PARAGRAF 2017 (16)

30/10/2017 at 11:19 (artikel)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, narasi berarti pengisahan suatu cerita atau kejadian. Dalam dunia sastra narasi sering pula disebut plot, atau alur cerita. Mahasiswa tertawa, dosen marah; bukan narasi. Mahasiswa tertawa, dosen marah karena mengira ia yang ditertawakan; ini baru narasi. Salah satu ciri narasi, ada urutan kejadian, atau sebab akibat. Mahasiswa tertawa, dosen marah; tak ada urutan kejadian atau sebab akibat. Bisa saja mahasiswa tertawa di kafe hari ini, dosen marah di rumah kemarin.

Dengan tambahan kalimat “karena mengira ia yang ditertawakan” peristiwa itu jelas terjadi di satu tempat dan satu urutan waktu. Urutan peristiwa, tidak harus berupa waktu yang berurutan dari pukul 1 sampai 12, hari Minggu sampai Sabtu, Januari sampai Baca entri selengkapnya »

Iklan

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Tidak Semua Orang Dapat Menemukan yang Mahabesar

23/10/2017 at 15:12 (artikel)

Pengetahuan manusia ternyata sampai kini pun masih sangat terbatas. Untuk memahami hal-hal yang sangat duniawi pun masih terlalu sempit daya nalar yang dimiliki manusia. Dengan teknologi semaju saat ini, manusia masih belum dapat menukik lebih dalam lagi ke inti atom. Jangkauan peralatan manusia juga belum bias mencapai “pergaulan”antarbintang. Lebih-lebih antargalaksi.

Namun, ada keyakinan dan pendapat bahwa suatu saat manusia akan dapat “menemukan” Tuhan. Itu semua tentu harus diupayakan. Bukan hanya berpuasa, berdoa, bertapa atau menjalankan ritual-ritual keagamaan secara ketat dan berat, melainkan dengan terus-menerus berpikir secara kritis. Risiko dari Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (15)

16/10/2017 at 14:56 (artikel)

Pemerintahan yang otoriter, menciptakan jargon dan stigma untuk meningkatkan citra bagus bagi dirinya, dan citra buruk bagi penentangnya. Pemerintahan Hindia Balanda, Demokrasi Terpimpin, dan Orde Baru juga punya stigma bagi lawan politik. Stigma zaman Belanda: Inlander (pribumi), ekstrimis, domkop (si bodoh). Zaman Demokrasi Terpimpin: Nekolim (Neo Kolonialime/Imperialisme), kontra revolusi, borjuis. Zaman Orde Baru: Tidak bersih lingkungan (keluarga tapol/PKI), anti Pancasila/UUD 1945, GPK (Gerakan Pengacau Keamanan).

Sekarang, pemerintah tak banyak membuat jargon. Kalau pun ada, tak terlalu menggema di masyarakat. Misalnya jargon revolusi mental, dan kerja-kerja-kerja. Yang populer malahan stigma ke Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (14)

09/10/2017 at 15:54 (artikel)

Awal tahun 2000an, saya menulis di Harian Kompas, berisi kritikan terhadap keberadaan PT Qurnia Subur Alam Raya (PT Qisar). Perusahaan milik Ramli Araby ini menawarkan investasi agribisnis bagi hasil. Waktu itu saya dianggap seperti orang gila, karena banyak pejabat (termasuk Wapres Megawati) ikut investasi di PT Qisar. Majalah Tempo termasuk yang tidak mempercayai saya, hingga hasil wawancara yang dimuat di majalah ini berpihak ke PT Qisar. Saya tak gentar, karena pendapat saya berdasarkan fakta dan terutama data.

Waktu itu belum ada Otoritas Jasa Keuangan (OJK, dibentuk 2011). Tapi sudah ada UU Perseroan Terbatas, UU Perbankan, dan UU Koperasi. Mengumpulkan uang dari publik secara terbuka, tanpa mengikuti UU tersebut, merupakan pelanggaran hukum. Kalau PT Qisar ingin menarik dana publik, mestinya dengan menjual saham. Untuk itu, perusahaan ini harus berstatus terbuka (TBK). Untuk Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (13)

02/10/2017 at 13:29 (artikel)

“Saya sedang galau!” atau “Lagi hepi hari ini!” merupakan informasi berupa fakta tentang diri si pemilik akun. Fakta itu bisa dikuatkan dengan data, bisa pula tidak. Bahkan ungkapan “Saya lagi bokèk”, boleh disertai data bahwa uang di dompet tinggal recehan, dan ATM juga kosong. Bisa pula tak disertai dengan data. Lain halnya kalau kita memberitahu teman, atau publik tentang sebuah warung makan enak tetapi sangat murah. Di sini diperlukan data bahwa “Ketika saya datang (diberi keterangan waktu) warung di (diberi keterangan tempat) itu penuh.” Perlu juga ditambahkan informasi tentang menu dan harga.

Fakta merupakan sesuatu yang benar-benar ada, atau terjadi. Antonim (lawan kata) fakta adalah imajinasi (kayalan), yakni sesuatu yang tidak benar-benar terjadi. Belakangan ini, di situs media digital bertebaran informasi yang bukan merupakan fakta. Informasi itu bisa merupakan fakta yang diubah, dipalsukan, atau sebenarnya hasil imajinasi. Itulah yang disebut hoax. Dalam Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (12)

25/09/2017 at 12:22 (artikel)

Seks, kekerasan dan kriminalitas merupakan materi dengan daya tarik sangat tinggi. Tapi apa akan bermanfaat kalau seharian orang nonton film bokep, perang, dan gangster? Tontonan seperti itu sekadar bermanfaat sebagai hiburan, pengisi waktu luang, dan juga akan cepat membosankan. Jadi selain berdaya tarik tinggi, sebuah informasi (postingan) seyogyanya juga memiliki asas manfaat. Acara gosip selebritis di televisi, bukan tak bermanfaat; tapi asas manfaatnya ya sekedar untuk hiburan tadi.

Untuk Indonesia saat ini, gosip selebritis bukan sesuatu yang urgent. Ketika harga cabai di atas Rp 100.000 per kg, postingan berisi informasi tentang cara bertanam cabai dalam pot, pasti akan lebih berasas manfaat dibanding gosip selebritis. Informasi seperti ini Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (11)

18/09/2017 at 15:41 (artikel)

Di media sosial, amat sering tampil postingan menyangkut diri pribadi (diri sendiri). Ngantuk ditulis, sebel ditampilkan, senang dishare. Foto sendiri diposting, foto anak dipamerin, foto istri/suami, orang tua dll. semua diobral. Pertanyaannya, emang lo siape? Itu memang tidak melanggar hukum. Tapi apa akan ada yang mau liat? Terbukti, bahwa blog pribadi, situs, akun; akan dibaca banyak orang, apabila ada hal menarik ditampilkan di sana. Tapi mengapa hal remeh-temeh yang dilakukan seorang tokoh selalu disimak publik?

Populer (populis) merupakan salah satu daya tarik postingan. Tak semua tokoh penting menarik perhatian publik. Selalu ada “faktor x” yang membuat seseorang lebih menarik dari orang lain. Saat tulisan Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (10)

12/09/2017 at 10:29 (artikel)

Pada dekade 1990an, saya pernah “diblacklist” oleh Pusat Perbukuan, Badan Litbang Kemendikbud. Ceritanya, saya diminta menjadi juri lomba menulis non fiksi untuk para guru sekolah. Beberapa karya yang sampai ke tangan saya, ternyata karya fiksi. Bukan non fiksi. Salah satunya tentang “bagaimana” (how) membuat batu bata. Katanya, agar tulisan ini tidak “kering” diberilah tokoh, alur cerita, dan latar (lokasi) yang semuanya fiktif.

Menurut aparat Pusat Perbukuan dan juri lain, karya seperti ini tergolong non fiksi karena temanya membuat batu bata. Saya tetap beranggapan ini fiksi. Kalau mau non fiksi, datang dong ke pembuat baru bata, tanya bagaimana cara dia membuat batu bata. Tokoh si Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (9)

05/09/2017 at 15:53 (artikel)

“Sudah enak jadi Boss di Trubus, mengapa kamu malah keluar?” Menjelaskan pertanyaan “mengapa?” dalam sebuah paragraf, tidak sesederhana menjelaskan apa, siapa, di mana, dan kapan. “Apa sih kerjamu sekarang?” bisa dijawab dengan cepat dan mudah. Demikian pula dengan pertanyaan, “Siapa saja yang kau kenal di lembaga ini?” atau “Di mana Anda dilahirkan?” dan “Kapan Anda meninggalkan kampung halaman?”

Sebenarnya pertanyaan “mengapa” juga bisa dijawab dengan singkat dan cepat. Misalnya, pertanyaan “Mengapa Anda keluar dari Trubus?” saya jawab dengan, “Ya karena pengin keluar saja!” Tetapi jawaban seperti itu, kemungkinan besar akan tidak memuaskan si Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (8)

21/08/2017 at 13:48 (artikel)

Bagi jomblowan dan jomblowati, pertanyaan “Kapan kawin?” terasa sungguh menjengkelkan. Saya selalu menyarankan, pertanyaan itu dijawab dengan, “Nggak tentu Pak Dhé! Kadang sore, kadang malam, siang juga oke, tergantung kesempatanlah!” Saat Pak Dhé itu bingung, gantian ditanya “Pak Dhé tanya kapan kawin kan? Atau kapan nikah?” Kalau nikah ya kapan-kapanlah bergantung ada tidaknya yang mau saya ajak nikah!”

Pertanyaan kapan, yang menuntut disebutnya penanda waktu, memang harus dijawab dengan mencantumkan waktu dalam sebuah paragraf. Waktu itu terdiri dari detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad dan millenium. Umumnya, untuk menandai Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

« Previous page · Next page »