Kentrung Itelile


Apabila musim hujan-hujanan selesai, lalu pada pertama sekali bulan bersinar-sinar dengan sangat bagusnya, mulailah aku bercinta-cintaan dengan dik Srikandi. Cintaku pada dia sudah mendalam sekali, dan begitu jugalah cinta dia kepadaku. Dik Srikandi, kalaulah kamu ingin tahu dia adalah anak pamanku sendiri, cantiknya bukan main, itu lho seperti gambar-gambar pada reklame sabun dan odol. Dik Srikandi menjadi mahasiswi pada suatu universitas swasta yang kesohor karena bayaran kuliahnya banyak sekali. Dia mengambil jurusan yang dirasakannya paling cocok dengan bakatnya yakni jurusan Kentrung Itelile. Jurusan ini baru ada di universitasnya dik Srikandi tadi, sebab universitas-universitas yang lain belum mampu membuat alat-alat untuk praktek Kentrung Itelile. O ya kalau kamu berminat juga untuk sekedar tahu tentang Kentrung Itrelile, kupersilakan dengan sangat datang ke universitasnya dik Srikandi. Tentu kamu akan mendapatkan penjelasan-penjelasan yang layak. Sebab terus terang saja meskipun dik Srikandi adalah seorang gadis murni yang paling sering bercinta-cintaan denganku dan kebetulan dia kuliahnya jurusan Kentrung Itelile, tapi belum pernah sekalipun aku diberi tahu tentang Kentrung Itelile. Padahal aku tak jemu-jemunya bertanya tentang itu.

“Dik Srikandi, apakah itu Kentrung Itelile mbok saya dikasih tahu to!’ Tapi dik Srikandi hanya tersenyum saja.

“Nantilah kalau aku sudah menjadi sarjana Kentrung Itelila kamu ganti kukuliahi.” Dan kupikir, daripada susah-susah memperbincangkan Kentrung Itelile, sesuai dengan umur-umuran kami, lebih baiklah kalau bercinta-cintaan saja, lalu kuajaklah dik Srikandi duduk di bawah bulan, dia kupeluk saja terus-terusan, cinta kami sudah begitu keras.

“Dik Srikandi aku cinta sekali pada kamu.”

“Tidak usah dikatakan begitu. Kok seperti sedang main filem saja, mbok yang lain.”

Lalu dia kuciumi mulutnya berulangkali, dan dia lelah sekali lalu termenung-menung. Lalu tidak lama kemudian dimasukkannyalah tangannya ke dalam kutangnya dan digaruk-garuknyalah kulitnya. O, jadi tempat itu juga sering gatal, kupikir nanti kalau bulan itu sudah sampai di atas pohon waru, kami harus segera berhenti bercinta-cintaan dan tidur. Dik Srikandi pulang ke rumahnya dan aku pulang ke rumahku. Rumahku dan rumahnya berdekatan. Tapi sekarang bulan itu belum sampai di sana maka kamipun teruslah bercinta-cintaan.

“Mas Rahardi apakah kamu pernah bercita-cita menjadi garong?”
“Aku belum pernah melihat garong dik.”
“Garong itu sama dengan kecu alias bandit alias bajingan.”
“O, jadi garong itu jahat sekali ya? Sama dengan Pemberontak?”
“Tidak, tidak sama!”
“Sama dengan Gerpol?”
“Lain, kamu kok bodoh sekali to.”
“Aku kan bukan mahasiswa, tapi garong itu jahat sekali to?”
“Ya, jahat sekali, sama dengan rampok.”

“O, rampok, rampokan! Ya, kalau rampokan aku tahu. Tapi aku belum pernah bercita-cita menjadi garong, tapi aku ingin sekali kaya.”

“Mas Rahardi kamu harus banyak-banyak membaca.”
“Aku memang tak pernah tidak membaca. Bacaanku banyak.”
“Kau harus membaca komik mas, para mahasiswa pun bacaannya komik sekarang.”
“Aku lebih suka membaca ramalan. Apakah dik Srikandi lapar?”
“Tidak, tadi aku sudah makan banyak-banyak.”

Dan kamipun kembali bercinta-cintaan lagi. Dia merapatkan dadanya ke dadaku, aku merapatkan tanganku ke pahanya. Kami bersama-sama berdebar-debar. Dan setelah bulan itu berada di atas pohon waru itu, kami sudah selesai bercinta-cintaan, dan kamipun tidurlah.

Beberapa tahun sesudah itu dik Srikandi pun keluarlah dari universitasnya, dan akupun keluarlah dari rumahnya dengan gembira sekali, aku mau segera dikawinkan dengan dik Srikandi. Beginilah ceritanya.

Pada suatu hari seperti biasanya aku datang ke rumahnya, dik Srikandi sedang tidak ada, ayah dan ibunyalah yang menemuiku. Beliau berdua berpakaian resmi. Ayah dik Srikandi berjas dan berdasi, sedang ibunya berpakaian sebagaimana adatnya ibu-ibu berpakaian. Kupikir mula-mula beliau berdua ini pastilah mau resepsi atau sebangsanya.

“Bibi dan paman mau resepsi barangkali?” Meskipun aku sudah mau menjadi suami dik Srikandi tapi aku tetap memanggil beliau berdua ini dengan paman dan bibi.

“Oh tidak, kami sengaja bersopan-sopan dengan jas dan dasi sekedar untuk mengajakmu beromong-omong.”

“Tapi aku sendiri tidak berjas dan tidak berdasi paman.”
“Tidak apa-apa, begini, kau tahu, sekarang Srikandi sudah menjadi sarjana.”
“Ya paman, itu aku tahu,” aku memperbaiki letak dudukku, wah pasti penting ini.
“Lalu bagaimana hubungan kalian berdua?”
“Cinta kami benar-benar tulen, asli begitulah paman.”
“Ya . . . paman dan bibimu pun percaya penuh bahwa cinta kalian tidak palsu.”

“Terimakasih, terimakasih paman, sukurlah bila paman dan bibi masih ada kepercayaan pada anak-anak muda. Jadi paman dan bibi tidak curiga?”

“Sama sekali tidak. Dan begini, sebab kalian sudah saling mencinta, maka paman dan bibimu bermaksud segera mengawinkanmu. Beberapa hari yang lalu ayah dan ibumu sudah kemari untuk memperembukkan hal ini.”

“Paman, dik Srikandi seorang sarjana sedang aku ini hanyalah tamatan sekolah dasar, apakah rumah tangga kami tidak timpang nantinya?”

“Oh tidak, kau akan menjadi seorang suami yang baik percayalah!”

Upacara perkawinan kami berjalan dengan biasa, aku maupun dik Srikandi hanya mengundang kawan-kawan dekat saja. Kami tidak datang ke gereja atau kantor catatan sipil tapi pak Pendetalah yang datang ke rumah kami. Dan pada malam harinya aku dapat dengan baik meniduri dik Srikandi. Juga untuk malam-malam berikutnya akupun dapat menjadi suaminya dengan baik. Aku dapat membuatkan rumah, memberinya makanan, dan membelikan pakaian dan benda-benda lainnya. Dan yang lebih penting lagi aku dapat menghamili dik Srikandi. Aku ingin anakku laki-laki dan akan kuberi nama Seno. Lho Srikandi kok dapat beranak Seno, begitulah teman-temanku bilang. Aku ingin anak laki-laki yang gagah dan dapat berkelahi. Anak laki-laki harus dapat berkelahi dengan anak laki-laki begitulah kupikir!”

“Mas hamilku sudah berumur lima bulan.”
“O . . . ya, ingat aku. Dulu kamu kan akan mengajari aku Kentrung Itelile. Ayo sekarang aku diajari!”

“Mas, aku hanya ingin yang segar-segar saja dan seringkali mual perutku.”

“Seorang sarjana Kentrung Itelile harus tangkas menyebarluaskan ilmunya, mbok saya diajari to. Kan saya suamimu.”

“Salahmu! Mengapa dulu kamu tidak kuliah Kentrung Itelile.”
“Dik Srikandi yang cantik, aku hanya tamatan sekolah dasar kok disuruh kuliah.”

“Aku ingin anakku diberi nama Bambang.”

“Aku akan menamakannya Seno, dan aku ingin tahu Kentrung Itelile.”

“Kita harus membeli Tivi mas, anak kita akan kluyuran tiap malam kalau kita belum punya Tivi.”

“Dan garasi! Meskipun tidak ada mobil kita harus ada garasi, teman-teman akan mengira kita punya mobil.”

Aku sedang menjajar-jajarkan batu di muka rumah. Batu-batu itu kuletakkan melingkar bersap-sap di bawah pohon jambu. Musim kemarau yang panjang. Di bawah pohon jambu itu kuberi sebuah bangku. Alangkah nyaman duduk-duduk di bawah pohon jambu itu manakala hari sedang panas-panasnya. Aku belum selesai meletak-letakkan batu itu, ketika tiba-tiba Seno datang bergandengan mesra sekali dengan seorang gadis cantik. Tanpa sedikitpun melirik atau menoleh pada sang ayah yang sedang terbungkuk-bungkuk megatur batu-batu itu, iapun langsung duduk pada bangku itu, dan gadis itupun dengan sikap yang sama juga duduk di sana. Kedua-duanya baik Seno anakku maupun gadis tadi sama-sama membawa sebuah buku tebal berwarna merah. Kupikir pasti Injil ini. Biarlah mereka bersikap tidak sopan terhadap orang tua, tidak apa-apa asal mereka bersikap sopan terhadap Tuhan. Maka diam-diam akupun masuklah ke dalam rumah, lalu tidur. Dan manakala kemudian aku bangun pada kira-kira jam setengah lima sore lalu kejengukkan kepala ini keluar jendela, kulihat si Seno masih saja bercinta-cintaan dengan gadisnya di bawah pohon jambu tadi. Adapun buku-buku yang mereka bawa tadi kini mereka letakkan di atas bangku, hingga jelaslah sudah tulisan besar-besar yang tertera pada sampulnya. Ternyata bukan buku Injil. Menyesal juga tadi buru-buru menebak, sebab buku yang mereka bawa itu ternyata adalah buku Kentrung Itelile. Kubuka jendela kamar itu pelan-pelan, agar angin bisa masuk membawa udara segar pengusir bau tidak sedap yang sering tersiar di seluruh kamar. Maaf, anakku yang terkecil biasa ngompol di kamar ini. Kupikir sore-sore begini lebih baik minum susu, maka akupun segera ke belakang mencari susu. Dan benar, ibunya anak-anak sudah menyiapkan susu itu di atas meja makan. Akupun segera minum beberapa tegukan dan keluar. Tepat di muka pintu hampir saja aku bertabrakan dengan Seno. Cepat-cepat dia mundur dan melemparkan bukunya di atas rak.

“Siapa gadis tadi?”
“Sudah pulang, anu kok, teman kuliah.”
“Sudah tahu kalau teman! Siapa namanya,” aku tambah mendelik.
“Jakie.”
“Siapa?”
“Jakie, Jakielin.”
“Hem . . . .”
“Hanya teman saja kok.”
“Sudah tahu kalau teman, dan aku juga tidak bilang kalau anak tadi gundikmu atau piaraanmu.”

Aku lebih mendelik lagi dan suaraku tambah keras.
“Anak mana itu tadi?”
“Eng, anu rumahnya di jalan Pete.”
“Hem, ayahnya pegawai apa?”
“Eng . . . .”
“Pegawai apa!”
“Eng, dik Jakielin masih kuliah kok dia mengambil jurusan Kentrung Itelile.”

Aku terduduk di kursi itu, mataku berkunang-kunang. Kulihat samar-samar Seno berdiri, melepas bajunya, dan melemparkannya ke dalam kamar. Mataku makin berkunang-kunang dan aku menjadi lebih ingin tahu lagi tentang Kentrung Itelile. ***

Sumber: Buku Kentrung Itelile, Penerbit Puspa Swara Tahun 1993

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: