DARAH DAN HUJAN

22/05/2017 at 12:26 (novel)

Dua orang tua ini terkejut dan sangat sedih. Dari tiga bersaudara, sekarang hanya tinggal ia satu-satunya yang masih hidup. Ia lebih sedih lagi, karena adik dan kakak kandungnya meninggal dengan tak wajar, karena tewas terbunuh.

PARA Mosa Laki, dan tua-tua adat berkumpul di Sao Keda di hampir semua Tanah Persekutuan Negeri Lio, dan Negeri Sikka, untuk merundingkan ritual mendatangkan hujan. Selain dengan sesaji dan tari-tarian, ritual mendatangkan hujan wajib disertai korban yang darahnya ditumpahkan ke tanah. Darah yang mengotori tanah, akan mendorong Bapa Angkasa menyiramkan air, Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

NEGERI SIKKA

15/05/2017 at 13:34 (novel)

Tetapi padi negeri Sikka lebih bernas, lebih padat, dengan kalori lebih tinggi. Rasa nasi yang berasal dari beras padi ladang Negeri Sikka, lebih enak dibanding nasi dari beras padi sawah Negeri Lio.

PERISTIWA siang itu tak pernah akan terlupakan oleh Sipi. Ia tak tahu apa yang terjadi, tetapi banyak orang berlarian. Waktu itu sedang ada tamu dari Jawa Dwipa. Tiba-tiba saja ada Ata Ko’o yang mengajaknya berlari dengan Kaju, dan Tuke Sani ke atas bukit, kemudian menuju timur. Dari atas bukit itu Sipi melihat kapal cadik dari Jawa Dwipa pergi menjauh ke tengah Laut Sabu. Selanjutnya ia Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PADI SAWAH KE BARAT

08/05/2017 at 11:10 (novel)

Nua Ende lebih beruntung dibanding Ndori, karena Tanah Persekutuan ini banyak dikunjungi kapal cadik dari Jawa Dwipa, kapal junk china dari Negeri Han di Tiongkok, bahkan kapal Chola dari Negeri Chola di India juga pernah berkunjung ke mari.

RAJA Nua Ende itu bernama Bhoka. Kadang ia juga menyebut dirinya Raja Bangsa Lio, meskipun Nua Ende, sebenarnya hanya terdiri dari Tanah Persekutuan Ende, dan tak ada hubungan hirarkis dengan tanah-tanah Persekutuan Bangsa Lio. Meskipun orang-orang menyebutnya sebagai Raja Nua Ende, Bhoka sebenarnya hanyalah Mosa Laki paling kaya, sekaligus paling berkuasa di Ende. Dialah yang telah menyewakan para prajurit kepada Bheda. Sepulang dari Detusoko, para prajurit, Ata Ko’o yang dipersenjatai, bercerita bahwa ketika ditahan di Detusoko, mereka Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

SERANGAN KEDUA

02/05/2017 at 14:22 (novel)

Parang ia pegang dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk memegang parang Ine Pare. Parang biasa itu kemudian ia tebas dengan parang Ine Pare, dan seketika itu juga putus menjadi dua. Parang Ine Pare tetap utuh tak ada bagian yang rusak sedikit pun.

PARANG khusus untuk Puteri Ine Pare, buatan pandai besi dari Jawa Dwipa itu ringan, tajam, dan sangat kuat. “Ibu, tiap hari parang ini harus diasah dengan menggunakan batu asah halus, dan minyak kelapa. Bukan dengan air. Mengasahnya dari pangkal ke ujung. Tidak boleh dengan cara ulang-alik ke atas ke bawah atau ke kiri dan ke kanan. Nanti setelah sebulan, ibu lihat hasilnya. Terbangkan sehelai bulu, lalu tebas dengan parang ini, pasti akan terbagi dua Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PANDAI BESI DARI JAWA DWIPA

25/04/2017 at 16:02 (novel)

Pagi yang cerah, dari tengah Laut Sabu tampak kepundan Gunung Iya di Tanah Persekutuan Nua Ende mengepulkan asap. Di belakang Gunung Iya, tampak membayang Gunung Roja dan Gunung Meja.

SEPULUH kapal cadik dari Negeri Jawa Dwipa diberangkatkan ke Negeri Lio. Raja Jawa Dwipa marah, karena Gauri seorang penulis lontar kerajaan, suami Puteri Dharani, menantu saudagar besar Bhadrak, telah dibunuh oleh warga Nua Ria di Tanah Persekutuan Ndori. Sepuluh kapal itu dilengkapi dengan pasukan bersenjatakan panah, pasukan bertombak, pasukan bersenjatakan pedang dan 20 kuda pilihan. Mereka juga didampingi para juru masak dengan logistik cukup untuk enam bulan perjalanan. Empat pandai besi Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

TANAH PEMUKIMAN BARU

17/04/2017 at 12:25 (novel)

“Menjadi laut?” Tanya Funu kaget. “Benar, seluruh bukit di atas Nua Ria itu runtuh akibat hujan dua hari dua malam setelah kemarau sangat panjang. Seluruh pemukiman itu hanyut ke laut dan penghuninya tak ada yang selamat.”

PADA waktu itu, masing-masing Tanah Persekutuan, merupakan kawasan independen; yang tak terkait satu sama lain. Bahkan komunikasi berupa kunjungan dan hubungan kekerabatan sangat jarang terjadi. Tanah-tanah Persekutuan itu hanya dihubungkan oleh jalan setapak melalui ladang, padang sabana dan hutan. Hanya para pedagang dengan beberapa kuda beban, secara rutin mengunjungi Tanah-tanah Persekutuan itu; sementara para penghuni hampir tak pernah meninggalkan rumah dan ladang Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

MURID SARALA

10/04/2017 at 12:33 (novel)

Di ketinggian itu mereka membuat api unggun, di sebuah cekungan, agar tak terlihat dari arah timur. Tetapi menjelang tengah malam, mereka melihat ada beberapa orang berjalan dengan membawa api ke arah mereka.

PADA pagi hari, tiga kapal cadik dari negeri Jawa Dwipa kembali merapat di lepas Pantai Ndori. Para penumpang dan barang dagangan diangkut ke pantai menggunakan perahu. Kali ini hanya ada tiga kapal cadik. Di antara para penumpang kapal itu tampak Puteri Dharani, dengan seorang laki-laki bernama Gauri dan para pengawal mereka. Puteri Dharani telah menikah dengan Gauri, tetapi belum dikaruniai anak. Gauri merupakan murid Guru Sarala, Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

AWAL MALAPETAKA

05/04/2017 at 11:07 (novel)

Duä Lulu Wula yang selama ini jauh di atas sana, dan hanya bisa menyentuh Nggaé Wena Tana dengan pelangi, dengan kabut, dengan hujan; sekarang bisa benar-benar menyentuh tubuh itu bahkan memeluk dan menindihnya.

SORE itu, sehabis makan malam, Raja dan Kaja menerima Ndale, Ine Pare, Sipi, dan Funu. Suasana ruang tengah Sao Ria itu hening. Raja dan Kaja bertanya-tanya, apa yang akan mereka sampaikan? Meskipun mereka berdua juga sudah menduga-duga, apa saja yang akan disampaikan oleh Ine Pare. Dan benar, Ine Pare, segera mengajukan pertanyaan. “Bapak Raja dan Ibu Kaja, Kakak Ndale Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

MINYAK CENDANA

30/03/2017 at 11:47 (novel)

“Ayo keluar semua kau Ata Polo! Ini tubuh suci Puteri Nggaé Wena Tana. Jangan kau berada di dalamnya! Ayo keluar semua, dan juga jangan ganggu kuali penyulingan minyak cendana itu!” Funu menepuk punggung Ine Pare dengan keras sebanyak tiga kali.

SEBENARNYA Tuke Sani itu bernama Jelu. Tetapi karena terlalu sering kentut, oleh teman-temannya ia dipanggil Pesu. Panggilan itu terus melekat sampai sekarang. Ia pernah mengabdi kepada Raja, dan Kaja, sebagai Ata Ko’o. Di sinilah ia memperoleh istri bernama Riwu. Setelah menikah, Pesu dan Riwu diminta Raja menjaga kebun kelapa dan sukun yang cukup luas di sebuah pantai. Maka berubahlah status Pesu dari Ata Ko’o menjadi Tuke Sani. Kebun Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KUTUKAN ITU DATANG

14/03/2017 at 14:46 (novel)

Maka mereka pun membawa pulang sebanyak mungkin uwi monda. Setelah dikupas umbi itu diiris tipis, dijemur sebentar agar layu kemudian dimasukkan dalam keranjang dan direndam air laut sampai paling sedikit selama satu minggu.

SABANA Tana Watu yang sudah sangat kering, sekarang bertambah kering lagi. Batang-batang reo yang sudah meranggas, tak kunjung mengeluarkan pucuk-pucuk mudanya. Bukit-bukit yang hanya ditumbuhi semak dan rumput liar, sekarang menghitam gosong karena terbakar. Ketika matahari berada di atas ubun-ubun, udara terasa panas luar biasa. “Hujan, mengapa kau tak mau datang?” Tanya rumput kering kepada hujan. Dengan cepat hujan menjawab, “Aku belum diperintah untuk turun. Jadi aku tetap di atas sini, tidur-tiduran, malas-malasan, menikmati Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »