PARAGRAF 2017 (11)

18/09/2017 at 15:41 (artikel)

Di media sosial, amat sering tampil postingan menyangkut diri pribadi (diri sendiri). Ngantuk ditulis, sebel ditampilkan, senang dishare. Foto sendiri diposting, foto anak dipamerin, foto istri/suami, orang tua dll. semua diobral. Pertanyaannya, emang lo siape? Itu memang tidak melanggar hukum. Tapi apa akan ada yang mau liat? Terbukti, bahwa blog pribadi, situs, akun; akan dibaca banyak orang, apabila ada hal menarik ditampilkan di sana. Tapi mengapa hal remeh-temeh yang dilakukan seorang tokoh selalu disimak publik?

Populer (populis) merupakan salah satu daya tarik postingan. Tak semua tokoh penting menarik perhatian publik. Selalu ada “faktor x” yang membuat seseorang lebih menarik dari orang lain. Saat tulisan Baca entri selengkapnya »

Iklan

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (10)

12/09/2017 at 10:29 (artikel)

Pada dekade 1990an, saya pernah “diblacklist” oleh Pusat Perbukuan, Badan Litbang Kemendikbud. Ceritanya, saya diminta menjadi juri lomba menulis non fiksi untuk para guru sekolah. Beberapa karya yang sampai ke tangan saya, ternyata karya fiksi. Bukan non fiksi. Salah satunya tentang “bagaimana” (how) membuat batu bata. Katanya, agar tulisan ini tidak “kering” diberilah tokoh, alur cerita, dan latar (lokasi) yang semuanya fiktif.

Menurut aparat Pusat Perbukuan dan juri lain, karya seperti ini tergolong non fiksi karena temanya membuat batu bata. Saya tetap beranggapan ini fiksi. Kalau mau non fiksi, datang dong ke pembuat baru bata, tanya bagaimana cara dia membuat batu bata. Tokoh si Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (9)

05/09/2017 at 15:53 (artikel)

“Sudah enak jadi Boss di Trubus, mengapa kamu malah keluar?” Menjelaskan pertanyaan “mengapa?” dalam sebuah paragraf, tidak sesederhana menjelaskan apa, siapa, di mana, dan kapan. “Apa sih kerjamu sekarang?” bisa dijawab dengan cepat dan mudah. Demikian pula dengan pertanyaan, “Siapa saja yang kau kenal di lembaga ini?” atau “Di mana Anda dilahirkan?” dan “Kapan Anda meninggalkan kampung halaman?”

Sebenarnya pertanyaan “mengapa” juga bisa dijawab dengan singkat dan cepat. Misalnya, pertanyaan “Mengapa Anda keluar dari Trubus?” saya jawab dengan, “Ya karena pengin keluar saja!” Tetapi jawaban seperti itu, kemungkinan besar akan tidak memuaskan si Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (8)

21/08/2017 at 13:48 (artikel)

Bagi jomblowan dan jomblowati, pertanyaan “Kapan kawin?” terasa sungguh menjengkelkan. Saya selalu menyarankan, pertanyaan itu dijawab dengan, “Nggak tentu Pak Dhé! Kadang sore, kadang malam, siang juga oke, tergantung kesempatanlah!” Saat Pak Dhé itu bingung, gantian ditanya “Pak Dhé tanya kapan kawin kan? Atau kapan nikah?” Kalau nikah ya kapan-kapanlah bergantung ada tidaknya yang mau saya ajak nikah!”

Pertanyaan kapan, yang menuntut disebutnya penanda waktu, memang harus dijawab dengan mencantumkan waktu dalam sebuah paragraf. Waktu itu terdiri dari detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad dan millenium. Umumnya, untuk menandai Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (7)

16/08/2017 at 14:59 (artikel)

Saya selalu menyebut pertama kali menjadi Guru SD di Perkebunan Teh Medini, Desa Ngesrep Balong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. “Apa tidak kepanjangan Oom?” Saya bilang tidak. Sebab kalau hanya saya sebut sampai Kabupaten Kendal pun, bisa saja orang masih belum tahu. “Kendal itu di mana ya?” Kalau berbicara dengan orang asing, saya malah hanya bilang, berasal dari Jawa Tengah, Indonesia.

Kalau saya menyebut negara Belanda, Inggris, Jepang, Amerika Serikat, sebagian besar orang akan tahu di mana negara-negara tersebut. Tapi kalau Negara Burkina Faso, Lithuania, Mauritius; belum tentu semua orang tahu. Maka saya perlu menambahkan Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (6)

07/08/2017 at 13:43 (artikel)

Dalam sebuah keluarga, pertanyaan “Siapa sih yang sakit?” bisa bukan mempertanyakan manusia, melainkan hewan. Misalnya, kalau keluarga tadi memelihara lima ekor kucing. Siapa dalam 5 w 1 h, memang bisa berarti manusia, malaikat, setan, jin, Tuhan, dan Dewa-Dewi. Siapa juga bisa berarti lembaga. Baik lembaga bisnis, maupun kenegaraan. Bisa pula berarti apa saja yang dipersonifikasikan

Dalam sebuah kalimat, siapa itu bisa ditulis menggunakan nama (Badrun, Jibril, Syiwa, Unilever, Jepang); bisa pula dengan menggunakan kata ganti. Kata ganti terdiri dari orang pertama tunggal (saya, aku), orang pertama jamak (kami), orang kedua tunggal (kamu, engkau), orang pertama jamak (kalian), orang ketiga tunggal (ia, dia), orang ketiga jamak (mereka) dan orang pertama serta orang kedua (kita).

Dalam sebuah paragraf bisa saja siapa yang akan menjadi kepala kalimat, dan kalimat pendukung serta konklusi setelahnya; digunakan untuk memperjelas siapa tersebut. Misalnya, Orang baru itu bernama Joko (kepala kalimat). Ia akan menggantikan Pak Ishak yang sebentar lagi akan pensiun (kalimat pendukung 1). Ia masih keponakan Pak Direktur (kalimat pendukung 2). Lembaga ini memang keterlaluan nepotismenya (kalimat konklusi).

Cimanggis 12 Januari 2017

Pernah dimuat di FB Floribertus Rahardi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (5)

01/08/2017 at 15:17 (artikel)

Pertanyaan apa (komponen pertama 5 w 1 h), bisa menyangkut alam semesta, benda, hewan, tumbuhan, dan peristiwa. Jadi apa itu bisa berarti gunung, laut, kota, sepeda motor, uang, anjing, jambu monyet, dan kecelakaan pesawat terbang. Tidak semua paragraf harus berisi lengkap 5 w 1 h. “Apa” dalam sebuah paragraf, tidak harus didukung oleh siapa, di mana, kapan, mengapa dan bagaimana; tetapi bisa pula didukung oleh “apa” berikutnya yang merupakan rincian dari apa sebelumnya.

Misalnya: Makanan ini bernama getuk (kepala kalimat). Getuk terbuat dari singkong (kalimat pendukung 1). Singkong merupakan umbi akar (kalimat pendukung 2). Jenis singkong mentega paling enak dibuat getuk (kalimat konklusi).

Empat kalimat itu, semua menjelaskan pertanyaan apa, tanpa siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana. Susunan kalimat itu sudah bisa disebut paragraf. Penjelasan tentang siapa (pembuat getuk paling terkenal), di maka (bisa membeli getuk tersebut), kapan (ia mulai membuat getuk), mengapa (ia memilih menjadi pembuat getuk), dan bagaimana (getuk itu dibuat); bisa dijabarkan dalam paragraf berikutnya.

Cimanggis 9 Januari 2017.

Pernah dimuat di FB Floribertus Rahardi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (4)

24/07/2017 at 12:44 (artikel)

Awal tahun 2000an, tak sengaja saya menonton acara TVRI. Dalam acara itu ditampilkan tayangan obyek wisata alam Perum Perhutani yang cukup menarik. Presenter cerita panjang lebar tentang obyek wisata alam itu, tapi dari awal saya tunggu-tunggu tak pernah disebutkan, obyek wisata itu berada di mana? Kemudian tak sengaja, kameraman menshot papan nama Pos Perhutani Cidahu, Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Saya langsung bilang: “O….. Cidahu!”
Di media sosial, lebih spesifik lagi di FB, tak terbilang banyaknya postingan foto dan video tanpa penjelasan apa pun. Nitizen dianggap Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (3)

17/07/2017 at 13:09 (artikel)

Saya sudah menulis sejak tahun 1969. Saya juga tahu bahwa satu paragraf hanya boleh memuat satu pokok pikiran. Tapi ketika menulis dengan sangat bersemangat, atau sama sekali tak bersemangat, dalil tadi terlupakan.

Beberapa pokok pikiran berjejalan dalam satu paragraf. Dalam keadaan terlalu bersemangat, pikiran mudah berubah dan melompat dari satu pokok pikiran ke pokok pikiran lain. Dalam kondisi tak bersemangat, pikiran macet lalu mengada-ada membuat kalimat sekenanya dalam sebuah paragraf.

Kalau sudah sampai ke jalan buntu, biasanya saya akan berhenti, lalu paragraf itu pelan-pelan saya baca ulang. Misalnya begini: “Saya ngantuk. Badan ini kok juga gatal semua sih? Di luar itu siapa pula yang berisik?” Tiga kalimat itu satu sama lain tak saling mendukung, karena tiga-tiganya merupakan kepala kalimat.

Agar satu sama lain bisa saling mendukung, harus dipilih salah satu sebagai kepala kalimat, lalu diberi kalimat pendukung dan konklusi: 1 “Saya ngantuk. Tapi saya harus tetap bertahan. Kalau sampai ketiduran, tulisan ini tak akan selesai.” 2 “Badan ini kok juga gatal semua sih? Padahal saya sudah mandi. Mungkin karena tadi siang saya ikut blusukan di rumpun bambu itu ya?”. 3 “Di luar itu siapa pula yang berisik? Sudah tahu ada tetangga sedang sakit. Atau jangan-jangan tetangga yang sakit itu meninggal?

Cimanggis, 7 Januari 2017

Pernah dimuat di FB Floribertus Rahardi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARAGRAF 2017 (2)

11/07/2017 at 12:58 (artikel)

Sebuah paragraf, hanya bisa mewadahi satu pokok pikiran. Satu paragraf paling sedikit terdiri dari tiga kalimat. Pertama kepala kalimat (pokok kalimat, kalimat utama). Kedua kalimat pendukung. Dan ketiga kalimat konklusi. Biasanya kepala kalimat ditempatkan pada awal paragraf. Tetapi ini bukan keharusan.

Sebuah kalimat, paling sedikit terdiri dari dua kata, berupa subyek dan predikat. Tanpa subyek atau tanpa predikat; kumpulan kata itu bisa berupa frasa, bisa bukan frasa, bukan kalimat. Kalimat: “Saya (subyek) ngantuk (predikat)”. Frasa: “Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Bukan Frasa, bukan kalimat: “Ngantuk saya.” dan “Indonesia Kesatuan Republik Negara”.

Contoh paragraf: “Saya ngantuk (kepala kalimat). Padahal saya baru bangun tidur (kalimat pendukung). Jangan-jangan saya sakit (kalimat konklusi). Silakan mulai mencoba menulis satu paragraf, tiga kalimat, sokur ada foto, dan diposting.

Cimanggis, 5 Januari 2017.

Pernah dimuat di FB Floribertus Rahardi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »