Sesuatu Itu


Suara-suara itu masih saja terus kami dengar, makin lama makin jelas menyusup ke telinga kami. Tak seorang pun di antara kami yang tahu pasti suara apakah gerangan yang sama-sama kami dengar ini. Kami semua terdiam, menunggu suatu kepastian. Ah, mungkin itu suara bayi yang menangis karena ibunya tidak ada. Tapi benarkah itu suara bayi, apakah bukan tangis kanak-kanak atau orang dewasa. Ya, atau barangkali tangis seorang gadis yang ditinggal ayahnya? Tidak semuanya, itu pasti suara binatang, manusia tidak mungkin terus-terusan menangis seperti itu. Dengarlah baik-baik, bukankah itu suara musang? Hus, itu bukan suara binatang, itu suara makhluk. Jangan main-main makhluk apa yang biasa bersuara seperti itu? Ketahuilah dari tadi aku sudah benar-benar yakin bahwa itu suara Alam. He, dengar saudara-saudara aku tahu sekarang, itu adalah suara sesuatu! Aku tahu pasti, aku telah menyelidikinya dengan seksama. Jangan omong besar, bilamana saudara menyelidikinya, bukankah selama ini saudara masih juga berada di antara kami? Dengar, aku menyelidikinya dari tempat ini, di sini, dan aku telah tahu pasti, inilah bukti-buktinya. Yang mana kami tak bisa melihat, keadaan gelap sekali. Tidak usah dilihat, diraba-raba saja, inilah. Bohong, aku telah merabanya dan tidak cocok, pasti bukan suara sesuatu itu, kami yakin. Ya, hanya dengan meraba-raba saja pastilah tidak mungkin kami dibikin yakin. Kami harus melihat dan merasakan, asinkah? Jangan edan! Kami harus menciumnya, wangi barangkali?

Dan benarlah pada suatu malam aku benar-benar dapat menciumnya, baunya wangi sekali. Dan tatkala lidahku terjulur untuk menjilatnya, tangannya buru-buru mendorongku, kurangajar. Tapi terjilat sedikit, benar-benar asin. Tapi aku masih benar-benar belum bisa yakin aku masih harus melihatnya, maka kunyalakanlah lampu yang berada di ruangan itu, hingga suasana menjadi terang benderang. Sekarang aku dapat melihat dengan jelas. Lho kok kamu to Man? Lho kok kamu? Dia membalas. Wah, kurangajar, ternyata yang kujilati dan kucium tadi Mandolo, sahabatku sendiri.

“Itulah, makanya hati-hati,” katanya sambil tersenyum.
“Apanya yang hati-hati?”
“Itu lo . . . .”
“Yang mana?”
“Itu, sesuatu itu”.
“Yang mana aku belum pernah melihat”.
“Itu yang berkibar-kibar di sana, itulah sesuatu”.
“Jangan main-main kau Mandolo, aku tidak melihat apa-apa”.
“Itu lho, di sana jauh sekali”.
“Wah di sana gelap aku tak bisa melihat apa-apa sama sekali”.
“Tapi toh kamu pernah mendengar?”
“Aku selalu mendengar tiap hari sampai bosan, tapi aku tak pernah bisa yakin, aku harus melihatnya-harus!”
“Konyol kau, kalau memang gelap sekali haruslah pandai meraba-raba”.
“Berat sekali menuruti saranmu itu Mandolo, aku harus cepat-cepat dapat melihatnya”.
“Sekehendakmulah”.

Lalu akupun membawa obor itu ke sana, dan kujumpai mbak Tutik sedang membaca komik. Dia kelihatan cantik sekali memakai pakaian-pakaian yang bagus, mengenakan rambut palsu yang bagus. Dia pernah sekolah dan punya ijazah. Dia pernah kuliah dan belum nikah. Dia tercengang-cengang ketika aku datang.

“Mbak Tutik, aku miskin sekali dan ingin menjadi kaya tiba-tiba”.
“Lho kok kamu dik ada apa sih?”
“Aku ingin melihat sesuatu, apakah Mbak Tutik tidak melihat sesuatu itu tadi di sini?”
“Aku sudah biasa melihatnya tiap hari, aku sudah bosan dengan sesuatu yang lama itu aku ingin sesuatu yang lebih baru”.

“Yang mana Mbak Tutik, aku ingin melihat sesuatu itu, tidak perlu yang baru yang lama pun bolehlah”.
“Bodoh kau, apakah tidak kau lihat sesuatu itu hangat diperdebatkan tiap hari?”
“Aku pernah mendengarnya lalu ingin melihat”.
“Kau hanya bisa meraba-raba saja dan meyakini”.
“Aku tidak ingin yakin, aku ingin tahu dan untuk itu aku harus melihatnya”.
“Bandel sekali kau itu, seharusnya sejak tadi kau meraba-raba saja”.
“Tapi gelap sekali”.
“Hus, jangan keras-keras, buanglah obormu itu”.

Dan obor yang sejak tadi kupegangi itupun kulemparkan kuat-kuat. Jatuhnya tepat di atas tanah yang becek berlumpur. Pest . . . . lalu obor itupun padam, dan keadaan menjadi gelap sekali.

“Mbak Tutik”.
“Nah begitulah, kau dengar sesuatu itu sekarang?”
“Ya, aku bisa mendengarmu Mbak Tutik”.
“Sekarang kamu harus meraba-raba”.
“Yang mana?”
“Ini, disinilah tempatnya”.

Kemudian akupun mulailah meraba-raba, mula-mula terpegang tangan Mbak Tutik dia diam saja, lalu tersentuh dagunya, dia menggeleng, dan akupun terus meraba-raba dan dia diam saja.

“Aku sudah meraba-raba seluruhnya, tapi aku tak menemukan sesuatu itu”.
“Belum”.
“Mungkin tidak ada”.
“Ada saja”.
“Dimana?”
“Kau bisa mengira-ngirakan sendiri tempatnya”.
“Aku ingin tahu persisnya, aku harus melihat”.
“Diraba-raba saja, di tempat gelap lebih mesra”.
“Aku ingin sekali melihat, aku ingin yang tepat”.
“Kau pasti kecewa sekali bila melihatnya”.
“Bohong”.
“Aku pernah kuliah di Theologia”.
“Tapi kau belum pernah nikah di gereja”.
“Tapi aku pernah mengundang Pak Pendeta ke rumah, dia kuminta pendapatnya”.
“Tentang sesuatu itu?”
“Ya, tentang kapankah sebaiknya meresmikan perkawinanku dengan Mas Hendro”.
“Lho kalau begitu diam-diam Mbak Tutik sudah kawin secara gelap?”

“Ya, kami memang pernah tidur bersama-sama beberapa malam, dan Pak Pendeta itupun marah-marah, dia menuduhku telah menyerahkan sesuatu sebelum waktunya”.

“Tapi Mbak Tutik toh belum menyerahkan sesuatu itu?”

“Aku tidak pernah menyerahkannya, sebab aku sendiri belum pernah mendapatkannya sampai dengan saat ini”.

“Tapi Mbak Tutik pernah melihatnya?”
“Tiap hari aku melihatnya, tapi aku belum puas bila belum mendapatkannya”.
“Kau rakus, aku sudah cukup puas dengan melihat saja, aku ingin tahu”.
“Sama saja, kau pasti ingin mendapatkannya juga bila pernah melihat ujudnya”.
“Tidak, aku hanya ingin melihatnya saja”.
“Bohong”.
“Sumpah”.
“Aku tidak senang sumpah-sumpahan, aku hanya mau taruhan, negara kita negara judi”.
“Aku miskin, aku tidak punya apa-apa untuk taruhan”.
“Dulu aku juga miskin, tapi rajin membeli nomor buntutan, sekarang aku sudah kaya”.

“Aku tak pandai meramal kode, berilah aku nomor yang bagus”.
“Aku bisa meramal, kuramalkan nasibmu yang buruk, kau tak akan pernah melihat sesuatu itu”.

“Aku yakin suatu ketika bisa”.
“Keyakinan konyol, sia-sia itu”.
“Tidak”.

Maka kuambillah obor yang tadi kubuang itu, tapi sudah tak dapat dinyalakan lagi, terpaksalah malam itu aku pulang dengan meraba-raba saja. Sesampai di rumah kurebahkan diriku di atas dipan. Aku lelah sekali dan beraksud untuk tidur. Yah begitulah memang lebih baik. Sehabis kerja, kita harus mengaso, tidur nyenyak-nyenyak. Meski tidak kerja berat, kerja mengangkat benda-benda yang berat, kita harus mengaso. Kerja sambil duduk-duduk, kerja menulis-nulis, kerja omong-omong, kita harus mengaso banyak-banyak, tidur dengan nyenyak. Begitulah maksudku, tapi apa lacur. Baru saja mataku mau terpejam, terdengar kembali suara-suara itu. Mula-mula jauh dan sayup, makin lama makin jelas dan dekat. Menggelegar-gelegar, keras sekali. Seluruh dinding kamarku bergetar. Apakah itu suara meriam? meriam siapa pula pada malam-malam begini ditembakkan, sekarang sudah tidak musimnya perang-perangan lagi. Apakah suara radio? Radio rusak? Pasti tidak, tidak lazim radio rusak dibunyikan. Apakah suara halilintar? Atau suara kiamat akhir jaman itu?

“Man, Mandolo, kamar Mandolo terletak di sebelah kamarku, dia pasti belum tidur, dia biasa mencocok-cocokkan kode kasino sampai jauh malam”.

“Ada apa sih?”
“Adakah kau dengar suara itu Man?”
“Tentu saja kudengar aku tidak tuli”.
“Suara apakah Man itu menurut pendapatmu?”
“Jelas itu suara sesuatu”.
“Apakah sesuatu itu bisa bersuara?”
“Ya, sebab sesuatu itu tidak bisu, kalau dia bisu tentu tidak bersuara”.
“Apakah tidak ada sesuatu yang tidak bisu?”
“Tentu saja ada, ada yang bisu, ada yang tidak bisu, yang tidak bisu bersuara yang bisu diam”.

“Man aku ingin sekali melihat sesuatu itu”.
“Percuma, dengan mendengar saja aku sudah puas dan yakin kalau sesuatu itu ada”.
“Tapi jangan-jangan telinga kita yang salah, kita mengada-ada, illusi”.
“Aku tahu kalau ada”.
“Kau yakin bukan tahu”.
“Kita”.
“Ya, kitalah yang mengada-ada. Illusi konyol. Aku harus melihatnya”.
“Sia-sia”.
“Tidak”.

Dan dengan keras kudobrak pintu kamarku.

Suara-suara itu makin sayup kudengar. Makin jauh dan akhirnya tak kudengar sama sekali. Dan di luar malam pun gelap sekali. Tak sesuatu pun bisa kudengar dan kulihat kini. Dan aku harus kembali meraba-raba untuk kesekian kalinya demi sesuatu yang tak tentu itu? Konyol!
Dan akupun kembali rebah di atas dipan dan tertidur. ***

Sumber: Buku Kentrung Itelile, Penerbit Puspa Swara Tahun 1993

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: