ROKOK MBAH GIMUN (Ulasan)


MASIH ADAKAH PEMIMPIN UNTUK RAKYAT?
Oleh Baban Banita1

Dengan mengucap Bismillah, Mbah Gimun mencoblos 12 wajah dengan api rokoknya.

(F. Rahardi, “Rokok Mbah Gimun”)

Dalam pemilihan kepala daerah, tentu saja semua elemen masyarakat mengharapkan sesuatu terwujud sesuai dengan yang diinginkannya. Tetapi hal ini tidak semua akan sepenuhnya terwujud, sudah menjadi hukum alam bahwa manusia mempunyai perbedaan dalam memandang peristiwa. Yang menjadi persoalan adalah tatkala suatu perbedaan itu meruncing menjadi pertengkaran yang penuh nafsu membunuh,

sehingga semua yang berbeda itu harus dilenyapkan. Contohnya adalah peristiwa di Tuban beberapa waktu yang lalu ketika sekelompok massa tidak setuju terhadap terpilihnya seorang calon kepala daerah. Perbedaan dan ketidakpuasan telah menjadi api yang membakar dan menghancurkan segalanya. Padahal jika disikapi dengan arif dan bersih dari keinginan untuk menang sendiri, sesungguhnya perbedaan membuat segalanya indah, perbedaan membuat semangat untuk hidup terus bertalu-talu. 

Ada banyak jalan untuk menuju Roma, demikian sebuah peribahasa terpampang di hadapan kita. Ada banyak cara untuk meraih suara. Tulisan ini menyodorkan sebuah pengalaman ketika saya berhadapan dengan teks sastra, yakni sebuah cerpen berjudul Rokok Mbah Gimun karya F. Rahardi yang isinya sangat berkaitan dengan pilkada (pemilihan kepala daerah) bukan pilkadal (pemilihan kadal). Saya menganggap hal ini penting sebab dalam cerpen ini ada sesuatu yang bisa dipetik sebelum memasuki babak pertandingan dalam medan pertarungan pilkada. 

Cerpen Rokok Mbah Gimun karya F. Rahardi (dimuat di harian Kompas, 10 Juli 2005) ini adalah sebuah cermin yang ada dalam masyarakat kita. Di sini tampaknya kita harus bersetuju dengan pendapat para pengusung mimesis yang berkata bahwa karya sastra adalah cermin kehidupan, sastra tidak lahir dari kekosongan. Sastra adalah sebuah data atau dokumentasi sosial yang menyimpan peristiwa di suatu waktu tetentu di suatu tempat tertentu pula. 

Dalam cerpen ini, Rahardi tidak berbicara mengenai hiruk-pikuk politik tingkat tinggi dijalankan, tetapi membidik sebuah masyarakat miskin yang diwakili Mbah Gimun dalam menghadapi peristiwa pesta demokrasi, pemilihan bupati. Bagaimana pemikiran rakyat kecil yang lugu dalam menyikapi sesuatu yang baru namun sebetulnya tidak lagi baru? Bagaimana sikap Mbah Gimun yang merupakan ikon dari rakyat miskin menghadapi fenomena suap atau sogok-menyogok dalam rangka memperoleh suara demi memenangi pilkada? 

Mbah Gimun adalah seorang duda yang ditinggal mati istrinya. Dia memilih hidup menyendiri meski anak-anak yang telah berkeluarga itu mengajaknya untuk tinggal bersama. Kesehariannya adalah meraut pelepah kelapa untuk dijadikan sapu lidi. Dari sanalah sumber nafkahnya untuk keperluan sehari-hari. Tidak besar memang, tapi cukup untuk membiayai hidupnya dan terutama hasil dari sapu lidi itu bisa memanjakan kesukaannya, merokok. 

Suatu hari datang orang-orang bagus. Mereka memberi Mbah Gimun tembakau bagus beserta kertas linting juga sejumlah uang. Mereka mengenalkan diri sebagai pendukung salah satu calon bupati yang ujung-ujungnya berpesan agar gambar yang diberikan kepada Mbah Gimun harus dicoblos pada hari H-nya. Beberapa hari kemudian datang Pak RT memberikan sembako dan sejumlah uang. Sama dengan orang-orang bagus tempo hari yaitu mengharuskan mencoblos gambar yang diberikan pada Mbah Gimun. Dan tentu saja gambar itu berbeda. Ada pula seorang calon yang langsung memberi uang dengan jumlah besar tatkala bersalaman dengan Mbah Gimun. Lalu ketika anak-anaknya bertanya tentang pilihannya dalam pilkada, Mbah Gimun kebingungan, alasannya lupa siapa saja yang telah memberi barang-barang itu kepadanya. 

Lalu, ketika hari pemilihan itudatang, Mbah Gimun tidak ragu-ragu mencoblos semua yang telah memberinya barang dan uang. Mbah Gimun mencoblos wajah semua calon dengan rokok lintingnya yang menyala. Keluguan Mbah Gimun bisa kita lihat ketika di didatangi tiga orang yang mengenakan dandanan bagus-bagus. Dia bertanya kepada tiga orang tamu mengenai dari mana mereka tahu nama dirinya. Padahal jawabannya sangat gampang. Bukankah mereka berkeliling dari rumah ke rumah dan bukankah di sebuah kampung nama seseorang itu begitu mudah dikenal dan ditemukan, sebuah sopan santun atau basa basi alakadarnya.

Sesungguhnya hal ini menunjukkan kepiawaian si tamu dalam mengangkat hati objek sasarannya. Setidaknya, perasaan akan tersanjung manakala orang yang tidak kita kenal tiba-tiba mengenal nama kita. Ketika didatangi Pak RT, Mbah Gimun juga bersikap lugu.

Dia bertanya bagaimana caranya mencoblos dengan adanya dua foto dalam satu gambar. Padahal di akhir kisah sebenarnya Mbah Gimun telah mengerti bagaimana caranya mencoblos sebab dia telah mengalami tiga kali pemilihan yang persis sama dengan cara mencoblos bupati. Keluguan Mbah Gimun adalah sikap waspada untuk tidak berargumentasi secara prontal dengan lawan bicaranya. Sebuah sikap santun dalam menghadapi tamu. Bahkan ketika telah cukup jelas diterangkan mengenai cara mencoblos itu, Mbah Gimun masih bertanya. Iya Pak RT, tetapi yang dicoblos matanya atau mulutnya? Pertanyaan bodoh namun mengandung tikaman lembut yang demikian tajam tak alang kepalang. Mata dan mulut adalah indera yang mempunyai peran penting dalam komunikasi di masyarakat. Ada ungkapan mata adalah jendela hati yang artinya bahwa hati orang bisa dilihat lewat sorot matanya, lewat tatapannya yang menyimpan kejujuran suasana hati. Ada pula ungkapan mulutmu harimaumu artinya bahwa mulut mempunyai kapasitas bisa mencelakakan diri atau menerkam diri sebagaimana harimau jika mulut itu berlaku sewenang-wenang atau bicara tidak pada tempatnya. Kita juga mengenal istilah sungutteh sanget tapi seungit (mulut itu angker tapi harum) yang artinya mulut itu angker atau berbahaya tatkala kita tidak bisa menjaganya dalam hal kebaikan, tetapi mulut itu harum apabila kita bisa menjaganya dan mempergunakannya dalam kebaikan.

Sesungguhnya dari keluguan Mbah Gimun, dirinya telah mengetahui alangkah busuknya orang-orang yang datang atau gambar-gambar calon bupati yang disodorkan kepadanya, sehingga dia mengeluarkan perkataan bodoh tapi sesungguhnya cerdas.

Artinya, Mbah Gimun mempunyai keinginan untuk menghentikan mulut yang penuh rayuan, kata-kata dusta, janji-janji manis yang dingkari. Mbah Gimun juga berkehendak ingin membutakan mata yang dusta, mata yang seringkali menipu.

Dalam cerpen ini Rahardi memperlihatkan kepada kita siapa yang menyogok dan siapa yang disogok. Ada tiga penyogok. Pertama orang-orang yang berpakaian bagus bermobil bagus. Orang-orang ini bisa dikatakan merupakan ikon pendukung calon dari luar struktur pemerintahan atau pihak swasta yang bermodal tebal. Kedua, Pak RT yang merupakan ikon pendukung calon dari struktur pemerintah. Ketiga penyogok yang langsung dari tangan calon sendiri. Dengan pengertian lain, pengarang memberi gambaran kepada pembaca bahwa dalam situasi sogok-menyogok untuk mendapatkan suara itu, dia menggunakan tiga elemen. Pada Pak RT misalnya, pengarang ingin menggambarkan bahwa struktur pemerintahan pun ikut andil dalam sogok-menyogok. Meski tidak aneh lagi namun pengarang cukup lihai dalam memilih garis besar tokoh yang biasa terlibat dalam sebuah proses pemilihan. Swasta dengan kemewahan dan kebagusan material, pemerintah dengan kekuasaannya dengan jaringan para pamongnya, dan calon yang bersangkutan bisa langsung bermanis-manis kepada calon pemilih.

Sedangkan untuk yang disogok, pengarang hanya memperlihatkan satu kelas masyarakat. Masyarakat yang secara ekonomi sangat miskin. Dan meski sekilas, cerpen ini menyuguhkan anak kecil pun tidak dilewatkan dalam kasus ini. Di sini terlihat cucunya Mbah Gimun begitu gembira sebab diberi permen oleh si penyogok. Cerpen ini ingin mengatakan atau mengajak pembaca untuk memeriksa lagi bahwa dalam situasi pemilihan siapapun menda__       _____, meski tetap yang diserang adalah golongan miskin.

Pilihan menyogok terhadap orang miskin sebagai objek sogokan sangat tepat sebab dalam sebuah pemilihan pemenang adalah yang mendapatkan suara terbanyak, kuantitas suara. Jadi, ketika para calon atau para pendukungnya berhitung ke sana, tentulah memutuskan rakyat miskin sebagai sasaran adalah hal yang terbaik. Ya, kita tahu lebih dari 70 persen dari penduduk negeri kita adalah orang miskin. Selain miskin harta, mereka juga secara intelektual sangat mengkhawatirkan. Pilihan ini juga bersangkut paut dengan jumlah uang yang diterima  Agak riskan jika yang disogok adalah masyarakat kaya. Riskan di sini lebih kepada jumlah uang yang harus dibagikan, tentu saja orang kaya sogokkannya harus lebih besar dari orang miskin. Jika orang miskin cukup dengan sembako atau rokok, orang kaya mau diberi apa. Maukah orang kaya diberi sembako? Ah, tentu saja mau asal jumlahnya segudang. Kembali ke penduduk miskin, nyatalah bahwa ini kesempatan yang langka.

Mendapatkan uang dengan tanpa lelah berkeringat tentu sangat menggembirakan. Satu sisi pilihan yang tepat dengan menggunakan tokoh miskin, di sisi lain betapa disepelekannya kaum miskin seolah-olah mereka itu mudah untuk dikibuli dan dibeli suaranya.

Cara menyogok yang digunakan dalam cerpen ini, pertama didatangi langsung ke rumah penduduk, mereka diberi bingkisan sembako dan uang secukupnya. Kedua, bingkisan itu diberikan tatkala kampanye tiba, sembako dan uang dibagi-bagikan sambil nonton kesenian. Cara dua yang pertama ini yang melakukannya para pendukung atau tim sukses dari calon yang bersangkutan. Ketiga, sogokan itu diberikan langsung oleh si calon, masyarakat yang datang disalami dan ditempeli amplop berisi uang oleh si calon. Selain uang dan kebutuhan pokok lain, dalam cerpen ini pengarang menyertakan bagaimana kesenian diberdayakan untuk menarik massa. Di lapangan didirikan panggung dan masyarakat disuguhi goyang dangdut. Pilihan terhadap kesenian pun tak lepas dari kelas sosial. Para penyogok dengan pandai memilih kesenian yang banyak digemari rakyat kebanyakan, rakyat yang miskin. Ya, kesenian memang ampuh sebagai magnit yang dapat menyedot penonton. Seperti kita tahu dari zaman Orla, Orba, dan Reformasi kesenian menjadi satu paket dalam kampanye.

Cerpen Rokok Mbah Gimun ini merupakan sebuah kritik yang tajam terhadap fenomena pilkada yang sedang berlangsung seru di banyak kabupaten, kotamadya, juga propinsi. Sumber dari segala sumber kritik itu tak lain adalah politik uang yang begitu kental menghiasi proses pemilihan. Mbah Gimun yang lugu itu mendapat sejumlah sogokan dari semua calon bupati sehingga membuat dia jadi bingung untuk menentukan pilihan. Ketika anak-anaknya bertanya tentang pilihannya dan anak-anaknya juga menggiring untuk memilih salah satu calon dengan alasan calon itu telah memberi uang paling banyak, lagi pula calon itu seorang pengusaha yang dengan demikian akan memberi banyak kemungkinan lapangan usaha. Mbah Gimun menjawab, bahwa dia telah lupa siapa saja yang telah memberi sesuatu itu. Dan jawaban untuk pertanyaan anak-anaknya mengenai calon bupati yang kaya dia berkata, “Yang pasti makmur ya bupatinya itu, bukan kita. Selamanya kita ini tidak akan pernah jadi makmur meskipun bupatinya ganti-ganti.”

Kritik yang pedas. Kalimat Mbah Gimun ini menggambarkan betapa kepercayaan terhadap calon itu tidak ada. Krisis kepercayaan terhadap pemimpin. Kaya, miskin, atau siapa pun yang jadi bupati rakyat tetap rakyat dengan nasibnya sendiri yang tidak banyak dipengaruhi struktur kepemimpinan. Sebuah pesimisme akut yang disebabkan oleh sejarah kepemimpinan yang tidak pernah kunjung berpihak kepada rakyat, ketidakpercayaan yang tidak tanpa alasan. Bukankah kita menyaksikan, dari waktu ke waktu pemimpin itu kaya dan rakyat miskin tetap miskin. 

Pada akhirnya cerpen ini ditutup dengan keluguan yang cerdas. Mbah Gimun dalam kebingungannya, dalam ketertekanannya ketika harus menentukan pilihan, dia mencoblos keenam gambar yang telah memberinya uang, sembako, hiburan, rokok. Apakah Mbah Gimun sedang mempraktikkan inggih-inggih nanging mboten kepanggih, atau jika di depan bilang iya tapi di belakang tidak melakukan apa yang diiyakannya, yang diperintahkan kepadanya? Mungkin begitu, dia melaksanakan janjinya terhadap yang memberinya kenikmatan, namun ada sikap perlawanan yang keras terhadap para calon bupati yang telah berbuat tidak jujur dalam kompetisi pilkada. Pada pengiyaan itu terdapat penolakan, perlawanan tidak langsung terhadap ketidakjujuran dan ketidakadilan.

Yang menarik pada pencoblosan itu, dia mencoblos wajah para calon itu dengan rokoknya yang sedang menyala. Dia tidak memilih coblosannya di bagian tubuh calon sebab merasa sayang pada pakaian mewah yang dipakai para calon bupati. Ada semacam rasa jijik, sebel, dendam namun juga kehendak untuk bermain-main menyepelekan gambar-gambar itu. Inilah ‘balas budi’ bagi kebaikan para calon yang telah memberi uang, sembako, dan lain-lain. 

Dengan mengucap Bismillah, Mbah Gimun mencoblos 12 wajah dengan api rokoknya. Ada yang dicoblos di jidat, ada yang di pipi, ada yang mulut, di mata, di hidung. Mbah Gimun tidak jadi mencoblos baju jas yang dikenakan oleh para calon itu. “Sayang baju bagus-bagus begitu kalau dicoblos api rokok.” 

Ada dua ironi yang bisa dilihat dari kutipan di atas. Pertama, ucapan bismillah dalam mengawali pencoblosan. Hal ini menegaskan betapa penting kedudukan pemilihan calon bupati itu sehingga Mbah Gimun harus meniatkan diri atas nama Allah, padahal apa yang dilakukannya itu merupakan penyepelean terhadap proses demokrasi yang kotor yang sangat disadari sepenuhnya. Ironi kedua yaitu ketika Mbah Gimun memilih wajah dan bukan jas seperti niat awalnya. Di sini memperlihatkan bahwa jas yang bagus itu lebih berharga dari pada wajah. Artinya, wajah-wajah itu demikian rendah derajatnya bahkan harganya di bawah jas yang dikenakan para calon itu. Dengan kata lain para calon bupati yang terlibat politik uang itu harga dirinya lebih rendah dari sekedar busana atau benda mati yang menyertainya, harga diri calon pemimpin itu lebih rendah dari jas yang dikenakannya. Kementerengan dan kebagusan itu hanyalah bagian luar saja dan tidak disertai kebagusan hati dan pikiran. Dan mbah Gimun dalam kebingungannya ingin melenyapkan, membakar semua yang telah memberinya kepalsuan, janji-janji palsu, kebaikan tanpa martabat, dan kekerdilan-kekerdilan lainnya dari para calon bupati atau calon pemimpin tersebut. 

Selain hal di atas, cerpen ini merupakan suatu pembelaan kepada kaum miskin bahwa kaum miskin tidak selamanya bisa dikerjain begitu saja, bisa dibeli suaranya dengan uang. Kaum miskin mempunyai pendirian dan punya pilihan tersendiri terhadap calon pemimpinnya. Kaum miskin tampak manut, tetapi dibalik itu tersimpan perlawanan yang diam-diam dan sangat mematikan. Cara menutup cerpen ini sesungguhnya agak keluar dari karakter Mbah Gimun yang dibangun lugu sejak awal. Suara pengarang yang semula melalui tokoh Mbah Gimun, diakhir cerita pengarang seperti tidak sabar mewakilkan suaranya pada tokoh, dia masuk ke dalam karakter tokoh. Di situ bukan Mbah Gimun yang lugu, tapi Mbah Gimun yang dirasuki dan kesurupan Rahardi yang nakal dan cerdas dalam menyikapi sebuah persoalan.

Akan tetapi, terlepas dari itu, ending cerpen ini merupakan sebuah pukulan yang telak bagi kehidupan demokrasi kita. Wajah-wajah penyogok atau para calon yang telah memanjakan (baca: meracun) rakyat kecil dengan uang sogokan ini dibakar rokok linting sogokan oleh Mbah Gimun. Senjata makan tuan (baca: calon bupati).  

Sebagai catatan akhir, kita bisa membayangkan apabila semua rakyat yang kena sogok bersikap seperti Mbah Gimun. Apa jadinya demokrasi? Jangan-jangan akan melebihi keanarkisan tempo hari di beberapa kota di negeri tercinta ini. Segalanya dibakar. Segalanya hancur karena suatu ketidakjujuran dalam proses pilkada. Karena itu bersiaplah, persiapkan sapu lidi dalam hati untuk membersihkan pikiran kotor dan hati yang berlimbah sampah ketika datang kesempatan kepada kita sebuah proses! Atau siapkan sebuah linting untuk sekadar membakar muka yang taktahu malu itu. 

Sumedang, 2007


 

    ROKOK MBAH GIMUN
http://www.sriti.com/story_view.php?key=1511
Cerpen F Rahardi
Dimuat di Kompas 07/10/2005 Telah Disimak 1002 kali  

Ke mana-mana Mbah Gimun selalu tampak dengan rokok lintingan, yang terus menempel di antara dua bibirnya yang tebal dan hitam. Rokok itu sangat besar dan hanya terbuat dari tembakau kasar dengan kertas lintingan yang juga kasar. Mbah Gimun tidak pernah tampak mengisap rokok yang ada di mulutnya itu. Rokok itu hanya dibiarkannya di sana dan terbakar begitu saja sampai habis di salah satu sisinya. Di sisi yang lain, tembakau dan kertas lintingan itu hanya hangus dengan warna hitam. Hingga bagian yang terbakar itu, selalu bengkok dengan bentuk yang sangat tidak beraturan.

Sambil tetap membiarkan rokok lintingan mengepul di mulutnya, Mbah Gimun mengiris helaian daun kelapa satu demi satu. Helaian itu terkulai begitu terpisah dari lidinya. Lidi yang kekar dia serut beberapa kali dengan pisaunya, hingga tampak putih dan halus. Kalau bibirnya mulai merasakan panas api rokoknya, atau kalau kepulan asap itu mulai mengganggu mata dan hidungnya, maka dia pun berhenti sejenak, membuang puntung yang masih menyala itu ke mana saja, lalu melinting lagi dan menyalakannya dengan bara api. Setelah itu dia kembali mengiris helaian daun kelapa, sampai lidinya terkumpul cukup banyak untuk diikat menjadi sapu.

Sehari-hari Mbah Gimun hanya membuat sapu lidi. Tiap hari juga selalu ada anak-anak yang mengantar pelepah daun kelapa segar, atau helaian daun yang telah disisir dan diikat. Lalu seminggu sekali pedagang datang mengambil sapu lidi yang sudah terkumpul. Kalau pedagang itu tidak datang, maka Mbah Gimun sendirilah yang akan mengantar ikatan-ikatan sapu lidi itu ke kota. Dalam sehari, Mbah gimun bisa membuat lima sampai enam ikat sapu lidi. Kalau dia bekerja dari pagi sekali sampai larut malam, maka bisa sepuluh sapu lidi yang diselesaikannya.

Bagi Mbah Gimun, pendapatan dari membuat sapu lidi itu lumayan. Dengan uang itu dia bisa membeli beras, minyak tanah, gula, garam, dan yang paling penting adalah tembakau serta kertas lintingan. Mbah Gimun tinggal sendirian saja di rumahnya yang terletak di ujung kampung. Sejak istrinya meninggal beberapa tahun silam, anak-anak dan menantunya sebenarnya ingin sekali memboyongnya. Tetapi Mbah Gimun selalu menolak.

”Kalau aku ikut kalian, cucu-cucuku itu akan batuk semua. Mereka akan mabok asap rokokku yang sangit ini. Apa kalian ingin cucu-cucuku itu sakit batuk?” Begitu selalu yang dikatakannya kalau anak-anak dan menantu itu memintanya untuk tinggal bersama mereka. Padahal selama ini tidak pernah ada seorang cucu pun protes. ”Ya memang rokoknya Embah itu baunya seperti itu,” begitu selalu cucu-cucu itu menjawabnya.

Pada suatu pagi yang mulai agak kering pada bulan Juli, Mbah Gimun kedatangan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya. Mereka berpakaian bagus-bagus, bersepatu bagus, membawa tas bagus, dan naik mobil yang juga sangat bagus. Mereka tampak mendatangi rumah-rumah lain di kampung itu, sebelum akhirnya masuk ke halaman rumah Mbah Gimun. Ketika Mbah Gimun mempersilakan mereka masuk, orang-orang itu menolak. Mereka malah mengajak Mbah Gimun duduk di lincak bambu di bawah pohon jambu di halamam rumah. Salah satu di antara tiga tamu itu memperkenalkan diri mereka. Nama-nama mereka sulit untuk diingat apalagi diucapkan oleh Mbah Gimun. Tamu yang satu lagi mengeluarkan bungkusan tembakau dan kertas lintingan, lalu menyerahkannya kepada Mbah Gimun.

”Minggu depan ini kita akan memilih pak bupati baru Mbah!” kata salah satu tamu itu.

”Iya, saya sudah diberi tahu Pak RT dan sudah diberi kartunya. Apa Mas-mas ini juga petugas pencoblosan?” tanya Mbah Gimun.

”Benar Mbah, ini gambar calon pak bupati itu, nanti ditempel di sana ya Mbah?”

”Tetapi kok saya diberi tembakau banyak sekali?”

”Tidak apa-apa Mbah, sebab kami tahu Mbah Gimun suka merokok lintingan. Bukan hanya itu Mbah, ini juga ada sedikit uang untuk tambahan belanja Mbah Gimun.”

”Kok sampeyan ini sudah tahu nama saya to?”

”Kan ada daftarnya Mbah. Tadi bapak yang rumahnya di depan sana itu yang memberitahu bahwa inilah rumah Mbah Gimun.”

”O, ya terima kasih sekali, saya diberi tembakau, diberi uang lagi.”

”Tapi begini Mbah, nanti Mbah harus mencoblos gambar yang ini lo Mbah. Jangan yang lain ya!”

”Pasti Mas, pasti, kan Pak Bupati yang ini yang telah memberi saya tembakau dan uang.”

Setelah para tamu itu pergi, Mbah Gimun membuka amplop putih itu dan di dalamnya ada lembaran uang limapuluh ribu rupiah. Mbah Gimun kaget tetapi senang. Limapuluh ribu itu berarti pendapatannya selama seminggu. Lumayan. Uang itu disimpannya di antara tumpukan surat-surat dan kartu-kartu. Mbah Gimun lalu membuka besek. Di dalamnya tampak tembakau yang cokelat kehitaman dengan aromanya yang harum. Mbah Gimun menarik satu lembar kertas lintingan, mencomot tembakaunya, melintingnya, menyalakannya dengan bara api dan menaruhnya di antara dua bibirnya. Aroma harum tembakau mahal itu terasa menyentuh bagian paling dalam di hidungnya. Baru kali ini Mbah Gimun merasakan ada tembakau seenak ini.

Baru sebentar dia menaruh lintingan di bibirnya, salah satu cucu laki-lakinya datang dengan berlari sangat kencang hingga hampir menabraknya. Cucu itu memberi tahu, bahwa baru saja ada tiga orang tamu datang ke rumahnya. Mereka memberi beras dan uang kepada bapaknya. Cucu itu lalu memamerkan dua butir permen di telapak tangan dan satu yang sudah berada di mulutnya. Katanya, permen itu juga berasal dari tamu yang datang ke rumahnya baru saja. Belum sempat Mbah Gimun bertanya lebih lanjut, cucu itu sudah berlari dengan cepat meninggalkannya. Mbah Gimun lalu melanjutkan pekerjaannya, sambil tetap membiarkan aroma asap tembakau yang harum menyentuh bagian terdalam dari indera penciumannya.

Beberapa hari kemudian, Pak RT dan Tukijan juga datang. Mereka mengantar beras, gula, teh dan lembaran uang duapuluh ribu rupiah. Tetapi yang dibawa Pak RT dan Tukijan gambar calon bupati yang lain lagi. Kertas gambar itu tebal dan kaku, lebarnya seperti sajadah. Mbah Gimun diminta mereka untuk menempelkannya di dinding, supaya ingat bahwa gambar itulah yang harus dicoblos.

”Tetapi calon bupatinya kok ada dua Jan?” tanya Mbah Gimun heran.

”Bukan dua tetapi satu Mbah. Yang ini yang kiri ini bupatinya. Yang kanan wakilnya.” jawab Tukijan dan Pak RT hampir berbarengan.

”Lalu yang harus saya coblos yang mana Pak RT?” tanya Mbah Gimun lagi.

”Salah satu saja Mbah. Mau dicoblos wakilnya boleh, bupatinya juga boleh. Tetapi jangan mencoblos gambar yang lain!” jelas Pak RT.

”Iya Pak RT, tetapi yang dicoblos matanya atau mulutnya?” tanya Mbah Gimun lebih terinci.

”Terserah Embah, tetapi yang paling sopan ya dicoblos baju jasnya saja. Kalau yang dicoblos mata atau mulutnya kan kasihan Pak Bupatinya.”

”Ya kalau begitu saya akan coblos bajunya saja. Kalau yang bolong bajunya kan bisa ditambal ya Pak RT?” kata Mbah Gimun.

”Lalu minggu depan ini Mbah, kita semua harus datang ke lapangan bola.”

”Ada apa lagi Jan?”

”Ada pembagian sembako lagi dan mudah-mudahan juga ada uangnya. Ada dang-dutnya lo Mbah!”

”Ya, ya, saya akan datang nanti. Jam berapa Pak RT?”

”Sore, sekitar jam empat. Sebab pagi dan siangnya Pak Calon Bupati itu akan keliling-keliling dulu untuk pidato. Kampung kita ini dapat bagian yang terakhir.”

Enam calon bupati dan wakilnya, semua membagi-bagikan uang dan barang. Mbah Gimun menerima semuanya. Ada yang limapuluh ribu, duapuluh ribu, sepuluh ribu, tetapi ada pula yang sampai seratus ribu. Tetapi yang seratus ribu ini kelihatannya hanya dikhususkan untuk Mbah Gimun. ”Pak Calon Bupati itu sendiri yang memberikannya langsung. Diselipkan di kantong saya ini waktu salaman.” kata Mbah Gimun senang. Mbah Gimun juga menerima banyak rokok tetapi langsung dibagikannya kepada anak-anaknya. ”Saya tidak suka mengisap rokok pabrik. Sebab baunya seperti minyak wangi. Bau tembakaunya sudah tidak ada,” begitu alasan Mbah Gimun.

Menjelang hari pencoblosan, Mbah Gimun tetap menyisir lidi dengan pisaunya. Rokok lintingan itu juga tetap menempel di bibirnya. Hanya dia berpesan kepada anak-anak, agar menjelang pencoblosan mereka tidak mengantar daun kelapa terlalu banyak.

”Nanti kalau pas coblosan tidak bisa diirat semua, akan layu. Kalau layu mengiratnya alot,” katanya pada anak-anak itu.

”Mau nyoblos siapa Mbah nanti?” tanya anak-anak.

”Ya siapa saja. Sebab saya tidak tahu nama-namanya, dan tidak hapal wajahnya. Baju dan pecinya juga sama kan?” jawab Mbah Gimun.

”Bukan nyoblos yang paling banyak ngasih uang Mbah?”

”Saya juga sudah lupa yang mana yang pernah ngasih uang paling banyak.”

”Nyoblos Pak Dipo saja Mbah. Dia kan pengusaha, jadi nanti kita semua makmur.”

”Yang pasti makmur ya bupatinya itu, bukan kita. Selamanya kita ini tidak akan pernah jadi makmur meskipun bupatinya ganti-ganti.”

Sampai dengan berangkat ke tempat pencoblosan, sebenarnya Mbah Gimun masih tetap bingung. Enam calon semuanya memberi uang, memberi beras, memberi tembakau, memberi teh, memberi gula. Mbah Gimun berjalan beriring-iringan dengan tetangga-tetangganya, dengan anak-anaknya, dengan menantu-menantunya. Mereka menyusuri jalan desa yang hanya dikeraskan dengan batu. Pagi itu pohon-pohon tampak diam saja karena tidak ada angin. Di langit juga tidak kelihatan ada awan. Karena masih pagi, udara terasa tidak terlalu panas. Di tempat pencoblosan sudah ada banyak orang. Semuanya memakai baju bagus-bagus dan warna-warni.

Mbah Gimun memakai kain sarung, baju surjan hitam, sandal jepit, dan kepalanya ditutup udeng. Dia mencari tempat duduk yang pas. Sebab hampir seluruh warga kampung yang melihatnya, menawarinya tempat duduk. Dia lalu memilih duduk di kursi plastik di pojok belakang. Dari saku surjannya, Mbah Gimun mengeluarkan kantong plastik berisi tembakau dan kertas lintingan. Dia lalu melolos satu lembar kertas, mencomot gumpalan tembakau dan melintingnya. Tetapi ketika lintingan itu ditaruh di mulutnya, dia kebingungan. Di rumah, biasanya Mbah Gimun menyalakan rokok lintingannya dengan bara api dari dapur.

Melihat Mbah Gimun kebingungan, banyak warga kampung yang menyodorkan korek api gas. Rokok Mbah Gimun lalu mengepulkan asap yang segera menyebar ke mana-mana. Baunya sangit dan keras. Setelah panitia mengumumkan hal-ihwal pencoblosan, satu-per satu warga kampung dipanggil. Tidak lama kemudian Mbah Gimun juga dipanggil, dilihat kartunya, dicatat, dan diberi kertas suara. Mbah Gimun sudah tahu bagaimana caranya mencoblos. Sebab tahun lalu dia juga ikut tiga kali pencoblosan seperti ini. Tetapi ketika itu yang dipilih pak presiden dan DPR. Bukan pak bupati.

Di bilik pencoblosan, Mbah Gimun menggelar lipatan kertas suara yang baru saja diterimanya. Di sana ada 12 wajah manusia yang sama-sama mengenakan jas dan kepalanya ditutup peci. Ada yang tersenyum, ada yang tertawa, ada pula yang tegang dan cemberut. Beberapa kali Mbah Gimun menyedot rokok lintingannya. Asap mengepul deras sampai menyembul ke luar bilik pencoblosan. Mbah Gimun memungut rokok lintingan dari bibirnya. Bara api di ujung rokok itu memerah. Dengan mengucap Bismillah, Mbah Gimun mencoblos 12 wajah dengan api rokoknya. Ada yang dicoblos di jidat, ada yang di pipi, ada yang di mulut, di mata, di hidung. Mbah Gimun tidak jadi mencoblos baju jas yang dikenakan oleh para calon itu. ”Sayang, baju bagus-bagus begitu kalau dicoblos api rokok.”

Cimanggis, 2005.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: