UMBU DAN PUISI INDONESIA MODERN


Kompas Minggu, 14 Mei 2006

Oleh F. Rahardi

Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan
berdebu
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu
   
(Taufiq Ismail, Beri Daku Sumba, 1970)

Siapakah Umbu? Hingga penyair Taufiq Ismail, menyebut nama itu dalam salah satu puisinya? Umbu, nama lengkapnya Umbu Landu Paranggi, adalah sosok misterius. Ia selalu menghindar dari publisitas. Tetapi dialah sumber energi yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan puisi Indonesia modern, sejak tahun 1960an sampai sekarang. “Saya bisa menjadi seperti sekarang ini, karena didikan Umbu”, Komentar demikian sangat sering saya dengar langsung dari penyair yang sedang naik daun.

Tahun 1970an, Yogyakarta adalah kota yang paling banyak melahirkan penyair. Redaktur Majalah Horison, yang ketika itu berkantor di Balai Budaya, selalu kebanjiran kiriman puisi dari Yogya. Pada akhir 1960 dan awal 1970an, di kota gudeg memang bermukim Penyair Kirjomulyo, Rendra, Darmanto Yatman dan Sapardi Djoko Damono. Tetapi lahirnya nama-nama seperti Korie Layun Rampan, Linus Suryadi dan Emha Ainun Najib, lebih disebabkan oleh kehadiran Umbu. Meskipun ia, tidak pernah sekali pun mengklaim hal seperti ini.  

Tahun 1975, banyak penyair seangkatan tiga nama itu muncul ke permukaan sastra Indonesia dari Yogya. Pada tahun 1975 itu, tiba-tiba Umbu menghilang. Beberapa teman mengatakan bahwa ia pulang kempung ke Waikabubak, di Sumba Barat. Tetapi kemudian ketahuan ia bermukim di Denpasar, Bali. Sekarang, Bali dari Pulau Dewata ini banyak bermunculan penyair berbakat. Banyak di antara nama itu yang kemudian hadir sebagai penyair papan atas Indonesia. Nama yang menonjol antara lain Oka Rusmini dan Warih Wisatsana.

Dalam perkembangan puisi modern Indonesia sekarang ini; Jakarta, Bandung dan Yogyakarta kalah dengan Denpasar. Bahkan dengan Tanjungkarang pun, Jakarta tertinggal jauh. Perkembangan kepenyairan yang mengejutkan di Bali, salah satunya adalah karena kehadiran Umbu. Meski kali ini pun, ia tetap misterius. Bahkan jauh lebih misterius dibanding ketika ia masih bermukim di Yogya dulu.

Memprihatinkan

Perkembangan puisi modern Indonesia, selama satu dekade terakhir ini sebenarnya sangat memprihatinkan. Paling tidak jika dibandingkan dengan perkembangan cerpen dan novel. Artinya, dalam sepuluh tahun terakhir, banyak ditulis cerpen dan novel bermutu. Tetapi tidak ada puisi bagus. Peristiwa dahsyat Mei 1998, ternyata juga tidak melahirkan apa-apa. Bahkan tsunami pun hanya melahirkan banyak “puisi proyek”. Di tengah kondisi puisi Indonesia modern yang loyo ini, Umbu tetap konsisten dengan perannya seperti ketika bermukim di Yogya dulu.

Selain kalah dengan cerpenis dan novelis, penyair Indonesia dekade 1990 dan 2000an sekarang ini, juga kalah jauh dibanding dengan penyair dekade sebelumnya (1970 dan 1980an), Paling tidak, tahun 1970 dan 1980an banyak kejutan yang antara lain dibuat Sutardji Calzoum Bachri. Setelah itu khasanah puisi modern Indonesia datar-datar saja dan tetap didominasi nama-nama lama. Mulai dari Sitor Situmorang, Ramadhan KH yang baru saja meninggal, Rendra, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono.

Para penyair itu kelahiran tahun 1930 dan 1940an. Sitor bahkan kelahiran 1924. Mereka yang lahir sekitar tahun 1950an, sebagian besar merupakan “didikan Umbu di Yogya”. Mereka ini banyak yang gugur di tengah jalan. Ada yang meninggal dalam arti sebenarnya seperti Linus Suryadi dan Hamid Jabar.  Tetapi banyak yang kehabisan energi lalu kapok jadi penyair. Ada yang jadi praktisi hukum, politisi, wartawan. Ada pula yang bingung memilih identitas, ada yang menjadi “bapak rumah tangga”.

Generasi kelahiran 1950an yang masih hidup dan relatif menonjol tinggal Afrizal Malna yang tetap konsisten sebagai penyair, Korie Layun Rampan sebagai kritikus sastra dan Emha sebagai  seleb. Generasi yang lahir tahun 1960an, 1970an dan 1980an, kebanyakan kurang bunyi, karena mereka tidak sepenuh hati berprofesi sebagai penyair. Di sinilah kita bisa sangat hormat pada totalitas Umbu, yang tetap gigih memberi motivasi para calon penyair. Padahal sudah ketahuan bahwa profesi penyair tidak menjanjikan apa-apa secara finansial.

Pelopor PSK

Umbu Landu Paranggi sudah mulai menulis puisi, esai dan artikel di Yogyakarta sejak tahun 1950an. Tetapi puisinya tidak pernah menonjol dan menarik perhatian para kritikus. Perannya dalam perkembangan puisi Indonesia modern, justru penting ketika tahun 1968 ia mendirikan Persada Studi Klub (PSK). Kelompok ini didirikannya bersama penyair Suwarna Pragolapati, Iman Budi Santosa dan Teguh Ranusastra Asmara.

PSK yang punya rubrik puisi di Mingguan Pelopor ini, segera menarik minat generasi muda. Ketika itu di Yogyakarta juga sudah  terbit majalah Semangat (remaja) dan Basis (budaya), yang juga memuat puisi. Ruang puisi Basis ketika itu diasuh oleh penyair Sapardi Djoko Damono. Rendra yang baru saja pulang dari AS dan mendirikan Bengkel Teater juga sangat mewarnai kehidupan berkesenian di Yogya. Akhir tahun 1960an dan awal 1970an, Yogya benar-benar merupakan “lahan persemaian penyair”.

Tahun-tahun itu, Indonesia memang baru dalam suasana euforia karena terbebas dari kekangan pemerintah Soekarno. Sementara pemerintahan Soeharto masih belum otoriter. Ketika itulah Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Majalah Horison lahir. Dibanding TIM dan Horison, PSKnya Umbu sangat kecil. Tetapi totalitas terhadap profesi yang dicontohkan Umbu, sungguh luarbiasa. Hingga ia pun memperoleh julukan sebagai “Presiden Penyair Malioboro”.

Memang sulit untuk merumuskan peran Umbu dalam perkembangan puisi Indonesia Modern. Meskipun peran itu ada dan sangat besar. Kesulitan demikian, kurang lebih sama apabila kita harus menjelaskan “makna” sebuah puisi. Meskipun kekuatan puisi itu jelas bisa kita rasakan. Umbu, kelahiran Waikabubak 10 Agustus 1943, sekarang sudah berusia 63 tahun. Ia tetap total dalam memberi inspirasi kepada para penyair muda, bahkan juga penyair tua seperti Taufiq Ismail.

F. Rahardi, Penyair, Wartawan.       

KOMPAS, Minggu, 21-05-2006. Halaman: 27

MENGANIAYA PUISI…
Oleh Binhad Nurrohmat

Kebiasaan para komentator puisi di negeri ini adalah bersikap nostalgis dan provinsialistik. Mereka gemar memperbandingkan puisi penyair masa Revolusi atau masa Soeharto dengan puisi penyair masa Reformasi; atau memperbandingkan puisi penyair Pusat (baca: Jakarta) dengan puisi penyair Daerah (baca: di luar Jakarta). Komentator nostalgis dan provinsialistik ini suka mencomot kesimpulan dari gerundelan pribadi, buku, atau kliping lapuk yang berisi sangkaan dangkal atau pikiran antik “kritikus resmi” HB Jassin, Dami N Toda, A Teeuw, Soebagio Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono, maupun Goenawan Mohamad. Pikiran antik para junjungan sastra Indonesia modern ini sudah jadi zombie dan mestinya diuji kembali, bukan terus-menerus diamini.

Nah, komentator model ini kerap jumawa menyatakan penyair Polan lebih hebat ketimbang penyair Fulan, menganggap puisi Generasi Anu lebih kampiun daripada puisi generasi sebelumnya. Mereka tak mencetuskan kritik tulen, mereka mengumbar kritik gadungan. Kritik gadungan menyatakan kesimpulan tanpa data yang komprehensif, tanpa fakta yang tepat, dan tanpa analisa maupun pembuktian yang meyakinkan. Mereka sekadar hura-hura omong besar melalui retorika yang melantur, ajaib, dan berbunga-bunga tanpa mengungkap perspektif dan faktor puitika puisi. Mereka sembarangan “menilai” dan menghasilkan risalah pujian palsu atau penganiayaan terhadap puisi. Ooh, puisi…

Memang sastra Indonesia modern telah melahirkan para penyair terdahulu yang tangguh. Masyarakat sastra pun tegas mengakuinya, tapi bukan berarti perdebatan tak mungkin muncul. Biasanya, setelah penyair dinobatkan sebagai penyair jempolan dan duduk di puncak menara gading perpuisian akan enggan turun tangga meski sudah berhenti berpuisi, kreativitasnya merosot, atau terbukti puisinya lekang terkunyah waktu. Banyak penyair senior bermodal nama kondang berkeliaran dan ngotot mempropagandakan diri sendiri sebagai penyair yang tak tertandingi lagi oleh penyair segenerasinya atau penyair generasi sesudahnya. Ah, gelar penyair terkemuka seolah jadi urusan terpenting ketimbang kecemerlangan puisi. Mereka lebih mengelukan jadi mitos dan legenda ketimbang kenyataan yang bisa terang dibaca.

Usia sejarah puisi Indonesia modern sekitar seabad dan melahirkan kenyataan beragam dan perpuisian yang tak sama. Semuanya berkembang dan berubah dalam konteks, perspektif, dan puitikanya masing-masing. Sayang, kritikus tulen malas mengamati atau menilai perpuisian penyair generasi terkini dan kritikus gadungan telanjur banyak ambil peran sewenang-wenang, sehingga perpuisian penyair generasi terkini sekadar dianggap “anak mami” yang lembek dan manja karena konon dibesarkan kenyataan zaman yang sehat-bugar semua-muanya, dan didakwa tak sekuat perpuisian penyair generasi terdahulu yangjadi “anak liar ajaib” dalam tempaan revolusi, nasib susah, penderitaan, dan tindasan kekuasaan.

Tapi harap diperhatikan baik-baik, Saudara. Hampir sepanjang dua dasawarsa ini, hampir semua koran edisi Minggu di negeri ini dan juga situs-situs puisi di internet menampilkan puisi-puisi para penyair generasi terkini yang jumlahnya tak tertandingi sepanjang sejarah puisi Indonesia modern dan belum semuanya dijamah, diendus, dan
dirogoh secara representatif dan saksama oleh kritikus tulen mana pun. Puisi Indonesia modern terkini adalah puisi koran yang melahirkan “penyair mingguan” yang berbeda tradisi dengan penyair generasi sebelumnya, para “penyair bulanan”, yang puisinya kadang-kadang nongol di majalah sastra yang tipis-tipis dan terbitnya sering
jarang-jarang.

Mari menilai dan mohon jangan menduga belaka secara subyektif, tanpa data yang komprehensif, tanpa fakta yang tepat, dan tanpa analisa serta pembuktian yang meyakinkan seperti lontaran F Rahardi di koran ini (14/5) yang menuduh puisi penyair generasi terkini kalah oleh puisi penyair generasi terdahulu, puisi penyair Jakarta
tertinggal jauh dari puisi penyair Bali dan Lampung, dan puisi penyair generasi terkini kalah mutu dengan cerpen dan novel terkini. Tuduhan ini tanpa bukti dan tanpa penjelasan yang signifikan?

Umbu Landu Paranggi memang pernah berperan bagus dalam perpuisian
Indonesia modern. Tapi Umbu bukan satu-satunya orang dalam urusan ini. Dia bohemian dan penasihat “spiritual” kepenyairan sejumlah penyair di Yogyakarta dan Bali. Umbu berbeda dengan HB Jassin yang tertib-akademis dan berperan sebagai kritikus “intelektual” banyak penyair terkemuka di negeri ini melalui ulasan-ulasan di majalah sastra atau surat-menyurat yang intens, kritis, dan hangat dengan para penyair di Jakarta dan Daerah. Selebihnya, banyak yang banting tulang sendirian untuk membangun kepenyairannya.

Para penyair generasi terkini tanpa Jassin (atau Umbu) lagi. Mereka memiliki kehidupan sendiri, serta nasib dan pola yang berbeda untuk menggembleng diri dan menulis puisi sesuai kenyataan dan semangat zamannya sendiri. Romantisme kepenyairan dan model kehidupan seniman tempo doeloe naif diamalkan saat ini. Metoda dan teknik pengembangan kepenyairan menyesuaikan situasi dan kondisi zamannya. Penyair sekarang bisa “berguru” melalui internet dan perpustakaan.
Tak harus begadang di emperan gedung kesenian atau trotoar jalan raya yang kotor dan apek untuk berdiskusi soal apa pun dan dengan siapa pun di pojokan bumi mana pun. Tak juga ngutil buku semacam Chairil Anwar, sebab sulitnya ekonomi dan terbatasnya bacaan di masa itu. Penyair masa lalu menulis dengan pena atau mesin ketik pinjaman, butuh kantor pos atau kurir untuk mengirimkan naskahnya ke alamat redaksi dalam hitungan hari. Penyair masa kini menulis dengan laptop di kafe dan jasa e-mail mengantarkan naskahnya ke haribaan redaksi dalam hitungan detik.

Maklumlah, zaman sudah berubah dan bergerak cepat. Chairil Anwar dan Amir Hamzah akan menjadi sosok yang berbeda dari yang sudah kita kenal hari ini jika mereka hidup dan menyair dalam kenyataan zaman yang seperti saat ini. Atau, mereka malah tak jadi penyair sama sekali. Apa boleh buat. Kepenyairan yang tulen, bagaimanapun dan di mana pun, intim dengan suka-duka, manis-getir, serta bobrok-mulianya kenyataan zamannya luar-dalam. Ooh, penyair.

Binhad Nurrohmat, Penyair
Sunday, May 06, 2007

Binhad Nurrohmat Has Got No Balls

Saya geli sekaligus ngeri membaca Binhad Nurrohmat dalam “Menganiaya Puisi …” (Kompas, 21 Mei 2006) begitu marah pada “kritik gadungan” yang “menyatakan kesimpulan tanpa data yang komprehensif, tanpa fakta yang tepat, dan tanpa analisa maupun pembuktian yang meyakinkan,” (ini di alinea 2) tapi sampai alinea 6 waktu dia mengulangi lagi pidatonya, “Mari menilai dan mohon jangan menduga belaka secara subyektif, tanpa data yang komprehensif, tanpa fakta yang tepat, dan tanpa analisa serta pembuktian yang meyakinkan,” dia sendiri pun belum juga menunjukkan sedikit pun “data yang komprehensif”, maupun “fakta yang tepat”, apalagi “analisa serta pembuktian yang meyakinkan” tadi. Dan sampai tulisan ini berakhir 3 alinea kemudian semua hal yang dikoarkan Binhad harus muncul dari mulut seorang kritik itu tetap saja tidak muncul dari mulutnya sendiri.

Salah satu “kritik gadungan” ini adalah F Rahardi yang menurut Binhad “menuduh puisi penyair generasi terkini kalah oleh puisi penyair generasi terdahulu, puisi penyair Jakarta tertinggal jauh dari puisi penyair Bali dan Lampung, dan puisi penyair generasi terkini kalah mutu dengan cerpen dan novel terkini.”

Menurut saya kesimpulan Binhad tentang tuduhan F Rahardi itu agak melenceng. Tuduhan F Rahardi pada puisi generasi terkini sebenarnya jauh lebih kejam. Dalam tulisannya (“Umbu dan Puisi Indonesia Modern”, Kompas, 14 Mei—seminggu sebelum balasan Binhad) F Rahardi menyatakan, “… dalam sepuluh tahun terakhir ,,, tidak ada puisi bagus.”

Sesungguhnya kalau Binhad ingin membuktikan bahwa tuduhan ini salah, gampang. Tunjukkan saja sebuah contoh “puisi bagus” dari sepuluh tahun terakhir ini! Satu puisi pun akan sekaligus menjadi “data yang komprehensif, fakta yang tepat, dan analisa serta pembuktian yang meyakinkan” yang didamba-dambakan Binhad dari tadi.

Tapi pembuktian yang diberikan Binhad justru argumen-argumen ad hominem yang sekedar menempelkan stiker-stiker mengerikan pada jidat komentator-komentator puisi Indonesia: “nostalgis”, “provinsialistik”, “suka mencomot kesimpulan dari gerundelan pribadi”, “dangkal”, “antik”, “omong besar”, “melantur”, “ajaib”, “berbunga-bunga”, dan masih banyak lagi.

Sekalinya Binhad mengalihkan perhatian dari mencerca kritik gadungan dan mencoba memberi pembelaan untuk yang dikritik dia hanya menyatakan, “Hampir sepanjang dua dasawarsa ini, hampir semua koran edisi Minggu di negeri ini dan juga situs-situs puisi di internet menampilkan puisi-puisi para penyair generasi terkini yang jumlahnya tak tertandingi sepanjang sejarah puisi Indonesia modern.” Jumlahnya! Begitu cepat Binhad lupa bahwa yang dikeluhkan F Rahardi, dan yang membuat Binhad sendiri begitu murka, adalah bahwa “tidak ada puisi bagus”. Bukan bahwa tidak ada puisi.

Memang kemudian Binhad meneruskan bahwa mungkin masalahnya “puisi-puisi yang jumlahnya tak tertandingi sepanjang sejarah puisi Indonesia modern” tadi (“data”-mu “yang komprehensif” untuk ini mana, Binhad?) “belum semuanya dijamah, diendus, dan dirogoh secara representatif dan saksama oleh kritikus manapun”. Tapi bukannya ini satu lagi kesempatan, pas sekali, untuk menunjukkan satu, satu saja ayo, “puisi bagus” tadi? Kalau tidak ada yang mau merogoh, ya rogoh saja sendiri!

Tapi tidak, Binhad sampai akhir tulisannya hanya memaparkan bagaimana kehidupan para penyair generasi terkini begitu berbeda dari penyair generasi sebelumnya (eg. “bisa ‘berguru’ melalui internet”, tidak perlu “ngutil buku semacam Chairil Anwar”). Yang gampang ditebak mengarah ke permohonan klise supaya “kritik-kritik gadungan” tadi jangan menilai puisi-puisi penyair generasi terkini dengan nilai-nilai yang mereka pakai untuk menilai penyair-penyair generasi sebelumnya.

Tetap saja, menyatakan bahwa “zaman sudah berubah dan bergerak cepat” tidak sama dengan membuktikan bahwa zaman itu sudah menghasilkan puisi bagus. Binhad tetap tidak bisa melihat bahwa yang perlu dia lakukan hanyalah memberi satu contoh saja sebuah “puisi bagus”; itu cukup untuk mematahkan tuduhan F Rahardi.

Kenapa, misalnya, Binhad tidak menyebutkan saja sajaknya “Columbus” yang dimuat di halaman Sajak Sajak Kompas Minggu 30 April 2006, dan menantang F Rahardi untuk membuktikan bahwa puisi itu bukan “puisi bagus”? Atau membandingkannya sendiri dengan, misalnya, sajak F Rahardi “Burung Madu” yang dimuat di halaman yang sama seminggu kemudian? Menurut saya beberapa larik dalam “Columbus”, eg. “Tak ada rindu di punggungmu yang kekar”, “dan api tualang membakar alamat rumah”, atau “mata jangkar capek merobek punggung udara”, cukup memenuhi syarat-syarat “kepenyairan tulen” yang dituntut Binhad sendiri, yang “intim dengan suka-duka, manis-getir, serta bobrok-mulianya kenyataan zamannya luar dalam.” Apa Binhad kurang percaya diri?

Tulisan Binhad ini, selain tidak bisa membuktikan salahnya tuduhan F Rahardi bahwa “sepuluh tahun terakhir ini tidak ada puisi bagus”, justru secara tidak sadar membuktikan tuduhan (antara lain) Katrin Bandel dalam eseinya “Sastra Koran di Indonesia” bahwa “[i]nformasi yang jelas, apalagi argumentasi yang masuk akal, sangat jarang terdapat dalam esei-esei [koran] itu. Entah karena memang tak ada penulis yang mampu atau karena ‘memukul’ dan menjelekkan lawan dan memuji-muji kawan dianggap sudah cukup.” Dalam kasus tulisan Binhad ini, saya rasa Katrin bisa menghapus “Entah” dan mengganti “atau” dengan “dan”.

Sayang, Binhad. Karena kalau anda berhenti “memukul dan menjelekkan” sebentar saja, mungkin anda akan punya waktu untuk menemukan ini:

Re: Kota [2]

ada kota penuh kaki
muda, mulus, dan liar

inilah kaki dari senja emas

(Edo Wallad, dalam Antologi Bunga Matahari, Avatar Press 2005)

Sentimentil mungkin. Tapi bagus. Dan ditulis sepuluh tahun terakhir ini (6 Januari 2003 menurut keterangan bukunya). Habis perkara.

Mikael Johani sehari-hari menghabiskan waktunya pura-pura bekerja sebagai penyunting di Jurnal Perempuan.
posted by lo! @ 11:13 AM 0 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: