PANDAI BESI DARI JAWA DWIPA

25/04/2017 at 16:02 (novel)

Pagi yang cerah, dari tengah Laut Sabu tampak kepundan Gunung Iya di Tanah Persekutuan Nua Ende mengepulkan asap. Di belakang Gunung Iya, tampak membayang Gunung Roja dan Gunung Meja.

SEPULUH kapal cadik dari Negeri Jawa Dwipa diberangkatkan ke Negeri Lio. Raja Jawa Dwipa marah, karena Gauri seorang penulis lontar kerajaan, suami Puteri Dharani, menantu saudagar besar Bhadrak, telah dibunuh oleh warga Nua Ria di Tanah Persekutuan Ndori. Sepuluh kapal itu dilengkapi dengan pasukan bersenjatakan panah, pasukan bertombak, pasukan bersenjatakan pedang dan 20 kuda pilihan. Mereka juga didampingi para juru masak dengan logistik cukup untuk enam bulan perjalanan. Empat pandai besi Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

TANAH PEMUKIMAN BARU

17/04/2017 at 12:25 (novel)

“Menjadi laut?” Tanya Funu kaget. “Benar, seluruh bukit di atas Nua Ria itu runtuh akibat hujan dua hari dua malam setelah kemarau sangat panjang. Seluruh pemukiman itu hanyut ke laut dan penghuninya tak ada yang selamat.”

PADA waktu itu, masing-masing Tanah Persekutuan, merupakan kawasan independen; yang tak terkait satu sama lain. Bahkan komunikasi berupa kunjungan dan hubungan kekerabatan sangat jarang terjadi. Tanah-tanah Persekutuan itu hanya dihubungkan oleh jalan setapak melalui ladang, padang sabana dan hutan. Hanya para pedagang dengan beberapa kuda beban, secara rutin mengunjungi Tanah-tanah Persekutuan itu; sementara para penghuni hampir tak pernah meninggalkan rumah dan ladang Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

MURID SARALA

10/04/2017 at 12:33 (novel)

Di ketinggian itu mereka membuat api unggun, di sebuah cekungan, agar tak terlihat dari arah timur. Tetapi menjelang tengah malam, mereka melihat ada beberapa orang berjalan dengan membawa api ke arah mereka.

PADA pagi hari, tiga kapal cadik dari negeri Jawa Dwipa kembali merapat di lepas Pantai Ndori. Para penumpang dan barang dagangan diangkut ke pantai menggunakan perahu. Kali ini hanya ada tiga kapal cadik. Di antara para penumpang kapal itu tampak Puteri Dharani, dengan seorang laki-laki bernama Gauri dan para pengawal mereka. Puteri Dharani telah menikah dengan Gauri, tetapi belum dikaruniai anak. Gauri merupakan murid Guru Sarala, Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

AWAL MALAPETAKA

05/04/2017 at 11:07 (novel)

Duä Lulu Wula yang selama ini jauh di atas sana, dan hanya bisa menyentuh Nggaé Wena Tana dengan pelangi, dengan kabut, dengan hujan; sekarang bisa benar-benar menyentuh tubuh itu bahkan memeluk dan menindihnya.

SORE itu, sehabis makan malam, Raja dan Kaja menerima Ndale, Ine Pare, Sipi, dan Funu. Suasana ruang tengah Sao Ria itu hening. Raja dan Kaja bertanya-tanya, apa yang akan mereka sampaikan? Meskipun mereka berdua juga sudah menduga-duga, apa saja yang akan disampaikan oleh Ine Pare. Dan benar, Ine Pare, segera mengajukan pertanyaan. “Bapak Raja dan Ibu Kaja, Kakak Ndale Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

MINYAK CENDANA

30/03/2017 at 11:47 (novel)

“Ayo keluar semua kau Ata Polo! Ini tubuh suci Puteri Nggaé Wena Tana. Jangan kau berada di dalamnya! Ayo keluar semua, dan juga jangan ganggu kuali penyulingan minyak cendana itu!” Funu menepuk punggung Ine Pare dengan keras sebanyak tiga kali.

SEBENARNYA Tuke Sani itu bernama Jelu. Tetapi karena terlalu sering kentut, oleh teman-temannya ia dipanggil Pesu. Panggilan itu terus melekat sampai sekarang. Ia pernah mengabdi kepada Raja, dan Kaja, sebagai Ata Ko’o. Di sinilah ia memperoleh istri bernama Riwu. Setelah menikah, Pesu dan Riwu diminta Raja menjaga kebun kelapa dan sukun yang cukup luas di sebuah pantai. Maka berubahlah status Pesu dari Ata Ko’o menjadi Tuke Sani. Kebun Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KUTUKAN ITU DATANG

14/03/2017 at 14:46 (novel)

Maka mereka pun membawa pulang sebanyak mungkin uwi monda. Setelah dikupas umbi itu diiris tipis, dijemur sebentar agar layu kemudian dimasukkan dalam keranjang dan direndam air laut sampai paling sedikit selama satu minggu.

SABANA Tana Watu yang sudah sangat kering, sekarang bertambah kering lagi. Batang-batang reo yang sudah meranggas, tak kunjung mengeluarkan pucuk-pucuk mudanya. Bukit-bukit yang hanya ditumbuhi semak dan rumput liar, sekarang menghitam gosong karena terbakar. Ketika matahari berada di atas ubun-ubun, udara terasa panas luar biasa. “Hujan, mengapa kau tak mau datang?” Tanya rumput kering kepada hujan. Dengan cepat hujan menjawab, “Aku belum diperintah untuk turun. Jadi aku tetap di atas sini, tidur-tiduran, malas-malasan, menikmati Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

06/03/2017 at 16:22 (novel)

AIR, AIR, AIR!

Setelah empelur itu hancur, sedikit-sedikit dituangi air, hingga meluber, hanyut keluar dan ditampung dalam wadah daun lontar. Beberapa saat kemudian, pati itu mengendap, lalu pelan-pelan air di atas dibuang. Tepung yang terkumpul langsung dijemur sampai kering, lalu dibungkus dengan daun aren, dan dibawa pulang.

RAJA, Kaja dan para tetua Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori, berniat untuk menyumbangkan beras mereka kepada para Ata Ko’o, dan Tuke Sani, pengikut Bheda. Tawaran itu mereka tolak. “Sesuai dengan arahan dari Bapak Bheda, kami warga Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori, pantang untuk makan belatung.” Para Ata Ko’o Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

SERANGAN PERTAMA

27/02/2017 at 15:25 (novel)

Pagi-pagi, ia menyuruh beberapa Ata Ko’o untuk melihat kesibukan di Nua Ria. Biasanya mereka harus menginap, dan baru akan kembali ke Jopu esok harinya. Tetapi malam itu juga para Ata Ko’o datang dengan tubuh menggigil dan wajah ketakutan.

BHEDA memang masih dilindungi penghuni Tiwu Ata Polo. Atas bujukan Kalyan dan Swesti, ia menyetujui pemberontakan untuk membunuh Raja dan Kaja. Ia menguasai seluruh pemukiman Nua Ria, Tanah Persekutuan Ndori. Sebelumnya kawasan ini ia kuasai berdua dengan Raja. Wilayah miliknya hanya seperempat dari keseluruhan kawasan. Seusai penyerangan, sebenarnya ia bisa Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

DETUSOKO

20/02/2017 at 15:56 (novel)

Tetapi  ketika melihat ke arah timur, jajaran bukit itu sambung menyambung seperti tak akan putus. Dan itu semua harus dilewati untuk sampai ke Kelimutu.

HANYA tiga hari perjalanan dari Pemukiman Baru Detusoko, Ine Pare menemukan lembah berawa-rawa, dengan kawanan kerbau sangat banyak. “Bisakah kerbau-kerbau itu digiring untuk membuat lahan ini menjadi lumpur?” Para Ata Ko’o itu menjawab serentak. “Bisa Tuan Puteri.” Maka Ine Pare memerintahkan Funu untuk berhenti di lokasi tersebut. “Sebaiknya kita membuat pemukiman di atas sana. Itu tempat yang aman dari para penyerang. Lahan terbuka dengan tebing curam di belakang, dan hamparan rawa bagian depan. Pemukiman di sana akan lebih aman dari serangan mendadak. Lembah ini bisa kita ubah menjadi sawah yang subur, dengan memanfaatkan kerbau-kerbau itu.” Maka mereka pun Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar

BATANG-BATANG REO

13/02/2017 at 16:30 (novel)

“Aku terkutuk? Cobalah mengaca di air tempayan Bheda! Lihatlah wajah tuamu itu! Mengapa niat untuk menikah lagi baru datang sekarang? Mengapa tak kau putuskan barang 20 atau 30 tahun silam? Saat itu kau masih miskin? Benar! Memang saat itu kau masih miskin ……..”

PANTAI dengan batang-batang reo itu hanya ramai ketika kapal-kapal cadik dari Jawa Dwipa dan kapal-kapal junk china dari Negeri Han berdatangan. Selama beberapa minggu, kadang sampai beberapa bulan, kapal-kapal besar itu membuang sauh di lepas pantai Ndori, digoyang gelombang laut Sabu. Para awak kapal, Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

« Previous page · Next page »