MENUNGGU SETAN
Cerpen F. Rahardi
Sudah beberapa minggu ini, Mbah Dodo tampak duduk-duduk di bawah pohon trembesi di pinggir jalan desa. Awalnya, orang-orang mengira, Mbah Dodo hanya sekadar ngadem mencari angin. Lama-lama orang mulai bertanya-tanya, apa yang sedang ditunggunya?
“Aku sedang menunggu setan!” Jawab Mbah Dodo setiap kali orang bertanya kepadanya. Biasanya orang-orang tidak berani bertanya lebih lanjut. Beberapa orang mengira Mbah Dodo sudah agak berubah ingatan. “Mungkin ia sedih lalu stres karena kata orang, cucunya yang jadi TKI di Arab sedang kena perkara.” Yang lain menimpali. “Bukan! Beberapa musim tanam ini padi Mbah Dodo puso karena diterjang banjir. Itulah sebabnya ia pusing, lalu seperti sekarang ini.” Mbah Dodo tidak terlalu merisaukan pergunjingan orang-orang itu. Tiap sore ia tetap duduk-duduk di bawah pohon trembesi di pinggir jalan desa.
“Mbah, setan apakah yang Mbah tunggu di sini tiap sore?” Tanya Tiwi, salah seorang cucunya.
“Ya setan penunggu pohon ini.” Jawab Mbah Dodo mantap.
“Kok sudah lama belum juga datang Mbah setannya?”
“Sekarang ini kan sudah datang. Ya kamu itu setannya!”
Tiwi takut melanjutkan pertanyaan. Kalau kakeknya marah, ia tidak akan menerima uang jajan. Kepada orang-orang yang bertanya dengan santun dan serius, Mbah Dodo juga menjawabnya dengan santun dan serius pula.
“Begini ya Mas Andre, saya ini memang sedang menunggu setan, penghuni pohon trembesi ini. Sekarang memang belum datang, tetapi percayalah Mas Andre, setan-setan itu pasti segera datang.” Andre kaget.
“Setan-setan Mbah? Jadi setannya tidak hanya satu?”
“Benar Mas Andre, setannya banyak.”
“Berapa Mbah?”
“Ya tidak tahu. Mungkin empat, atau delapan, atau tujuh. Bisa juga sebelas.”
“Setannya menakutkan ya Mbah?”
“Ya menakutkan. Namanya juga setan. Tetapi setan juga cerdas. Agar manusia tidak takut, mereka akan tampil sebaik mungkin. Ada yang memakai jas, ada yang mengenakan batik, jarang sekali yang berkaus oblong seperti Mbah ini.”
“Apa aku boleh menemani Mbah duduk-duduk di sini menunggu setan?”
“Ya boleh saja to Mas Andre, duduk-duduk di sini kan gratis.”
Sejak itulah tiap sore Andre ikut duduk-duduk di bawah pohon trembesi, menemani Mbah Dodo. Kemudian Joko juga ikut, lalu Martin menyusul, dan dalam waktu dekat belasan orang rutin menemani Mbah Dodo duduk-duduk menunggu setan. Tiap sore, sepetak lahan kosong di bawah pohon trembesi itu jadi ramai. Orang-orang yang lewat di jalan desa sering bertanya-tanya dalam hati. “Itu orang berkumpul di bawah pohon trembesi, ada apa ya?” Ketika sudah banyak orang yang berkumpul di bawah pohon trembesi itu, Mbah Dodo mulai sering absen, dan lama-lama jarang sekali datang. Orang-orang tidak mempedulikannya. Sebab duduk-duduk di bawah pohon trembesi ini memang menyenangkan, dengan atau tanpa Mbah Dodo.
Pada suatu sore, orang-orang yang berkumpul di bawah pohon trembesi itu kaget. Tahu-tahu di batang pohon yang berdiameter lebih satu meter itu, telah terpasang gambar separo badan dari seorang laki-laki mengenakan jas, dasi, dan peci, dengan gambar partai politik, dan ajakan untuk mencontreng nama orang itu. “Mbah, Mbah Dodo, sekarang setannya sudah datang Mbah! Ayo Mbah, lihat sendiri kalau tidak percaya.” Mbah Dodo lalu mengikuti anak-anak itu menuju pohon trembesi di pinggir jalan desa. Mbah Dodo sangat terkesan demi melihat kegagahan dan ketampanan orang yang gambarnya terpasang di batang pohon itu.
“Itu kan gambar caleg, kok kalian bilang setan! Kalau yang punya gambar tahu, kamu akan dilaporkan ke polisi, lalu ditangkap dan dipenjara!”
“Yang bilang menunggu setan kan Mbah Dodo sendiri? Ya ini setannya kan teman-teman?”
“Betul!”
“Ya, benar, setannya sudah datang sekarang!”
“Iya, sekarang pohon kita ada setannya!”
Esoknya, orang-orang melihat ada satu gambar lagi tertempel disana. Esoknya tambah satu lagi, hingga beberapa hari kemudian seluruh batang pohon itu penuh ditempeli gambar orang. Ketika tidak ada lagi tempat tersisa pada batang trembesi itu, pohon lain yang lebih kecil juga ditempeli gambar. Ketika sudah tidak ada lagi batang pohon yang bisa ditempeli, tiang-tiang bambu dipancangkan, lalu diatasnya dibentangkan gambar-gambar orang itu. Seluruh desa jadi semarak. Di mana-mana ada gambar, ada umbul-umbul, ada spanduk. Sekarang Mbah Dodo sama sekali tidak pernah tampak duduk-duduk di bawah pohon trembesi itu.
“Mbah, sekarang kok tidak pernah duduk-duduk di sana lagi Mbah?” Mbah Dodo tidak menjawab, dan hanya tersenyum.
“Sekarang setannya banyak sekali ya Mbah?”
“Mau ikut nyontreng setan yang mana Mbah?”
“Hus, kalian ini jangan ngomong sembarangan. Mereka itu kan para calon wakil rakyat. Mereka itu orang-orang pilihan. Merekalah yang akan menyampaikan keluh-kesah kalian ke pemerintah.”
“Wuuuu!!!”
“Ya sudah. Kalau kalian mau mbalelo, nanti akan ditangkap polisi.”
“Wuuuu!!!”
Polisi memang benar-benar datang, tetapi yang ditangkap justru Mbah Dodo. Ia dibawa ke kantor polisi, dimintai keterangan, kemudian harus menginap disana beberapa hari. Tuduhan yang dikemukakan polisi adalah, Mbah Dodo telah menghasut masyarakat untuk tidak ikut memilih. Ia juga dituduh telah menghina para caleg dengan menyebut mereka sebagai setan. Banyak saksi yang memberatkannya.
“Benar Pak, sudah lama Si Embah itu mengatakan bahwa para caleg itu setan semua! Sumpah mati saya mendengar sendiri pernyataan Mbah Dodo itu Pak Polisi.” Selain ada yang memberatkan, ada pula saksi orang yang meringankannya.
“Mbah Dodo itu hanya duduk-duduk di bawah pohon, dan sama sekali tidak merusak gambar-gambar itu. Lalu apa salah dia?”
Polisi kemudian memang membebaskan Mbah Dodo, karena tidak cukup bukti untuk mengajukannya ke pengadilan. Dia dijemput oleh anak-anaknya, menantunya, cucu-cucunya, juga sebagian besar orang-orang yang pernah menemaninya duduk-duduk di bawah pohon trembesi itu. Mereka pulang lewat jalan desa, dan pohon trembesi itu masih tetap tegak dan banyak sekali ditempeli gambar-gambar. Sekarang di sana juga ada gerobak bakso yang mangkal. “Mbah, sekarang enak lo Mbah duduk-duduk di sana sambil makan bakso!” Mbah Dodo menjawab. “Tetapi jangan sampai larut malam ya? Aku takut setan yang sesungguhnya benar-benar datang!”
Cimanggis, 2009
SEKAWANAN MONYET
Cerpen F. Rahardi
Gereja itu terletak di kaki bukit, dan monyet-monyet selalu datang mengganggu setiap musim kemarau tiba. Kadang hanya satu dua ekor, tetapi bisa pula sampai puluhan ekor besar kecil menyerbu bersama. Beberapa induk monyet tampak membawa anaknya yang masih merah menempel di dada. Mereka mencari-cari makanan, masuk ke dalam gereja. Tetapi gereja di pelosok kampung seperti ini, tentu tidak ada makanan.
Umat sudah lama merasa terganggu oleh kehadiran monyet-monyet itu. Mereka usul kepada pastor, agar satwa itu diracun. Pastor tidak setuju. “Monyet juga ciptaan Allah, yang wajib kita lindungi. Biar sajalah mereka datang. Kalau ada yang punya singkong atau makanan sisa, bawalah kemari agar monyet-monyet itu tidak kelaparan.” Beberapa orang setuju. Setiapkali datang ke gereja dari bawah sana, mereka membawa apa saja untuk diberikan kepada monyet.
Suatu ketika, tidak ada satu pun umat yang membawa makanan. Monyet-monyet itu lapar. Ketika Hosti diberkati dan akan dibagikan, monyet-monyet itu menyerbu masuk. Hosti habis dijarah. Anggurnya juga diobok-obok dan tumpah. Peristiwa ini dianggap sebagai penghinaan besar kawanan monyet kepada Allah. Tuntutan umat agar kawanan monyet itu dilenyapkan makin kuat. Tetapi pastor menjawab. “Kalau kita lupa membawakan makanan, mereka akan merampas hosti, karena mereka lapar. Bukan karena ingin menghina Allah.”
# # #
Di stasi itu, Missa hanya bisa diselenggarakan paling banyak sebulan sekali, dan pasti bukan pas hari Sabtu atau Minggu. Juga tidak mungkin pada hari Senin dan Jumat. Sebab stasi itu hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki selama satu hari penuh. Hingga kalau pastor berangkat dari paroki hari Senin, maka misa diadakan hari Selasa. Rabunya pastor kembali ke kota. Kalau berangkatnya Rabu, maka misanya Kamis dan Jum’atnya pastor pulang. Biasanya pastor datang bersama koster, frater, kategis atau siapa saja yang sempat menemani.
Pada suatu hari ketika pastor datang, kawanan monyet yang mengganggu itu tidak kelihatan lagi. “Apakah mereka pindah ke tempat lain?” Pastor itu bertanya kepada tetua umat di stasi itu. Umat itu menggeleng. “Mereka mati semua Pastor. Seharian kami mengumpulkan bangkainya dan menguburkannya. Apakah mereka terkena flu monyet ya Pastor?” Pastor itu menggeleng. “Memang monyet bisa terserang flu, tetapi tidak ada flu monyet. Kalau mereka mati semua berarti ada wabah penyakit lain.”
“Tapi anjing, kucing, ayam dan entog juga banyak yang ikut mati Pastor! Bahkan lima ekor kambing Pak Markus, juga ikut mati.”
“Barangkali wabah penyakit ini memang telah menyerang semua binatang di kampung ini.”
“Benar Pastor, tupai dan ular juga ada yang ikut mati.”
“Baiklah, setelah misa nanti, kita adakan rapat dengan bapak-bapak di sini.”
“Ibu-ibunya juga perlu Pastor. Sebab Bu Bertha dan Bu Sisil, yakin bahwa binatang-binatang ini mati diracun.”
“Bagus, ajaklah ibu-ibu yang mau ikut. Tetapi jangan terlalu lama, sebab kita juga masih akan membicarakan rencana perbaikan bak tampungan air yang katanya ada yang bocor.”
# # #
Pertemuan sore itu berjalan alot. Sebab tidak ada satu pun umat yang mengaku telah meracun monyet-monyet itu. Beberapa orang bapak dengan sangat yakin mengatakan, bahwa Allah telah mengirim penyakit misterius sebagai peringatan bagi manusia yang telah banyak berdosa. Tetapi Bu Bertha protes. “Pastor, saya sengaja membedah perut beberapa monyet sebelum dikuburkan. Isi perut itu nasi dan singkong dan saya tebarkan ke kerumanan ayam. Ayam-ayam yang memakannya langsung kejang-kejang dan mati.”
Pastor memutuskan bahwa rapat harus segera diakhiri. Tetapi dia akan segera mencari bibit jambu biji, kersen, salam, lamtoro, sengon dan lain-lain yang buah serta pucuk daunnya disukai monyet. Pastor menduga tidak semua monyet mati. “Kalau bukit di belakang gereja itu dihijaukan, pada musim kemarau monyet tidak akan turun lagi. Sebab di atas sana makanan cukup.” Pastor lalu meminta seluruh umat bergotong-royong membuat lubang tanam di seluruh bukit itu. “Harus sudah selesai sebelum musim hujan ya? Nanti kalau hujan datang bibitnya bisa diambil dan langsung ditanam.”
Dugaan Bu Bertha dan Bu Sisil ternyata benar. Malam itu ada lima orang bapak yang datang mengaku dosa, bahwa merekalah yang telah meracun monyet-monyet itu. “Tetapi kami tidak pernah menduga bahwa banyak binatang peliharaan kami yang ikut mati Pastor. Jadi kami berlima siap dihukum dengan doa apa saja.” Lima orang laki-laki itu kepalanya menunduk dan wajahnya tampak sedih. “Dendanya bukan doa, tetapi Anda berlima harus membuat lubang lebih banyak dari bapak-bapak lainnya. Kira-kira berapa lubang yang harus digali ya?”
# # #
Lima orang itu pulang dan berharap rahasia mereka tidak disampaikan pastor ke umat lainnya. Mereka lewat jalanan yang berdebu. Kemarau tahun ini memang sangat kering dan panas. Sebenarnya bukit itu tidak terlalu besar. Panjangnya memang sampai 2 km. lebih, dengan lebar 500 m. Tetapi tingginya kurang dari 100 m, dan seluruh permukaannya penuh dengan gundukan batu. Di sana yang tumbuh hanya rumput dan gerumbulan. Pada musim kemarau seperti ini seringkali bukit itu selalu terbakar.
Padahal kata orang-orang tua, bukit itu dulunya berhutan lebat. Banyak pohon buah-buahan yang disukai monyet. Lalu setiap hari orang-orang menebang pohon-pohon itu dan membawanya pulang sebagai kayu bakar. Lama kelamaan bukit itu menjadi gundul sama sekali. Dulu, katanya monyet-monyet juga banyak, tetapi tidak pernah mengganggu. Katanya, tanah tempat bangunan gereja sekarang ini, dulunya penuh dengan pohon dadap yang bunganya disukai monyet.
Sekembali pastor, orang-orang heran. Mengapa ada lima orang yang pagi-pagi sekali sudah naik ke lereng bukit, sambil membawa cangkul, sekop dan linggis. Mereka berlima menggali lubang demi lubang, sampai matahari terbenam. Beberapa orang juga mencoba turun ke balik bukit, lalu menyusuri pinggiran hutan. Mereka mencari-cari, apakah benar masih ada beberapa ekor monyet yang masih tersisa. Sebab ketika kawanan monyet itu sama sekali sudah tidak datang ke gereja, misa justru menjadi sangat sepi. # # #
DUA SAJAK TENTANG BULAN
Sore hari :
bagai uang logam ratusan
bersinar-sinar di tangan
kutimang dan kutawar
hargamu; dewi malam yang molek
kucumbu kau di ambang pintu
hampir pagi :
bangkai kunang-kunang lengket di situ
lonte tua yang pucat
semalam suntuk tak laku dijual
jangan gusar
kuintip kau dari jendela wc.
Jakarta, 4 – 9 – 74
JEMBATAN GANTUNG
Di atas ciliwung aku terkejut
jadi benar kulitku tidak secoklat
arus di bawah itu
lebih tua
lebih hitam
akupun bersimpangan dengan
laki-laki dan perempuan
mereka diam
dan aku juga terus berjalan
wah
jadi kalau begitu
kulitku lebih kotor dari
lumpur yang coklat di bawah itu
lebih jahat dari kawat
yang merusak logam
kawat-kawat jembatan ini.
Jakarta, 6 – 9 – 74
SENANDUNG BUAT PAK JENGGOT
senandung-senandungan
jumlahnya empat baris
dia ini
asal usulnya dari perut
yang lembap dan becek
karena enggan diganti kotoran-kotoran
dan asam-asaman
dia coba mrambat-mrambat
mulanya naik ke dada
nyenggol-nyenggol jantung dan paru
didesak kesana
didesak kemari
dan diapun nekat mbolos
menyusupi krongkongan
dan jebol dimulut
brol
do re mi fa sol
wah
sungguh sayang
begitu keluar mulut
baris satu senandung-senandungan ini
diterjang angin
menumbuk rumah-rumah
menumbuk pohonan
menumbuk macam-macam
dan hilang
sungguh sayang
tak ada yang sempat mendengar
senandung-senandungan baris satu ini
pak jenggot
kau juga tak mendengarnya barangkali
padahal mustahil
aku mengulang-ulangnya lagi
baris kedua nyusul cepat-cepat
meletup-letup di mulut
mengalir di bibir
baris dua ini tumpah dengan derasnya
membasahi kaos dan baju
hanya sayang
laki-laki jenggot yang payungan
dan lewat di jalan itu
tak dapat mendengarnya juga
dia terus saja jalan
membungkuk-bungkuk
celananya dicincing
sandalnya dicangking
apakah kau tuli
hai pak jenggot
enggankah kau
telingamu diganggu senandung-senandungan ini
malaikat jabalkat
tobat
jebul senandung-senandungan ini
kalau sama hujan
ya ampun
Tuhan
baris dua ini pecah dan cair
hanyut di selokan-selokan
dan hilang
sungguh sayang aku tak sempat mencatat
dan mengirimnya buat kau pak jenggot
maaf
baris tiga juga nyusul
bagai sinyal kapal
keras dan lantang
perutku tegang
dadaku mengembang
mulutku kerja keras
maksudku :
e, barangkali dapat mengatasi hujan
dan sampai di telingamu
pak jenggot
semoga
tapi, ya Tuhan
iblis laknat geger kiamat
sebelum tiba di telingamu
baris ketiga ini hangus disantap petir
terbakar dan luka-luka
terkapar di tanah
malapetaka lagi
pak jenggot
cobalah
teliti dan tafsirkanlah sendiri
makna baris tiga ini
walau telah rusak
hangus dan luka-luka
ternyata baris empat juga
tidak krasan di perut
campur cacing-cacing
campur tai
campur bakteri dan aam-asaman
campur kentut
campur kencing
campur sperma
darah haid
janin
calon bayi
bakalan orang
habis sudah kesabarannya
baris empat ini berontak kuat-kuat
tapi malang baginya
sudah dua hari ini hujan
renyai jatuh-jatuh di daun
daun-daun pisang yang bobrok
diterjang-terjang angin
angin keras
keras sekali dan laki-laki jenggot itu
noleh padaku
dan senyumnya
wah senyumnya
dan matanya yang juling
matanya
di bawah payung itu
jenggotnya
jenggot putih rintik-rintik
hujan renyai rintik-rintik
leherku tersumbat sekarang
rahangku mengatup kuat-kuat
waduh-waduh
kasihan sekali baris empat
senandung-senandungan ini
tawanan konyol dan sia-sia
melonjak ke dada
mendesak-desak rusuk dan punggung
terbanting di pinggang
menumbuk ginjal
mental naik lagi
tergencet usus-usus
terpetet
maaf
baris empat senandung-senandungan ini
terpaksa tak dapat kau dengar
pak jenggot
aku tidak mampu lagi
cape
mulutku sudah tak kuat
dan leherku seperti disumbat
tapi kau jangan buru-buru marah
atau tertawa
mau kan?
besok pagi-pagi sekali
waktu bangun fajar
telitilah sendiri
dia akan merdeka juga akhirnya
campur bakteri
campur kencing dan kotoran-kotoran
lendir dan darah
telitilah
baris empat senandung-senandungan ini
baris akhir yang kramat
akan keluar juga kesudahannya
campur kotoran-kotoran
telitilah
pak jenggot
telitilah.
22 Maret 1974
“Guci Wasiat”
Istriku sakit. Istri satu-satunya. Masih sangat muda dan belum punya anak. Istri yang sangat kumanjakan dan kucintai dengan sepenuh hati. Aku bingung. Susah. Sedih. Tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Memanggil dokter pasti sudah aku lakukan. Dokter juga datang, memeriksa, menulis resep, dan obatnya pun sudah kubeli di Apotik. Seketika. Dan istrikupun seketika itu juga telah memakan obatnya. Selain juga telah mendapatkan suntikan. Aku ingin sekali dia dapat cepat sembuh. Dapat menanak nasi. Membuat teh dan kopi. Berbelanja. Pendeknya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Sebab terus terang saja aku memang tidak kuat untuk menggaji seorang pembantu. Kutunggu, satu hari : belum sembuh, baru bekerja pasti obatnya. Dua hari : juga tak ada perubahan, ah Tiga hari : Kok malah tambah payah. Apa dokternya salah menulis resep? Empat hari : Tak mau makan bahkan minumpun susah sekali. Aku putus asa! Kubawa istriku ke rumah sakit. Diopname!
Aku bukan orang yang kolot. Aku percaya pada dokter. Sekolahnya saja katanya tujuh tahun bahkan lebih, jadi pasti pandailah yang namanya dokter itu. Aku ini juga berpendidikan. Paling tidak aku masih ingat bahwa yang menyebabkan orang menjadi sakit itu hanya ada beberapa saja. Karena virus, baksil, bakteri atau jamur serta cacing. Juga karena kekurangan atau kelebihan makanan, keracunan, atau karena rusaknya salah satu di antara sekian banyak organ tubuh. Hanya itu. Sebab-sebab lain, misalnya karena setan, ditenung, atau tetek bengek yang lain aku sama sekali tidak percaya. Ini bukan salahku. Sebab memang sejak kecil aku dididik untuk tidak mempercayai hal-hal yang tidak rasional. Dengan bekal pikiran seperti inilah aku berharap dan berkeyakinan bahwa dalam waktu yang relatif singkat istriku bakal sembuh. Aku sama sekali tak pernah membayangkan atau mempunyai kekhawatiran, bagaimana kalau istriku sampai mati? Mustahil, pikirku. Aku tetap mantap dan yakin. Tapi dua bulan kemudian istriku mati. Aku menangis.
Batinku terpukul. Menurut keterangan dokter, penyebab kematian istriku adalah tidak berfungsinya saluran yang mengalirkan darah menuju ke arah ginjal, serta dari ginjal ke kantung kencing. Aku percaya saja. Tapi aku sedih. Aku tidak tahu bagaimana istriku dikuburkan, disembahyangkan dan sebagainya. Pastur juga datang. Orang tuaku, mertuaku, saudara-saudaraku semua ikut berkabung. Hampir semuanya tidak menyangka bahwa istriku bakal berumur pendek. Dan jadilah aku seorang duda. Tinggal sendirian di rumah. Karena tidak tega, terpaksa ibuku dan adikku yang masih duduk di kelas empat SD itu menemaniku. Benar juga. Aku bisa agak terhibur dengan adanya ibu serta adikku itu. Pikiranku mulai tenang. Dapat bekerja kembali. Tapi rencana untuk kawin atau mencari istri lagi sama sekali belum ada. Aku masih saja belum dapat melupakan mendiang istriku. Tiap minggu aku datang ke makamnya. Sebulan, kemudian dua bulan berlalu dengan tenang. Alangkah sepinya. Dua tahun lamanya kami berumah tangga tapi belum dikaruniai anak seorangpun. Tiga bulanpun lewat dengan cepat sekali dan akupun jatuh sakit panas. Sering mengigau dan tak mau makan. Dokter datang, memeriksa, memberi obat, nasehat-nasehat lalu minta uang dan pergi. Pastur juga datang mengajukan pertanyaan-pertanyaan, memberi nasehat tapi tidak lalu pergi. Pastur itu lama sekali menungguiku. Pertanyaan beliau ini aneh. Nasehatnyapun juga ajaib. Dalam sakit aku tak habis pikir dan tersenyum geli di dalam batin. Aku tidak disuruhnya berdoa atau ingat kepada Tuhan seperti biasanya, tapi disuruh mengubah arah tidurku. Tidak boleh mengarah ke utara tapi harus ke arah barat. Kok lucu, pikirku. Tapi aku juga menurut. Toh seorang pastur tidak mungkin memberi nasehat dengan ngawur. Ingat, untuk dapat menjadi pastur sekolahnya juga lama sampai bertahun-tahun. Pastur itu akhirnya pulang tapi berpesan kalau segera mau datang lagi. Dan benar juga. Sorenya, Beliau datang dengan dua orang pembantunya yang membawa peralatan yang ruwet banyak sekali dan kabelnya pun melilit-lilit banyak nian. Aku tambah heran untuk apa itu? Tapi karena memang sangat ngantuk akupun lalu tertidur pelan-pelan.
Aku bangun lalu bertengkar dengan Pastur itu. Soalnya aku tidak setuju kalau aku diobati dengan cara-cara yang aneh. Aku harus tidur dengan menelentang. Tidak boleh tengkurap atau miring. Harus tetap mengarah ke barat. Dan yang paling tidak masuk akal ialah ditaruhnya sebuah Guci Wasiat di atas perutku. Guci tersebut diikat dan dihubungkan debgan kabel-kabel ke arah sebuah accu.
“Kenapa aku disetrum?” tanyaku dengan gemas setengah sadar setengah tidak.
“Bukan disetrum,” jawab ibuku dengan penuh belas kasihan.
“Kau diobati oleh Romo”.
“Bagaimana rasanya sekarang?” Tanya Pastur itu yang terus saja sibuk dengan alat-alatnya.
“Tidak terasa apa-apa”. Jawabku karena memang tidak merasakan apa-apa.
“Masih sakit?”
“Masih” Pastur itu lalu diam. Aku teringat mendiang istriku.
Wajahnya yang pucat. Tapi matanya tetap bersinar. Juga pada saat-saat terakhirnya. Aku takut mati. Ini wajar. Tapi aku rindu sekali pada mendiang istriku. Empat malam lamanya Guci Wasiat itu ditaruhnya di atas perutku. Pembantu Pastur itulah yang mengurus segala-galanya. Hari kelima aku protes.
“Aku tidak mau kalau diobati dengan cara begini”. Tapi ibuku mendekat lalu melotot.
“Kau tidak percaya lagi pada Pastur? Kau mulai ragu-ragu pada Tuhan?”
“Pastur bukan Tuhan!” aku berteriak keras-keras. Ibu menangis.
“Mas, tidak apa-apa. Biar lekas sembuh”. Pembantu Pastur itu dengan sabar memberi nasehat. Aku mengamuk.
Guci itu kuangkat lalu kubanting. Alat-alatnya ada yang pecah. Dipan kusuruh memindahkan mengarah ke utara seperti semula. Pembantu Pastur itu kuusir dan dengan sangat aku mohon pada Pastur agar tidak lagi datang sebelum aku sembuh. Ibuku tambah keras tangisannya. Dan para tetanggapun kaget dan berlarian ke rumahku demi mendengar tangisan ibuku yang melolong-lolong itu. Beberapa orang mencoba memegangi tanganku tapi kulemparkan.
“Aku masih normal! Bajingan! Aku memang sakit tapi tidak sinting. Tahu?” Tanpa kulihat asal-usulnya tahu-tahu Pastur sudah datang. Pertama-tama yang dipegangnya adalah dahiku. Aku tersinggung.
“Maaf Romo, aku tidak gila”.
“Tapi kau sakit!”
“Aku tidak mau kalau disetrum”.
“Kau diobati”.
“Suruh Dokter kemari. Aku ingin Dokter”.
“Dokter tidak bisa mengobati sakitmu”.
“Bisa”.
Nasibku kurang baik memang. Istriku baru saja meninggal. Aku jatuh sakit. Belum juga sembuh aku telah dicap “tidak normal”. Mau protes, protes pada siapa. Hubunganku dengan Gereja retak. Pastur itu menganggapku telah menolak bantuannya dengan kasar dan tidak sopan. Aku lalu buru-buru minta maaf. Tapi terlambat Permintaan maafku hanya dianggap basa-basi oleh para pembantu Pastur. Beliau sendiri sebenarnya tidak apa-apa, tapi para pembantunyalah yang ngotot. Tapi aku sembuh. Tidak segera, tapi dua bulan kemudian. Belum juga kuat aku berangkat bekerja sudah datang surat pemberhentian dengan hormat karena aku telah dianggap “tidak normal” oleh Yayasan tempatku bekerja. Aku protes lagi. Kupanggil seorang psikiater untuk kumintai keterangannya. Ternyata aku memang tetap masih normal. 100 % waras! Tapi kenapa aku dipecat? Entahlah. Tapi lega hatiku. Aku yakin. Sembuhku bukannya karena “Guci Wasiat”, tapi karena dokter. Yang konon sekolahnya sampai bertahun-tahun. Aku lega! Lega. ***
Rencana
Inilah saatnya yang paling tepat untuk mulai. Aku sudah siap. Keadaanku fisik maupun mental benar-benar “siip”. Fisik maksudnya badanku. Saat ini badanku sangat sehat untuk melakukan apapun, sebab sedang berada dalam kondisi puncak. Selamanya memang belum pernah aku mengidap penyakit-penyakit yang gawat; paling hanya masuk angin. Selain badanku yang sehat, secara material hidupku kecukupan. Yang namanya kenikmatan hidup semua pernah kukecap. Hal ini tidaklah mengherankan. Aku punya tanah yang luas sekali dan subur warisan dari moyangku yang telah almarhum. Tanah inilah yang merupakan sumber penghidupanku selama ini. Aku punya rumah, perabotan komplit lengkap dengan seorang istri yang cantik dan penurut, anakku sudah empat, lelaki dua wanita dua, kurasa cukup. Ini tadi soal materi, lalu mengenai moral, aku punya latar belakang yang kuat. Kakekku Lurah. Pendidikan : akulah satu-satunya orang yang mengantongi ijazah SMA di kampung ini. Tapi yang paling penting, aku mendapat dukungan paling banyak dari warga desa untuk ikut mencalonkan diri sebagai “Lurah”.
Karena dari semula aku sudah benar-benar siap, maka tak ada kesulitan yang kuhadapi. Santai saja! Saat ini aku telah memegang jabatan Carik. Resminya akulah sekarang penguasa tertinggi di desa semenjak Lurah tua itu meninggal. Hansip, Kebayan, Modin, Bekel, pendeknya semua tokoh masyarakat tunduk padaku. Camat, Komandan Koramil dan Kepolisian sudah berhasil kurangkul untuk menjadi “Belongku”. Dan masih ada satu lagi yang membuatku benar-benar mantap seratus persen lahir dan batin, yakni wangsit. Beberapa hari yang lalu aku telah mendapatkan wangsit di bawah sebatang pohon besar yang keramat. Isi wangsit tersebut : Akulah yang bakal menduduki singgasana Lurah di desa ini sepeninggal Lurah tua yang sakit-sakitan itu. Untuk memahami orisinil atau tidaknya wangsit tersebut aku telah berkonsultasi dengan cerdik pandai dalam bidang perwangsitan yang lazimnya disebut dukun. Dan semua dukun yang kuhubungi selalu mengatakan bahwa wangsit yang kuterima itu asli adanya. Dan supaya keadaanku menjadi mantap maka dukun-dukun yang kudatangi itu selalu memberi bermacam-macam jimat yang ampuh yang senantiasa harus kubawa kemana-mana. Ini penting. Bukannya klenik atau tahayul. Soalnya rival-rivalku semua pasti membawa-bawa jimat juga. Dan aku yakin merekapun pasti mengaku-ngaku mendapatkan wangsit juga. Tapi jelas wangsit mereka itu wangsit palsu. Secara rasional hal ini memang susah untuk dapat diterima akal sehat. Tapi di sini masalahnya lain. Jangan hanya pakai akal kalau mau sukses. Pakailah apa saja, halal atau tidak halal pokoknya menang.
Aku tidak perlu ikut turun ke lapangan untuk kampanye. Orang-orang sudah cukup banyak. Mereka lebih tahu mana yang harus disikat, mana yang mesti dijotos dan mana pula yang bisa dirayu agar memilihku dalam pemungutan suara ini. Karena aku adalah Carik, maka yang kumaksud dengan orang-orangku adalah Hansip, Kebayan, Bekel, dan lain-lain pembantuku. Merekalah yang kuserahi tugas untuk berkampanye. Tentunya dengan dukungan Pak Camat, Komandan Koramil dan Kepolisian. Aku tinggal ongkang-ongkang saja di rumah, 80 % kemenangan sudah di tangan. Tinggal menyusun rencana selanjutnya. Tenang! Santai!.
Yang pertama-tama harus kukerjakan nanti setelah aku benar-benar terpilih menjadi Lurah adalah membereskan saingan-sainganku. Sebagai manusia normal mereka pasti kecewa dengan kekalahan mereka, Jalan pikiran orang yang kalah di manapun dan kapan pun pasti sama. Pemungutan suara tidak sah, main sabun dalam menghitung, main guna-guna, layak didukung ABRI kok, dan sebagainya dan sebagainya. Untuk itu semua, aku juga sudah lama siap. Kan ada pepatah : diam itu emas! Nah mau apalagi? Aku sudah sah menjadi Lurah dengan Pemilihan yang resmi dan diakui oleh pemerintah, tinggal menunggu tanggal pelantikan dan : Zerro.
Tapi khusus untuk orang-orang frustasi tadi aku tidak boleh hanya diam saja. Mereka bisa kalap dan nekat. Kalau sudah begini berbahaya. Aku harus cepat bertindak. Mereka harus segera kusingkirkan. Tidak perlu dibunuh, sebab itu namanya biadab. Cukuplah sudah kalau dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Tapi ada juga yang karena sangat berbahaya malah justru harus kurangkul.
Contohnya Si Dulhat. Selisih suara kami pasti tidak akan banyak, sebab pendukungnya dan pendukungku hampir seimbang. Kan gawat? Dasar orangnya licik dan pintar bikin isyu Kalau ia kusingkirkan, awak yang payah. Makanya dia harus segera kurangkul nanti sehabis pemilihan. Dia harus kuangkat menjadi Carik mengganti kedudukanku sekarang ini. Hal ini mendatangkan keuntungan ganda. Pertama dia mudah kuawasi, kedua bisa kupakai sebagai perisai. Sebab dengan kedudukannya sebagai Carik maka praktis para pendukungnya tidak akan berani menggangguku lagi,
Mengganggu saya berarti mengganggu dia juga! Selain itu kalau dia sudah jadi Carik frustrasinya pasti berkurang. Sedapat mungkin janji tetap harus kutepati. Terutama janji selama kampanye untuk jadi Lurah ini. Orang-orangku sudah terlanjur mengobral janji yang kadang-kadang terlalu fantastik. Tak apa. Rakyat tidak banyak tuntutannya. Langkah pertama Mesjid dan gedung sekolah yang sudah mau ambruk itu harus cepat-cepat dipugar. Lalu tempat mandi umum, jembatan, jalan-jalan, sudah! Mudah saja. Toh untuk ini semua nanti tak sepersenpun bakal keluar dari kantungku? Semua ya dari mereka juga nantinya. Tapi mereka puas. Dan aku dapat tidur dengan tenang dan untuk meminterkan mereka? Atau membuat mereka dapat hidup dengan lebih layak? Yah itu juga! Tapi Lurah kan bisanya cuma membimbing dan mengarahkan kerjanya, bukannya menyulap.
Meskipun sudah menjadi Lurah, nantinya aku juga tetap manusia biasa yang lemah. Yang punya rencana-rencana khusus untuk kepentingan pribadi. Kurasa ini sehat saja. Aku pingin punya rumah yang mendingan besarnya. Soalnya kalau ada rapat atau pertemuan-pertemuan yang lain rumah ini terlalu sempit. Juga perabotannya kalau dapat harus diganti semua nantinya. Memalukan sekali kalau aku sudah betul-betul jadi Lurah lalu ada tamu Pak Camat atau Pak Bupati dan beliau-beliau itu harus duduk di kursi yang macam begini. Lalu aku juga harus memikirkan bagaimana nanti kalau aku sudah dipanggil untuk kembali ke haribaanNya, apakah tanah warisan ini akan cukup kalau harus dipotong-potong untuk hidup anak-cucuku? Lalu, nanti diiris-iris lagi oleh ahli waris anak-cucuku! Ngeres sekali jadinya. Apa keturunanku mesti ikut juga ditransmigrasikan? Ya Tuhan! Maka nanti kalau aku sudah terpilih jadi Lurah hal ini harus kupikirkan. Ini penting.
Istriku memang cantik dan memenuhi syarat untuk keperluan tidur bersama. Tapi apakah dia akan tetap cantik dan memenuhi syarat setelah nanti anak-anaknya sama besar dengan ayah dan ibunya? Kapan-kapan tentunya pingin juga sekali-kali merasakan santapan orisinil dan segar. Dan selain itu masih ada pula segudang rencana-rencana yang lain yang sudah 80 % di tangan. Tapi? Apakah yang 20 %, yang meskipun kecil tapi kemungkinan toh tetap ada itu tidak ikut kumasukkan dalam daftar rencana panjang ini? Bagaimana kalau aku kalah? Bagaimana kalau Si Dulhat yang jadi Lurah? Padahal pasti banyak biaya yang kukeluarkan untuk memikat massa agar mau memilihku. Bagaimana ya? Tapi berhubung kemungkinan untuk kalah itu hanyalah 20 %, maka baiklah kubulatkan saja sekalian. Sebab mendingan bikin rencana-rencana seperti tadi itu. Habis mengasyikkan sih soalnya! ***
BULAN YANG TERAKHIR
dua bulan yang lalu
debu telah dihapus bersih
jalan-jalan sudah becek lagi
dan tinggalah kuntum-kuntum aneka
di kebun samping
gerimis setia menyiraminya
rona hijau buru-buru disiapkan
buat kartu-kartu natal yang hampir beredar
di halaman anggrek bermekaran
di dinding,
kalender usang tinggal hari-hari kenangan
serentak meja dihias lilin dinyalakan
serentak wajah baru dikemas
bulan yang terakhir
telah habis.
10 Januari 1969
BURUNG ENGKAU
burung engkau yang tegang dan bertengger
bagai hakim sedang bludrek
kutembak kau dengan panah asmara yang
panas dan membara bagai bedil agar
kita betul-betul merdeka seratus persen
dan sejahtera dunia akhirat
burung engkau
yang hantu
keras dan kaku
kutembak kau pakai batu.
1977
BERANAK BECAK
syahdan,
di suatu kemarin yang akan datang
di dekat sebuah tinju yang batu
bapaku, babuku
hamilku yang bengkak beranak
becak
kugenjot, kudorong, kujerumuskan
dia ke tuhan
ke dalam gang-gang yang
jarang terpegang.
1978