ULASAN LEMBATA


Novel Picisan Tentang Pedalaman

February 2, 2009 |  Tagged Review Novel |

Judul               : Lembata
Penulis           : F. Rahardi
Penerbit        : Lamalera, 2008
Tebal               : ix + 256 

Orang-orang bergerak tak jauh dari kemelaratan. Sementara itu, segelintir orang yang bergerak mendorong orang-orang melarat tersebut menjauh dari kemelaratan. Semua bergerak, namun Lembata, pulau kecil melarat yang baru delapan tahun menjadi kabupaten menjadi simpul utama bagi keseluruhan isi novel.

“Novel ini merupakan gugatan keras atas kebekuan dan ketulian Gereja” begitu pengantar penerbit diawal novel ini dengan sedikit contoh ilustrasi keberhasilan novel Da Vinci Code karya Dan Brown. Penerbit memberi sedikit gambaran kontekstual bagaimana novel karya F. Rahardi ini muncul.

Beberapa novel yang menyinggung sisi “lain” gereja memang sukses dipasaran beberapa tahun belakangan. Sebut saja, setelah Da Vinci Code dan Angel and Demon karya Dan Brown, menjamur novel dan buku dengan tema-tema serupa di Barat. Dan seperti tipikal industri kreatif di Indonesia, para penerbit dan penulis pun latah tak mau ketinggalan. Penerbit ramai menerjemahkan novel kontroversial tersebut. Penulis pun tak mau ketinggalan tren yang sedang digeluti para penerbit dengan menulis novel atau buku dengan tema serupa. 

Jika dirunut kebelakang, jauh sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu, gereja memang selalu obyek yang menarik. Kesakralan dan kuasa yang dimiliki gereja adalah daya tarik tersendiri bagi  beberapa orang untuk imajinasikan isi dibalik temboknya. Hebatnya, di Barat imajinasi paling liar, layaknya ide tentang kebebasan adalah hal yang dilindungi. 

Hal ini berbeda dengan dunia Timur yang selalu lebih melindungi simbol-simbol sakral daripada melindungi orang-orang yang menhidupi simbol-simbol tersebut. Lihat saja, orang-orang yang berimajinasi liar tentang Masjid, Al Quran, bahkan tentang ulama adalah orang yang dihalalkan untuk dibunuh. Karena itu, lagi-lagi gereja adalah simbol kesakralan yang aman untuk diimajinasikan secara liar. 

Agaknya F. Rahardi menjadi salah satu contoh tipikal penulis Indonesia yang latah tak mau ketinggalan momen. Tanpa tema segar dan original, Lembata menjadi novelnya yang picisan dan mengimitasi ide populer tentang kekolotan gereja. Praktis tak ada hal baru yang akan menjadi inspirasi ketika membaca novel ini, terlebih jika pernah membaca Angel and Demon atau Da Vinci Code. 

Dari segi tema, F. Rahardi memang tidak menawarkan hal baru selain sentuhan lokal dalam novelnya. Lembata menjadi pilihan tepat untuk menggambarkan sebagian kecil kemelaratan Indonesia. Selain Lembata, masih banyak pulau-pulau kecil yang dihuni orang-orang yang tak pernah bergerak menjauh dari kemelaratan. Sebut saja pulau-pulau seperti Nipah, Solor, Adonara, dan ratusan pulau kecil lainnya. Di pulau-pulau seperti ini, listrik PLN tidak pernah ada, listrik swadaya pun hanya bertahan dua jam sehari. Selama itulah jatah nonton TV yang interaksi dengan dunia luar dapat dilakukan. 

Di pulau-pulau seperti ini, institusi agama menjadi salah satu pemilik kekuasaan politik selain pemerintah. Institusi agama seperti gereja bahkan memiliki jaringan yang bisa lebih dalam masuk dalam komunitas masyarakat daripada yang dilakukan pemerintah. Bayangkan saja, kepala desa bisa lebih tunduk kepada pastor daripada kepada camat maupun bupati. 

Tanpa ide segar, memang membosankan membaca novel Lembata karya F. Rahardi ini. Terlebih pembaca Indonesia dalam beberapa tahun belakangan dicekoki dengan novel-novel Barat yang memiliki jalan cerita lebih canggih dan kompleks. Jika dibandingkan, bahkan dalam hal akrobat kata-kata F. Rahardi kalah telak. 

Akrobat kata yang minim telah menjebat novel ini dalam kategori novel picisan. Kualitasnya tak mampu mengalahkan Pram dan novelis jadul Indonesia. Namun sepeninggal Pram, novel ini tetap layak dibaca. Minimal jika pembaca tak mendapat pencerahan, pembaca akan sedikit mengetahui kondisi Lembata dan masyarakat di dalamnya.


 

Kamis, 2009 Mei 28

MISKINNYA CERITA DAN MIMPI TANAH MISKIN

Judul : Lembata (sebuah novel)
Pengarang : F. Rahardi
Tebal : x + 256 halaman
Penerbit : Penerbit Lamalera, Yogyakarta
Tahun terbit : Juli 2008

Bertamasya di dunia kisah dengan sebuah iming-iming sebelumnya memang bermadu-racun. Berbahagia bila iming-iming itu terpuaskan, sebaliknya kecewa apabila tak ditemukan. Menikmati Lembata dengan terlebih dahulu terprovokasi pengantar penerbitannya, saya tak jamin anda bertemu madu.
Tolle et Lege. Ambil dan bacalah. Begitu penerbit mengakhiri pengantar penerbitan novel ini, setelah menjanjikan sebuah novel yang …merupakan gugatan keras atas kebekuan dan ketulian Gereja (hal. v), setara dengan Da Vinci Code serta God’s Spy. Namun yang ditemui justru lebih banyak berkutat pada hubungan dua anak manusia berbeda pilihan dan gaya hidup, Pedro dan Luciola. Memang ada permasalahan kebekuan dan ketulian Gereja dalam Lembata. Tetapi bila ditapis dan dibuang, ia tak memustahilkan terangkainya cerita.

Terlepas dari itu, mengangkat nama sebuah tempat real sebagai judul novel adalah tindakan berani. Apalagi ketika tempat itu begitu sepi publikasi sebelumnya dan jauh dari kata populer. Keunikan Lembata bukan hanya itu. Ia juga adalah novel pertama dari F. Rahardi yang di kancah sastra Indonesia lebih dikenal sebagai penyair dan essais.

Dua Kutub Berbeda

Lembata ampunya tokoh utama pastor muda Keuskupan Larantuka, Pedro, dan Luciola, putri konglomerat-pembisnis lintas benua. Bersettingkan Jakarta, Larantuka, Lembata, Darwin, Montreux, Monaco, dll, Lembata berkelindan bersama sosok Luciola yang kaya sonder-ampun, berpadu Pedro dan masyarakat Lembata yang sonder-ampun pula miskinnya. Bayangkan! Uang yang dihambur-hamburkan Luciola dalam sehari, hampir sama dengan jumlah pendapatan empat kepala keluarga di Aliuroba sebulannya. Hidup bebas a la manusia modern dikonfrontasikan dengan kepatuhan hidup selibat seorang pastor Katolik. Luciola atau Ola adalah anak metropolis yang akrab dengan kebebasan, free sex, dan alkohol. Dengan uang yang ia punya, apa pun mampu didapatnya. Di sisi lain, Pedro yang berlatar belakang kota tua Katolik, Larantuka, begitu setia pada kaul hidup selibat dan kaul kemiskinannya. Keduanya bertemu di kampus Atma Jaya.
Lembata pun berhulu ketika Luciola jatuh cinta pada Pedro. Segala hal dicobanya untuk bisa menikahi Pedro, atau setidak-tidaknya berhubungan seks semalam saja. Dari menyertai Pedro ke tempat tugas barunya di Paroki Aliuroba yang miskin hingga mengirimkan foto-foto hubungan seksnya dengan para gigolo Monaco dilakukan Ola. Namun, bahkan setelah Pedro menanggalkan jubah pastornya pun, Pedro tetap teguh pada pilihan hidup selibat.

“… Papi, aku mau bekerja untuk kemanusiaan. Melalui Gereja, aku mau bekerja untuk kemanusiaan. …… Kamu masih mau tetap membantu aku bukan? Pedro, cinta, terlebih seks, ternyata memang bukan hal yang utama ya?” (hal. 256). Itulah akhir cerita ini, ketika Luciola yang modern ’menyerah’ pada pendirian dan pilihan Pedro.

Sebuah Solusi Utopis?

Selain berhasil menyusupkan problematika pemerintahan dan gereja lokal Lembata kontemporer, F. Rahardi yang pernah berkhitmat di majalah Trubus ini pun renyah menampilkan potensi pertanian tanah Lembata. Dengan rinci diuraikannya unsur-unsur tanah, iklim, dan potensi serta komoditi-komoditi yang cocok untuk tanah di daerah yang terlanjur dicap tandus itu. Pemahaman Rahardi akan dunia pertanian lokal mau pun global mengkristal dalam novel ini. Bukan hanya potensi tanah dan komoditasnya yang dibahas, Lembata seakan ’menciptakan strategi’ melawan hegemoni pasar pertanian global.

Sayang. Strategi yang tercipta dalam Lembata terkesan utopis, mengejar akhir cerita yang manis, berbau deus ex machina. Luciola yang sonder-ampun kayanya itu menjadi dewi penyelamat bagi petani Aliuroba. Dengan kekuasaan dan uangnya, Ola memungkinkan petani Aliuroba mandiri dan punya posisi tawar dalam berhadapan dengan pemerintah, pun pula mafia perdagangan pangan global. Bukankah ini sebuah dongeng sebelum tidur yang terlampau manis, ketika hampir semua petani di negeri penghasil padi terbesar ketiga dunia ini begitu merana hidupnya?

Selain itu, Lembata kurang berhasil pula menjadi novel yang mengalir indah dengan dialog-dialog dan jalan cerita yang mampu membuat terpana. Lembata lebih banyak diisi monolog-monolog tanpa interaksi intens para tokoh. Masalah pertanian, kemiskinan, dan perbedaan kontrasnya dengan kekayaan Ola, dengan tak apik menjadi unsur-unsur cerita yang tidak saling menyatu. Sehingga, pada tikungan kesekian novel ini, niscaya rambu-rambu kebosanan menanti. Hadirnya Luciola sebagai penggoda Pastor Pedro—yang terkesan terlampau suci, tak semanusiawi, misalnya, tokoh Saman-nya Ayu Utami—pun cukup mengganggu bila dibaca dengan kaca mata pembacaan yang lain. F. Rahardi seakan ’melestarikan’ konstruksi sosial patriarkis, di mana perempuan selalu menjadi sumber masalah manusia. Lembata-pun menambah panjang daftar kisah yang bias jender, di mana tokoh penggoda nan jahat kerap berkelamin perempuan.

***

Terlepas dari semua itu, Lembata termasuk novel yang patut dinikmati dengan kekritisan dan juga empati pada korban ketakadilan dunia; para petani kecil di seluruh pelosok negeri ini. Lembata mungkin punya sumbangsih kecil yang patut dilirik, ketika ia membisikan sebuah mimpi para petani dari tanah miskin di pelosok-pelosok Pulau ’lomblem’ Lembata.
Bila bahan-bahan baku Lembata menjadi adonan cerita yang tak semiskin ini, lebih menarik, saling padu dan nir-pisah, niscaya novel ini menjadi mata air penyegar di tengah kemelut krisis pangan global. Ia bisa pula menjadi peringatan keras, di tengah mengaburnya identitas Indonesia sebagai negara agraris dewasa ini.

Diposkan oleh kecoa merah di 04:08
Label: isengiseng di sastra

1 komentar:

tukangbikincerita mengatakan…

wuih template blognya baru liat nih yang kaya’ gini. gimana bikinya? mampir dunk ke blog saya yang sederhana dan kasih komentarnya ya. makasih

http://novel-cerita-indonesia.blogspot.com


 

2009 Juli 17 13:28

PENERBIT LAMALERA GELAR BOOK FAIR

KUPANG, PK–Dalam rangka merayakan HUT emas Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Penerbit Lamalera menggelar Lamalera Book Fair di Aula Univeristas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang. Book Fair (pameran buku) bertajuk “Orang Pintar Baca Buku” ini dimaksudkan sebagai sumbangan penerbit ini untuk membangun sumber daya manusia NTT.

Demikian dikatakan Wakil Direktur Penerbit Lamalera, Pater Charles Beraf, SVD, dalam konferensi pers di ruang Program Magister Manajemen Lantai I Unika Widya Mandira (Unwira)- Kupang, Kamis (18/12/2008) siang.

Pada hajatan ini Penerbit Lamalera-Jakarta akan memamerkan dan menjual 30 ribu judul buku dari berbagai disiplin ilmu termasuk cerpen dan buku untuk anak-anak dengan harga mulai dari Rp 5.000,00. Pameran buku ini merupakan bagian dari tanggung jawab dan partisipasi Penerbit Lamalera terhadap pembangunan sumber daya manusia di NTT.

Pameran buku ini berlangsung empat hari, terhitung 19-22 Desember 2008. Ada banyak buku yang akan ditampilkan dan dijual murah. Lamalera Book Fair ini terselenggara atas kerja sama dan dukungan Unwira Kupang, Kelompok Penerbit Buku dan Multimedia Gramedia (Gramedia, Grasindo, Elex Media Komputindo) dan Harian Pos Kupang.

Menurut Beraf, HUT ke-50 Propinsi NTT merupakan momentum syukur dan momentum refleksi bagi warga NTT supaya berani melihat diri. “Lima puluh tahun hendaknya tidak diartikan secara sederhana sebagai momentum eforia politis- teritorial orang NTT, melainkan patut dilihat sebagai kairos, saat di mana orang-orang NTT menyatakan kesigapannya melangkah ke depan dengan berani untuk melihat sekarang dan membongkar apa yang lalu,” kata Beraf.

Beraf mengatakan, banyak masalah yang terjadi di NTT turut disebabkan oleh keengganan orang melihat dan mengolah yang sekarang. Dan, hal itu berakar pada masalah sumber daya manusia (SDM) orang NTT yang belum baik. “Keprihatinan ini mendorong Penerbit Lamalera menyelenggarakan kegiatan pameran dan bedah buku. Dengan harapan isolasi intelektual yang melanda masyarakat NTT terutama generasi muda bisa dibuka. Selain itu diharapkan dapat meningkatkan pengenalan akan pentingnya buku bagi masyarakat NTT. Buku adalah jendela untuk melihat dunia,” kata Beraf.

Sementara itu Sekretaris Panitia Lamalera Book Fair, Wenifrida Kristina Beding, dalam kesempatan yang sama menambahkan, untuk menyukseskan kegiatan Lamalera Book Fair pihak panitia juga akan menghadirkan artis Happy Salma. “Happy Salma hadir bukan sebagai artis tetapi sebagai penulis buku. Happy Salma telah menulis dua buku selama ini,” kata Wenifrida.

Pembatu Rektor III Unika Widya Mandira Kupang, Damianus Tallok dalam jumpa pers ini mengatakan, Unika Widya Mandira Kupang menyambut baik kegiatan Lamalera Book Fair yang diisi dengan pameran buku serta acara diskusi dan bedah buku yang diselenggarakan Penerbit Lamalera Jakarta. “Unika Widya Mandira Kupang wellcome kepada siapa saja, termasuk Penerbit Lamalera. Karena selama ini masalah buku di NTT adalah masalah mahalnya harga buku. Padahal buku merupakan barang berharga yang kalau kita sering baca buku bisa membuka wawasan dan pengetahuan kita,” kata Tallok. (mar)

Happy Salma Bedah Cerpen

SELAIN pameran, Lamalera Book Fair juga akan diisi dengan membedah empat buku menarik. Empat buku itu yakni HAM untuk Masyarakat Komunal, karya Marianus Kleden, Lembata, Sebuah Novel, karya F Rahardi, Kampung-Bangsa-Dunia: 50 Tahun NTT, karya Paul Budi Kleden, dan Telaga Fatamorgana (kumpulan cerpen), karya Happy Salma (artis dan cerpenis).

Buku HAM untuk Masyarakat Komunal akan dibedah pada 20 Desember pukul 16.00 Wita oleh Stanley Adi Prasetya (anggota Komnas HAM), Dr. Frans Rengka dan Dr. Karolus Kopong Medan. Buku Lembata Sebuah Novel dibedah pada hari yang sama pukul 10.00 Wita oleh Sri Palupi (Direktur ECOSOC), FX Rudy Gunawan (wartawan dan novelis) dan Dr. Paul Budi Kleden (teolog dan peminat sastra).

Pada tanggal 21 Desember buku Kampung-Bangsa-Dunia: 50 Tahun NTT akan dibedah pukul 10.00 Wita oleh Stanley Adi Prasetya dan Sri Palupi. Sedangkan Telaga Fatamorgana dibedah sore hari pukul 16.00 oleh Mezra Pellondou (novelis dan cerpenis), FX Rudy Gunawan dan Happy Salma.

Direktur Penerbit Lamalera, Bona Beding, mengatakan, acara selama empat hari ini diharapkan bisa membuka mata orang NTT tentang pentingnya buku. “Dengan acara ini kami mengharapkan isolasi intelektual bisa dibuka, budaya bacar ditradisikan dan minat akademis ditumbuhkan di kalangan masyarakat NTT,” kata Bona.

Karena itu, Bona mengharapkan agar acara ini benar-benar membawa manfaat. “Kami juga mengundang pak gubernur untuk hadir dalam acara ini. Pak gubernur akan kami minta untuk meluncurkan tiga buku pada acara puncak. Pak gubernur kami undang karena inilah sumbangan kami untuk HUT emas NTT,” kata Bona Beding. (len)


 

MENGGUGAT ROTI DAN ANGGUR

Minggu, 19 Juli 2009 | 03:56 WIB
BUDI KLEDEN

• Judul: Lembata: Sebuah Novel • Pengarang: F Rahardi • Penerbit: Lamalera, 2008 • Tebal: ix + 256 halaman

”Sesuai hakikatnya, seorang sastrawan dewasa ini tidak dapat memberi dirinya untuk melayani kepentingan mereka yang membuat sejarah; sebaliknya dia harus memenuhi kepentingan mereka yang menjadi korban sejarah. Jika tidak, dia mengkhianati diri dan keseniannya.”

Demikian penggalan bagian dari pidato Albert Camus saat menerima Hadiah Nobel Sastra di Oslo, 10 Desember 1957. Bagi Camus, seni bukan sebuah kesenangan yang dinikmati sendiri, melainkan ”satu sarana untuk menggugah sebanyak mungkin orang dengan cara menghadirkan di depan mereka satu gambaran dari penderitaan dan kegembiraan bersama”. Ia melihat ”keutamaan bidang karyanya senantiasa berakar pada dua kewajiban yang tidak mudah dipenuhi: menolak untuk menipu dan melawan penindasan”.

Jebakan sastra

”Menolak untuk menipu”, dengan pernyataan ini Camus memberikan arah untuk memahami dimensi fantasi dari karya sastra. Fantasi bukanlah tipuan dan lawan dari kebenaran. Dia adalah cara mengungkapkan kebenaran tentang kehidupan. Dalam fantasi, melalui tokoh dan kisah rekaan, dihadirkan gambaran tentang penderitaan dan kegembiraan. Sebuah karya seni, termasuk sastra, menyatakan bahwa kebenaran kehidupan itu jauh lebih berwarna-warni daripada hitam putih. Dan karya sastra yang juga hitam putih adalah pembohongan.

Pembohongan dapat terjadi atas dua alasan. Pertama adalah indoktrinasi. Sastra menjadi sarana pembohongan publik ketika dia membiarkan diri diperalat oleh ideologi sebagai sarana indoktrinasi. Dalam indoktrinasi terjadi penyederhanaan konsep tentang kehidupan dengan kategorisasi baik-buruk, kawan-lawan. Karena itu, ideologi cenderung menindas keanekaan pandangan dan gaya hidup. Kedua, sentimentalisme. Karena terlampau kuat dipengaruhi oleh rasa takjub atau dibelenggu oleh amarah, seorang sastrawan menjadi tidak realistis terhadap kehidupan dan berlaku tidak adil di hadapan banyak manusia.

Membaca Lembata, Sebuah Novel karya F Rahardi memberi kesan, betapa penulis berjuang keras untuk tidak terjebak dalam belenggu ideologi dan ditelan jurang sentimentalisme. Temanya jelas, yakni mengkritisi peran gereja Katolik sebagai satu komunitas agama yang dianut mayoritas warga pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam napas seperti ini, seorang penulis bisa saja hanyut dalam arus kritik yang dilancarkan ke alamat lembaga-lembaga agama, termasuk gereja Katolik. Agama dinilai sebagai pembentuk kesadaran yang salah. Tidak sedikit yang menilai agama sebagai kolaborator dari agen-agen penindasan. Novel ini mengangkat permasalahan hosti dan anggur yang digunakan di dalam perayaan ekaristi gereja Katolik, yang bahannya didatangkan dari luar negeri.

Tema-tema sampingan yang disentil di dalam novel ini pun penuh muatan kontroversial, seperti selibat dan hierarkisisme dalam gereja Katolik. Di tengah derasnya arus kontroversi seperti ini, ada godaan besar untuk memaparkan kebobrokan dalam gaya hitam putih, atau mengambil sikap membela bernuansa ideologis.

Penulis berhasil menampilkan sebuah gambaran yang berwarna-warni tentang kehidupan gereja dan masyarakat Lembata. Dia membuka tirai prasangka untuk dapat menatap sebuah panorama yang tidak sehomogen yang dibayangkan. Di satu pihak ada uskup yang boleh jadi karena tradisi dan tekanan keadaan merasa terpaksa menjadi mitra yang patuh dari pemerintah dan pengusaha. Di lain pihak ada Pedro, romo Deken Lembata, pastor Alex dan Zebua, empat imam yang bertugas di Lembata, yang memiliki keprihatinan sosial dan bersikap terbuka.

Dengan pemaparan gaya ini, Rahardi tidak meninggalkan Pedro, sang mantan pastor, sendirian. Dia mendapat bantuan dari beberapa rekan pastornya, bukan sekadar karena belas kasih kemanusiaan yang menggugah, melainkan karena keyakinan yang sama akan pentingnya komitmen terhadap upaya perbaikan kualitas kehidupan masyarakat.

Cerdik

Sebuah kontras dibangun secara cerdik untuk memberi bingkai yang menegangkan bagi isi kisah yang provokatif. Ola jatuh cinta kepada Pedro, teman mahasiswanya di Fakultas Ekonomi Unika Atma Jaya Jakarta. Pedro adalah seorang pastor yang baru menyelesaikan studi ekonomi itu tampangnya ganteng, pikirannya cemerlang, pergaulannya luwes. Masalahnya, dia sangat yakin akan ketepatan pilihan hidup selibat sebagai imam.

Ola bukan gadis sembarangan, mudah bergaul dan pandai menjalin lobi. Dia putri tunggal seorang pengusaha kaya yang memiliki jaringan usaha internasional. Semua keinginannya dipenuhi. Cuma dia harus menghadapi kerasnya hati Pedro. Berbagai jalan dan cara ditempuhnya. Dia bersedia ke Flores, juga ke Lembata, malahan sampai ke Aliuroba, kampung kecil di bagian timur Lembata, tempat tugas Pedro.

Kisah tentang relasi ini, yang dilukiskan secara ekstensif, dapat menjadi pintu masuk untuk melihat sebuah realitas di dalam gereja Katolik, tetapi juga di dalam agama-agama lain. Sikap dingin yang ditunjukkan pemimpin keuskupan dan penolakan dari pihak keluarga Pedro menunjukkan betapa orang-orang beragama, di sini orang-orang Katolik, cenderung menyempitkan penilaian moralnya dari perspektif seksualitas. Dengan ini orang beragama menempatkan moral sosial pada urutan kesekian.

Ada banyak ironi dalam hidup, juga di dalam novel ini. Setelah melakukan sebuah tindakan fatal pada kesempatan perayaan ibadat, Pedro mengambil keputusan untuk melepaskan jabatan sebagai imam dan mulai berusaha sendiri menanam anggur dan gandum di Lembata. Setelah usaha ini membawa hasil, ternyata gereja berubah sikap. Ini justru terjadi pada satu momen, ketika ia tidak dibutuhkan lagi. Sebuah institusi besar bisa berubah, tetapi sering itu terjadi ketika kondisi sekitar sudah berubah seluruhnya dan tidak lagi membutuhkan perubahan.

Yang lamban berubah ternyata bukan satu lembaga agama. Seorang manusia pun dapat sangat pelan berubah. Rahardi menunjukkan ini dalam sosok Ola. Dia tetap pada sikapnya, mencintai Pedro. Sangat perlahan dia sampai pada keyakinan bahwa cinta tidak mesti sama dengan seks. Setelah berubah sikap, dia menjadi penyelamat bagi Pedro dan masyarakat Lembata yang sedang mencari jalan untuk memasarkan anggur dan gandumnya.

Sampai di sini Rahardi gagal menyajikan karya sastra—apa yang disebut Albert Camus—sebagai gambaran penderitaan dan kegembiraan dunia. Kedatangan Ola sebagai penyelamat di tengah sebuah situasi yang demikian krusial untuk seluruh proyek hidup Pedro terlalu bersifat kebetulan. Orang Jerman akan berkata: ”Es ist zu schön, um wahr zu sein”, ini terlalu indah untuk bisa menjadi kenyataan.

Budi Kleden Dosen Teologi dan Sastra pada STFK Ledalero, Flores


 

Rabu, 04 Maret 2009

GUGATAN DI ATAS SEBUAH KISAH 

OlehMega Christina
Judul Buku : Lembata: Sebuah Novel Penulis : F Rahardi Penerbit : Lamalera Cetakan : Pertama, Juli 2008Tebal : 256 halaman.

Nama Lembata terkenal dengan budaya berburu ikan paus di Lamalera, desa pedalaman di pesisir selatan pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tradisi menangkap ikap paus menggunakan perahu dan alat tangkap tradisional ini telah menjadi objek wisata bahari sekaligus wisata budaya menarik yang mashyur di kalangan penggemar petualangan hingga ke mancanegara.

Setahun belakangan nama Lembata mencuat dengan adanya konflik pertambangan yang mendapat izin dari Bupati Lembata dengan rakyat yang menentang Kontrak Karya di atas lahan seluas 91.600 hektare, sementara luas seluruh pulau itu hanya 126.648 hektare. Namun, dalam novel yang ia akui sebagai novel pertamanya, Rahardi tidak banyak menyinggung konflik riuh-reda itu, kecuali di satu bagian Emas LSM-Saint-Etienne-de-Tinee. Rahardi lebih asyik menyajikan konflik lain, konflik batin seorang imam Katolik berbumbu romantika.

Awalnya Rahardi membawa pembaca ke sebuah perjalanan menyusuri Adonara, Solor, Gunung Ile Mandiri yang memagari Larantuka. Sayangnya, keindahan pulau-pulau eksotik di bagian timur ini tidak mendapat eksplorasi yang memadai, sebagai sebuah “pemanis” dalam novel. Padahal, sebelumnya Rahardi terkenal sebagai penyair dengan “sihir” kata-kata puitisnya. Namun, Rahardi membukanya dengan cantik melalui percakapan yang lebih mirip monolog tokoh utamanya, Luciola dan Pedro. Sayangnya bentuk dialog dan monolog kemudian nyaris tak dapat dibedakan, mungkin ini bagian dari keunikan awal sebuah novel Rahardi.

Singkat cerita bagian pertama yang bertajuk San Dominggo mengisahkan Luciola, gadis cantik mengantar teman kuliahnya, Romo Pedro, seorang pastor yang pulang menghadap pembesarnya, Uskup Larantuka.

Dikisahkan keduanya sarjana ekonomi yang baru lulus dari Universitas Atma Jaya, Jakarta.“Aku tahu bangunan paling baik di kota ini pasti rumah bupati dan juga rumah uskup. San Dominggo yang tadi kita lewati itukah rumah uskupmu?” (tanda petik dari peresensi).

Begitu Rahardi memulai gugatan halus lewat tokohnya. Setelah menunggu seminggu, Pedro ditugaskan di Lembata. Itu pun ia belum tahu ditempatkan di paroki (satuan setingkat kota, red) yang mana. Tiba di Lewoleba, kota pelabuhan Lembata, Pedro harus menghadap Pastor Dekenat, yang mengepalai 13 paroki di Lembata. Akhirnya ia ditugaskan sebagai pastor pembantu di Paroki Aliuroba ujung timur laut Lembata. Baru di sini Rahardi bermurah hati membagi pengetahuannya tentang misi pertama Gereja Katolik yang berkembang secara tak sengaja karena dua misionaris Eropa dari Solor terdampar di Lamalera. Terasa nuansa Katolik yang kental sebagaimana realitas masyarakat di sebagian besar NTT.

Meski Aliuroba desa terpencil dengan listrik dari genset PLN yang hanya hidup malam hari, Ola, Luciola masih juga mengikuti Pedro. Ola digambarkan sebagai gadis cantik berkulit putih, menawan, pintar dan kaya raya dengan ayah yang memiliki bisnis di Las Vegas, Monako dan berbagai belahan dunia lainnya. Sehingga Ola bisa meminta ayahnya memasang antena parabola untuk telepon satelit serta pembangkit listrik panel surya dan angin di Aliuroba.

Rahardi menggambarkan Pedro lulus dengan IP (indeks prestasi) 3,8. Ia merupakan lelaki gagah, tampan dan kulitnya tak sehitam orang-orang Larantuka pada umumnya, wajahnya tipikal para bintang sepakbola dari Italia, suaranya juga sangat bagus (halaman 29). Terasa tokoh-tokoh utama novel ini jadi seperti bukan manusia-manusia biasa. Bak kisah di negeri dongeng. Setelah sekian lama di Lembata, Ola merasa telah kehilangan harapan menakhlukkan Pedro. Maka ia menenangkan pikiran dengan memutuskan ke Eropa. Dari Lewoleba, Ola terbang ke Kupang, via Darwin ia terbang ke Milan dengan Singapore Airlines. Yang di setiap persinggahan selalu ada kaki-tangan ayahnya yang siap sedia memfasilitasi Ola.Terasa benar Ola bermegah-megah di Eropa, sementara Pedro bergulat dengan kemiskinan, yang digambarkan dengan kedatangan umat yang suami adiknya menikah lagi di Sabah, menjadi TKI di Malaysia. Dari sini Pedro dengan kritis bertanya pada koleganya, Pastor Alex, “… aku mau tanya, apa saja yang telah dikerjakan oleh gereja, hingga umat kita tetap miskin?”

Mulailah gugatan demi gugatan meluncur di atas kisah ini. Rahardi menulis, “Harga kopra hanya Rp 3.000 per kilogram. Tapi petani kelapa harus membeli minyak goreng dengan harga Rp 8.000 per setengah liter. Mereka makan hanya satu kali sehari dan gizi mereka juga sangat buruk.”Di Lavaux, sehari Ola menghabiskan seratus euro setara dengan Rp 1.300.000 (waktu Novel ini ditulis). “Umatku di Aliuroba, pendapatan rata-ratanya sebulan hanya sekitar Rp 300.000, seperempat dari pengeluaranmu sehari” (halaman 63). Puncaknya Pedro menggugat perjamuan dengan anggur dan hosti yang terbuat dari gandum yang harus diimpor. Lalu ia mengganti anggur dengan moke (tuak yang disuling lagi hingga mencapai kadar alkohol 60 persen) dan hosti diganti jagung titi. Bagai sebuah pemberontakan yang tak seimbang, Pedro terlempar ke luar gelanggang permainan dan bergulat melawan dirinya hingga sebuah akhir yang sulit ditebak. Sebagai sebuah bacaan yang relatif ringan, novel Rahardi ini cukup menghibur dan tak membuat dahi berkerut meski sebagian gugatan cukup kuat.

Sumber : Harian Sinar Harapan

Diposkan oleh John Mamun Sabaleku di 03:30

Label: Resensi


PEMENANG PENGHARGAAN KHATULISTIWA KRITIK KAPITALISME DI GEREJA

Rabu, 11 November 2009 | 18:45 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Pencipta novel Lembata, Floribertus Rahardi, yang meraih Penghargaan Literatur Khatulistiwa atau <i>Khatulistiwa Literary Award</i> ke-9 untuk kategori prosa terbaik mengritik gereja yang jadi bagian kapitalisme modern.

Dalam novel Lembata tersebut, menurut Rahardi, gereja membentuk orang untuk mendukung misi gereja itu sendiri. Ia melihat, meski telah mendidik para petani dan peternak, gereja malah menjadi otosentris. “Tetap saja orang itu dibentuk untuk mendukung gereja,” jelas Rahardi, Selasa (10/11) malam.

Menurut Ketua Tim Juri Penghargaan Robertus Robet, kritik dalam karya Rahadi tersebut terbangun secara alami. Rahardi, kata Robet, bisa membangun hubungan antar tokoh dengan kejadian kritik yang dibangun secara alami.

Karyanya mengarah ke pembangunan nilai-nilai universalitas, sehingga kritik tersebut dapat diapresiasi. “Itu yang diapresiasi lebih oleh tim juri,” ujar Robet disela acara.

Menurut Robertus, menilai karya sastra itu bukan perkara mudah. Cara terbaik memutuskannya adalah memperdebatkan secara serius sebuah karya sastra dari sudut pandang subjektivitas masing-masing juri. “Tim juri tidak mengenal standar baku sastra, karena yang ada adalah perdebatan tentang sastra,” Robertus menjelaskan.

Menanggapi karya Rahardi, Robet melihat bagaimanapun itu, sastra mempertimbangkan aspek ke arah universalitas. Di samping dilihat dari sumbangannya terhadap kebaruan kondisi kemanusiaan.

Selebihnya tim juri menggali mengenai kesetiaan si penulis untuk memperjuangkan imajinasinya sendiri. “Juri melihat sejauh mana militansi si penulis membangun ide dan imajinasinya dalam bahasa,” kata Robet.

HERU TRIYONO
 

 

UJUNG LEMBATA MASIH DI MATA


:: F. Rahardi

Ujung Lembata masih di mata
ketika kau ajak aku menyeberang pulau bernusa
Bahkan pun bau tanah Lewoleba
masih tersangkut dalam bulu hidung
yang tegak berdiri pada kedua lubang buatan-Nya

Ujung Lembata masih di mata
ketika gegar Gunung Kemukus kau hadirkan
secara tegak berdiri menutup sapuan pandang
kedua mata hasil ciptaan-Nya

Aku bahkan merasa bau badan Ola sang Luciola
masih menempel lekat pada seringai tubuh hitamku
Sebagaimana sosok Romo Pedro
yang demikian kuat beriman
dalam godaan kasih asih yang menggelora

Sekuat ingat juga pada asap ikan bakarmu yang membubung
setelah menyapa Solor, Adonara dan Ile Mandiri-mu

Terkesiap aku malam ini manakala
Romo Drajad menjemputku
juga Romo Islam yang Romo Jowo itu

Tak ada selubung keinginan mereka yang lain kecuali
sekedar untuk menggugatku
sehanya mempertanyakanku
karena aku telah menjadi Badrun
dalam kisahmu

Jakarta, 301108


Salam,

Fajar S Pramono

Catatan :
Sebuah apresiasi untuk wawasan pandang baru dari seorang F. Rahardi.
Agustus lalu, saya “diajak” beliau melihat Lembata di Nusa Tenggara Timur, melalui kisahnya dalam novel Lembata (Lamalera, Juli 2008). Kini, saya sudah “bersama” beliau di Gunung Kemukus Jawa Tengah, membacakan halaman demi halaman dalam novel Ritual Gunung Kemukus (Lamalera, November 2008). Sebuah kinerja sastra riset sekaligus sastra historis yang luar biasa menurut saya.
Selamat, Bung! Saya tunggu Para Calon Presiden-mu!

Ilustrasi : Sebuah pemandangan salah satu gunung volcano di Lembata. Diambil dari image53.webshots.com.


 

SIBUK DENGAN RITUAL Nov 12, ’08 11:56 PM
for everyone

 “Novel ini ingin menggugat institusi Gereja yang seringkali terlalu fokus pada upacara ke­agamaan. Sibuk dengan ritual dan doa-doa sehingga terkadang kurang peka terhadap per­soalan kemiskinan masyarakat.”

PERNYATAAN tersèbut di­ungkapkan novelis Ayu Uta­mi dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku “Lembata, Sebuah Novel” karya F. Rahardi dengan tema “Sastra Menggugat – Anta­ra Gairah dan Impotensi Sosial” di Gramedia Plaza Semanggi, Semanggi, Jakarta Selatan, Minggu, 26/10. Acara ini di­adakan Penerbit Lamalera be­kerja sama dengan PT Buku Ki­ta dan Gramedia.

Ayu mengatakan, “Buku mi mengungkapkan berbagal kriti­kan terhadap Gereja. Salah satu­nya, mengapa Gereja Katolik dalam masyarakat yang miskin di salah satu pulau kecil Indone­sia harus menggunakan produk impor berupa roti dan anggur dalam Ekaristi, mengapa tidak menggunakan produk lokal Se­perti jagung dan minuman khas daerah itu?”

Sementara Rahardi memberi­kan alasan tentang tema novel tersebut. “Mengapa diberi judul demikian? Karena saya ingin menuliskan kisah yang bertema agama. Saya juga melihat ke­nyataan bahwa di Lembata yang  masyarakatnya sangat kental beragama Katolik, penduduknya miskin. Padahal. tanahnya su­bur. Pasti ada sesuatu di balik itu,” ungkapnya. Akhirnya, ia merasa tertantang menuliskan realita itu dalam novel.

Selain itu, Rahardi ingin me­ngenang seorang pastor yang pernah memperjuangkan nasib rakyat miskin. Namun, karena berbagal benturan, ia mengun­durkan din dan karyanya dan meninggal di Jakarta dalam ke­adaan kurang menyenangkan. Ia tidak tega melihatnya dan ber­usaha agar gagasan yang telah diperjuangkan pastor tersebut ti­dak putus di tengah jalan.

Panjikristo/ HIDUP No 46 – 16 November 2008/ hlm 13


 

Friday, November 13, 2009

KHATULISTIWA UNTUK RAHARDI DAN SINDU 

Jakarta, Kompas – Sastrawan F Rahardi memperoleh penghargaan Anugerah Sastra Khatulistiwa tahun 2009 untuk kategori prosa terbaik lewat novelnya Lembata. Untuk kategori puisi, penghargaan ini diberikan kepada Sindu Putra atas karyanya Dongeng Anjing Api. Setiap penerima penghargaan memperoleh hadiah Rp 100 juta.

Penghargaan juga didapat Ria N Badaria dengan karya Fortunata untuk kategori penulis muda berbakat di bawah usia 30 tahun dengan hadiah Rp 25 juta. Kemudian Hadiah Khusus Metropoli D’Asia Khatulistiwa jatuh kepada Sihar Ramses Simatupang dengan karya Bulan Lebam di Tepian Toba. Selain karyanya diterjemahkan dan diterbitkan di Italia, Sihar juga menerima hadiah 3.000 euro.

Malam Anugerah Sastra Khatulistiwa diumumkan di atrium Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (10/11) malam. Penjurian dilakukan oleh tim dengan ketua juri Robertus Robet. Para pemenang ketiga kategori itu terpilih di antara lima finalis.

Untuk kategori prosa, misalnya, ada lima finalis, yaitu Tanah Tabu (Anindita S Thayf), Lacrimosa (Dinar Rahayu), Lembata (F Rahardi), Sutasoma (Cok Sawitri), dan Meredam Dendam” (Gerson Poyk). Finalis kategori puisi terdiri dari Perahu Berlayar sampai Bintang (Cecep Syamsul Hari), Puan Kecubung (Jimmy Maruli Alfian), Partitur, Sketsa, Potret, dan Prosa (Wendoko), Kolam (Sapardi Djoko Damono), dan Dongeng Anjing Api (Sindu Putra).

Dalam katalog penghargaan, Robertus mencatat, penjurian dilakukan tim yang beranggotakan banyak orang dengan latar belakang beragam: pengarang, psikolog, sejarawan, sosiolog, pengajar filsafat, dan pekerja media. Tim ini tak berniat menasbihkan pengarang-pengarang hebat dalam sastra Indonesia, tetapi mengungkapkan pandangan kebenaran subyektif karya sastra.

Penggagas dan penyelenggara Anugerah Sastra Khatulistiwa, Richard Oh, mengatakan, anugerah tahunan itu diberikan untuk menghargai pencapaian penulis sastra di Indonesia sekaligus mendorong para penggiat sastra mengembangkan kerja kreatifnya. Dana hadiah diperoleh dari sejumlah sponsor.

Anugerah Sastra Khatulistiwa ajek memberikan penghargaan sastra setiap tahun sejak 2001. Penghargaan tahun ini merupakan yang kesembilan. Selain pemenang utama, biasanya para finalis di kategori prosa dan puisi juga memperoleh hadiah.(IAM)

Sumber: Kompas, Jumat, 13 November 2009

 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: