PENJELASAN SOPIR MIKROLET GANDARIA KAMPUNG MELAYU TENTANG TUYUL


sopir mikrolet itu mengenakan pici dan
berkumis
umurnya susah untuk ditaksir
dia merokok keretek dan tampak selalu
tergesa-gesa
kalau menginjak pedal gas maupun rem

sopir mikrolet itu bersandal jepit dan
berkaus buntung
yang sudah kelihatan sangat kotor
kalau dia agak membungkuk,
bagian punggung kaus itu
tampak sudah banyak bolong-bolongnya

sopir mikrolet itu seperti sudah lapar sekali
kalau melihat ada orang berdiri menghadap
ke jalan
mungkin hanya untuk menyeberang
segera dipencetnya klakson dan
diacung-acungkannya telunjuknya

sopir mikrolet itu kuduga berasal dari Surabaya
paling tidak dari Jawa Timur
soalnya sewaktu menikung dekat terminal
cililitan
dia kudengar menyumpah-nyumpah
“diancuk”
tuyul-tuyul itu masih saja nongkrong di situ
dia lalu membelokkan kendaraannya ke arah
condet
para penumpang menggerutu
tuyul apaan sih bang? tanya seorang anak
perempuan
berseragam es em pe
itu neng, tuyul yang bawa pestol,
yang kepalanya bertopi putih
polisi neng!
diancuk! di sini juga ada ternyata
sopir mikrolet itu menginjak rem mendadak
para penumpang terdorong serentak ke arah
depan
seorang polisi lalulintas mendekat padanya
memberi hormat cara militer lalu berkata
selamat siang pak? ada SIM?
sopir mikrolet itu merogoh kantungnya
lalu mengeluarkan SIM
polisi lalulintas itu menerimanya lalu
mengamat-amatinya
saudara tahu kalau jalan ini bukan rute
mikrolet?
tahu pak, tapi di sana macet!
sopir mikrolet itu lalu turun dan kelihatan
kerepotan memberikan
penjelasan

polisi lalulintas itu bertolakpinggang
sambil menunjuk-nunjuk entah apa
sopir mikrolet itu lalu kembali ke kendaraannya
dia injak kopling kuat-kuat
dia injak gas kuat-kuat
mikrolet itu melompat lalu laju
tapi tak sampai seratus meter kemudian dia
injak rem kuat-kuat
dan kembali penumpang terdorong keras
ke depan
sopir mikrolet itu terjun lalu lari menemui
pak polisi
di tangannya tergenggam beberapa lembar
uang ribuan
diancuk!
kata sopir mikrolet itu sambil kembali
memasukkan SIM
ke dalam dompetnya
tuyul diancuk!
katanya lagi sambil menginjak gas sampai
mentok

sopir mikrolet itu lalu mulai bisa ditaksir
umurnya
mungkin sudah di atas tigapuluhan
mungkin anaknya sudah tiga dan sudah sekolah
semuanya
mungkin isterinya jualan rokok dan minuman
di depan rumahnya
sebuah rumah kontrakan di gang sempit
yang ramai
mungkin dia masih harus pulang pergi sampai
empat lima kali
agar dapat melunasi setoran, membeli bensin
makan siang dan membawa pulang uang
ke rumah
mungkin
tapi yang pasti
dari roman mukanya
kelihatan dia sungguh sakit hati
pada para polisi.
Jakarta, 1989
***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: