SASTRA, SENI BERBOHONG YANG INDAH*


TEBING CAKRAWALA
Mar 27, ’06 12:26 AM

Sekepul asap dari tembakau yang terbakar tersembur dari beberapa mulut penghuni aula ber AC, di sebuah hotel di kawasan kebayoran, Jakarta Selatan. Jarum jam menunjukan angka sepuluh. Malam merambat perlahan. Basa-basi dari ketua deputi bidang pemberdayaan pemuda membuka sesi pertama workshop yang digelar Creative Writing Institute—yang menjadi bagian dari acara Pekan Kretivitas Pemuda 2005. Dilanjutkan dengan tips menembus media dari Cavhcay Hermani, sebelum masuk ke diskusi utama hari pertama yang dimoderatori oleh Maman S. Mahayana. Hamsad Rangkuti yang menjadi tutor malam itu, berkisah tentang proses kreatif, bagaimana sebuah cerpen lahir dari tangannya. Menjadi semacam pengulangan dari tulisannya, Imajinasi Liar dan Kebohongan (Proses Lahirnya Sebuah Cerpen), yang pernah saya baca di dalam buku Bibir dalam Pispot.

Berita adalah kunci kontak kita menulis, dan “SIM’-nya adalah bahasa, begitu tutur Hamsad Rangkuti yang kemudian disusul dengan sebuah pertanyaan dari salah seorang peserta workshop, tentang bagaimana mengemas sebuah fakta sensitif menjadi sebuah cerita tanpa membuat pihak-pihak yang terlibat di dalamnya merasa perlu malakukan tekanan sebab cerita yang kita buat—sebuah pertanyaan yang akan langsung terjawab, jika saja kita telah membaca Jazz, Parfum dan Insiden karya seno Gumira Ajidarma yang menggabungkan roman metropolitan, esai jazz dan parfum dengan laporan jurnalistik tentang tragedi yang terjadi di Timor Timur (sekarang menjadi Negara Timor Leste).

“Sastra adalah seni berbohong yang indah,” begitu kata Hamsad Rangkuti, menjawab pertanyaan itu, mengingatkan saya kembali dengan sebuah cerpen karyanya.

Apakah betul ada tiga anak kecil dalam langkah malu-malu datang ke Salemba sore itu? Bukankah itu kebohongan. Saudara telah menciptakan kebohongn. Tetapi, penyair itu menampik dan berkata, semua yang dia tulis adalah kebenaran. Benar adanya. Memang ada tiga anak kecil dalam langkah malu-malu datang ke Salemba sore itu. Aku tidak berbohong, kata penyair itu. Lalu aku bertanya adakah lautan air mata itu? Bagaimana Saudara tega berbohong tentang lautan air mata. Kalian telah terkepung oleh air mata kami, tulis Anda. Bagaimana anda bisa meciptakan lautan air mata? Sesendok saja pun rasanya tidak mungkin. Bukankah Anda telah berbohong? Ya, saya telah berbohong, kata penyair itu setuju dengan pendapatku. Semua kita ini para pembohong. Berlindung dibalik kata imajinasi dan metafora-metafora kebohongan. Kebohongan adalah kebohongan. Berbohong dan imajinasi itu sama. Berbohong adalah berimajinasi.

Karya sastra adalah tulisan fiksi berdasarkan imajinasi. Berbeda dengan nonfiksi yang merupakan tulisan berdasarkan fakta dan data. Tapi apakah karena alasan itu karya sastra pantas disebut sebagai sebuah kebohongan? Dalam sebuah esainya Seno Gumira Ajidarama mengatakan, Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena jika jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Yang kemudian dikoreksi sendiri oleh penulisnya dalam tulisannya yang lain, sebab dia meragukan apakah di dunia ini ada yang namanya kebenaran. Kebenaran itu memang relatif. Tergantung siapa yang mengatakanya. Bukan kebenaran yang menjadi dasar dari penulisan sebuah karya sastra, tapi realita. Ya, sastra bicara dengan realita. Oleh sebab itu terkadang seseorang bisa larut dalam kesedihan, kemarahan, kebahagiaan ketika membaca sebuah karya sastra, karena bisa jadi sebuah karya yang sedang dibacanya merupakan representasi dari pengalaman hidupnya atau harapan-harapannya.
Bukankah hampir seluruh ide-ide cerpen yang ditulis Hamsad Rangkuti berasal dari kejadian-kejadian yang tertangkap mata dan telinganya? Hanya imajinasi yang kemudian membuat pengalaman yang sesungguhnya tidak terlalu menarik untuk diceritakan, menjadi sebuah bacaan yang tak hanya menarik untuk dinikmati, tapi juga memberikan pembelajaran, yang tak jarang menimbulkan efek pencerahan.

Bisa jadi tiga anak kecil dalam langkah malu-malu datang ke salemba sore itu tidak benar-benar ada seperti yang diakui penulisnya. Dan kalau saja berpasang-pasang mata dari seluruh penduduk Indonesia meneteskan air mata terderasnya, tak akan mungkin tercipta telaga air mata. Semua hanya ada dalam imajinasi penulisnya. Apakah karena sebab itu seorang sastrawan sudah bisa dikatakan sebagai seorang pembohong?

Karya sastra adalah karya fiksi. Disebut fiksi karena tidak sungguh-sungguh terjadi. Dan ketika sastrawan mempublikasikan karyanya sebagai karya fiksi, pembaca tentunya sudah mengetahui sejak awal kalau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam karya sastra yang dibacanya adalah tidak benar-benar nyata. Tidak kah itu bisa dikatakan sebagai sebuah kejujuran?

Sementara begitu banyak catatan sejarah dan berita-berita yang dipublikasikan, yang semestinya menjadi karya nonfiksi ternyata tidak sesuai dengan fakta dan data yang sesungguhnya. Dan kita sebagai pembaca, sudah terlanjur menerimanya sebagai karya yang benar-benar terjadi.

Loteng Rumah, 2 Pebruari 2005
* Dimuat di Majalah Sabili No.19 6 April 2006



ANTARA FIKSI DAN KEBOHONGAN

Oleh: F. Rahardi
Sumber: Kompas Minggu, 19 Maret 2000

Karya sastra adalah fiksi. Beda fiksi dengan nonfiksi adalah fiksi merupakan tulisan berdasarkan imajinasi, sementara nonfiksi adalah tulisan berdasarkan data dan fakta nyata. Jadi karya sastra sebagai fiksi memang bukan sesuatu yang nyata, tetapi karya sastra juga bukan kebohongan.

Sastrawan bukan seorang pembohong. Sastrawan yang baik justru selalu menyuarakan kebenaran. Ini bukan pendapat saya pribadi tetapi ada di Webster, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Encyclopedia Americana, Encyclopedia of Writing, Ensiklopedi Indonesia, dan lain-lain. Padanan kata imajinasi adalah khayalan, rekaan, angan-angan. Lawan kata imajinasi adalah kenyataan, fakta, realitas, sesuatu yang benar-benar ada dan terjadi. Dua hal tadi tidak ada sangkut pautnya dengan kebohongan. Bohong, padanan katanya adalah dusta, tipu dan ngibul. Lawan kata bohong adalah benar, jujur, tulus. Jadi sastrawan jelas sangat berlainan dengan pembohong. Imajinasi seorang sastrawan bisa berupa harapan tentang sesuatu yang seharusnya terjadi tetapi sampai saat tersebut belum menjadi kenyataan. Misalnya, bagaimana hukum diterapkan dengan baik. Bagaimana keadilan ditegakkan seperti zamannya Nabi Sulaiman. Bagaimana agar rakyat bisa hidup makmur dan damai dan sebagainya.

Banyak karya sastra yang justru sangat menekankan adanya kejujuran. Dalam epos Mahabharata sangat nyata ditekankan bahwa pada akhirnya kemenangan ada pada pihak yang benar. Kebohongan, dusta dan tipu daya akhirnya dapat dikalahkan. Bahkan dalam hal-hal tertentu, sebuah cerita rekaan bisa merupakan semacam ramalan. Ketika penulis Perancis Jules Verne (1828-1905) menulis tentang perjalanan ke bulan, petualangan ke Kutub Utara, keliling dunia dalam 80 hari, menyelam ke kedalaman laut dan lain-lain, maka orang menganggap itu semua hanyalah merupakan angan-angan si pengarang. Tetapi, sekarang ini perjalanan ke bulan, ke Antartika, keliling dunia dan lain-lain sudah menjadi kenyataan yang memang benar-benar terjadi. Karya sastra yang baik, meskipun berupa imajinasi jelas selalu menyuarakan kebenaran. Berkhayal tentang sesuatu yang ideal bukanlah kebohongan.

Oleh karena sastrawan yang baik akan senantiasa menyuarakan kebenaran, kadang-kadang ada pertanyaan yang membingungkan. Kepada siapa sastrawan mesti berpihak? Kepada rakyat atau kepada pemerintah? Kepada kaum lemah atau kepada yang kuat? Meskipun sastrawan harus berpihak pada kebenaran, bukan berarti bila rakyat salah pemerintah benar lalu sastrawan harus berpihak kepada pemerintah. Bila pejalan kaki salah karena tidak lewat jembatan penyeberangan dan ditabrak mobil, maka polisi harus menangkap dan menahan sopir mobil, meskipun sopir itu tidak salah. Karya-karya sastra berbau propaganda model zaman Uni Soviet atau Lekra, sepintas tampak berpihak kepada rakyat yang tertindas oleh kaum kapitalis, tuan tanah dan para juragan. Tetapi, bila karya-karya tersebut diamati lebih mendalam, akan segera kelihatan keberpihakan para sastrawan kepada sang penguasa.

* * *

Berbeda misalnya dari karya-karya Rendra serta Wiji Thukul yang juga berpihak kepada rakyat dan mereka berdua memang bukan merupakan bagian atau alat propaganda dari sebuah kekuasaan. Malahan mereka termasuk yang menjadi korban tindak sewenang-wenang dari aparat penguasa. Rendra ditahan karena melakukan perlawanan lewat pembacaan puisi dan pentas teaternya, Wiji Thukul dipermak tentara karena memperjuangkan para buruh melalui puisinya. Rendra dan Wiji Thukul adalah sekadar menyebut dua nama yang karya serta tindakan sehari-hari mereka memang sejalan. Mereka menyuarakan bahkan memperjuangkan sebuah kebenaran. Meskipun kadang-kadang kedekatan Rendra dengan orang-orang tertentu di sekitar elite kekuasaan Orde Baru tak urung membuat namanya menjadi agak kurang terhormat di lingkungan anak muda dan mahasiswa. Namun, secara umum perjuangan Rendra menegakkan kebenaran dan melawan kebohongan merupakan fenomena tersendiri yang harus dicatat dalam sejarah Orde Baru.

Di lain pihak ada pula orang-orang seperti Sutardji yang karya-karya mutakhirnya tampak sangat berpihak kepada kaum yang lemah dan dengan lugas menyuarakan kebenaran. Tetapi, Tardji tidak pernah ikut aktif berdemo membela buruh dan lain-lain. Mungkin kita bisa menuduhnya sebagai pengecut dan tidak total menjalani prinsip-prinsip yang disuarakan melalui karyanya. Tetapi, bisa juga kita melihatnya bahwa antara yang ditulis dan yang dilakukannya tidak perlu sama meskipun tetap tidak boleh bertentangan. Demo pasti lebih efektif bila dilakukan buruh atau mahasiswa. Orang-orang seperti Sutardji jelas akan mendukung perjuangan menegakkan kebenaran meskipun tidak perlu datang ke lokasi demo dan pidato segala macam. Yang penting, kehidupan sehari-hari sang sastrawan tidak bertolak belakang dengan yang ditulisnya. Misalnya, syair yang ditulisnya selalu menyerukan pentingnya menjaga moral, tetapi kerja sehari-hari sang penyair justru menodong penguasa dan konglomerat.

Keberpihakan seorang sastrawan kepada yang lemah dan semangatnya yang besar untuk menyuarakan kebenaran tak jarang justru menjebaknya hingga hanya menghasilkan karya-karya yang dangkal. Hal ini akan terjadi manakala sang sastrawan masih menggunakan idiom-idiom umum yang sudah sangat dipahami banyak orang. Di sinilah letak perbedaan antara fiksi yang baik dan mengandung kedalaman dan fiksi yang dangkal serta hanya bergerak di sekitar permukaan permasalahan. Untuk menghasilkan karya yang baik seorang sastrawan tidak cukup hanya memiliki modal keberpihakan, konsistensi antara yang ditulis dengan kehidupan pribadinya, dan penguasaan teknik menulis. Seorang sastrawan yang baik mestilah punya “sesuatu” yang setelah dituliskannya akan bermanfaat untuk pembacanya. Sesuatu yang bermanfaat itu bisa bernama hiburan, rangsangan untuk berpikir kritis, mengajak bersikap optimis dalam menghadapi kehidupan dan bisa apa saja tergantung si sastrawan punya apa. Di sinilah diperlukan sebuah kreativitas untuk menggali kedalaman permasalahan yang benar-benar dikuasai oleh sang sastrawan, sebab kerja penulisan karya sastra adalah kerja kreatif, bukan semacam kerja di pabrik.

* * *

Salah satu contoh kerja kreatif yang dapat saya golongkan berhasil di Indonesia adalah cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti. Cerpenis ini selain produktif juga mampu menghasilkan kualitas. Dia mampu memberikan “sesuatu” kepada pembacanya. Cerpen-cerpennya yang menggambarkan kehidupan rakyat kecil tidak terjebak pada keberpihakan cengeng yang menggunakan idiom-idiom umum. Salah satu cerpennya yang dua tahun silam dimuat di harian ini dan menarik perhatian masyarakat adalah Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? yang menceritakan tentang pertemuan sang tokoh atau sang penulis dengan seorang gadis yang mau bunuh diri dengan menceburkan dirinya ke laut dari sebuah kapal. Mungkin mirip yang terjadi pada salah satu adegan film Titanic. Cerpen ini menjadi menarik setelah beberapa kali dibacakannya atau dipentaskannya di beberapa kota, dengan adegan siluet yang menunjukkan sang gadis sebelum bunuh diri melepas pakaiannya satu per satu, termasuk pakaian dalamnya.

Cerpen itu sendiri memang bukan karya terbaik Hamsad Rangkuti, tetapi saya menilainya cukup menarik karena Hamsad bisa mendekati tema yang sangat biasa tersebut dengan cara yang kreatif. Tetapi, teman-teman yang agak konservatif seperti Taufiq Ismail, pasti tidak begitu sreg dengan cara pendekatan tema seperti itu. Lebih-lebih konon, proses lahirnya cerpen tersebut diilhami oleh pertemuan sang cerpenis dengan seorang gadis ketika berlangsung pertemuan Sastrawan Nusantara di Kayutanam, Sumatera Barat, tahun 1997. Hingga suatu ketika muncul pertanyaan dari para siswa SMU, apakah adegan-adegan dalam cerpen tersebut memang benar-benar dialami oleh Hamsad? Mungkin hal tersebut tidak benar. Maka dia pun mengatakan bahwa adegan melepas pakaian dan “lain-lain” dalam cerpen “bibir” tersebut benar-benar fiktif.

Merasa penjelasannya kurang meyakinkan, maka dia pun membuat sebuah pernyataan bahwa karya sastra itu fiksi dan fiksi itu bohong hingga kesimpulannya sastrawan adalah pembohong (Kompas, 24/2/ 2000). Pernyataan Hamsad yang dilansir sejumlah media massa ini tak urung makin mengundang ketidaksetujuan Taufiq Ismail. Karena menurut pendapat umum, bukan hanya pendapatnya Taufiq, karya sastra memang beda dengan kebohongan. Bahkan karya sastra harus berusaha melawan kebohongan-kebohongan yang terjadi di masyarakat dengan mengungkapkan kebenaran. Cerpen Hamsad tentang “bibir” tersebut bukan bohong tetapi justru berusaha menekankan bahwa laki-laki harus jujur terhadap perempuan dalam hal asmara. Bila tidak, maka seorang gadis bisa kalap dan bunuh diri. Rumah tangga bisa berantakan. Perkawinan bisa berakhir dengan perceraian dan sebagainya. Singkat kata, perselingkuhan itu konon tidak baik dan tidak benar. Itulah pesan moralnya.

* * *

Pendapat cerpenis Hamsad Rangkuti bahwa karya sastra adalah bohong-bohongan ternyata tetap dia pertahankan dengan kukuh. Karena dia tidak pernah menulis esai maka ditulisnyalah cerpen Antena yang dimuat di Kompas tanggal 2 Januari 2000. Isi cerpen ini kembali mengungkapkan pendapatnya bahwa karya sastra adalah bohong. Saya menganggap cerpen ini telah gagal menjadi sebuah cerpen yang baik. Lebih-lebih lagi karena pendapat Hamsad bahwa karya sastra adalah kebohongan jelas merupakan pendapat yang keliru. Hal demikian tentu sangat saya sayangkan sebab tiba-tiba saja saya merasa telah kehilangan seorang cerpenis terbaik Indonesia saat ini. Mungkin ada baiknya bila cerpenis sekelas dia tidak usah mencoba terlibat dalam polemik tentang hal-hal yang di luar keahliannya, sebab sebagai cerpenis papan atas Indonesia, nama Hamsad Rangkuti sudah mendapatkan tempat cukup baik di masyarakat. Urusan teori, konsep berkesenian, aliran sastra, filsafat estetika dan tetek bengek lainnya biarlah diurus mereka yang benar-benar ahli.

Salah satu kegagalan sastrawan Indonesia pada umumnya adalah mereka ingin terlalu banyak memberikan “sesuatu” kepada masyarakat, sementara yang dimilikinya sangat terbatas. Hamsad Rangkuti adalah cerpenis yang hanya bisa memberikan satu hal saja yakni permasalahan rakyat kecil, tetapi, permasalahan tersebut sangat dikuasainya secara mendalam dan itu sungguh hebat. Karena yang dikuasainya hanya itu, dia tidak mungkin bercerita tentang kredo sastra dengan cukup baik. Tidak mungkin omong tentang dunia Eropa atau Amerika sefasih Budi Darma atau Umar Kayam, tetapi bagi saya Hamsad tetap sama hebat dengan cerpenis papan atas Indonesia yang lain. Bahkan mereka yang punya latar belakang pendidikan serta pengalaman sangat luas pun, banyak yang tidak mampu menghasilkan cerpen sebaik cerpen Hamsad karena pada akhirnya penulis karya sastra adalah sebuah keterampilan dan kedalaman dalam menggali suatu permasalahan, bukan pamer tentang hebatnya pendidikan, luasnya pengetahuan serta banyaknya pengalaman.***

*) F Rahardi, penyair.



AKROBAT KATA-KATA

Oleh: F. Rahardi
Sumber: Kompas Minggu, 27 Juli 2008

DALAM acara Temu Sastra, Masyarakat Sastra Asia Tenggara di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 14 Juli lalu, cerpenis Hamsad Rangkuti membuat pernyataan bahwa ”Pengarang muda cenderung berakrobat kata-kata”.

Dampak dari akrobat kata-kata ini—masih menurut Hamsad—akan membuat tema karya sastra (prosa) menjadi tersembunyi, bahkan hilang (Kompas, 15/7). Beberapa tahun lalu, Hamsad juga pernah membuat pernyataan yang kontroversial, bahwa sastra = kebohongan. Ketika itu saya mencoba meluruskannya, bahwa sastra yang lahir berdasarkan imajinasi, beda dengan kebohongan. Tulisan saya yang meluruskan Hamsad di Kompas ini kemudian dimuat dalam salah satu kumpulan cerpennya.

Kali ini pun, pernyataan Hamsad salah. Memang bahwa tren penulisan prosa dewasa ini cenderung mengutamakan style, menomorduakan tokoh, plot, dan setting. Secara otomatis tokoh, plot, dan setting bisa menjadi kabur, atau hilang sama sekali. Ini sebenarnya sudah dimulai oleh Iwan Simatupang pada tahun 1960-an. Tren seperti ini sebenarnya merupakan perkembangan sastra dunia dan terjadi secara alamiah. Dalam sastra klasik, misalnya Mahabharata, dan Ramayana, tokoh menjadi hal utama.

Kekuatan tokoh inilah yang secara otomatis menciptakan plot. Setting bisa dibuat di mana saja. Ketika epik ini disadur menjadi Parwa maupun Kakawin oleh para pujangga kita, setting India dipindah menjadi setting Jawa, dengan gunung, sungai, flora, dan fauna Jawa pula. Kekuatan epik asli bukan hilang, malahan justru bertambah. Pada perkembangan lebih lanjut, terutama pada prosa yang ditujukan semata-mata sebagai hiburan, plot menjadi hal utama. Tokoh diciptakan demi kelancaran plot. Itulah yang terjadi pada ”sastra sinetron kita”.

”Style” bukan akrobat

Dalam acara-acara seperti di Palangkaraya itu, seyogianya Hamsad cukup bercerita, bagaimana proses kreatifnya berlangsung. Ini tidak akan pernah salah dan akan sangat bermanfaat bagi publik sastra. Style dalam prosa bukan sebuah akrobat kata-kata. Hari Minggu (13/7), Kompas memuat cerpen Triyanto Triwikromo, Dalam Hujan Hijau Friedenau; dan esai Afrizal Malna, Kota yang Tenggelam dalam Seribu Karangan Bunga. Cerpen dan esai inilah, dugaan saya, yang membuat Hamsad melontarkan ”Akrobat Kata-kata” itu.
Kekuatan cerpen Triyanto, dan esai Afrizal, justru pada style. Tema (materi) yang digarap oleh cerpenis dan penyair dalam cerpen dan esai ini justru tampil sangat kuat. Bukan tersembunyi, atau malahan hilang. Yang hilang (atau kabur), hanya tokoh, plot, mungkin juga setting. Menguatnya style dalam karya sastra memang selalu secara otomatis disertai oleh menguatnya semacam ”pesan”, atau istilah Hamsad tema. Kekuatan novel Saman karya Ayu Utami juga pada style, berupa pencapaian keterampilan linguistik, yang sekaligus juga menguatkan tema.

Eksplorasi terhadap style ini telah mengakibatkan prosa menjadi seperti puisi, puisi menjadi seperti esai, dan esai menjadi semenarik cerpen. Sekat antara prosa, puisi, dan esai menjadi cair. Hal serupa juga terjadi pada seni rupa. Pelukis, pematung, pegrafis konvensional tetap eksis. Tetapi lahir genre ”perupa”, yang karya utamanya bukan lukisan, bukan patung, dan bukan grafis. Kadang karya para perupa ini disebut seni instalasi, kadang disebut pop art, ada pula yang punkist.

Kembali ke sederhana

Eksplorasi sangat diperlukan, untuk menembus kebekuan, kejenuhan, kemandekan, dan sebutan lainnya. Eksplorasi akan menghasilkan energi ekstra, menimbulkan kesegaran, menghilangkan kantuk. Istilah Hamsad ”Akrobat Kata-kata” sebenarnya sangat tepat asalkan jangan ditambahi dengan teori sastra, yang tidak dia kuasai dengan baik. Akrobat memang menimbulkan dinamika yang sangat menarik. Baik bagi para pelaku akrobat sendiri maupun bagi para penonton. Ketika eksplorasi sampai ke titik sublim, seniman akan kembali sederhana, kembali rendah hati, kembali menulis secara bersahaja, tetapi dengan kekuatan luar biasa. Sutardji yang mengeksplorasi kata habis-habisan, akhirnya sampai ke: Kalian – Pun! Sitor Situmorang sampai ke: Malam Lebaran – Bulan di atas kuburan. Ketika semua orang duduk-duduk santai menikmati gamelan atau musik klasik, akrobat dengan iringan musik mars, akan sangat menarik, akrobat akan menjadi tren. Kalau akrobat laku, semua akan berakrobat. Istilah yang kalau tak salah pernah disampaikan Bre Redana, dan juga Bambang Bujono: ”Semua mengAfrizal”. Dan ketika semua orang bermain akrobat, dengan iringan musik yang ramai, maka beberapa orang yang duduk tenang di pinggir lapangan, justru akan kembali menjadi tontonan menarik. Lalu ketika semua orang berpura-pura menjadi sederhana, berpura-pura menulis Haiku, maka orang-orang kembali ngantuk. Ini hanya sebuah lingkaran siklus: thesis, sinthesis, dan antithesis.

”Jealous” pada yang ”muda”

Istilah ”pengarang muda” sebenarnya juga sebuah pelecehan. Tidak pernah ada pengarang muda, tidak pernah ada pengarang jompo. Kualitas karya tidak pernah paralel dengan usia. Chairil Anwar berkarya pada usia sangat belia, dan dia mati muda. Tetapi HB Jassin tidak pernah sekali pun menyebut Chairil sebagai ”penyair muda”. Dewan Kesenian Jakarta pernah ceroboh dengan membuat acara ”Penyair Muda di Depan Forum”, yang mendapat kritik tajam dari berbagai pihak pada tahun 1970-an.

Raja Dangdut Rhoma Irama seperti kebakaran jenggot ketika menyaksikan Inul Daratista bergoyang ngebor. Goyang Inul lalu dibantai habis-habisan dan dianggap sebagai ”porno aksi”, sebuah terminologi khas Indonesia, yang dengan gamblang menunjukkan kebodohan bangsa. Banyak kalangan yang membela Inul, dan mengatakan bahwa Rhoma Irama cemburu ketika ada penyanyi baru, yang tiba-tiba meroket. Saya menduga, ada unsur kecemburuan Hamsad pada generasi yang jauh lebih genius ini.

Dengan sangat terpaksa, saya kembali mengulang tulisan saya di ruangan ini, entah berapa tahun yang lalu. Hamsad sebaiknya mensyukuri bakat alam, kesederhanaan, dan kepiawaiannya mengolah itu semua, dengan cara yang sangat bersahaja. Kalau toh Anda tergoda untuk mengomentari Triyanto, dan Afrizal, bagus juga menyebut ”Akrobat Kata-kata”, tetapi cukuplah dengan ditambah: ”Akrobat kata-kata mereka memang hebat! Abang mana bisa kalau disuruh yang seperti itu!”

* F Rahardi, Penyair, Wartawan



AKROBAT KATA-KATA, KEBOHONGAN
DAN F. RAHARDI

Oleh: Hamsad Rangkuti
Sumber: Kompas Minggu, 24 Agustus 2008

Dalam acara Temu Sastra, Masyarakat Sastra Asia Tenggara di Palangkaraya, yang tidak dihadiri F Rahardi, saya menganjurkan—dan ini memang tugas saya karena saya diundang untuk itu—agar para pengarang muda tidak menghabiskan perhatian dan waktunya untuk main akrobat dengan kata-kata karena ada kecenderungan pada kaum muda—seperti saya waktu muda—untuk cenderung berakrobat dengan kata-kata (Kompas, 15/7).

F. Rahardi kemudian menulis tanggapan di media ini berdasarkan potongan ucapan saya yang dia ramu dengan imajinasinya sendiri. Tanggapan jenis itu pernah juga dia tulis mengenai pernyataan saya bahwa ”Sastra = kebohongan”. Nada kedua tulisannya sama, yaitu nada seorang penilik sekolah atau pertanian dengan fatwa-fatwa tegas: ”ini salah, itu kurang bagus, begini, begitu” kepada para guru atau petani yang keringat dan darahnya menjadi satu dengan pendidikan dan tanah pertanian. Sebagaimana guru dan petani Indonesia yang sopan dan rendah hati (boleh juga rendah diri) di hadapan pejabat penilik, saya pun hanya manggut-manggut takzim. Itu saya lakukan pada tindakan F Rahardi untuk ”meluruskan” saya (ini istilah Rahardi sendiri). Kini sang penilik itu dengan lantang menulis lagi di koran ini untuk kembali ”meluruskan saya”. Tapi, karena ini era reformasi dan para petani atau guru tidak selalu harus takzim pada teguran mereka yang gemar menjadi penilik, saya kemukakan beberapa jawaban. Jawaban ini sama sekali bukan tindakan untuk ”meluruskan”: F Rahardi, karena berbeda dengan Rahardi yang dengan gaya penilik berfatwa saya ”jelas salah” dan jenis-jenis itu, saya tidak begitu yakin apakah saya salah atau benar dan Rahardi salah atau benar. Toh, pembaca lebih cerdas dari yang sering kita duga.

Pengarang muda (atau tua) memang tidak sepatutnya main akrobat kata-kata. Entahlah kalau pengarang itu memang mau jadi politikus yang ahli dan gemar akrobat kata-kata. F Rahardi mengatakan bahwa tren penulisan prosa dewasa ini cenderung mengutamakan style. Lepas dari benar tidaknya ucapan dia, para pengarang sejati tidak ada urusannya dengan tren. Apakah Marguez ikut-ikutan tren? Kalau Chairil Anwar ikut-ikutan tren yang ada waktu itu, saya kira sastra Indonesia tidak akan mencatat nama Chairil Anwar sebagai sastrawan hebat. Kalau Rendra juga ikut-ikutan tren tahun 50-an, buat apa kita semua membaca dan menghargai Rendra. Salah satu saran saya buat pengarang muda, juga buat pengarang tua seperti F Rahardi kalau dia masih mengarang, jadilah diri sendiri dan jangan ikut-ikutan tren.

Tren mengutamakan style tentu tidak ada hubungannya dengan akrobat kata-kata. Lagi pula F Rahardi hanya menyederhanakan saja waktu mengatakan bahwa tren dunia mengutamakan style. Dunia atau bukan, pengarang sejati tidak mengutamakan style karena style adalah hasil pergulatan pengarang sejati dengan hidup. Novel Jelinek dan novel-novel Orhan Pamuk adalah novel-novel hebat dan tidak ada pada mereka aksi genit akrobat kata-kata dan mengutamakan style. Begitu juga dengan Naipaul. Semua novel ini sudah beredar terjemahannya dalam bahasa Indonesia, jadi gampang dicari. Mungkin saya salah contoh karena mereka memang bukan pengikut tren alias kurang trendy.

Ada pernyataan menarik lain dari F Rahardi, yaitu ”Pada perkembangan lebih lanjut, terutama pada prosa yang ditujukan semata-mata sebagai hiburan, plot menjadi hal utama. Tokoh diciptakan demi kelancaran plot. Itulah yang terjadi pada ”sastra sinetron kita”. F Rahardi yang menyebut-nyebut Iwan Simatupang tentu ingat esai terkenal Iwan yang berjudul ”Mencari Tokoh bagi Roman” dan pentingnya tokoh bagi sastrawan. Justru soal tokoh inilah yang paling gawat pada sinetron-sinetron kita. Semua tokoh dalam sinetron tidak ada yang kuat dan mengesankan maka plotnya pun membosankan. Sinetron kita mungkin style-nya ikut tren, tapi tokoh-tokohnya payah sampai-sampai hal dasar tokoh pun tidak jelas (latar belakang, pekerjaan, etnik, pendidikan, hobi, dsb) sampai sinetron berakhir.

Mengenai fatwa Rahardi bahwa saya di Palangkaraya itu, seyogianya cukup bercerita bagaimana proses kreatifnya berlangsung, tentu saya terima dengan takzim. Tentu dia berfatwa begitu karena saya bukan orang sekolahan dan hanya otodidak. Lain kali kalau ada undangan untuk cerita proses kreatif, saya akan cerita proses kreatif. Saya tahu diri hanya akan bicara proses kreatif saja. Di luar itu pasti salah. Dan kalau ada undangan dari sana-sini untuk membicarakan urusan di luar proses kreatif, saya akan menolak dan menyarankan panitia untuk menghubungi F Rahardi saja. Karena, meskipun F Rahardi sama seperti saya sama sekali bukan orang sekolahan (saya hanya sampai SMP), dia jauh lebih pandai daripada saya, lebih canggih, lebih teoretis, dan lebih trendy.

Yang paling membuat saya kagum dan takjub dalam tulisan Rahardi adalah pernyataannya bahwa saya cemburu kepada sastrawan muda, khususnya Triyanto dan Afrizal. ”Cerpen Triyanto dan esai Afrizal Malna, inilah, dugaan saya, (saya = F Rahardi) yang membuat Hamsad melontarkan ‘Akrobat Kata-kata‘ itu.” Untuk urusan ini, mohon janganlah F Rahardi suka menduga-duga. Afrizal dan Triyanto menulis bukan baru kemarin sore. Sewaktu saya masih menjadi Pemimpin Redaksi Horison, saya berkali-kali memuat tulisan mereka, jadi mengapa saya harus cemburu dan mengapa baru sekarang saya buka suara! Kalau F Rahardi menganggap tulisan Triyanto dan Afrizal Malna hanya akrobat kata-kata, itu sepenuhnya urusan dia dan tak perlu membawa-bawa saya. Kalau F Rahardi menganggap Afrizal dan Triyanto pengarang muda, lantas siapa pengarang tua selain dia dan saya? Atau Rahardi juga masih mau mengaku muda?

Apakah Rhoma Irama kebakaran jenggot karena cemburu kepada Inul atau karena memang ada yang membakar jenggotnya, itu urusan dia dan saya juga tidak tahu apa penyebabnya karena tidak bertanya. Apakah F Rahardi kebakaran jenggot (saya bohong—istilah F Rahardi berimajinasi—karena Rahardi tidak punya jenggot) pada pernyataan saya karena cemburu kepada saya yang cuma bakat alam, atau karena mencari simpati alias cari muka Triyanto yang sekarang menjadi pengurus Pena Emas, itu tak mau saya bahas. Buat apa bergunjing kalau kita bisa berkarya. Tapi, mengatakan saya jealous alias cemburu kepada Afrizal Malna atau Triyanto? Please dong ach (pakai bahasa Inggris juga dong). Pertama, saya tidak pernah menganggap tulisan Triyanto dan Afrizal akrobat kata-kata (ini sepenuhnya anggapan Rahardi); kedua, karena anggapan itu anggapan pribadi F Rahardi, maka kecemburuan juga boleh jadi kecemburuan pribadi Rahardi yang seolah-olah mau ditimpakan kepada saya.

Apakah kekuatan novel Ayu Utami tentu masih bisa diperdebatkan. Apakah kekuatannya ada pada style (seperti kata Rahardi), pada bagian Prabumulih (seperti kata saya), pada politik propaganda terpadu (seperti kata Katrin Bandel), atau pada urusan seksnya (seperti dibicarakan banyak orang). Saya kira pembahasan masalah ini urusan orang sekolahan atau urusan F Rahardi meski dia bukan orang sekolahan.

Saya berpendapat dan saya yakini bahwa sastra yang baik bukanlah akrobat kata-kata. Boleh saja F Rahardi punya pendapat berbeda. Adapun akrobat atau cari perhatian tentu tergantung dari konteksnya dan tergantung dari kualitasnya. Ketika ada acara gamelan atau konser musik klasik, dan orang-orang sedang menikmatinya, bisa saja F Rahardi mencoba datang dengan kelompok drumband melagukan mars lalu melintas di sana. Kadang-kadang kita bisa saja berakrobat dengan kata-kata seperti dilakukan F Rahardi dalam tulisannya menjelaskan ini dan itu. Sebatas akrobat kata-kata mungkin belum terlihat. Tapi, coba dipraktikkan dan ha ha ha setelah itu mari kita bicarakan lagi hasilnya.

Terakhir, dan ini penting, adalah soal kebohongan dalam sastra. Saya pernah mengemukakan bahwa ”sastra = kebohongan”. F Rahardi sebagaimana dia katakan pernah ”meluruskan” (sumpah, kata ”meluruskan” ini dari Rahardi sendiri lho). Maka, ketika penerbit meminta saya memasukkan tulisan Rahardi di buku saya, saya setuju saja agar semua orang bisa membaca tindakan ”meluruskan” itu yang tentu saja tidak ada gunanya. Saya sampai sekarang tetap beranggapan bahwa ”sastra = kebohongan”, dan semua orang saya kira paham maksudnya. Betulkah saya harus menjelaskan kepada Rahardi bahwa kata kebohongan di sana adalah kiasan, perumpamaan, dan sebagainya. Sebagai bukan orang sekolahan yang tak paham teori-teori, saya menyebutkan bahwa sastra = kebohongan.

Meskipun banyak bagian dalam sastra berakar atau mengacu pada kenyataan, sastra adalah fiksi alias kebohongan. Tentu saja kalau saya katakan kebohongan, maka tidak ada kaitannya dengan kebohongan para petinggi atau politisi yang gemar korupsi serta menebar janji palsu. Apakah Sukri benar-benar membawa pisau belati seperti yang digambarkan dalam cerpen saya ”Sukri Membawa Pisau Belati” sama sekali tidak penting. Apakah Garin tua dalam ”Robohnya Surau Kami” AA Navis benar-benar ada dan benar-benar membunuh dirinya gara-gara kata-kata Ajo Sidi, sama sekali tidak penting.

Sastra bagi saya adalah sebuah kebohongan kreatif, kebohongan yang indah untuk mengajak pembaca melihat kenyataan dengan lebih baik lagi. Putu Wijaya pernah mengatakan bahwa karya-karyanya adalah sebuah Teror dan F Rahardi menulis Pidato Akhir Tahun Seorang Germo. Bagi saya kedua ungkapan itu bukan fakta. Sebagai seorang sastrawan, saya mengaku dengan jujur bahwa ”sastra = kebohongan” dan saya tidak perlu tersipu atau pura-pura alim untuk membuat macam-macam argumentasi moral yang baik-baik untuk menutupinya atau sekadar ”meluruskannya”. Itu sebabnya, saya tidak pernah menganggap F Rahardi seorang germo karena toh karya sastra = kebohongan. Entah kalau Rahardi sendiri menganggap bahwa dia tidak berbohong dan dirinya memang benar-benar germo.
Sudah ah, saya mau kembali berbohong, eh menulis karya sastra, kebohongan yang indah.

Hamsad Rangkuti Cerpenis, Pemenang Khatulistiwa Award, Penghargaan Khusus Kompas 2001, Mantan Pemred Horison



PARADOKS PEMBOHONG

Oleh: F. Rahardi
Sumber: Kompas Minggu, 26 Oktober 2008 | 01:46 WIB

Mereka mempersembahkan makam untukMu, O, betapa suci dan tinggiNya
Orang-orang Kreta selalu berbohong, binatang jahanam, bermalasan dan tertawa-tawa
Tetapi karyaMu tak pernah mati: Kau akan terus hidup dalam keabadian
Dalam diriMu kami hidup dan bergerak, dan bisa memaknai kehidupan kami.

Itulah terjemahan bebas bait puisi Epimenides dari Knossos, Pulau Kreta, yang hidup pada abad VI SM. Ia menulis bait puisi ini untuk memuja Zeus, Sang Maha Dewa. Pada abad XIX, salah satu baris puisinya diutak-atik orang, kata-katanya diakrobatkan, hingga menjadi premis-premis yang saling bertolak belakang, yang sebelumnya sudah sangat dikenal sebagai Paradoks Pembohong. Hingga sekarang, Epimenides dan baris puisinya seakan-akan menjadi bagian dari Paradoks Pembohong.

Paradoks Pembohong adalah paradoks paling klasik, sekaligus paling terkenal, ciptaan Eubulides dari Miletus, Yunani (abad IV SM). Selain menciptakan Paradoks Pembohong, Eubulides juga membuat enam paradoks lain. Aslinya, pernyataan dalam paradoks pembohong berbunyi: Seorang laki-laki berkata: ”Yang saya katakan sekarang ini sebuah kebohongan.” Pernyataan inilah yang pada abad XIX dihubung-hubungkan dengan bait puisi Epimenides.

Pernyataannya kemudian menjadi: Epimenides orang Kreta itu, mengatakan bahwa semua orang Kreta adalah pembohong. Dari pernyataan ini, dibuat banyak premis. Di antaranya: Kalau Epimenides jujur, maka pernyataannya menjadi salah. Sebab ia juga orang Kreta, dan tidak berbohong. Kalau ia berbohong, maka pernyataannya juga tetap salah sebab semua orang Kreta bisa bukan pembohong. Akrobat kata-kata seperti ini memang hanya bisa dipahami oleh otak cerdas.

Dari etika ke nihilisme

Akrobat kata-kata dalam paradoks menjadi semakin banyak dan rumit. Paradoks Tanduk (paradoks ketujuh Eubulides) berbunyi: Kalau kau tidak kehilangan sesuatu, maka sesuatu itu masih kau miliki. Karena selama ini kau tidak pernah kehilangan tanduk, maka sekarang kau pasti masih bertanduk. Padahal, mana ada manusia bertanduk? Akrobat kata-kata, dalam paradoks, bukan sekadar untuk iseng dan lucu-lucuan. Pengaruh paradoks, dalam banyak disiplin ilmu, sungguh sangat besar.

Sampai sekarang telah terkumpul 123 paradoks. Mulai dari paradoks filsafat 13, logika 7, matematik/statistik 18, fisika 23, kimia 2, geometri 7, tak terhingga 6, kemungkinan 11, teori keputusan 7, referensi diri 13, tersamar 2, dan ekonomi 14. Ini semua berawal dari kultur Yunani, termasuk Minoan dan Kreta. Pulau Kreta sendiri terletak di tenggara jazirah Yunani. Antara Kreta dan daratan Yunani terletak Pulau Minoan, dengan masyarakatnya yang berkultur sangat tinggi.

Epimenides hidup di Kreta, jauh sebelum Sokrates dilahirkan (470 SM). Sayangnya, peradaban Minoan yang sangat tinggi itu pernah hancur ketika terjadi letusan Minoan abad 16 SM. Pulau vulkanis Minoan seluas 60 km2 sebagian besar cerai-berai dan terbang, lebih hebat dari letusan Krakatau tahun 1883. Selain Minoan, peradaban di pantai utara Kreta juga ikut hancur. Letusan dahsyat ini tercatat dalam papirus dan tembok kuil di Mesir Kuno.
Tidak semua paradoks positif. Paradoks memang berperan dalam pengembangan filsafat, dan ilmu etika (pengetahuan tentang baik dan buruk/moral). Tetapi, paradoks juga berpengaruh terhadap lahirnya nihilisme, dan atheisme. Nihilisme pertama kali dipopulerkan oleh Ivan Sergeyevich Turgenev (1818-1883), novelis dan penulis lakon Rusia. Faham ini juga sering diasosiasikan dengan Nietzsche (1844- 1900). Antara 1860-1870, nihilisme menjadi gerakan pemikiran, sekaligus genre sastra di Rusia. Sekarang nihilisme sering dikaitkan dengan terorisme.

Bunga kata dalam retorika

Kita sering mendengar dalam percakapan sehari-hari: ”Ah, caleg (calon legislatif), itu bisanya kan hanya sekadar retorika”. Artinya caleg itu hanya bisa omong besar, hanya bisa pidato yang muluk-muluk, bombastis, penuh dengan bunga-bunga kata, penuh dengan akrobat kata-kata. Tegasnya, Sang Caleg adalah pembohong. Makna retorika seperti ini berkembang agak belakangan dibanding dengan terminologi awal, yang mengartikan retorika sebagai seni menyampaikan gagasan (lisan maupun tulis), secara efektif.
Retorika lahir pada abad VI SM, dua abad sebelum lahirnya paradoks. Bidan lahirnya retorika adalah Sophism, dalam bahasa Yunani sophos atau sophia, berarti bijaksana atau kebijaksanaan. Hingga retorika, pada awalnya lebih banyak menggunakan bentuk persuasi. Bukan narasi, bukan deskripsi, bukan eksposisi, bukan pula argumentasi. Sebab pada awalnya tujuan retorika adalah agar pihak yang diajak berkomunikasi bisa segera memahami apa yang dimaksudkan, tanpa paksaan, tetapi juga tanpa dialog. Hingga efektivitas dan efisiensi diksi, frasa, kalimat menjadi sangat penting.

Secara ilmiah, studi tentang kekuatan bahasa (kata-kata) dilakukan oleh Empedocles (444 SM). Sebab pada abad V SM, retorika dalam bentuk orasi sudah menjadi tren di Yunani. Guru orasi terkenal antara lain Protagoras (481-420 SM), Gorgias (483-376 SM), dan Isocrates (436-338 SM). Pada zaman Romawi, gramer, retorika, dan logika (Trivium), bersama dengan geometri, aritmatika (berhitung), musik, dan astronomi (Quadrivium) menjadi kurikulum wajib di semua sekolah.

Retorika baru menjadi dogmatis dan politis pada zaman keemasan Eropa, sekitar abad pertengahan. Di sinilah akrobat kata-kata menjadi sampah. Kalimat persuasi ditinggalkan. Sebagai gantinya muncul kalimat indoktrinasi, bahkan provokasi. Tradisi perdebatan dalam paradoks memang tidak dikenal dalam retorika. Kalau para politisi kita, sekarang-sekarang ini lebih banyak pidato omong kosong, sebenarnya mereka sedang mengikuti pola retorika politisi, dan pemuka agama Eropa, abad pertengahan.

Akrobat dan kebohongan

Kata akrobat berasal dari bahasa Perancis acrobate, yang merupakan serapan dari kata Yunani akros (ketinggian) dan bat (berjalan). Hingga arti harfiah akrobat, berjalan di ketinggian. Frasa ini terkait dengan olahraga atletik, senam, dan permainan sirkus. Frasa akrobat kata-kata sebenarnya tidak dikenal dalam ilmu bahasa, juga dalam filsafat. Frasa ini pertama kali dilontarkan oleh Nirwan Dewanto, yang berbicara bersama Budi Darma, pada sebuah seminar sastra, dalam rangkaian Festival Seni Surabaya (FSS), di Surabaya, bulan September 2006.

Frasa akrobat kata-kata, meskipun tidak (belum) menjadi idiom baku, tetap bisa menjadi kata kiasan. Makna sebenarnya adalah paradoks, dan retorika, yang bisa bermakna positif, bisa pula negatif. Akrobat kata-kata dalam sastra juga sah-sah saja, dan belakangan ini memang menjadi tren. Tren juga bukan berarti baik atau buruk, tetapi digemari masyarakat. Dalam sastra, berarti pencipta, redaktur, dan pembacanya sedang menyenangi kecenderungan prosa, dan puisi, yang berakrobat kata-kata, baik yang bermutu maupun yang sampah.

Paradoks paling klasik adalah paradoks pembohong (kebohongan). Retorika dalam indoktrinasi, dan provokasi, juga penuh kebohongan. Dua kebohongan ini, juga kebohongan yang lain, sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan fiksi. Apa pun dalihnya, termasuk sebagai kiasan. Apabila seseorang ingin mengaitkan sesuatu yang tidak nyata, dengan kata bohong, maka yang tepat bukan kebohongan, melainkan ”bohong-bohongan”. Ini setara dengan main-mainan, pacar- pacaran, kawin-kawinan, dan kemudian punya anak ”anak- anakan”.

F Rahardi, Penyair, Wartawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: