MALAM YANG KESEPIAN


Maka sampailah Yesus bersama-sama
murid-muridNya ke suatu tempat
yang bernama Getsemani. Lalu ia
berkata kepada murid-muridNya :
“Duduklah di sini, sementara aku
pergi ke sana untuk berdoa”.
(Matius 26 : 36-46
Markus 14 : 32-42 Lukas 22 : 39-46)

Malam itu memang tak ada yang
bergerak
tak ada awan
tak ada kampret yang biasa
menciap-ciap menyambar
nyamuk dan walang sangit.

Malam itu diam karena memang
tak bisa bergerak-gerak
dia hanya meneteskan embunnya
di atas batu beton
lalu diam lagi
dan laki-laki itu berjubah kain
sarung
dia sendirian dan capek

tak ada murid-murid
tak ada Bapa yang akan mengirim
Roh Kudus untuk
penawar ngantuk
“Baiklah, aku akan ke sana
sendirian. Bukan untuk berdoa,
bukan untuk mohon petunjuk
bukan untuk protes”.

Malam itu tetap diam
Laki-laki itu memang bukan Yesus. Dia
berhenti dan menoleh.

“Aku biasa-biasa saja, sompret!
Aku bukan Yesus yang malam itu
sangat kesepian. Malam ini memang
sepi. Tapi itu urusanmu lam
Aku akan ke sana dan tidak akan
melakukan apa-apa. Jangan curiga”.

Kembali malam itu meneteskan
embun
Di langit ada bintang-bintang
tapi hanya kecil saja dan redup
di aspal dan di batu beton
ada daki ada bau oli
laki-laki itu terus berjalan sendirian
sandalnya hampir putus
“Aku tak perlu murid-murid
juga tak perlu guru. Jadi
jangan mengguruiku lam”.

Tapi malam itu tetap diam
napasnya hampir tak kedengaran
detak jantungnya seperti berhenti
malam itu sangat kesepian
tak ada tawa kuntilanak
tak tercium bau kentut kerbau
dan lampu-lampu sudah mati

“Malam kau tinggallah di sini
Aku mau ke sana untuk tidur”
Laki-laki itu kotor, gondrong dan
brewokan. Tapi dia bukan Yesus
“Aku tak ada urusan
dengan dosa manusia. Aku sendirilah
dosa itu. Dan malam
ini aku ngantuk dan mau
tidur”.

Malam itu bukan Natal, bukan
tahun baru dan jauh dari
pesta kawin atau sunatan.
Malam itu betul-betul sepi dan gelap
Dan laki-laki itu lalu merobohkan
diri di atas batu beton beralaskan
kain sarung lalu mendengkur

Dari Surga, dengkur laku-laki
itu terdengar mirip bunyi
bis malam yang meraung-raung
di tanjakan Puncak Pas.
Tapi kadang-kadang seperti deru kereta api
Gaya Baru malam Jakarta – Surabaya
yang sarat penumpang.

1990

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: