Negeri RI


Negeri RI

Ini pisaumu, ini bajumu, ini potretmu, ini suratmu, ini gelasmu, ini gergajimu, ini mejamu dan ini pengawalmu. Berangkatlah! Di sana kau akan sehat dan senantiasa sehat. Mengenai nasi atau es kau tak usah pusing. Kau tak usah putus asa. Pokoknya sebutlah nama Tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang. Ingatlah dia juga maha pemurah hingga apa pun yang engkau beli akan selalu dia berikan begitu saja secara cuma-cuma. Ingat dan camkan ini baik-baik. Pakai otakmu dan tambal celanamu yang cabik-cabik itu. Ini hari Selasa dan kamu harus sudah mulai berdoa semenjak kau dengar ayam jantan berebutan betina.

Ingat? Kalau memang kau sudah tak ingat apa-apa lagi mintalah segera bantuan bidan atau dukun atau dokter atau tetangganya yang tidak begitu galak untuk segera mengambil air atau obat atau minyak angin agar segala macam pusing dan puyeng itu bisa sirna begitu saja lalu kau normal kembali dan tersenyum lalu bisa kuajak melanjutkan bermusyawarah. Musyawarah itu penting.

Tapi minta sesuatu dari Tuhan itu juga perlu. Karena negeri kita ini berasaskan demokrasi dan belum dikebiri maka pilihlah : Setelah puyengmu habis kau mau kembali bermusyawarah atau tetap marah-marah. Atau barangkali tetap mau minta suatu keajaibaj dari Tuhan? Silakan pilih!

Aku memilih sembahyang dan minta sesuatu dari Tuhan. Karena Dia yang satu ini Maha Murah maka akupun diberi. Aku minta agar hari mendung dan hari itu pun mendung. Aku minta duit banyak. Dan aku pun mendapatkannya dalam bentuk dompet tetanggaku yang jatuh di halaman. Aku minta perempuan cantik yang tidak rewel dan lembut hatinya dan aku pun mendapatkannya ketika tetanggaku itu tugas ke Timor Timur dan berbulan-bulan istrinya kesepian. Aku minta yang lain dan Tuhan pun memberiku seorang bayi manis yang dikandung oleh istri tetanggaku itu. Aku tetap berdoa dengan khusyuk dan minta lagi dan Tuhan pun memberiku puyeng yang lebih hebat lagi sebab untuk menggugurkan kandungan ternyata biauanya tidak ringan. Tapi lantaran aku ini ditakdirkan hidup di negeri RI yang nantinya bakalan adil dan makmur maka putyeng yang ini pun bisa segera diatur dan disembuhkan. Aku sehat lagi dan siap untuk berangkat.

“Jadi kau belum berangkat juga?” Tanya suara.
“Belum. Kenapa?”
Lalu selaa ini apa yang kau kerjain?” tanya suara lagi.
“Banyak”.
“Banyak itu berapa? Sepulih, seratus, seribu, sejuta?”
“Cuma satu, tapi repotnya bukan main”.
“Tadi kau bilang banyak?”
“Itu tadi keliru. Salah tulis”.
“Jangan sembrono. Kita ini hidup di negeri RI tahu?”
“Tahu”.
“Jangan cuma tah-tahu saja. Coba sebutkan berasaskan apa saja negeri RI ini?”
Berasaskan sori aku lupa kok!”
“Bajingan kamu ini. Asas negeri bisa ndak mengerti. Pergi!”

Aku loyo dan puyengku toh belum juga mau minggat dari kepalaku. Tapi karena aku ini warga negeri RI yang bertuhan dan Tuhan itu maha pengasih dan penyayang maka kepadaNya jugalah aku berlari. Hanya yang patut disayangkan, lariku kelewat kencang hingga pintu gereja kutumbuk dan aku pun pingsan. Pagi-pagi sekali polisi datang dan menyeretku ke kantornya yang dijaga dengan ketat. Aku disiram air agar siuman. Puyengku tambah hebat dan aku tak tahu lagi apa yang mesti kuperbuat. Polisi itu melotot dan menanyakan apakah betul aku ini maling yang akan mendongkel pintu gereja lalu akan merampas patung-patung pualam yang mahal serta gorden-gorden yang bagus tapi karena kutuk Tuhan maka aku telah pingsan sebelum niat itu dijalankan? Aku diam dan mencoba berdoa dalam hati tapi nampaknya doaku kurang begitu bisa dimengerti oleh Tuhan dan aku putus asa lalu diam saja.
“Kau bisu ya?” Tanya suara tapi kali ini jelas suara polisi”.
“Ya”.
 
Kau ini sinting ya? Aku ini polisi” Kali ini suara itu diiringi bunyi sepatu yang melayang menimpa pelipisku dan aku pun kembali pingsan. Dalam pingsanku aku tak bisa berbuat banyak. Aku biarkan saja polisi menyeret tubuhku masuk ke dalam sel. Tak apa, bukanlah sel ini selnya negeri RI? Sayang aku pingsan hingga usaha untuk emngingat-ingat kembali asas negeri RI susah untuk kulaksanakan. Tapi aku tetap tabah dalam pingsanku sampai akhirnya aku siuman dan malam dalam sel ternyata sagat lain dengabn malam dalam pelukan perempuan cantik yang lembut yang tidak begitu rewel yang mau saja kita anggap sebagai biji kita sendiri. Akhirnya Tuhan pun tersingkir dari benakku tapi tetap melekat dengan kokohnya di benak orang lain. Aku batuk-batuk dan polisi piket yang mendengar batukku segera datang dan menyeretku ke kamar pemeriksaan.
“Kamu ini siapa?”
“Aku warga negeri RI. Aku dulu bertuhan dan sering berdoa dan doaku senantiasa dikabulkannya, tapi ketika pada suatu ketika aku hendak kembali memanjatkan doaku ke dalam gereja aku telah kelewat cepat berlari hingga seluruh mukaku tertumbuk pintu gereja dan aku pingsanlah seketika. Aku sebenarnya baik-baik saja tapi entah tiba-tiba ada polisi yang curiga lalu aku dibawa lalu diperiksa hingga aku putus asa dan Tuhan hilang dari ingatan. Tapi sampai dengan detik ini aku tetap yakin bahwa Tuhan masih lengket di banyak kepala yang mondar-mandir di negeri RI ini hingga kalau misalnya aku secara iseng berdoa doaku barangkali saja akan berkenan di hatinya. Masih ada yang mau ditanyakan?”
“Cukup. Tapi untuk sementara kau tetap ditahan entah sampai kapan.”
Aku mendeham tapi polisi salah paham dikira aku mau kurangajar. Sepatunya melayang dan kembali kepalaku menjadi korban. Aku pingsan lalu dimasukkan kembali ke dalam sel sampai akhirnya aku siuman dan merasa bahwa kali ini aku harus minta sesuatu pada para polisi di negeri RI kalau kebetulan perutku merintih-rintih. Maka ketika ada bunyi yang merisaukan dari dalam sana mulitku pun langsung berteriak : Minta akan! Tapi polisi tak ada yang datang memberi. Sekali lagi : Berilah aku nasi atayu roti! Tapi kembali tetap sepi. Karena kecapaian maka aku putuskan untuk menghentikan teriakan dan kembali mengingat-ingat Tuhan. Barangkali dia mau kembali ke dalam kepalaku lagi. Dan setelah nampaknya ada tanda-tanda akan kedatangannya segeralah aku berdoa : Tuhan berilah aku kebebasan. Dan Tuhan pun karena sifatnya yang maha pemurah memberikan kebebasan meskipun hanya khusus untuk para tetangga saja. Aku tetap meringkuk dalam selku yang sempit ini. Tapi lantaran Tuhan itu sifatnua juga maha sabar maka aku yakin keadaan ini akan berlarut dan berkepanjangan sampai entah kapan. padahal perutku perlu makan, maka kembali aku berteriak dalam doaku :M Tuhan berilah aku makanan! Dan betul juga saat itu datanglah makanan dari dalam kantung temanku setahanan. Sadar kalau aku ini berteman segeralah dia kuajak bertukar pikiran.. Tapi dia tidak mau, katanya pikirannya sendiri masih bagus dan tetap lengkep pada Tuhan meskipun dia sedang ditahan hingga untuk sementara sulit kalau hendak ditukar-tukarkan. Singkatnya dia keberatan kalau diajak bertukar pikiran. Baiklah kalau begitu kita saling berdiam diri saja. Mau?
“Mau. Kau ini siapa sih?”
“Saya warga negara RI yang nasibnya tak begitu menggembirakan lantaran harus meringkuk di kamar tahanan dan tadi terpaksa menerima beberapa tendangan dari polisi negeri ini yang sepatunya keras.”
“Ya, itu aku tahu. Tapi kenapa ditahan?”
“Hanya soal salah paham”.
“Kau tidak melakukan pembelaan?”
“Sudah”.
“Kau kalah?”
“Ya”.
“Kenapa menyerah? Seharusnya kau tetap tabah dan menerangkan dnegan sejelas-jelasnya agar segala macam kekeliruan dapat diselesaikan dengan cara musyawarah lalu kalau ternyata kau memang tidak salah akan segera dapat dibebaskan. Begitu bukan? Kau masih ber-Tuhan?”
“Kadang-kadang”.
“Nah itulah. Maka kau senantiasa kalah. Dan kau tahu apa asas negeri ini?”
“Sori aku juga lupa”.
“Nah itu akibatnya. Maka kau senantiasa celaka. Kau masih ingat yang lain?”
“Apa itu?”
“Yah apa saja. Siasat misalnya”.
“Sori. Aku masih puyeng akibat tendangan polisi serta bini tetangga yang kubuntingi”.
“Jadi kau ini ditahan karena membuntingi bibi orang?”
“Tidak. Aku ditahan karena salah paham. Aku dicurigai. Padahal tak ada bukti-bukti yang menguatkan”.
“Sudahlah, sudah! Tuhan tetap maha murah. Maha murah. Mintalah, dia pasti akan memberi”.
Baik, aku segera minta agar keluargaku diberitahu. Mereka kaget dan bergegas membawakan segala macam keperluan. Ini pisau, ini sandal, ini sabun, ini sikat, ini roti, ini gergaji, ini foto. Tentang nasi kau nanti akan mendapatkannya dnegan mudah sekali. Tapi polisi itu datang. Semua harus diperiksa. Tak boleh pisau atau gergaji diangkut ke sini. Tenang, tenang, tenang. Semua toh akan diselesaikan dengan musyawarah yang memang sudah menjadi asas negeri RI. Cepat atau lambat kau pasti bebas. Penahanan ini hanyalah sementara sifatnya sampai segala pemeriksaan menghasilkan kesimpulan. Tapi sampai kapan? Yah, sampai kapan aku akan ditahan oleh polisi negeri RI ini? ***
Sumber : Buku Kentrung Itelile, Penerbit Puspa Swara Tahun 1993

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: