06/03/2017 at 16:22 (novel)

AIR, AIR, AIR!

Setelah empelur itu hancur, sedikit-sedikit dituangi air, hingga meluber, hanyut keluar dan ditampung dalam wadah daun lontar. Beberapa saat kemudian, pati itu mengendap, lalu pelan-pelan air di atas dibuang. Tepung yang terkumpul langsung dijemur sampai kering, lalu dibungkus dengan daun aren, dan dibawa pulang.

RAJA, Kaja dan para tetua Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori, berniat untuk menyumbangkan beras mereka kepada para Ata Ko’o, dan Tuke Sani, pengikut Bheda. Tawaran itu mereka tolak. “Sesuai dengan arahan dari Bapak Bheda, kami warga Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori, pantang untuk makan belatung.” Para Ata Ko’o Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

SERANGAN PERTAMA

27/02/2017 at 15:25 (novel)

Pagi-pagi, ia menyuruh beberapa Ata Ko’o untuk melihat kesibukan di Nua Ria. Biasanya mereka harus menginap, dan baru akan kembali ke Jopu esok harinya. Tetapi malam itu juga para Ata Ko’o datang dengan tubuh menggigil dan wajah ketakutan.

BHEDA memang masih dilindungi penghuni Tiwu Ata Polo. Atas bujukan Kalyan dan Swesti, ia menyetujui pemberontakan untuk membunuh Raja dan Kaja. Ia menguasai seluruh pemukiman Nua Ria, Tanah Persekutuan Ndori. Sebelumnya kawasan ini ia kuasai berdua dengan Raja. Wilayah miliknya hanya seperempat dari keseluruhan kawasan. Seusai penyerangan, sebenarnya ia bisa Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

DETUSOKO

20/02/2017 at 15:56 (novel)

Tetapi  ketika melihat ke arah timur, jajaran bukit itu sambung menyambung seperti tak akan putus. Dan itu semua harus dilewati untuk sampai ke Kelimutu.

HANYA tiga hari perjalanan dari Pemukiman Baru Detusoko, Ine Pare menemukan lembah berawa-rawa, dengan kawanan kerbau sangat banyak. “Bisakah kerbau-kerbau itu digiring untuk membuat lahan ini menjadi lumpur?” Para Ata Ko’o itu menjawab serentak. “Bisa Tuan Puteri.” Maka Ine Pare memerintahkan Funu untuk berhenti di lokasi tersebut. “Sebaiknya kita membuat pemukiman di atas sana. Itu tempat yang aman dari para penyerang. Lahan terbuka dengan tebing curam di belakang, dan hamparan rawa bagian depan. Pemukiman di sana akan lebih aman dari serangan mendadak. Lembah ini bisa kita ubah menjadi sawah yang subur, dengan memanfaatkan kerbau-kerbau itu.” Maka mereka pun Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar

BATANG-BATANG REO

13/02/2017 at 16:30 (novel)

“Aku terkutuk? Cobalah mengaca di air tempayan Bheda! Lihatlah wajah tuamu itu! Mengapa niat untuk menikah lagi baru datang sekarang? Mengapa tak kau putuskan barang 20 atau 30 tahun silam? Saat itu kau masih miskin? Benar! Memang saat itu kau masih miskin ……..”

PANTAI dengan batang-batang reo itu hanya ramai ketika kapal-kapal cadik dari Jawa Dwipa dan kapal-kapal junk china dari Negeri Han berdatangan. Selama beberapa minggu, kadang sampai beberapa bulan, kapal-kapal besar itu membuang sauh di lepas pantai Ndori, digoyang gelombang laut Sabu. Para awak kapal, Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PANEN PERDANA

06/02/2017 at 13:13 (novel)

Dari belatung yang disebar di ladang itu, tumbuhlah tanaman padi. Itulah yang kemudian dibawa ke Negeri Lio ini oleh para saudagar kenalan Bapak Raja dan Ibu Kaja. Kalian tidak percaya?”

SUDAH genap empat tahun Kalyan, Nikhil, dan Rhosan tinggal di Negeri Lio di Ndori. Sebenarnya mereka ingin sekali pulang, tetapi masyarakat Lio selalu saja menahannya. Tahun depan ini mereka akan memasuki tahun kelima. Memang ada yang menggembirakan mereka. Tanaman padi ladang itu sekarang sudah bisa beradaptasi dengan lahan kering di Negeri Lio. Kalyan, yang paling tua dari Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

MALAKA DAN MAJA

01/02/2017 at 15:59 (novel)

Sayuran ini  digunakan untuk membungkus daging babi, ayam, atau ikan yang dibakar. Siang itu para Ata Ko’o memecah beberapa buah maja, mencampurnya dengan gula lontar dan air, lalu menyajikannya di mangkuk keramik dari Negeri Han.

LERENG bukit itu miring ke selatan menghadap laut Sabu. Udara panas. Gundukan batu besar kecil memenuhi lereng, puncak, dan dasar jurang di seluruh permukaan bukit gersang itu. Alang-alang sebagai tumbuhan pionir selalu ada di mana-mana. Di atas lahan yang hanya berbatu-batu tanpa tanah sedikit pun, alang-alang tetap Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

CADIK NEGERI JAWA DWIPA

23/01/2017 at 12:17 (novel)

Kadang satu dua kapal junk Negeri Han berlabuh di Flores, tetapi itu hanya merupakan kekecualian. Misalnya ketika cuaca sedang buruk, atau saat mereka mengantar pesanan tembikar, kain sutera, batu giok, dan kuda untuk mengangkut balok-balok cendana, hingga para Ata Ko’o tak terlalu capek.

INE PARE, ketika rambutmu tersibakkan angin, harum cendana akan tercium sampai ke Negeri Jawa Dwipa. Ketika kau gerakkan tanganmu, harum cendana akan terpancar dari seluruh tubuhmu. Seluruh dirimu selalu mengantarkan harum cendana dari Ibu Pertiwi, dari tanah yang paling dalam, dari Nggaé Wena Tana. Kayu cendana dari tubuh Ibu Pertiwi itu, hanya akan memancarkan Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KERBAU DI SAWAH

18/01/2017 at 15:05 (novel)

Enam kapal cadik dari Jawa Dwipa membuang sauh di lepas Pantai Ndori. Dengan perahu-perahu berdayung, penumpang dan barang-barang dibawa ke daratan. Kali ini Bhadrak datang, ditemani oleh Dharani. Selain itu ia juga membawa dua orang petani padi sawah. Ine Pare menyambut kedatangan Dharani dengan sangat hangat. Lama sekali mereka berpelukan, dan Ine Pare sempat meneteskan air mata. Tampak sekali mereka sebenarnya ingin sekali ngobrol akrab, tetapi terkendala bahasa, karena Dharani hanya menguasai bahasa tulis Lio. Tiba-tiba Swesti, istri Kalyan datang menghaturkan Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

SAO RIA DAN SAO KEDA

10/01/2017 at 15:35 (novel)

Pantai Laut Sabu, puncak musim kemarau, udara dingin masuk sampai ke dalam kain tebal yang digunakan untuk selimut. Tapi Ine Pare justru merasakan udara sangat panas. Padahal semua orang saat itu sedang kedinginan. Bapak Raja dan Ibu Kaja sudah terlelap tidur, karena mereka sangat capek setelah seharian bekerja. Ndale dan Sipi juga sudah sejak sore tadi terlelap di dalam Sao Ria itu. Hanya Ine Pare yang malam itu masih terjaga ditemani Funu. “Mengapa aku merasakan udara sangat panas Funu?” Tanya Ine Pare. Funu heran. “Tuan Puteri, semua orang kedinginan pada puncak musim kemarau seperti ini. Lihatlah para Ata Ko’o yang berjaga di luar sana. Mereka duduk dan tidur-tiduran di depan Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

ANYAMAN DAN GERABAH

04/01/2017 at 14:20 (novel)

Ine Pare duduk di atas batu. Ia sudah tak remaja lagi. Tetapi laki-laki di Ndori tak akan ada yang berani menggodanya. “Tapi aku memang tak akan menikah seumur hidup. Dan hidupku memang hanya akan singkat saja bukan? Aku pengantin, aku tubuh yang hanya akan digunakan oleh Ibu Pertiwi untuk mendatangkan padi dari Negeri Jawa Dwipa. Tapi yang aku masih tak tahu, mengapa leherku harus dipenggal, agar bisa menyatu kembali dengan Ibu Pertiwi? Saat ini pun aku siap untuk dipenggal. Tapi siapa yang akan memenggal leherku ini? Apakah Bheda? Kalau dia yang akan memenggalku, aku tak akan mau. Aku lebih baik terjun masuk ke Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

« Previous page · Next page »