Raden Mas Siapakah?


Raden Mas siapakah gerangan dia? Laki-laki bangsawan yang dewasa ini lagi harum namanya. Dia berotak kental dan air liurnya benar-benar tulen. Keahliannya dalam bidang sukma telah termashur di mata masyarakat. Riwayat hidupnya bagus. Dia dilahirkan pada hari baik bulan baik dan kemudian dibesarkan dalam keluarga baik-baik. Agamanya adalah agama yang terkemuka di dunia. Dia belum pernah terlibat sebab bahasanya halus. Dan manakala kemudian diadakan penimbangan ternyata bobotnya lumayan.

Laki-laki seperti dia pada suatu saat pastilah sangat diperlukan benar jasanya. Misalnya kalau ada pegawai yang gegabah atau pedagang yang tidak senonoh. Pastilah dia dengan segala senang hati akan menurunkan tangan, hingga akhirnya pegawai yang gegabah itupun kemudian tidak gegabah lagi. Lalu pedagang yang tidak senonoh itu pun kemudian menjadi senonoh. Untuk jasa itu dia pernah dicatat di koran berkali-kali, dan mata Pemerintah yang tajampun melihat hal ini, hingga dia mendapat anugerah Seni.

Raden Mas siapakah namanya? Tanyaku kepada yang berwajib. Tapi yang berwajib belum mendapat penjelasan secara langsung dari pihak yang bersangkutan. Aku harus sabar menunggu sampai ada pengumuman resmi yang rencananya bakal disebar lewat mass media. Adakah alamatnya?

“He Pak, dimanakah Raden Mas itu tinggal?” begitu tanyaku pada yang berwajib.
“Sabar, sabar Dik! Hal itu pun bakal diusut oleh para petugas yang berwenang. Kamu itu Dik, janganlah tergesa!”
Karena dari pihak yang berwajib aku tidak berhasil memperoleh penjelasan maka akupun kemudian terpaksa mencari data-data itu dari sumber-sumber tidak resmi. Dari PT. Sumber Urip aku berhasil mendapat kabar Raden Mas itu, tinggallah di suatu tempat yang sangat dirahasiakan. Hanya kalangan dekat saja yang dapat bergaul akrab dengan dia.

Sopan-santunku pun kemudian kuperbaiki dengan seksama. Kumisku kupotong, mataku kuatur, dan kantung pun kulengkapi dengan surat-menyurat dengan foto-fotonya. Hal ini penting! Cobalah kau pikir : Seandainya pada suatu hari kamu menginginkan bersantap malam dengan ayam? Atau kalau kamu ingin melihat-lihat keluar sambil kepal-kepul merokok? Itu hanyalah sekedar contoh yang sepele. Tapi lantaran aku ini sudah cukup umur dan didorong oleh suatu tuntutan naluriah untuk berkeluarga. Maksudku, aku ini sudah berkehendak untuk kawin. Untuk keperluan itu syarat utamanya adalah harus kita tingkatkan sopan-santun kita. Begitu kan?

Segera menyusul pulalah suatu hasrat yang lumrah lainnya pada sukmaku. Hasrat itu begitu meluapnya sampai-sampai dapat nampak jelas sekali pada garis-garis keningku, bahwasanya aku ingin sekali mendapatkan suatu pekerjaan serta kedudukan yang pantas di mata masyarakat. Perlu diketahui bahwa sejak keluar dari sekolah beberapa saat yang silam sampai dengan waktu ini belum juga aku berhasil memperoleh pekerjaan. Nah karena sebab inilah maka sopan-santunku pun lebih kujinakkan lagi. Tentang tanganku perlu juga dicatat, bahwa aku telah membersihkan sejak dua bulan yang lalu. Duhai masyarakat ramai, sekarang aku bersihlah sudah. Darahku mulai murni! Begitulah pada suatu hari kuumumkan pada khalayak ramai di tengah kesibukannya.

“Tapi kau masih mentah anak tanggung! Dadamu belum berbulu,” begitulah jawab mereka, dan sudah barang tentu sukmakulah yang mendapat malu lantaran hal ini.
“Publik, kalian tolol! Akulah yang justru paling mempunyai kemampuan. Sedang persyaratanku pun komplit. Aku harus diterima, harus!”
“Minggat kau dari sini! Anak tanggung tak tahu diri, perbaikilah sopan-santunmu”.

Ah, lalu bagaimanakah pula akalnya untuk dapat mengetahui diriku sendiri? Apakah benar bahwa diriku ini kurang sopan? Masa remajaku pun terbungkuk-bungkuklah sudah. Sebagai seorang pemuda tanggung aku pun teringat pada Raden Mas. Aku yakin dia pasti masih bujangan. O, seandainya! Seandainya dalam zaman seperti ini aku dapat ketemu dia. Seandainya dapat kuperoleh kesempatan untuk beromong-omong empat mata saja. Raden Mas! Sesungguhnya kali ini penting adanya. Aku ingin sekali membuktikan bahwa diriku ini nyatalah sudah tidak kalah dengan kamu. Aku bermimpi bagus semalam. Dalam mimpiku yang berlangsung tidak lebih dari seperempat jam itu berhasil kuperoleh wejangan-wejangan yang sangat berharga bagiku. Terus terang saja aku telah mimpi diceramahi oleh Raden Mas. Hanya sayang sekali mimpiku masih hitam-putih dan belum berwarna. Sayang! Oleh Raden Mas aku telah diminta diam dan tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya tidak senonoh. Aku manggut enam kali berturutan dan sesudah itu pun lalu diam sambil terpejam.
“Anak tanggung, sebetulnya kamu hebat!”
“Itu sudah lama kusadari, hanya aku belum punya kesempatan, tunggulah!”
“Anak tanggung kamu tolol! Kesempatan itu bergelantungan di belakangmu, tapi kamulah yang malas.”
“Raden Mas, kesempatan itu gesitnya bukan main. Dia selalu luput kalau kuterkam”.
“Hem . . . .!” Raden Mas pun tersenyum, bagusnya bukan main. Pipinya yang bagus berlekuk. Wah, memang lain. Sekarang aku dapat membedakan senyum seorang Raden Mas dan senyum seorang pegawai. Para pegawai kalau tersenyum agak meringis. Tapi ketika mataku kubuka untuk dapat lebih menghayati senyum Raden Mas, ternyata dia sudah hilang. Barulah aku paham bahwa diriku ini hanyalah bermimpi. O Raden Mas, sejak itulah aku mulai rindu padamu.

Usaha untuk merebut suatu kedudukan yang layak di mata masyarakat tentulah tidak semudah main halma. Aku lalu mulai mengingat-ingat hari apakah gerangan aku telah bermimpi itu. Kecemasanku tiada kuasa kusembunyikan lagi dewasa ini. Aku cemas kalau-kalau kegandrunganku pada Raden Mas itu kian menjadi-jadi. Mataku mulai tidak teratur. Senyumku makin meringis. Dan apabila aku mandi maka kemaluanku selalu berdiri. Udara nampaknya berbintik-bintik seperti kulit kadal. Tapi kalau hari menjadi sore, aku selalu berduka selama tiga jam. Sudah hampir sebulan kutanggung segala deritaku ini dengan sempoyongan, tapi ternyata tak ada yang masih bisa kuharapkan. Pada suatu malam pun aku terpaksa nekad bertelur.

Mimpi yang baik pasti mengandung isyarat. Bagi seseorang yang sudah terlatih hal ini tidaklah terlalu sulit. O, lalu apakah arti dan makna mimpiku tadi? Rinduku pada Raden Mas sekarang mencapai sembilan puluh kilo meter per jam. Guna mengatasi bencana ini, pada suatu hari Jum’at aku pun bersiul-siul sepanjang jalan. Dan kemudian terbersitlah dalam ingatanku suatu kehendak mulia untuk meningkatkan lagi kesopananku di hadapan siapa pun. Dan manakala kemudian segala sesuatunya kurasakan sudah klop, maka segeralah aku menghadap yang berwajib.
“Halo”.
“Lo kamu datang lagi!”
“Ya, maksudku mau menanyakan keterangan-keterangan mengenai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan pribadi Raden Mas”.
“Mm, dulu pernah kemari, ya?”
“Pernah, tapi saat itu mataku masih agak teratur”.
“Sayang, anak tanggung! Segala sesuatunya sudah terlambat sekarang. Kami sarankan anak tanggung kembali saja sekarang”.
Aku menangis sambil berbaring selama dua menit dan kemudian mandi di WC. Aku mulai sadar bahwa sejak itulah diriku mulai kena pengaruh Raden Mas yang pernah memperoleh Anugerah Seni itu. Dan hasratku untuk mendekati dia pun sudah tiada tertahan lagi. Kalau aku bangun pagi, maka pada perasanku aku inilah Raden Mas itu. Ah, gawat! Diriku sudah hilang! Aku sudah ditelan Raden Mas!

Organisasi yang bagus tidaklah hanya ditentukan oleh para anggota serta pengurusnya saja. Malah pada waktu berada di stanplat aku pun resmilah sudah berkeyakinan, bahwa segala macam tetek-bengek organisasi itu pada hakikatnya mati dan hidupnya berada di tangan ketua. Raden Mas ternyata banyak sekali aktif menjadi ketua kehormatan bermacam-macam organisasi. Dua hari yang lalu kegembiraanku tak terkatakan lagi ketika aku mendapatkan selebaran yang dilempar dari bis dan ternyata ditandatangani oleh Raden Mas. Raden Mas siapakah gerangan dia namanya? Sayang, ketika itu mataku pun sudah mulai sulit menunaikan kewajibanku dengan jujur. Aku sering ngantuk. Padahal seseorang yang berada dalam keadaan siuman pastilah banyak sekali memerlukan minum. Aduh airku yang jernih. Air pancuran yang jauh sekali di pegunungan. O, bunga anyelir. Pada waktu pikiranku tiba pada bunga anyelir. Ketika tubuhku dipantek di bawah rumpun asparaga. Maka mataku pun sempurnalah sudah dukanya. Bagian-bagian tubuhku yang lain memang sangat menghormat kepada mata. Kali ini karena mataku berduka seluruh diriku pun turut serta belasungkawa.

Raden Mas, sekarang aku tobat! Aku ingin yang baik-baik saja. Begitulah pada suatu hari aku berkata pada diriku sendiri. Tapi karena kurang puas maka kata-kata itu pun kemudian kukukuhkan. Kutulis kata-kata itu pada tanggalan. Hari terakhir pada bulan pertengahan. Kupikir masih tanggal muda ketika itu.

Kepingan-kepingan mawar, ataupun daun-daun asam, lebih-lebih ketela pohon. Ah, maksudku kuli bangunan. Mungkin pernah tersiar kabar tentang kuli-kuli bangunan yang Makan Tahu. Seandainya Raden Mas adalah seorang yang arif bijaksana, maka pastilah dia akan dengan senang hati menerimaku. Otak kambing, daging pepaya atau tepatnya ubur-ubur kuning. Manakah sebenarnya yang lebih pantas? Sandal, tulisan-tulisan pensil atau orang hutan?

Aku gemetar. Aku lalu sangsi pada mataku. Aku lalu bosan sekali pada Raden Mas. Akupun lalu memutuskan sebuah acaraku batal. Aku tidak pernah lagi bersantap malam. Bentol-bentol merah dan biru pada badan tokek yang kelabu, masih dapatkah kutemukan dalam arsipku? Ada warna lain lagi yang sangat sederhana, tapi karena menurut kabar Raden Mas tidak begitu menyukai, maka beberapa hari yang lalu kuralat. Aku tidak pernah lagi berhubungan dengan yang berwajib. Senyumku mulai kacau. Tapi ketika jam delapan tadi kudengar nama Raden Mas disebut-sebut di radio, maka gairahku pun meloncat ke samping. Aku buru-buru merampas pensil dan kertas untuk mencatat tapi terlambat.

O. Raden Mas! Sayang! Kau hanyalah sebuah impian yang sayup-sayup. Kenangan cabul yang bajingan. Sambil berbaring dan mendongkol mulailah aku bersedih. Aku pun kemudian segera tersedu-sedu selama sepuluh menit lalu biasa lagi. ***

Sumber : Buku Kentrung Itelile, Penerbit Puspa Swara Tahun 1993

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: