TIMOR TIMUR PART II

22/08/2016 at 15:27 (puisi)

Sejak Timor Timur Part I saya tulis
tahun 1987 dan terkumpul dalam buku
TUYUL (1990)

Timor Timur tidak selalu harus peluru
tidak selalu harus darah
head line koran
dan warta berita TIVI Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

SAMPANG – MADURA

15/08/2016 at 14:58 (puisi)

bunyi belalang bunyi jangkrik bunyi
ayam jago bunyi clurit menggores
kain sarung bunyi rumput bunyi
pasir ditampar angin bunyi bulan
yang sendirian bunyi debu

bunyi-bunyian yang sepi
menetes nira nipah menetes bumbung bambu
pelepah kelapa menetes gema adzan Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

SEPOTONG BULAN DI LANGIT PALESTINA

08/08/2016 at 13:07 (puisi)

Sepotong bulan menempel di
langit Palestina masihkah itu
bulan yang beribu tahun silam
ditikam dan dicongkel lalu lepas
dan entah jatuh entah tidak
bulan itu benarkah yang dulu
dirindukan Musa dan dikejar-kejar
Daud dan Goliath
sepotong bulan itu
tidak bulat tidak kuning
tidak tipis tetapi masih mungkinkah
bulan itu menempel di atas Jerusalem Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PALESTINA II

01/08/2016 at 13:09 (puisi)

Di sekitar Sungai Yordan tak ada gajah
tapi leher orang Palestina
seperti dibelit belalai
dan diinjak-injak kaki gajah

Sejarah di timur tengah memang seberat gajah
dan anak-anak Palestina gepeng dihimpitnya

Di sekitar Yerusalem memang tak ada salju
tapi ibu-ibu yang menyusui bayinya
itu menggigil kedinginan Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

SEEKOR SARAJEVO

25/07/2016 at 11:45 (puisi)

Seekor lapar seekor dingin
seekor gemetar dan sakit seekor
mimpi buruk dan luka-luka
seekor berdarah dia ingin sekali
makan dan haus ingin sekali
seteguk wiski atau susu hangat
tetapi salju di mana-mana
salju

Seekor sedih seekor takut
seekor tua dan terbungkuk-bungkuk
seekor bocah lucu umur 8 tahun Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

INDONESIAKAH KAU

19/07/2016 at 14:54 (puisi)

Indonesiakah kau baju-baju safari yang
terus lapar dan babi dan pasar-pasar swalayan
padahal rakyat yang kambing hanya
mengembik hanya daun-daun dan rumput
dan kemarau panjangnya tak pernah es
tak pernah AC sentral Indonesiakah
kau yang pidato-pidato tetapi
bebek tetapi beo dan paruhmu
berpeluru padahal rakyat yang cacing Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Puisi, Korupsi & Kritik Tradisi

12/07/2016 at 16:38 (polemik)

cabik lunik
Sekadar Mencatat Manusia dan Kemanusiaan
Monday, April 13, 2009
 
— Munawir Aziz*

KORUPSI menjadi polemik dan bencana dan ruang kehidupan bangsa ini. Menghadapi polemik ini, sastra bertugas memberi wawasan segar dan pencerahan kreatif kepada publik luas, agar menghindar dari jerat korupsi. Virus korupsi seolah menggerakkan energi iblis untuk melahirkan setan-setan baru yang menghancurkan negara dan tatanan kehidupan. Masa depan Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Wacana: Akrobat Kata-kata, Kebohongan, dan F Rahardi

27/06/2016 at 15:14 (polemik)

Hamsad Rangkuti*

DALAM acara Temu Sastra, Masyarakat Sastra Asia Tenggara di Palangkaraya, yang tidak dihadiri F Rahardi, saya menganjurkan—dan ini memang tugas saya karena saya diundang untuk itu—agar para pengarang muda tidak menghabiskan perhatian dan waktunya untuk main akrobat dengan kata-kata karena ada kecenderungan pada kaum muda—seperti saya waktu muda—untuk cenderung berakrobat dengan kata-kata (Kompas, Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Melihat Pelarangan F. Rahardi di TIM

20/06/2016 at 11:42 (berita)

By F. Rahardi on 11 February, 2012 Viewed 1866 times, 1 times today | 4 Comments |

F. Rahardi feat. Bujang Praktiko

Pihak berwenang telah melarang penyair “setan” F. Rahardi untuk tampil membacakan puisinya Catatan Harian Sang Koruptor pada hari Rabu tanggal 22 Januari 86 di Graha Bakti Budaya TIM.

Tentu saja, sang penyair kelabakan mendengar keputusan yang mendadak datangnya lewat telpon tersebut. Padahal sebelumnya sang penyair sudah siap-siap mengasah lidahnya untuk membaca puisi-puisi, yang memang Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PERSINGGUNGAN POLITIK DAN PROSTITUSI DALAM PUISI

14/06/2016 at 16:47 (berita)

Muhajir
email : karyamuhajir@gmail.com
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas PGRI Semarang

Abstract

The purpose of this research is to find the intersection of politics and prostitution in poems entitled “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” by W.S. Rendra and “Pidato Akhir Tahun Seorang Germo” by F. Rahardi. How is the public perception of prostitutes? How the authors position of prostitutes in his poetry? This research using structural theory and descriptive analytical research method. After analyzing two poems, the researcher concluded that (1) Both Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 138 pengikut lainnya