MATAHARI, WERENG DAN SOL SEPATU


Matahari menggeliat-geliat memancarkan
keringat
langit melengkung bagai kubah masjid
wereng bersembunyi dengan rapi di balik jas
dan dasi
sol sepatu berjingkat-jingkat menghindari
lumpur
di pematang sawah

Udara pagi bersih dan dingin
daun pisang melenggang-lenggok berjaipongan
capung, burung, kadal dan kodok teler terbius
rayuan PPL
angin menceraiberaikan rambut anak gadis
pak tani
padi mulai kuning, lumpur di sawah juga sudah
kering
dan sabit menari-nari di atas tumpukan jerami

Pegawai negeri eselon satu melaju dengan
safari abu-abu
prajurit angkatan bersenjata berderap
memanggul tanda pangkat
wartawan-wartawan yang bebas dan
bertanggungjawab
melotot menyambar amplop
sarjana-sarjana pertanian berebut melamar
kerjaan
dan seniman-seniman senior serius
memperdebatkan
angin, maut, Tuhan, filsafat kehidupan dan
order bernilai jutaan

Langit berdebu
matahari seperti tersiram empedu
angin mengirim asap urea dan pestisida
udara penuh rayap
napas pak tani kembang-kempis dikendalikan
instruksi
“Mari kita ramai-ramai masuk desa,”
kata para pejabat tinggi kita
“Mari kita tembak tikus-tikus
yang menggerogoti tanggul-tanggul
irigasi,”
teriak prajurit angkatan bersenjata
“Mari kita colok pantat janda kembang,”
ajak wartawan
majalah hiburan
“Ayo kita hias teras Puskesmas dengan spiral
dan balon kondom,”
ajak dokter-dokter Inpres
“Mari kita tambal lubang di dinding kantor
kelurahan
dengan grafik dan angka-angka
yang menyenangkan,”
bujuk sarjana pertanian yang tak kebagian
kerjaan di kota
“Mari kita semua masuk desa
kita tukar sawah pak tani dengan tivi warna 20 inchi
mari kita kencingi pohon rambutan
yang berbuah lebat tahun ini
ayo kita angkut sapi-sapi ini,
kita tukar dengan kelinci
pak tani harus kita ajar sadar gizi
empat sehat lima sempurna.”

Langit sempoyongan mabuk pestisida
beton bendungan keropos diperkosa urea
matahari menggigil kedinginan
tapi pak tani malah berkeringat kegerahan
“Kami rindu Undang-undang Pokok Agraria
tanah kami diserobot semena-mena
dan kami digusur secara terencana ke belantara
Rimbo Bujang.”
“Tenang, tenang, hadirin harap tenang
nanti malam pak tani sudah bisa nonton
Aneka Ria Safari
di tivi hitam-putih yang dipasang di halaman
kantor kelurahan
pak tani pasti senang.”

Langit tambah sempoyongan
matahari ditelan gumpalan sekam
udara mabuk pestisida
wereng biotipe baru lepas dari
laboratorium Balai Penelitian
dan bergulung-gulung jadi mendung
bergelayutan
hujan dimuntahkan duahari duamalam
menghanyutkan gabah VUTW yang akan
disetor ke KUD

Udara tambah dingin tapi pak tani makin
kegerahan
kipas angin dipasang di Balai Desa
“Tenang saudara-saudara, tenang
bersama ini saya umumken berita gembira
berkat keringat dan dedikasi pak tani
yang sangat tinggi
sekarang kita sudah bisa swasembada beras
tak ada lagi kelaparan, tak ada lagi kurang
gizi
stok pangan nasional melimpahruah.”

Matahari cemberut
wereng berebut tempat di ketiak pejabat tinggi
sol sepatu berjingkrak-jingkrak di halaman
Balai Desa
tengkulak bersorak
harga gabah merosot sampai ke bawah
seratus rupiah
pak tani batal beli sandal
mbok tani terbirit-birit dikejar tukang kredit

“Tenang saudara-saudara, tenang
meski kita sudah sukses berswasembada beras
tunggakan kredit Bimas tetap sangat
memprihatinken
dus ini berarti peningkatan pendapatan pak tani
semangkin penting untuk kita perhatiken
dus kita semua musti semangkin gencar pula
bersafari masuk desa.”

Matahari kembali berseri
wereng juga makin berani
sol sepatu berbaris rapi menyendok
nasi cianjur
di restoran Lembur Kuring
seminar sehari tentang perbaikan nasib pak tani
dibuka dan ditutup dengan resmi
oleh Pak Menteri

Langit makin sepi
capung dan burung semakin bingung
kadal dan kodok terusir
dari petak sawah terakhir
sol sepatu berderap maju
sepatu pejabat mengkilap kebanyakan semir
sepatu tentara keras dan kuat
buat menginjak kecoak
sepatu wartawan berjingkat-jingkat
penuh semangat
mendekati bendaharawan kantor kelurahan

Matahari berseri-seri makin tinggi
wereng menggerayangi pantat pejabat
pak tani tetap bertelanjang kaki
sol sepatu menyerbu

Pak tani tak bisa lagi berbasa-basi
“Tidak,
tanah ini warisan Nabi Adam
kami harus terus menyebar benih,
menancapkan bibit
menyiang, menyiram, memupuk dan panen
pegawai negeri dan polisi harus tetap
mendapatkan jatah beras
wartawan dan seniman perlu banyak
makan ikan dan sayuran
sarjana-sarjana pertanian juga tak boleh
kelaparan
kere-kere di kolong jembatan juga harus dapat
bagian
kami harus tetap menghasilkan pangan
kami tak mau menancapkan tiang beton
di sawah ini
kami tak bisa bikin padang golf.”

Matahari sudah sangat tinggi
wereng lepas dari kendali
sol sepatu serentak maju
sepatu pejabat disemir mengkilap
sepatu tentara berderap rapi
sepatu wartawan kesetanan
sol-sol sepatu itu menyatu
menancap di pelipis pak tani.

Subang, September 1981
Jakarta, Desember 1985

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: