DUA SAJAK TENTANG BULAN
Sore hari :
bagai uang logam ratusan
bersinar-sinar di tangan
kutimang dan kutawar
hargamu; dewi malam yang molek
kucumbu kau di ambang pintu
hampir pagi :
bangkai kunang-kunang lengket di situ
lonte tua yang pucat
semalam suntuk tak laku dijual
jangan gusar
kuintip kau dari jendela wc.
Jakarta, 4 – 9 – 74
JEMBATAN GANTUNG
Di atas ciliwung aku terkejut
jadi benar kulitku tidak secoklat
arus di bawah itu
lebih tua
lebih hitam
akupun bersimpangan dengan
laki-laki dan perempuan
mereka diam
dan aku juga terus berjalan
wah
jadi kalau begitu
kulitku lebih kotor dari
lumpur yang coklat di bawah itu
lebih jahat dari kawat
yang merusak logam
kawat-kawat jembatan ini.
Jakarta, 6 – 9 – 74
SENANDUNG BUAT PAK JENGGOT
senandung-senandungan
jumlahnya empat baris
dia ini
asal usulnya dari perut
yang lembap dan becek
karena enggan diganti kotoran-kotoran
dan asam-asaman
dia coba mrambat-mrambat
mulanya naik ke dada
nyenggol-nyenggol jantung dan paru
didesak kesana
didesak kemari
dan diapun nekat mbolos
menyusupi krongkongan
dan jebol dimulut
brol
do re mi fa sol
wah
sungguh sayang
begitu keluar mulut
baris satu senandung-senandungan ini
diterjang angin
menumbuk rumah-rumah
menumbuk pohonan
menumbuk macam-macam
dan hilang
sungguh sayang
tak ada yang sempat mendengar
senandung-senandungan baris satu ini
pak jenggot
kau juga tak mendengarnya barangkali
padahal mustahil
aku mengulang-ulangnya lagi
baris kedua nyusul cepat-cepat
meletup-letup di mulut
mengalir di bibir
baris dua ini tumpah dengan derasnya
membasahi kaos dan baju
hanya sayang
laki-laki jenggot yang payungan
dan lewat di jalan itu
tak dapat mendengarnya juga
dia terus saja jalan
membungkuk-bungkuk
celananya dicincing
sandalnya dicangking
apakah kau tuli
hai pak jenggot
enggankah kau
telingamu diganggu senandung-senandungan ini
malaikat jabalkat
tobat
jebul senandung-senandungan ini
kalau sama hujan
ya ampun
Tuhan
baris dua ini pecah dan cair
hanyut di selokan-selokan
dan hilang
sungguh sayang aku tak sempat mencatat
dan mengirimnya buat kau pak jenggot
maaf
baris tiga juga nyusul
bagai sinyal kapal
keras dan lantang
perutku tegang
dadaku mengembang
mulutku kerja keras
maksudku :
e, barangkali dapat mengatasi hujan
dan sampai di telingamu
pak jenggot
semoga
tapi, ya Tuhan
iblis laknat geger kiamat
sebelum tiba di telingamu
baris ketiga ini hangus disantap petir
terbakar dan luka-luka
terkapar di tanah
malapetaka lagi
pak jenggot
cobalah
teliti dan tafsirkanlah sendiri
makna baris tiga ini
walau telah rusak
hangus dan luka-luka
ternyata baris empat juga
tidak krasan di perut
campur cacing-cacing
campur tai
campur bakteri dan aam-asaman
campur kentut
campur kencing
campur sperma
darah haid
janin
calon bayi
bakalan orang
habis sudah kesabarannya
baris empat ini berontak kuat-kuat
tapi malang baginya
sudah dua hari ini hujan
renyai jatuh-jatuh di daun
daun-daun pisang yang bobrok
diterjang-terjang angin
angin keras
keras sekali dan laki-laki jenggot itu
noleh padaku
dan senyumnya
wah senyumnya
dan matanya yang juling
matanya
di bawah payung itu
jenggotnya
jenggot putih rintik-rintik
hujan renyai rintik-rintik
leherku tersumbat sekarang
rahangku mengatup kuat-kuat
waduh-waduh
kasihan sekali baris empat
senandung-senandungan ini
tawanan konyol dan sia-sia
melonjak ke dada
mendesak-desak rusuk dan punggung
terbanting di pinggang
menumbuk ginjal
mental naik lagi
tergencet usus-usus
terpetet
maaf
baris empat senandung-senandungan ini
terpaksa tak dapat kau dengar
pak jenggot
aku tidak mampu lagi
cape
mulutku sudah tak kuat
dan leherku seperti disumbat
tapi kau jangan buru-buru marah
atau tertawa
mau kan?
besok pagi-pagi sekali
waktu bangun fajar
telitilah sendiri
dia akan merdeka juga akhirnya
campur bakteri
campur kencing dan kotoran-kotoran
lendir dan darah
telitilah
baris empat senandung-senandungan ini
baris akhir yang kramat
akan keluar juga kesudahannya
campur kotoran-kotoran
telitilah
pak jenggot
telitilah.
22 Maret 1974
“Guci Wasiat”
Istriku sakit. Istri satu-satunya. Masih sangat muda dan belum punya anak. Istri yang sangat kumanjakan dan kucintai dengan sepenuh hati. Aku bingung. Susah. Sedih. Tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Memanggil dokter pasti sudah aku lakukan. Dokter juga datang, memeriksa, menulis resep, dan obatnya pun sudah kubeli di Apotik. Seketika. Dan istrikupun seketika itu juga telah memakan obatnya. Selain juga telah mendapatkan suntikan. Aku ingin sekali dia dapat cepat sembuh. Dapat menanak nasi. Membuat teh dan kopi. Berbelanja. Pendeknya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Sebab terus terang saja aku memang tidak kuat untuk menggaji seorang pembantu. Kutunggu, satu hari : belum sembuh, baru bekerja pasti obatnya. Dua hari : juga tak ada perubahan, ah Tiga hari : Kok malah tambah payah. Apa dokternya salah menulis resep? Empat hari : Tak mau makan bahkan minumpun susah sekali. Aku putus asa! Kubawa istriku ke rumah sakit. Diopname!
Aku bukan orang yang kolot. Aku percaya pada dokter. Sekolahnya saja katanya tujuh tahun bahkan lebih, jadi pasti pandailah yang namanya dokter itu. Aku ini juga berpendidikan. Paling tidak aku masih ingat bahwa yang menyebabkan orang menjadi sakit itu hanya ada beberapa saja. Karena virus, baksil, bakteri atau jamur serta cacing. Juga karena kekurangan atau kelebihan makanan, keracunan, atau karena rusaknya salah satu di antara sekian banyak organ tubuh. Hanya itu. Sebab-sebab lain, misalnya karena setan, ditenung, atau tetek bengek yang lain aku sama sekali tidak percaya. Ini bukan salahku. Sebab memang sejak kecil aku dididik untuk tidak mempercayai hal-hal yang tidak rasional. Dengan bekal pikiran seperti inilah aku berharap dan berkeyakinan bahwa dalam waktu yang relatif singkat istriku bakal sembuh. Aku sama sekali tak pernah membayangkan atau mempunyai kekhawatiran, bagaimana kalau istriku sampai mati? Mustahil, pikirku. Aku tetap mantap dan yakin. Tapi dua bulan kemudian istriku mati. Aku menangis.
Batinku terpukul. Menurut keterangan dokter, penyebab kematian istriku adalah tidak berfungsinya saluran yang mengalirkan darah menuju ke arah ginjal, serta dari ginjal ke kantung kencing. Aku percaya saja. Tapi aku sedih. Aku tidak tahu bagaimana istriku dikuburkan, disembahyangkan dan sebagainya. Pastur juga datang. Orang tuaku, mertuaku, saudara-saudaraku semua ikut berkabung. Hampir semuanya tidak menyangka bahwa istriku bakal berumur pendek. Dan jadilah aku seorang duda. Tinggal sendirian di rumah. Karena tidak tega, terpaksa ibuku dan adikku yang masih duduk di kelas empat SD itu menemaniku. Benar juga. Aku bisa agak terhibur dengan adanya ibu serta adikku itu. Pikiranku mulai tenang. Dapat bekerja kembali. Tapi rencana untuk kawin atau mencari istri lagi sama sekali belum ada. Aku masih saja belum dapat melupakan mendiang istriku. Tiap minggu aku datang ke makamnya. Sebulan, kemudian dua bulan berlalu dengan tenang. Alangkah sepinya. Dua tahun lamanya kami berumah tangga tapi belum dikaruniai anak seorangpun. Tiga bulanpun lewat dengan cepat sekali dan akupun jatuh sakit panas. Sering mengigau dan tak mau makan. Dokter datang, memeriksa, memberi obat, nasehat-nasehat lalu minta uang dan pergi. Pastur juga datang mengajukan pertanyaan-pertanyaan, memberi nasehat tapi tidak lalu pergi. Pastur itu lama sekali menungguiku. Pertanyaan beliau ini aneh. Nasehatnyapun juga ajaib. Dalam sakit aku tak habis pikir dan tersenyum geli di dalam batin. Aku tidak disuruhnya berdoa atau ingat kepada Tuhan seperti biasanya, tapi disuruh mengubah arah tidurku. Tidak boleh mengarah ke utara tapi harus ke arah barat. Kok lucu, pikirku. Tapi aku juga menurut. Toh seorang pastur tidak mungkin memberi nasehat dengan ngawur. Ingat, untuk dapat menjadi pastur sekolahnya juga lama sampai bertahun-tahun. Pastur itu akhirnya pulang tapi berpesan kalau segera mau datang lagi. Dan benar juga. Sorenya, Beliau datang dengan dua orang pembantunya yang membawa peralatan yang ruwet banyak sekali dan kabelnya pun melilit-lilit banyak nian. Aku tambah heran untuk apa itu? Tapi karena memang sangat ngantuk akupun lalu tertidur pelan-pelan.
Aku bangun lalu bertengkar dengan Pastur itu. Soalnya aku tidak setuju kalau aku diobati dengan cara-cara yang aneh. Aku harus tidur dengan menelentang. Tidak boleh tengkurap atau miring. Harus tetap mengarah ke barat. Dan yang paling tidak masuk akal ialah ditaruhnya sebuah Guci Wasiat di atas perutku. Guci tersebut diikat dan dihubungkan debgan kabel-kabel ke arah sebuah accu.
“Kenapa aku disetrum?” tanyaku dengan gemas setengah sadar setengah tidak.
“Bukan disetrum,” jawab ibuku dengan penuh belas kasihan.
“Kau diobati oleh Romo”.
“Bagaimana rasanya sekarang?” Tanya Pastur itu yang terus saja sibuk dengan alat-alatnya.
“Tidak terasa apa-apa”. Jawabku karena memang tidak merasakan apa-apa.
“Masih sakit?”
“Masih” Pastur itu lalu diam. Aku teringat mendiang istriku.
Wajahnya yang pucat. Tapi matanya tetap bersinar. Juga pada saat-saat terakhirnya. Aku takut mati. Ini wajar. Tapi aku rindu sekali pada mendiang istriku. Empat malam lamanya Guci Wasiat itu ditaruhnya di atas perutku. Pembantu Pastur itulah yang mengurus segala-galanya. Hari kelima aku protes.
“Aku tidak mau kalau diobati dengan cara begini”. Tapi ibuku mendekat lalu melotot.
“Kau tidak percaya lagi pada Pastur? Kau mulai ragu-ragu pada Tuhan?”
“Pastur bukan Tuhan!” aku berteriak keras-keras. Ibu menangis.
“Mas, tidak apa-apa. Biar lekas sembuh”. Pembantu Pastur itu dengan sabar memberi nasehat. Aku mengamuk.
Guci itu kuangkat lalu kubanting. Alat-alatnya ada yang pecah. Dipan kusuruh memindahkan mengarah ke utara seperti semula. Pembantu Pastur itu kuusir dan dengan sangat aku mohon pada Pastur agar tidak lagi datang sebelum aku sembuh. Ibuku tambah keras tangisannya. Dan para tetanggapun kaget dan berlarian ke rumahku demi mendengar tangisan ibuku yang melolong-lolong itu. Beberapa orang mencoba memegangi tanganku tapi kulemparkan.
“Aku masih normal! Bajingan! Aku memang sakit tapi tidak sinting. Tahu?” Tanpa kulihat asal-usulnya tahu-tahu Pastur sudah datang. Pertama-tama yang dipegangnya adalah dahiku. Aku tersinggung.
“Maaf Romo, aku tidak gila”.
“Tapi kau sakit!”
“Aku tidak mau kalau disetrum”.
“Kau diobati”.
“Suruh Dokter kemari. Aku ingin Dokter”.
“Dokter tidak bisa mengobati sakitmu”.
“Bisa”.
Nasibku kurang baik memang. Istriku baru saja meninggal. Aku jatuh sakit. Belum juga sembuh aku telah dicap “tidak normal”. Mau protes, protes pada siapa. Hubunganku dengan Gereja retak. Pastur itu menganggapku telah menolak bantuannya dengan kasar dan tidak sopan. Aku lalu buru-buru minta maaf. Tapi terlambat Permintaan maafku hanya dianggap basa-basi oleh para pembantu Pastur. Beliau sendiri sebenarnya tidak apa-apa, tapi para pembantunyalah yang ngotot. Tapi aku sembuh. Tidak segera, tapi dua bulan kemudian. Belum juga kuat aku berangkat bekerja sudah datang surat pemberhentian dengan hormat karena aku telah dianggap “tidak normal” oleh Yayasan tempatku bekerja. Aku protes lagi. Kupanggil seorang psikiater untuk kumintai keterangannya. Ternyata aku memang tetap masih normal. 100 % waras! Tapi kenapa aku dipecat? Entahlah. Tapi lega hatiku. Aku yakin. Sembuhku bukannya karena “Guci Wasiat”, tapi karena dokter. Yang konon sekolahnya sampai bertahun-tahun. Aku lega! Lega. ***
Rencana
Inilah saatnya yang paling tepat untuk mulai. Aku sudah siap. Keadaanku fisik maupun mental benar-benar “siip”. Fisik maksudnya badanku. Saat ini badanku sangat sehat untuk melakukan apapun, sebab sedang berada dalam kondisi puncak. Selamanya memang belum pernah aku mengidap penyakit-penyakit yang gawat; paling hanya masuk angin. Selain badanku yang sehat, secara material hidupku kecukupan. Yang namanya kenikmatan hidup semua pernah kukecap. Hal ini tidaklah mengherankan. Aku punya tanah yang luas sekali dan subur warisan dari moyangku yang telah almarhum. Tanah inilah yang merupakan sumber penghidupanku selama ini. Aku punya rumah, perabotan komplit lengkap dengan seorang istri yang cantik dan penurut, anakku sudah empat, lelaki dua wanita dua, kurasa cukup. Ini tadi soal materi, lalu mengenai moral, aku punya latar belakang yang kuat. Kakekku Lurah. Pendidikan : akulah satu-satunya orang yang mengantongi ijazah SMA di kampung ini. Tapi yang paling penting, aku mendapat dukungan paling banyak dari warga desa untuk ikut mencalonkan diri sebagai “Lurah”.
Karena dari semula aku sudah benar-benar siap, maka tak ada kesulitan yang kuhadapi. Santai saja! Saat ini aku telah memegang jabatan Carik. Resminya akulah sekarang penguasa tertinggi di desa semenjak Lurah tua itu meninggal. Hansip, Kebayan, Modin, Bekel, pendeknya semua tokoh masyarakat tunduk padaku. Camat, Komandan Koramil dan Kepolisian sudah berhasil kurangkul untuk menjadi “Belongku”. Dan masih ada satu lagi yang membuatku benar-benar mantap seratus persen lahir dan batin, yakni wangsit. Beberapa hari yang lalu aku telah mendapatkan wangsit di bawah sebatang pohon besar yang keramat. Isi wangsit tersebut : Akulah yang bakal menduduki singgasana Lurah di desa ini sepeninggal Lurah tua yang sakit-sakitan itu. Untuk memahami orisinil atau tidaknya wangsit tersebut aku telah berkonsultasi dengan cerdik pandai dalam bidang perwangsitan yang lazimnya disebut dukun. Dan semua dukun yang kuhubungi selalu mengatakan bahwa wangsit yang kuterima itu asli adanya. Dan supaya keadaanku menjadi mantap maka dukun-dukun yang kudatangi itu selalu memberi bermacam-macam jimat yang ampuh yang senantiasa harus kubawa kemana-mana. Ini penting. Bukannya klenik atau tahayul. Soalnya rival-rivalku semua pasti membawa-bawa jimat juga. Dan aku yakin merekapun pasti mengaku-ngaku mendapatkan wangsit juga. Tapi jelas wangsit mereka itu wangsit palsu. Secara rasional hal ini memang susah untuk dapat diterima akal sehat. Tapi di sini masalahnya lain. Jangan hanya pakai akal kalau mau sukses. Pakailah apa saja, halal atau tidak halal pokoknya menang.
Aku tidak perlu ikut turun ke lapangan untuk kampanye. Orang-orang sudah cukup banyak. Mereka lebih tahu mana yang harus disikat, mana yang mesti dijotos dan mana pula yang bisa dirayu agar memilihku dalam pemungutan suara ini. Karena aku adalah Carik, maka yang kumaksud dengan orang-orangku adalah Hansip, Kebayan, Bekel, dan lain-lain pembantuku. Merekalah yang kuserahi tugas untuk berkampanye. Tentunya dengan dukungan Pak Camat, Komandan Koramil dan Kepolisian. Aku tinggal ongkang-ongkang saja di rumah, 80 % kemenangan sudah di tangan. Tinggal menyusun rencana selanjutnya. Tenang! Santai!.
Yang pertama-tama harus kukerjakan nanti setelah aku benar-benar terpilih menjadi Lurah adalah membereskan saingan-sainganku. Sebagai manusia normal mereka pasti kecewa dengan kekalahan mereka, Jalan pikiran orang yang kalah di manapun dan kapan pun pasti sama. Pemungutan suara tidak sah, main sabun dalam menghitung, main guna-guna, layak didukung ABRI kok, dan sebagainya dan sebagainya. Untuk itu semua, aku juga sudah lama siap. Kan ada pepatah : diam itu emas! Nah mau apalagi? Aku sudah sah menjadi Lurah dengan Pemilihan yang resmi dan diakui oleh pemerintah, tinggal menunggu tanggal pelantikan dan : Zerro.
Tapi khusus untuk orang-orang frustasi tadi aku tidak boleh hanya diam saja. Mereka bisa kalap dan nekat. Kalau sudah begini berbahaya. Aku harus cepat bertindak. Mereka harus segera kusingkirkan. Tidak perlu dibunuh, sebab itu namanya biadab. Cukuplah sudah kalau dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Tapi ada juga yang karena sangat berbahaya malah justru harus kurangkul.
Contohnya Si Dulhat. Selisih suara kami pasti tidak akan banyak, sebab pendukungnya dan pendukungku hampir seimbang. Kan gawat? Dasar orangnya licik dan pintar bikin isyu Kalau ia kusingkirkan, awak yang payah. Makanya dia harus segera kurangkul nanti sehabis pemilihan. Dia harus kuangkat menjadi Carik mengganti kedudukanku sekarang ini. Hal ini mendatangkan keuntungan ganda. Pertama dia mudah kuawasi, kedua bisa kupakai sebagai perisai. Sebab dengan kedudukannya sebagai Carik maka praktis para pendukungnya tidak akan berani menggangguku lagi,
Mengganggu saya berarti mengganggu dia juga! Selain itu kalau dia sudah jadi Carik frustrasinya pasti berkurang. Sedapat mungkin janji tetap harus kutepati. Terutama janji selama kampanye untuk jadi Lurah ini. Orang-orangku sudah terlanjur mengobral janji yang kadang-kadang terlalu fantastik. Tak apa. Rakyat tidak banyak tuntutannya. Langkah pertama Mesjid dan gedung sekolah yang sudah mau ambruk itu harus cepat-cepat dipugar. Lalu tempat mandi umum, jembatan, jalan-jalan, sudah! Mudah saja. Toh untuk ini semua nanti tak sepersenpun bakal keluar dari kantungku? Semua ya dari mereka juga nantinya. Tapi mereka puas. Dan aku dapat tidur dengan tenang dan untuk meminterkan mereka? Atau membuat mereka dapat hidup dengan lebih layak? Yah itu juga! Tapi Lurah kan bisanya cuma membimbing dan mengarahkan kerjanya, bukannya menyulap.
Meskipun sudah menjadi Lurah, nantinya aku juga tetap manusia biasa yang lemah. Yang punya rencana-rencana khusus untuk kepentingan pribadi. Kurasa ini sehat saja. Aku pingin punya rumah yang mendingan besarnya. Soalnya kalau ada rapat atau pertemuan-pertemuan yang lain rumah ini terlalu sempit. Juga perabotannya kalau dapat harus diganti semua nantinya. Memalukan sekali kalau aku sudah betul-betul jadi Lurah lalu ada tamu Pak Camat atau Pak Bupati dan beliau-beliau itu harus duduk di kursi yang macam begini. Lalu aku juga harus memikirkan bagaimana nanti kalau aku sudah dipanggil untuk kembali ke haribaanNya, apakah tanah warisan ini akan cukup kalau harus dipotong-potong untuk hidup anak-cucuku? Lalu, nanti diiris-iris lagi oleh ahli waris anak-cucuku! Ngeres sekali jadinya. Apa keturunanku mesti ikut juga ditransmigrasikan? Ya Tuhan! Maka nanti kalau aku sudah terpilih jadi Lurah hal ini harus kupikirkan. Ini penting.
Istriku memang cantik dan memenuhi syarat untuk keperluan tidur bersama. Tapi apakah dia akan tetap cantik dan memenuhi syarat setelah nanti anak-anaknya sama besar dengan ayah dan ibunya? Kapan-kapan tentunya pingin juga sekali-kali merasakan santapan orisinil dan segar. Dan selain itu masih ada pula segudang rencana-rencana yang lain yang sudah 80 % di tangan. Tapi? Apakah yang 20 %, yang meskipun kecil tapi kemungkinan toh tetap ada itu tidak ikut kumasukkan dalam daftar rencana panjang ini? Bagaimana kalau aku kalah? Bagaimana kalau Si Dulhat yang jadi Lurah? Padahal pasti banyak biaya yang kukeluarkan untuk memikat massa agar mau memilihku. Bagaimana ya? Tapi berhubung kemungkinan untuk kalah itu hanyalah 20 %, maka baiklah kubulatkan saja sekalian. Sebab mendingan bikin rencana-rencana seperti tadi itu. Habis mengasyikkan sih soalnya! ***
BULAN YANG TERAKHIR
dua bulan yang lalu
debu telah dihapus bersih
jalan-jalan sudah becek lagi
dan tinggalah kuntum-kuntum aneka
di kebun samping
gerimis setia menyiraminya
rona hijau buru-buru disiapkan
buat kartu-kartu natal yang hampir beredar
di halaman anggrek bermekaran
di dinding,
kalender usang tinggal hari-hari kenangan
serentak meja dihias lilin dinyalakan
serentak wajah baru dikemas
bulan yang terakhir
telah habis.
10 Januari 1969
BURUNG ENGKAU
burung engkau yang tegang dan bertengger
bagai hakim sedang bludrek
kutembak kau dengan panah asmara yang
panas dan membara bagai bedil agar
kita betul-betul merdeka seratus persen
dan sejahtera dunia akhirat
burung engkau
yang hantu
keras dan kaku
kutembak kau pakai batu.
1977
BERANAK BECAK
syahdan,
di suatu kemarin yang akan datang
di dekat sebuah tinju yang batu
bapaku, babuku
hamilku yang bengkak beranak
becak
kugenjot, kudorong, kujerumuskan
dia ke tuhan
ke dalam gang-gang yang
jarang terpegang.
1978
Sastro Gantol
Pagi itu dada Sastro Gantol berdetak agak keras. Dia dipanggil Pak Lurah. Dia harus menghadap ke kantor kelurahan sekitar jam sembilan pagi. Ada salah apa gerangan sampai-sampai manusia seperti dia ini dipanggil Pak Lurah dan sangat mendadak lagi? Begitu pikir Sastro Gantol sepanjang pematang sawah dalam perjalanannya ke kantor kelurahan. Nampak padinya sudah mulai menguning tapi itu tak penting. Nampak kacang panjang yang dia sebar di sepanjang pematang itu sudah beberapa hari ini tak dipetik oleh isterinya hingga pada molor-molor sepanjang kolor celananya. Tapi ini juga kurang begitu dihiraukannya. Ada yang jauh lebih gawat yang kini mesti dia hadapi dengan sepenuh hati. Bagaimana kalau tanah miliknya mesti digusur untuk pabrik atau proyek macam-macam dan dia lalu ditransmigrasikan? Ah, biasanya kalau ada tanah mau digusur orang kampung dikumpulkan di balai desa dan bukannya dipanggil satu-satu begini. Atau jangan-jangan soal pajak? Seingatnya, dia sudah lama melunasi kewajibannya tersebut. Makin dekat dengan kantor kelurahan, hati Sastro Gantol makin tak karuan. Lututnya gemetaran tapi dia kuatkan juga melangkah sembari menyalami seorang Hansip yang bertolakpinggang di depan kantor kelurahan.
“Mari Pak Sastro, bagaimana? Sudah panen?” Sapa Pak Lurah dengan ramah. Hati Sastro Gantol agak kendor disapa Pak Lurah dengan ramah begini. Dia lalu tersenyum.
“Belum Pak. Mungkin minggu depan ini.”
“Syukurlah. Syukur. Bagus kan padinya?”
“Yah, berkat restu Pak Lurah. Bagus Pak.”
“Tidak dimakan tikus kan?”
“Tidak Pak.”
“Syukur. Mudah-mudahan bisa lebih banyak ya panennya tahun ini. Kemarin itu dapat berapa ton?”
“Ala cuma berapa kuintal kemarin itu Pak? Sedikit kok.”
“Yah, tidak apa-apa. Kan lumayan daripada yang tidak punya tanah sedikit pun itu. Sini Pak Sastro. Duduknya dekat sini. Jangan takut-takut.”
Sesuai dengan perintah Pak Lurah, Sastro Gantol lalu duduk mendekat tepat di depan jidat Pak Lurah. Ketakutannya sedikit mereda. Tapi toh dia tidak berani menatap muka si kepala desa tersebut. Pak Lurah mengeluarkan sebungkus rokok dari kantung safarinya. Rokok tersebut dibuka, dilolos sebatang dan disodorkan ke Sastro Gantol. Sambil tersipu-sipu Sastro Gantol menolak tawaran Pak Lurah. Dia lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan kantung plastik yang berisi tembakau, kertas sigaret dan bungkusan cengkih. Sastro Gantol lalu melinting rokok. Kamar kerja Pak Lurah itu lalu jadi hangat berasap. Dan Sastro Gantol jadi agak tenteram hatinya. Setelah mendehem beberapa kali Pak Lurah lalu angkat bicara.
“Begini Pak Sastro. Desa kita ini baru saja dapat surat dari kantor Kabupaten. Isi surat tersebut, kita diminta mengajukan calon untuk pemilihan petani teladan tahun ini. Tahu kan Pak Sastro apa itu petani teladan? Seperti Mas Broto dari desa Ngasem itu?”
“Ya Pak, tahu.”
“Nah, setelah saya berembuk dengan para pamong dan para pemuka desa, kami lalu sepakat untuk menunjuk Pak Sastro untuk kami ajukan sebagai calon petani teladan dari desa kita ini. Bagaimana Pak Sastro?” Dan Sastro Gantol terdiam serta makin menunduk. Petani teladan?
Orang lain barangkali akan melonjak kegirangan menerima kehormatan demikian. Tapi Sastro Gantol tidak. Dia malah jadi gemetaran dan tak tahu mesti bilang bagaimana. Kabar ini jauh lebih mengagetkan daripada yang diduganya semula. Kalau dia dipanggil ke kelurahan untuk dimaki-maki serta dimarahi, barangkali tidak akan sekaget seperti sekarang ini. Sudah biasa rakyat kecil kena semprot penguasa. Tapi kini? Dia mau dicalonkan sebagai petani teladan!
“Kenapa tidak yang lain saja Pak Lurah?”
“Kami sudah memilihnya kesana-kemari, meneliti selama berhari-hari. Tapi tak ada yang cocok. Yang kami pandang, paling tepat untuk kita ajukan hanyalah Pak Sastro. Pertama, kami lihat karena Pak Sastro memang betul-betul petani asli. Sering kan dalam lomba-lomba demikian yang menang bukan petani beneran. Kadang tuan tanah yang mengaku jadi petani, kadang pegawai negeri yang nyambi jadi petani, bahkan pernah ada petani teladan yang ternyata seorang anggota ABRI. Nah Pak Sastro ini petani tulen. Dari kecil sampai gaek begini kan hanya mencangkul melulu kan Pak?”
“Ya Pak, karena mau kerja apalagi?”
“Nah, itulah sebabnya. Lalu pertimbangan kami yang kedua adalah, Pak Sastrolah satu-satunya petani kita yang tersukses. Sawah cuma sepenggal tapi dikerjakan sebaik mungkin hingga cukup untuk dimakan bahkan juga dijual hasilnya. Kebun sekedar yang ada di sekitar rumah, tapi hasilnya macam-macam. Piaraan Pak Sastro juga banyak dan bagus-bagus. Sekarang kambingnya berapa Pak?”
“Ah, tinggal enam Pak.”
“Nah, enam kan? Belum ayamnya, itiknya, kelincinya. Pokoknya Pak Sastrolah calon petani teladan yang paling tepat di desa ini.”
Sastro Gantol pulang dengan lesu. Hatinya enggan untuk ikut teladan-teladanan demikian. Tapi lantaran ini adalah perintah dari pihak yang berwajib maka bisanya Sastro Gantol hanya mengiyakan. Dia lalu siap-siap. Sepulang dari Kantor Kelurahan dia lalu memberi aba-aba pada istri serta anak-anaknya untuk membenahi pekarangan serta rumahnya. Kandang ternak diberesi pagar-pagarnya. Dinding rumah yang barusan dikapur menjelang lebaran tempo hari terpaksa dikapur ulang. Pendek kata seluruh makhluk bernyawa di rumah Sastro Gantol pada sibuk membenahi dirinya. Kambing mesti gemuk agar tuannya nampak pantas menerima gelar teladan. Kelinci tak boleh ada yang kudisan sebab petani teladan tak pernah piara kelinci kudisan. Ayam juga harus bertelur baik-baik sepanjang bulan sebab memang begitulah seharusnya ayam yang dipiara oleh calon petani teladan. Dan lantaran Sastro Gantol belum memiliki kolam ikan, maka sesuai dengan amanat Pak Lurah, dia buru-buru menggali kolam di sudut petakan sawahnya. Supaya kolam tersebut pantas sebagai kolam beneran terpaksalah beberapa ekor ikan mas yang sudah segede paha orang dewasa dilepaskan di sana. Jangan tanya asal-usul ikan tersebut. Pokoknya seorang petani barulah pantas disebut teladan kalaulah sudah melengkapi dirinya dengan kolam ikan yang dipenuhi oleh ikan mas atau gurami segede bantal. Dan hari yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Tidak seperti biasanya, pagi itu Sastro Gantol tak boleh pergi ke mana-mana. Ladang yang sudah beberapa hari ini tak sempat didatangi mesti dilupakan sejenak. Dia juga mesti melupakan berita yang datang dari keponakannya di desa sebelah, bahwasannya anak dari si keponakan tersebut sudah dua hari ini panas dingin. Biarlah, toh cuma panas dingin. Kalau meninggal, barulah perlu menyempatkan diri sejenak. Teladan yang dititahkan dari kantor Kelurahan lebih menakutkan daripada cucu keponakan yang panas dingin. Dan Sastro Gantol lalu duduk dengan gelisah di ruang depan rumahnya. Mbok Sastro sudah pula rapi dan menyiapkan minuman serta hidangan sekedarnya sebab mereka faham betul bahwasannya para juri serta petugas lainnya pastilah pada kehausan serta kelaparan lantaran jarang sekali keluyuran sampai ke pelosok begini. Jam sepuluh tepat iring-iringan tamu itu datang. Jip mereka yang tak bisa masuk terpaksa diparkir di sudut kampung dan jadi tontonan anak-anak. Dan mereka pun berjalan berjingkat-jingkat takut kalau-kalau lumpur serta debu mengotori safari mereka.
“Halo Pak Sastro! Apa kabar?”
“Tanya ketua juri dengan nada tinggi. Pak Lurah yang ikut mengiring para tamu itu memperkenalkan masing-masing tamu pada Sastro Gantol. Mereka pun bersalam-salaman dan Sastro Gantol merasakan betapa empuk serta halusnya tangan para tamu itu. Setelah salam-salaman selesai mulailah ketua tim juri itu menginterviu Sastro Gantol. Wartawan yang sedari tadi siap merubung lalu jeprat-jepret dan menyiapkan alat perekamnya untuk menangkap tanya jawab Sastro Gantol dengan ketua tim juri.”
“Ee, begini ya Pak Sastro. Sudah berapa lama Pak Sastro menekuni bidang usaha tani begini?” Tanya sang ketua tim bagai hakim; Sastro Gantol agak gugup menjawab.
“Sudah lama sekali Pak.”
“Sudah berapa tahun?”
“Ya sejak masih kanak-kanak.” Sela Pak Lurah membetulkan jawab Sastro Gantol.
“Ya Pak sejak masih anak.” Jawab Sastro Gantol gelagapan. Jepret, lampu blitz wartawan menyala dan tampang Sastro Gantol pun bakal masuk koran kalau sampai betul-betul terpilih jadi teladan. Pertanyaan pun berlanjut. Mulai dari luas sawah, jumlah ayam, itik, kambing, tanggungan keluarga, berapa pohon jeruknya dan sebagainya. Untung ikhwal nyamuk serta kutu busuk tak ikut terdaftar sebagai pertanyaan hingga Sastro Gantol tak kelabakan menghitung dua makhluk yang sering mengganggu kenyamanan tidurnya itu. Setelah segala macam pertanyaan terjawab dan segala macam hidangan tersantap, kunjungan pun diteruskan dengan peninjauan ke lapangan. Sawah Sastro Gantol dilihat. Kolam yang baru sepekan dibuat dilihat. Dan ikan pinjaman dari Kolam Den Tjondro itupun diserok oleh Mas Hansip. Hasilnya lumayan : sepaha orang dewasa. Pertanyaan pun datang.
“Sudah dipiara berapa lama Pak Sastro ikan mas ini?” Tanya Pak ketua Tim. Sastro Gantol menjawab dengan jujur.
“Kurang tahu itu Pak!
“Lo kan Pak Sastro sendiri kan yang piara?” Kembali Sastro Gantol gelagapan dan Pak Lurah pun kembali turun tangan.
“Itu sih sudah sekitar dua tahunan. Kan ikan induk ini Pak Sastro?”
“Ya, Pak. Itu indukan.”
“Berapa hasil kolam ini setahunnya Pak?”
“Yah, kira-kira sajalah Pak. Maklum orang kampung.”
Dan kegugupan serta gelagapannya Sastro Gantol ini ternyata ditafsirkan keliru oleh para juri, para peninjau serta wartawan yang hadir. Beliau-beliau itu pada mengira bahwasannya Sastro Gantol ini sungguh seorang petani tulen yang tekun dan jujur hingga sering gelagapan menjawab pertanyaan juri. Dan tak ayal lagi, keputusan pun jatuhlah sudah. Sastro Gantol terpilih sebagai petani teladan tingkat kabupaten dengan nilai tigaribu empat ratus duapuluh tujuh setengah. Dia bisa terpilih dengan suara bulat sebab selisih nilainya sangat menyolok bila dibanding dengan rengking di bawahnya. Hadiah pun datang dalam bentuk alat semprot, lampu petromak, radio transistor dan macam-macam lagi semuanya dari para sponsor. Tapi kisah si Sastro Gantol ternyata tidak hanya cukup sampai di sini.
Dengan kemenangan sebagai petani teladan tingkat kabupaten, Sastro Gantol mesti lebih giat lagi menyiapkan seluruh diri serta perangkatnya untuk menghadapi pemilihan serta penilaian petani teladan tingkat propinsi. Ini lebih berat. Itulah sebabnya si Sastro Gantol mesti lebih rapi lagi dipoles agar tak memalukan kalau ada tim dari propinsi yang pada datang. Jalan desa yang sempit menuju ke rumahnya terpaksa dilebarkan dengan mengorbankan beberapa batang pohon randu dan kelapa. Maksudnya agar jip para penilai bisa langsung parkir di halaman rumah Sastro Gantol hingga tak menjadi tontonan anak-anak seperti pada penilaian tempo hari. Kolam Sastro Gantol juga mesti lebih diperluas lagi dan isinya juga mesti ditambah dengan beberapa ekor gurami. Semuanya sudah diurus dan diatur oleh aparat Pak Lurah. Pokoknya sebagai seorang petani teladan, Sastro Gantol tinggal bilang ya dan ya saja.
Syahdan, sekian bulan kemudian, Sastro Gantol yang lugu dan penakut itu sudah bisa berubah 180 derajat. Soalnya dia bisa lolos jadi petani teladan tingkat propinsi dan selanjutnya tingkat nasional. Ini bukan main-main lagi. Dia mesti menyiapkan diri untuk pergi ke Jakarta dan ketemu Presiden di Istana Merdeka pada acara tujuhbelasan. Dia juga mesti menghapal apa saja yang mesti dikatakan pada para wartawan dan pejabat pemerintah. Dia juga mesti bisa ngomong Bahasa Indonesia dengan agak lebih rapi dan bukannya bahasa Jawa Hantam Kromo seperti biasanya. Berhari-hari Sastro Gantol perang melawan dirinya sendiri. Bisakah dia main sandiwara beginian? Celana bagus sudah dijahit. Baju batik sudah disiapkan. Stelan safari seperti yang lazim dikenakan Pak Lurah juga sudah ada entah asalnya dari mana. Tapi hati Sastro Gantol makin kecut saja. Dia ingin sekali kembali bergaul dengan lumpur di sawahnya. Dia ingin menggiring kambingnya ke ladang dan dia ingin betul bisa bebas dari tetek-bengek urusan teladan demikian. Soalnya semenjak dirinya ditahbiskan sebagai petani teladan, seharian kerjanya cuma ngurusi wartawan, pejabat pemerintah serta tamu-tamu lain yang sehari kadang berjumlah sampai puluhan. Sawah cuma ditengok oleh anaknya dan dipercayakan pada menantunya. Dan yang paling mengganggu sanubarinya adalah perihal meninggalnya si cucu keponakan. Cucu keponakan yang gendut dan lucu itu. Yang kalau dia datang suka bergayut di lengannya itu. Sekarang sudah tak ada lagi. Dan yang lebih mengganggu benaknya adalah dia tak sempat lagi datang melayat serta ikut mengantar ke kuburan. Pas hari naas itu dia mesti datang ke Kantor Gubernuran untuk menerima hadiah. Mau apalagi?
Tanpa terasa lagi tanggal tujuhbelas Agustus kian dekat-dekat saja. Orang-orang pada sibuk bikin gapura. Mereka juga menyiapkan perayaan sekedarnya berupa tontonan ketoprak serta drama remaja di desa masing-masing. Sastro Gantol makin keras bertarung melawan dirinya sendiri. Istrinya mulai sakit-sakitan lantaran kecapaian melayani para tamu yang silih bergantian datangnya. Makin lama sakitnya makin keras. Dan tepat menjelang tanggal keberangkatannya si istri tak bisa bangun lagi dari tempat tidur. Sastro Gantol segera ambil keputusan.
“Aku batalkan saja mbokne!”
“Apanya Pak yang dibatalkan?”
“Aku tidak usah jadi pergi ke Jakarta”.
“Hush! Itu kan menentang pemerintah!”
“Tapi kau kan lagi sakit begini? Bagaimana kalau begitu aku pergi kau lalu mati?”
“Ah, jangan bilang begitu. Aku kan hanya masuk angin saja. Jangan dibatalkan Pakne!”
“Tidak. Aku tak mau seperti tempo hari. Aku ke kantor Gubernuran pesta-pesta tapi cucuku yang gendut mati dan tak sempat kuantar ke kuburnya. Aku sedih sekali kalau ingat ini. Tidak mbokne!”
“Yah terserah kamulah”.
Tapi Pak Lurah jelas punya pendapat lain. Sastro Gantol mesti berangkat ke Jakarta dan salaman sama Presiden. Itu artinya desanya bakal pula kecipratan nama harum. Sastro Gantol mesti pergi juga walau istrinya sakit. Soal hidup jelas sudah menjadi urusan Tuhan. Tapi masalah teladan? Itu tak bisa diserahkan begitu saja padaNya. Bagaimanapun juga Sastro Gantol mesti dipaksa berangkat. Kalau perlu mesti pakai diancam segala.
“Kamu mesti berangkat Pak Sastro. Soal mbok Sastro yang sakit biarlah kami seluruh kampung yang mengurusnya. Pak Sastro mengemban tugas negara. Pak Sastro sudah bukan milik Mbok Sastro. Pak Sastro sudah menjadi teladan seluruh petani di negeri ini”.
“Tapi apa saya sih Pak yang mau diteladani? Bukankah saya ini petani biasa saja seperti yang lain-lain itu?”
“Lho tapi kan Pak Sastro sudah lolos di tingkat Kabupaten serta Propinsi? Bukankah para juri itu orang yang pintar-pintar?”
“Yah, tapi hati saya berat Pak untuk meninggalkan istri yang sakit begini”.
“Jangan takut. Nanti kami panggilkan dokter atau mantri suntik. Kalau perlu mbok Sastro diopname saja di rumahsakit”.
“Ah jangan Pak. Biarlah kalau mau mati biar mati di rumah saja. Payah nanti kalau sampai mati di sana. Ongkos ambulannya saja berapa Pak Lurah?”
“Lho, itu nanti jadi tanggungan desa. Pokoknya Pak Sastro mesti berangkat”.
Sastro Gantol betul jadi naik pesawat terbang ke ibukota. Di sana dia disorot lampu teve. Mukanya juga muncul di layar teve di desanya. Orang sekampung pada menyoraki serta mengelu-elukannya. Dia juga ketemu dengan para teladan yang lain. Mulai dari guru teladan, murid teladan, dokter teladan. Sayang dia tidak menjumpai tukang cukur atau tentara teladan. Apakah memang tak pernah diadakan pilihan keteladanan di kalangan mereka? Tapi Sastro Gantol, tak sempat menanyakan hal ini pada panitia. Dia lebih sibuk menjaga dirinya agar jangan sampai melakukan kesalahan yang fatal di ibukota. Kalau ada wartawan atau pejabat yang bertanya dia selalu menjawabnya sesuai dengan perintah Pak Lurah. Dan dia juga selalu memikirkan istrinya yang tergolek sakit-sakitan di rumah. Hadiah pun lalu dibagikan. Sastro Gantol menerima uang jutaan rupiah dalam bentuk Tabanas. Dia juga menerima teve berwarna dan lain-lain. Dia pulang dengan memboyong segala macam hadiah itu. Dia ingin sekali menunjukkan semua itu pada istrinya yang sangat dicintainya. Tapi begitu kakinya menginjak palang pintu, anaknya datang menghamburkan tangis sembari memeluknya erat.
“Simbok sudah tidak ada Pak!” Jerit anaknya di sela isak tangis. Sastro Gantol hanya diam dan tertegun. Dia menengok ke dapur. Di sana memang tak ada lagi istrinya yang biasa duduk di muka tungku. Yang ada hanyalah para tetangga serta famili yang masih sibuk menyiapkan selamatan tiga harian. Dengan lesu Sastro Gantol melemparkan tasnya serta kopernya ke amben bambu. Dilepas baju batik serta celana panjangnya. Sepatuya juga dia lemparkan entah kemana. Kini dia hanya berkaos oblong dan berkain sarung. Dia duduk di kursi tengah lalu bertanya pada orang yang mengerumuninya.
“Kapan embokmu tidak ada?” Dan sebelum orang-orang menjawabnya, Sastro Gantol-pun menangis sekeras-kerasnya. Dia muntahkan segala yang sudah terlanjur ditelannya selama ini. Dia tidak pernah merasa dirinya sebagai teladan. ***
Menembak Banteng
Cerpen F. Rahardi
Bulan September. Suhu udara kota Jakata di siang hari sangat panas. Cuaca berdebu. Gemuruh. Asap knalpot berhamburan di mana-mana. Namun suasana di ruang kerja Jenderal Purnawirawan Basudewo tak terpengaruh udara pengap kota Jakarta. Ruangan itu bersih, sepi dan sejuk. Berada di ketinggian gedung berlantai 23 di Jalan Jenderal Sudirman, suasana kantor itu sangat nyaman. Musik instrumentalia, AC sentral, lukisan Basuki Abdulah, beringin hidroponik dan lantai beralaskan karpet yang empuk dan lembut. Telepon berdering.
Jenderal Purnawirawan Basudewo kaget. Dia menerima order untuk menembak banteng dari menteri negara urusan satwa liar. Menurut menteri itu, populasi banteng di Taman Nasional Ujung Kulon sudah terlalu banyak. Banteng-banteng itu sudah terlalu memusingkan para petugas taman nasional. Banteng-banteng itu telah secara langsung mengganggu eksistensi badak bercula satu. Satwa nasional ini tidak boleh diusik para banteng.
“Jadi you serius Broer? Banteng itu boleh ditembak?” tanya Jenderal Basudewo meyakinkan.
Di seberang sana menteri itu menjawab, juga dengan sangat meyakinkan. “Kami tahu Pak, Bapak kan hobinya menembak dan aktif di organisasi menembak. Itulah sebabnya kami tawarkan ke Bapak untuk berburu banteng.”
“Berapa banyak yang you mau tembak?”
“Ya, yang besar-besar, terutama yang jantan. Mungkin sampai seratusan, yang penting populasi kembali seimbang dengan daya dukung taman nasional.
Jadi Bapak berkenan untuk ikut berburu?”
“Lho, kalau you serius, saya senang sekali. Wong hobi saya memang menembak kok. You tahu Broer? Tiap bulan saya ke Bengkulu menembak babi hutan? Ini banteng. Saya senang sekali. Lalu kapan?”
“Ini akan diatur dengan kepala taman nasional. Nanti kami akan mengabari Bapak lagi”.
***
Bulan September masih berdebu. Kadang-kadang hujan turun namun belum cukup deras dan belum cukup sering. Para pemburu itu terkumpul ada sekitar dua puluh orang. Ada anak konglomerat, bintang film, jenderal aktif dan ada pula penembak profesional dari organisasi menembak di seantero negeri. Semua didaftar. Semua harus mentaati tata tertib menembak banteng. Strategi disusun. Siasat dibuat. Kebijaksanaan demi kebijaksanaan dikemukakan. “Ingat”, kata kepala taman nasional itu. “Banteng yang boleh ditembak adalah banteng-banteng tua, terutama yang jantan. Dan jumlahnya sudah dibatasi hanya 100 ekor. Ini sudah merupakan suatu pengurangan populasi yang drastis hingga diharapkan banteng-banteng itu akan dapat kembali dikendalikan.”
Penembak-penembak itu lalu bersiap. Ada yang menyiapkan dua senapan. Ada yang membawa 20 krat bir. Ada yang mencarter helikopter. “Saya suka pusing kalau terlalu lama naik perahu. Padahal ke Taman Nasional Ujung Kulon harus naik perahu, lama lagi. Mending mahal sedikit pakai heli. Kalau jalan laut tujuh jam, pakai heli paling cuma sejam, nggak nyampe malah”.
Pemburu-pemburu itu siap dengan perbekalan mereka. Paling tidak selama satu minggu mereka akan bersafari menembak banteng.
Bulan September. Padang penggembalaan Cidaon berdebu. Di tempat terbuka itulah, biasanya banteng-banteng merumput dan bersantai. Pos pengintaian yang berdiri di pinggir padang rumput itu mulai miring lantaran berkali-kali diseruduk para banteng. Banteng-banteng itu memang mulai beringas. Populasinya berkembang pesat di luar perkiraan para petugas taman nasional. Akibatnya pohon-pohon di sekitar padang penggembalaan itu banyak yang rusak, bertumbangan dan terinjak-injak kaki banteng. Seorang petugas taman nasional pernah terpaksa diangkut ke Labuan karena luka-luka ditendang banteng.
“Ini memang harus dihentikan. Banteng adalah aset nasional yang tidak boleh punah. Namun populasinya juga tidak boleh terlalu besar sebab akan membahayakan badak. Jadi alternatifnya ya dipindah ke tempat lain atau ditembak,” kata kepala taman nasional.
***
Bulan September. Sore hari. Matahari dengan anggun masuk di cakrawala dekat Tanjung Layar. Pemandangan di padang penggembalaan berangsur redup. Pelan-pelan kawanan banteng itu merumput sambil terus berjalan dari ujung utara ke ujung selatan hamparan rumput ini. Seekor banteng jantan tua yang tanduknya runcing dan melengkung, memimpin kawanan banteng ini. Dia berwibawa. Dia tampak sangat disegani banteng-banteng betina dan banteng-banteng jantan yang lebih muda. Semua tampak hormat pada banteng tua itu. Sore itu udara mulai turun suhunya. Para banteng tetap tenang dan tetap makan rumput. Ada pula yang sudah mulai kembali masuk ke dalam hutan. Beberapa ekor merak hijau mengais-ngais bekas kotoran banteng dan memakan rayap. Banteng jantan paling tua itu melangkah anggun. Pandang matanya ditebarkan ke seluruh penjuru. Dia memang harus bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan seluruh warga banteng yang dipimpinnya. Suasana tetap sepi. Hanya suara dengus napas banteng. Derap kaki banteng. Suara rumput yang dicabut dari tanah yang keras lalu dikunyah. Kadang-kadang diselingi suara gemuruh kepak sayap enggang jauh di atas sana.
Namun kesunyian itu tiba-tiba berhenti. Bunyi letusan bedil terdengar beberapa kali. Merak yang mengais-ngais rayap itu lari. Para banteng itu bubar. Ada yang terjatuh dan berdarah. Ada yang berdarah tapi terus berlari. Para banteng itu panik dan berhamburan masuk hutan.
Syahdan, banteng jantan tua itu juga tertembak. Dia berdarah namun tidak roboh. Dia juga tidak berlari. Dia menunggu sampai seluruh banteng yang dipimpinnya berlarian masuk hutan. Dia melihat beberapa banteng jantan yang lebih muda dari dirinya terluka dan ada yang sudah mati.
Tak lama kemudian sebuah tembakan terdengar lagi. Peluru bedil itu mengenai tubuhnya. Dia goyah. Namun dia masih berusaha bertahan lalu setelah seluruh warga banteng itu bubar, dia pun ikut berlari masuk hutan. Dia berusaha mengikuti jejak banteng-banteng lain. Tapi mereka telah menghilang entah kemana.
Banteng jantan tua itu terus berlari. Dia terus mengucurkan darah. Makin lama larinya makin pelan. Seluruh tubuhnya lemas dan sakit. Udara makin gelap. Banteng jantan tua itu lalu roboh di dekat sebuah mata air.
Bulan September. Di pesanggrahan Pulau Peucang malam tampak terang benderang. Suara disel pembangkit listrik terdengar jelas sekali di kesunyian alam. Ada beberapa ekor rusa bergerombol di halaman pesanggrahan. Malam itu, di ruang tengah pesanggrahan, Jenderal Purnawirawan Basudewo mencium bau daging panggang. Dia hirup seteguk bir sambil menonton sebuah acara kuis di televisi. Di sekitarnya, para pemburu bergelak tawa menikmati malam yang nyaman. Malam yang menyenangkan. ***.
Jakarta, September 1993.
Sumber : Kompas Minggu, 26 September 1993