang Germo” by F. Rahardi. How is the public perception of prostitutes? How the authors position of prostitutes in his poetry? This research using structural theory and descriptive analytical research method. After analyzing two poems, the researcher concluded that (1) Both Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Sastra: Bersastra Gembira Ria Badak Merdeka

19/05/2016 at 14:11 (berita)

Minggu 24 April 2016 00:44 WIB

Pembuka

Dengan riang gembira saya mengarang tentang buku Negeri Badak karangan F Rahardi (Visimedia, Jakarta, 2007) karena ikut bersukacita dengan kegembiraan bangsa badak dalam Negeri Badak. Mereka bebas merdeka sesuka hati, tenang, terhormat.

Riang gembira ini tidak melucu. Riang gembira adalah modal terpercaya untuk memroses karyacipta yang absolut bersifat pribadi. Kegembiraan adalah titik tolak agar akalbudi (nalar berperasaan dan perasaan bernalar) berdasar tahap superego Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Penyimpangan Larik Puisi Sajak Transmigran II Karya F. Rahardi

02/05/2016 at 14:33 (berita)

24 April 2015

Syamsul Rijal

Apa yang terjadi dalam masyarakat sering kali dijawab oleh karya sastra baik lewat cerpen, novel, maupun puisi (Erfanda, 2008:131). Pendapat pun bermunculan dari beberapa pakar sastra. Ada yang mengatakan bahwa sastra adalah cerminan dari masyarakat. Apa yang dikemukakan dalam sebuah karya sastra Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

‘DOKTORANDUS TIKUS 1’, TITEL UNTUK PARA KORUPTOR

25/04/2016 at 13:45 (berita)

Oleh Moh. Qowiyuddin Shofi[1]

“Sebuah puisi di dalamnya merupakan
rekaman dan interprestasi pengalaman manusia yang penting
digubah menjadi wujud yang paling berkesan.”
( Pradopo, 1987:7[2] )

Pernyataan di atas nampaknya tidak jauh beda dengan pernyataan yang selalu dilontarkan oleh beberapa orang, seperti beberapa dosen sastra saya yang saya tanyai mengenai bagaimana cara kita memahami sebuah karya sastra. ‘Karya sastra lahir tanpa kekosongan budaya’, itulah pernyataan yang Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Setelah WTS dan Koruptor, F. Rahardi Luncurkan Ine Pare

18/04/2016 at 11:42 (berita)

Rabu, 10 Juni 2015

TEMPO.CO, Jakarta – Penulis sastra, kolom, dan wartawan, F. Rahardi, menerbitkan kembali novel keempatnya yang berjudul Ine Pare (Ibu Padi). Novel ini diluncurkan di Gedung Obor, bertepatan dengan ulang tahun sang penulis hari ini, 10 Juni 2015.

Novel ini merupakan sebuah novel berlatar belakang tradisi budaya dan sejarah Nusa Tenggara Timur, khususnya kehidupan masyarakat Lio dan Flores. Ine Pare menceritakan hubungan Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Gugatan di Atas Sebuah Kisah

12/04/2016 at 12:36 (berita)

Sinar Harapan : Sabtu, 28 Februari 2009

Oleh Mega Christina

Judul Buku : Lembata: Sebuah Novel
Penulis : F Rahardi
Penerbit : Lamalera
Cetakan : Pertama, Juli 2008
Tebal : 256 halaman.

Nama Lembata terkenal dengan budaya berburu ikan paus di Lamalera, desa pedalaman di pesisir selatan pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tradisi menangkap ikap paus menggunakan perahu dan alat tangkap Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Menggugat Roti dan Anggur

04/04/2016 at 11:21 (berita)

Kompas Minggu, 19 Juli 2009

Oleh : BUDI KLEDEN

”Sesuai hakikatnya, seorang sastrawan dewasa ini tidak dapat memberi dirinya untuk melayani kepentingan mereka yang membuat sejarah; sebaliknya dia harus memenuhi kepentingan mereka yang menjadi korban sejarah. Jika tidak, dia mengkhianati diri dan keseniannya.”

Demikian penggalan bagian dari pidato Albert Camus saat menerima Hadiah Nobel Sastra di Oslo, 10 Desember 1957. Bagi Camus, seni bukan sebuah kesenangan yang dinikmati sendiri, melainkan ”satu sarana untuk menggugah sebanyak mungkin orang dengan cara Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Aroma Sentralistik dalam Novel Ine Pare

21/09/2015 at 10:27 (berita)

by Steve Elu 

Judul: Ine Pare (Novel Ibu Padi)
Penulis: F. Rahardi
Penerbit: Nusa Indah, 2015
Tebal: 264 halaman

KUPASBUKU.com – Bagi para sastrawan yang karir sastranya menanjak di sekitar 1980-an hingga akhir 1990-an, pasti mengenal F. Rahardi sebagai seorang penulis puisi atau penyair. Dua bukunya yang terbit di masa Orde Baru yakni “Soempah WTS” (berisi 40 Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Resensi Buku: Cerpen-Cerpen Perkenalan Dengan ‘Sang Penindas’

10/08/2015 at 17:48 (berita)

Kamis, 9 April 2015 | 3:56 WIB 0 Komentar | 1294 Views

Sekiranya tanggal 11 Maret 2015 kemarin, jika tidak diruntuhkan oleh gerakan rakyat, rezim Orde Baru itu telah memasuki bentangan waktunya yang ke setengah abad. Namun angka ini tidaklah persis karena kesimpangsiuran penghitungannya. Ada yang mulai menghitungnya dari peristiwa Gestok, ada yang sejak digaungkannya Supersemar, dan ada juga yang memulainya dari Sidang MPRS. Tapi yang paling jelas bahwa tahun 1965 adalah tahun kegelapan dan tolak kemunduran bagi bangsa Indonesia yang sempat merdeka ini.

Tetapi keangkeran rezim Orde Baru dengan tokoh utamanya Soeharto, sang “The Smiling General”, sejak 50 tahun silam itu di masa sekarang ini malah kian memudar, bahkan tinggal tersisa dalam jelmaan cerita hampa dari sebagian rakyat yang mulai menua saja. Sementara generasi muda Indonesia belakangan kian Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »