Asbak


Asbak

             Ada dua buah asbak. Yang satu terbuat dari gelas, harganya murah, dan kutaruh di meja dalam. Asbak itu kubeli sendiri dua tahun yang lalu pada waktu aku masih bujangan. Asbak yang satu lagi ada di meja depan. Asbak itu jelas mahal. Entah terbuat dari bahan apa aku sendiri kurang begitu paham. Asbak itu punya riwayat. Bagian sampingnya digrafir indah. Tulisan grafir itu berbunyi begini : Ikut bahagia atas pernikahan Anda, jangan lupa pada yang ditinggalkan. Asbak itu hadiah pernikahanku dari Lia, bekas pacarku.

            Meski kata-kata yang digrafir dalam asbak itu terhitung kelewatan untuk ukuran ucapan selamat sebuah perkawinan, tapi istriku ternyata biasa-biasa saja sikapnya. Terbukti, dia sendirilah yang justru membawa asbak itu kemari dan menaruhnya di ruang depan. Padahal dulu, waktu kami membongkar tumpukan kado, ibu mertuaku bilang begini :

            “Asbak itu tak usah dibawa. Biar saja di sini untuk asbak bapakmu.Bapakmu tidak punya asbak”.

            Aku memahami maksud ibu mertua itu. Supaya nantinya tak bikin ribut saja. Tapi apa kata istriku?

            “Dibawa saja, kalau ditinggal di sini, berarti kau tak menghargai pemberian orang. Soalnya yang diberi kan jelas kamu sendiri. Kecuali kalau kado itu berupa kuali atau wajan, nah, baru boleh ditinggal”.

            Aku menurut dan mertuaku juga kalah.

            Istriku memang terhitung orang yang tak cemburuan dan tak begitu ambil peduli dengan masa silamku. Dia baik-baik saja dengan bekas-bekas pacarku. Aku senang sekali dengan sikapnya ini. Biasanya wanita suka emosional. Hal-hal yang sebenarnya hanya kecil saja selalu dibesar-besarkan sementara masalah yang sebenarnya lumayan mendasar dianggapnya sepele. Istri saya justru sebaliknya. Dia baru akan ribut dan cerewet kalau yang dihadapinya memang betul-betul masalah yang penting dan sangat mendasar. Tapi yang mengherankan, justru setelah kami sekian tahun kawin, perangai yang terpuji itu luntur.

            Asbak gelas yang di meja dalam itu tiba-tiba pecah. Dia sendiri yang memecahkannya waktu mau mengganti taplak yang kotor karena kena kopi. Sudah pecah ya sudah, begitu pikirku. Tapi dia malah ribut sendiri. Yang dia omeli pembantu. Katanya ada taplak kotor tak lekas diganti. Apa perlu tunggu komando? Dan macam-macam lagi. Istriku lalu memindahkan asbak yang di meja depan ke meja belakang. Toh jarang ada tamu. Aku sendiri juga tak pernah duduk di ruang depan. Aku selalu merokok di ruang tengah atau di luar sekalian. Maksudku di bangku batu di halaman.

            Dari semanjak belum kawin dulu, aku selalu punya kebiasan membawa pulang pekerjaan kantor. Bukan dengan tujuan macam-macam. Maksudku hanyalah sekedar bisa membuat suasana di rumah menjadi sibuk. Maklum, aku memang kurang senang keluyuran ke luar rumah dan teman yang suka bertandang ke rumah juga jarang. Dulu waktu masih sendirian, aku selalu merasa kesepian kalau tak membawa pulang pekerjaan dari kantor. Kadang pekerjaan itu memang hanya sekedar kulihat-lihat saja sebentar sebelum kantuk datang dan tertidur pulas. Akhirnya kebiasaan membawa pulang pekerjaan kantor itu berlanjut terus sampai sekarang. Istriku selama ini juga tak pernah ambil pusing dengan aneka macam pekerjaan yang kubawa pulang itu. Tapi pada suatu hari tiba-tiba saja dia bertanya.

            “Apakah pekerjaan itu ada duitnya? maksudnya ada uang ekstranya? Ada uang lemburnya?”

Aku kaget setengah mati mendapat pertanyaan begini. Soalnya dari waktu masih pacaran dulu aku tahu bahwa istriku tidaklah mata duitan.

            “Duit bagaimana?” aku balik bertanya.

            “Duit, maksudnya ya, duit. Kok duit bagaimana!” gertaknya dengan berang. Aku makin kaget dan terheran-heran. Apanya yang salah? Pikirku dalam hati.

            Istriku tidak menjawab tapi malah menangis. Aku makin heran. Karena aku kurang begitu pengalaman menghadapi wanita menangis, maka tangis istriku ini kudiamkan saja. Aku lalu kembali duduk di ruang dalam dan mengutak-atik pekerjaan kantor. Aku mengira istriku akan masuk kamar, menutup mukanya dengan bantal, terisak-isak sebentar lalu diam. Biasanya, kata teman-teman di kantor yang sudah pada kenyang makan asam garamnya kehidupan itu, kalau sudah begini wanita itu akan diam dengan sendirinya lalu tak ada masalah lagi. Lebih-lebih kalau aku segera menyusulnya ke kamar lalu menemaninya. Masalah itu akan segera punah. Tapi yang terjadi sekarang ini ternyata lain. Istriku menghampiriku. Dia makin terisak.

            “Jawab! Ada duitnya atau tidak kau kerja begini ini?” hardiknya dengan garang. Aku makin kebingungan.

            “Duit apa? Dari dulu aku lembur-lembur begini ini kan tidak karena mengharapkan duit”.

            “Jadi betul dugaanku!” jeritnya di sela isak tangis itu.

            “Jadi tepat sekali dugaanku itu”.  

            “Tepat bagaimana?”

            “Kau pura-pura lembur kan agar bisa duduk di meja ini dan memandangi asbak itu kan?”

            “Kenapa dengan asbak ini?” tanyaku heran.

            Istriku ternyata tak bersedia memberi keterangan lebih lanjut. Dan lari ke kamar. Seperti tadi, kukira dia pasti terus merebahkan dirinya sambil menutup muka dengan bantal. Kukejar dia ke kamar. Ternyata dia ganti pakaian dan mengemasi barang-barangnya. Aku makin senewen.

            “Kau mau kemana?”

            “Pergi!”

            “Kau sudah sinting atau?”

            “Kau yang mulai mau main gila!”

            “Main gila bagaimana? Jelaskan dulu! Aku kan belum tahu duduk masalahnya kan?”

            “Pokoknya aku mau pergi malam ini”.

            “Silakan!” kataku dengan mantap.

            Ternyata aku memang. Dia makin kendor dan akhirnya mau cerita. Dia nampaknya keberatan kalau aku berlama-lama memandangi asbak yang digrafir dengan tulisan bagus itu. Katanya, sejak aku berlama-lama memandangi asbak kenangan dari Lia itu, perhatianku padanya makin merosot. Katanya aku kurang mesra sekarang. Dalam hati aku geli tapi rasa mendongkolku juga makin bercokol di perut sana.

            Kan dia sendiri yang dulu memaksa membawa serta asbak itu sementara ibunya sudah mati-matian melarangnya? Dan lagi, bukankah juga dia sendiri yang telah memecahkan asbakku lalu menaruh asbak hadiah dari Lia itu di meja dalam yang biasa kupakai kerja? Tapi yah, barangkali inilah yang namanya misteri seorang wanita. Kata teman-teman di kantor itu, wanita konon memang suka ada misterinya. Asbak yang bikin gara-gara itu segera kulempar ke tempat sampah. Sejak saat itu aku tak punya asbak lagi. Maksudku, nanti kan bisa beli lagi. Asbak kan tidak mahal dan bisa beli di sembarang tempat.

            Tapi celakanya sampai berhari-hari kemudian aku selalu saja lupa membeli asbak baru. Akibatnya sudahlah jelas. Abu dan puntung berhamburan di mana-mana. Bayangkan. Sehari aku biasa menghabiskan sekitar empat atau lima bungkus keretek. Aku sama sekali tak menduga kalau akibat bertebarannya abu serta puntung ini di mana-mana lalu akan bisa muncul masalah lain yang justru lebih gawat.

            “Mulai detik ini kau tidak boleh merokok lagi!”

Gertak istriku dengan setengah menjerit. Aku setengah tak percaya mendengar perintahnya ini.

            “Apa? Tak boleh merokok?”

            “Abu dan puntung berhamburan ke mana-mana bikin kotor bikin jijik!”

            “Kan yang nyapu bukan kau? Kan ada pembantu?”

            “Pokoknya tidak boleh merokok. Aku mual kalau ada bau abu dan puntung. Aku bisa muntah!”

            “Yah, kalau begitu sekarang juga kubeli asbak. Atau kan bisa juga pakai tatakan gelas”.

            “Bukan itu soalnya! Pokoknya tidak merokok. Tidak merokok!”

            “Tidak merokok? Begini, ya. Sehari aku bisa habis lima bungkus keretek! Bagaimana aku mesti berhenti?”

            “Tidak tahu. Pokoknya berhenti”.

            “Lho sebenarnya ada masalah apa?”

            “Masalah apa! Rokok kan mengingatkan kau pada asbak yang sudah kau simpan dengan aman itu. Merokok akan mengingatkan kau pada Lia!”

            “Yang teringat justru kau! Asbak itu sudah kau buang”.

            “Buang apa? Itu di meja dapur itu apa?”

Aduh ternyata asbak itu sudah ada di meja dapur. Mungkin pembantu waktu membuang sampah melihat asbak itu lalu memungutnya kembali. Aku makin kesal.

            “Lalu maumu bagaimana?”

            “Berhenti! Tidak tahu berhenti? Duit rokokmu itu kalau kau tabaung sudah kumpul berapa, ayo coba!”

            “Tidak!”

            “Berhenti!”

            Istri saya meraung. Kembali dia masuk kamar dan pintu dikunci dari dalam. Karena sore itu aku ada janji dengan kepala kantor untuk bertemu di sebuah hotel, aku buru-buru pergi. Kata Pak Kepala, sore itu akan ada tamu penting dari daerah dan menginap di hotel itu. Aku sebagai salah seorang stafnya perlu ikut datang dan berkenalan agar urusan bisnis selanjutnya bisa berjalan dengan agak lebih lancar.

            Malamnya tatkala pulang betapa kagetku. Pembantu yang membukakan pintu dengan tergopoh-gopoh memberitahu bahwa istriku pergi.

            “Pergi?”

            “Iya, Pak. Tadi membawa kopor besar”.

            “Tidak bilang apa-apa?”

            “Tadi Ibu bilang katanya kalau Bapak datang nanti tidak usah mencarinya. Kemana ya, Pak, Ibu pergi?”

            “Mungkin ke kampung. Mungkin pulang dia. Jam berapa tadi berangkat?”

            “Ya itu, Bapak tadi pergi, Ibu terus berkemas lalu pergi. Malah rambutnya lupa tidak disisir”.

            Aku makin tak mengerti. Dengan badan lemas karena kecapaian aku melihat jam. Sudah pukul setengah sepuluh. Kereta terakhir berangkat pukul sembilan tadi. Lagi pula kalau aku menyusul serta mencarinya sekarang pekerjaan kantor akan kacau. Aku belum minta ijin pada Pak Kepala. Meski sebenarnya tak apa-apa, tapi aku merasa kasihan pada teman-teman yang nantinya akan terpaksa membereskan urusan yang mestinya harus kuselesaikan. Kuputuskan aku akan mencari serta menyusul istriku besok setelah mendapatkan ijin dari Pak Kepala serta memberikan petunjuk pada teman-teman. Tapi malam itu aku sulit tidur. Pikiranku macam-macam. Ya kalau istriku ke kampung, kalau dia pergi ke tempat lain? Kalau dia menyusul eks pacarnya yang sekarang menjadi pengusaha besar dan masih tetap bujangan itu? Tapi pikiran itu segera kuhabisi. Tapi kalau di jalan ada apa-apa. Dirampok misalnya? Bukankah sekarang ini sedang musimnya todong-menodong merajalela? Untuk membunuh waktu aku lalu duduk di ruang tengah membaca-baca majalah. Aku kaget. Asbak bergrafir indah itu sudah ada di sana lagi. Aku panggil pembantu.

            “Bi, ini yang naruh asbak ini siapa?”

            “Lho itu kan yang kemarin dibuang Ibu di tempat sampah itu kan? Saya kok, yang mengambilnya kemarin”.

            “Itu yang membuang itu aku, Bi. Kok diambil. Ya asbak ini yang dari kemarin bikin gara-gara. Tapi yang naruh di sini siapa?”

            “Ibu. Tadi waktu mau pergi dia kasih uang ke belakang sambil ngambil asbak ini lalu ditaruh disitu”.

            Kurangajar. Ada-ada saja perangai wanita itu. Apakah istri-istri orang lain itu juga suka punya pikiran aneh-aneh seperti istriku? Asbak yang tak tahu apa-apa dia jadikan bahan pergunjingan. Yang sangat kuherankan adalah, kenapa dulu waktu masih pacaran dia tak pernah ribut soal Lia? Juga kenapa ribut-ribut asbak itu terjadi justru setelah sekian tahun kami kawin? Kenapa tidak dulu waktu kami masih pengantin baru?

            Sore itu, setelah segala pekerjaan kantor kubereskan aku melaju ke kampung. Aku langsung datang ke rumah mertua. Dalam hati aku yakin, istriku pasti pulang ke rumah orang tuanya. Turun dari stasiun aku beli beberapa makanan kecil untuk oleh-oleh. Di sana sekarang kan banyak anak kecil. Sudah beberapa bulan ini iparku, kakak istriku ada di rumah karena suaminya tugas ke luar negeri.

            Betapa kaget mertuaku begitu melihat aku datang. Mereka bingung. Soalnya istriku tak ada di sana. Pagi itu juga aku berangkat lagi. Sekarang aku ke rumah iparku yang lain, kakak istriku yang tertua. Di sana ternyata juga tak ada. Aku makin kesal lagi tatkala keluarga iparku itu usul agar aku pergi ke dukun saja. Ke dukun? Tapi agar tak begitu membuat mereka tersinggung, anjuran itu kuterima dengan antusias. Aku lalu pamitan dengan dalih akan segera mencari seorang dukun yang terkenal.

            Mereka memberiku beberapa alamat dan alamat itu segera kucatat lalu kekantungi. Sesampai di jalan raya alamat itu segera kulempar ke aspal lalu kuinjak-injak. Gila, ke dukun itu mau apa? Aku lalu mencari kendaraan yang menuju ke rumah orang tuaku. Aku hanya ingin memberitahu bahwa istriku pergi serta ingin minta nasehat pada mereka bagaimana baiknya mengatasi masalah ini. Tapi apa yang terjadi? Istriku nampak di halaman lagi memotong-motong tanaman bunga dengan gunting. Dia diam saja dan seperti tak melihat aku datang. Aku juga terus saja masuk ke dalam rumah. Tas kuletakkan di kursi. Aku lalu melonggarkan baju. Istriku kemudian juga masuk. Dia tetap tak melihatku dan langsung masuk ke ruang dalam dan ke dapur. Tak lama kemudian ibuku keluar. Dia langsung menuding-nuding mukaku dengan telunjuk.

            “Kamu ini! Sudah mau jadi bapak kok masih juga tak tahu momong istri! Kamu itu mestinya kan tahu diri!!”

            “Jadi?”

            “Istrimu itu kan sudah ada isinya. Sudah dua bulan ini. Kok malah disia-siakan begitu”.

            Aku tak menjawab. Kutinggalkan ibu di depan. Kukejar istriku ke belakang. Dia lagi membetulkan api kompor. Kupeluk dia dari belakang dengan erat. Sekarang aku yang ganti menuding-nuding mukanya dengan telunjuk. Kau itu, sudah menjadi ibu masih juga banyak tingkah, masih juga bikin bingung orang banyak. Istriku diam saja tapi sekarang dia nampak tersenyum malu-malu.***

Sumber : Buku Kentrung Itelile, Penerbit Puspa Swara Tahun 1993

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: